
Beberapa hari kemudian...
Sejak kejadian hari itu, Andini sedikit menjaga jarak dengan Deva. Bukan lagi rasa cintanya yang belum kelar yang ia prioritaskan, tapi perasaan Doni dan hubungannya dengan Diva yang masih mengganjal di hatinya kini.
Meskipun beberapa kali Deva masih mencoba menghubungi Andini, namun Andini sudah menutup semua buku kenangan antara dirinya dan Deva. Kisah itu sudah berakhir, dan sekarang ia hanya menjalani takdir cintanya bersama Aldo. Mungkin Aldo adalah jodoh yang memang sudah digariskan Tuhan untuknya.
Dan sesuai janjinya pada Andini, Deva berhasil membujuk Disa untuk mau memaafkan Doni. Awalnya Disa menolak mentah mentah, namun kedekatan batin antara Disa dan Doni sedari dulu, membuat dirinya tak bisa berlama lama bersikap dingin pada Doni. Karna sebelum Andini kembali, Doni begitu dekat dengan dirinya. Seperti anaknya sendiri.
Sore itu, sesuai undangan Deva dan Disa. Doni datang untuk ke rumah mereka. Membicarakan semua secara intens, dan ini pertemuan perdana Doni dengan Disa, bekas calon mama mertuanya.
Ting.. Tong...
Doni menekan bel dengan sedikit ragu. Ya baik buruk perlakuan dari keluarga Diva harus ia terima. Yang terpenting ia segera bisa bertemu Diva.
Ceklek...
Vida membuka pintu dan dilihatnya seseorang yang sudah menyakiti hati kakaknya hingga membuatnya harus terpisah dengan Diva.
"Sore Vid, kamu apa kabar. Sudah lama kakak gak ketemu kamu," ujar Doni sambil tersenyum.
Saat tangannya hendak mencubit pipi Vida, Vida langsung memalingkan wajahnya. Santai terlihat kebencian di mata Vida sekarang. Padahal dulu hubungannya dengan Vida lebih dekat daripada hubungan Diva dengan Vida.
Dari belakang Disa datang, melihat seseorang yang baru saja datang.
"Siapa Vida?" tanya Disa. Namun tanpa berkata Vida langsung pergi meninggalkan Doni dan mamanya.
"Eh Doni, ayo masuk," ajak Disa sedikit canggung.
"Iya tante. Om Deva dimana tan?" Doni mencium tangan Disa sebagai rasa hormatnya.
"Disini Don. Kamu baru saja pulang kerja?" sambung Deva yang langsung disambut Doni dengan mencium tangannya.
"Iya om."
"Mah, tolong buatan Doni minum ya," titah Deva.
"Iya pah."
Sesaat kemudian, Disa datang dengan dua cangkir teh hangat yang ia berikan ke hadapan Doni dan suaminya. Setelah sedikit bercanda dan melepas rindu, Deva mulai masuk ke topik utama.
"Don, ada yang ingin om tanyakan sama kamu," tanya Deva membuat jantung Doni berdegup kencang.
"Iya om, mau tanya soal apa?"
"Beberapa waktu yang lalu kira sudah ketemu bukan dan kamu sudah menjelaskan semuanya sama om. Bukan hanya kamu mama dan papa kamu pun sudah menjelaskan secara detail apa yang terjadi antara kamu dan Tanisha. Disini om hanya mau tanya, apa kamu benar benar mencintai Diva? Karna hal ini membuat kepercayaan kami berdua pada kamu sedikit hilang," ujar Deva.
Doni menarik nafas panjangnya. Membetulkan posisi duduknya sambil melihat wajah Disa dan Deva silih berganti.
"Om, tante. Aku tahu aku pernah berbuat salah. Tapi aku hanya ingin minta satu kesempatan untuk menembus semua kesalahanku sama Diva. Mungkin dulu Doni masih ragu sama perasaan Doni sama Diva, tapi sekarang aku yakin om, tante kalau Diva itu sangat berarti untukku. Jadi Doni mohon, kasih tahu Doni dimana Diva kuliah sekarang. Biar Doni bisa bicara empat mata sama Diva."
"Maafkan kami Don. Bukannya kamu tidak mau. Tapi ini semua permintaan Diva. Dia hanya ingin fokus dengan studynya. Tante sama Om usah coba kasih penjelasan sama dia, tapi Diva masih belum mau bertemu apalagi melanjutkan hubungan kalian. Tante minta tolong sekali kamu hargai keputusan Diva," sahut Disa.
"Tapi semalam Diva pesan sama Om untuk menyampaikan hal ini sama kamu," Deva menyela pembicaraan, membuat Doni yang semula tertunduk mulai mendongakkan kepalanya.
"Diva pesan apa om?" tanya Doni.
"Dia bilang, kalau memang kamu bersungguh sungguh minta maaf dan mencintainya, dia minta kamu menunggu dia selama dia menyelesaikan kuliah kedokterannya di luar negeri. Tapi Diva gak memaksa, jika kamu menolak permintaannya, dia bisa menerima dengan ikhlas kalau kalian memang tidak akan bisa bersama," ucap Deva.
"Enggak om. Doni gak keberatan. Doni janji, Doni akan buktikan sama Diva kalau Doni setia sama dia. Dan akan selalu menunggu dia sampai kembali sama Doni."
"Kamu yakin Doni?" tanya Disa yang masih sedikit tak percaya dengan ucapan Doni barusan.
"Iya tante. Aku akan buktikan gak cuma sama Diva, tapi sama tante dan om juga."
"Baiklah, nanti om akan sampaikan ke Diva. San om harap kamu bisa memegang janji kamu ya Don. Jangan beri Diva harapan palsu lagi."
"Pasti om. Terus sekarang Doni bisa minta nomor Diva om atau alamat dimana Diva tinggal sekarang? Doni kangen sama dia om, tante."
"Maaf Don kalau itu kami gak bisa kasih. Karna Diva masih belum bisa bertemu dan berbicara dengan kamu. Tante harap sedikit pengertian kamu. Dan intinya yang Diva inginkan hanya pembuktian cinta kamu untuk dia. Apa kamu sanggup bertahan menunggunya tanpa ada komunikasi diantara kalian?"
Doni terdiam sejenak. Permintaan Diva ini sangat menyiksa dirinya. Dia harus menunggu waktu beberapa tahun untuk bisa bertemu dan berbicara dengannya. Tapi apa mau dikata, daripada Diva semakin marah Doni pun menyanggupi permintaan dari Diva.
"Baik tante, om, akan aku buktikan sama Diva jika aku bisa menepati ucapanku. Dan sampai Diva kembali aku tidak akan menjalani hubungan dengan siapapun."
"Ya Don, om percaya. Om dan tante hanya berharap jangan sia siakan kesempatan yang diberi Diva untuk kamu ya."
"Iya om. Kalau begitu Doni pamit ta om, tante. Lain waktu, Doni akan main kesini lagi buat jenguk om, tante dan Vida. Oh iya hampir lupa, kemarin saat di Surabaya Doni beli oleh oleh buat Om, tante dan Vida. Tolong nanti sampaikan ke Vida ya tante, om," ujar Doni sembari memberikan beberapa kantong ke tangan Disa. Sedangkan Deva terdiam membisu, mengingat ketika Doni sedang pergi ke Surabaya, dia sudah melakukan hubungan terlarang dengan mamanya.
"Makasih ya Don," ucap Disa.
"Sama sama tante. Kalau gitu Doni pamit ya om, tante. Sampaikan salam sayang Doni buat Diva dan Vida."
"Iya Don, nanti tante sampaikan. Kamu hati hati ya nak."
"Iya tante,om. Makasih."
Mobil Doni perlahan meninggalkan kediaman Devano. Melihat kesungguhan Doni, membuat hati Disa menjadi lulus seketika. Ia pun jatuh ke pelukan suaminya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Pah, andai saja Doni tidak melakukan kesalahan sekarang pasti masih ada Diva dan dia tidak perlu tinggal jauh dari kita," ucap Disa.
"Ya sudah mah. Itu kan sudah berlalu. Yang terpenting Doni sudah berjanji akan menunggu Diva sampai dia kembali."
"Iya pah. Semoga saja bukan hanya janji janji di mulut saja. Karna kalau aku jadi Diva pun, aku belum tentu bisa memaafkan laki laki yang sudah membagi tubuhnya untuk wanita lain."
Juedeerr..
Keringat dingin perlahan memenuhi kening Deva. Gimana nasib rumah tangganya kelak, jika Disa dan Aldo tahu akan perbuatan yang ia lakukan dengan Andini tempo hari.
"Mungkin benar kata Andini, aku dan dia sudah memiliki keluarga masing masing. Biarkan saja kejadian waktu itu akan jadi rahasia antara aku dan dia," batin Deva yang di akhir dengan sebuah kecupan yang mendarat di kening Disa, sebelum akhirnya mereka masuk kembali ke dalam rumah.