My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Kembali Pulang



4 Tahun kemudian...


Semua sahabat Doni sudah menikah. Diawali dengan Tanisha dan Justin yang menikah 3 tahun yang lalu. Setelah semua kebusukan Ririn terbongkar.


Disusul oleh Mickael yang meminang Christy tahun lalu. Dan kini hanya tinggal Doni yang masih melajang.


Doni berusaha menepati janjinya. Setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun waktunya ia pakai hanya untuk bekerja dan bekerja. Tak pernah dekat ataupun mendekati seorang wanita. Semua itu ia lakukan demi membuktikan rasa cintanya pada Diva, wanita yang pernah ia sakiti.


Hari ini Doni mendapat kabar bahagia dari Deva dan Disa, jika minggu depan Diva wisuda dan akan kembali pulang ke Indonesia setelahnya acara wisuda selesai.


Kriiiingg..


Ponsel Doni berbunyi. Dengan segera ia mengangkat, karna itu adalah panggilan dari calon papa mertuanya.


"Halo om," sapa Doni.


"Halo Don. Ini om cuma mau kasih tahu kalau minggu depan Diva wisuda. Dan dua minggu lagi Diva akan pulang bersama om dan tante. Kamu senang tidak mendengar kabar ini?"


"Yang bener om. Doni seneng banget om. Doni akan siapkan pesta kecil untuk kedatangan Diva. Oh iya om, apa Doni boleh ikut datang ke acara wisudanya Diva?" tanya Doni, membuat Deva hanya terdiam. Ia tidak enak jika menolak, tapi ia juga tak mau membuat putrinya kecewa.


"Emm.. Maaf Don. Diva bilang pada om dan tante, hanya ingin bertemu kamu saat sampai disini. Kamu tidak keberatan kan? Cuma dua minggu kok Don, penantian kamu akan berakhir."


"Iya om. Doni mengerti. Hanya dua minggu, aku pasti sanggup om. 4 tahun aja bisa masak 2 minggu gak bisa," ujar Doni dengan nada sedikit bercanda. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sangat kecewa.


"Terima kasih Don. Sekarang om percaya, kamu memang benar menyesali perbuatan kamu. Udah dulu ya Don. Nanti om kabari kalau Diva sudah pulang."


"Baik om."


Setelah telpon mati, senyum yang sudah lama hilang dari wajah Doni kembali terlihat. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang pujangga.


"Diva, seperti apa kamu sekarang. Kakak yakin, kamu pasti terlihat lebih dewasa dan tambah cantik. Kakak sudah tidak sabar untuk bertemu lalu melamar kamu untuk menjadi istri kakak Div," batin Doni.


Dua minggu kemudian..


Deva sudah kembali dari Inggris bersama dengan keluarganya termasuk Diva. Jujur, semua di luar dugaan. Ternyata selama kuliah, Diva sudah memiliki kekasih dan hubungan mereka sudah berjalan 2 tahun. Namun ia sengaja tak mau memberitahu keluarganya. Karna selama di telpon, mama dan papanya selalu saja menceritakan Doni. Seolah ingin dia memaafkan Doni.


Sayang, luka itu terlalu dalam. Mungkin mama dan papanya sudah bisa memaafkan Doni. Namun tidak baginya. Bayangan foto dan video Doni dan Tanisha dulu, selalu membayangi pikirannya. Meskipun sudah berubah, tak menutup kemungkinan ketika berumah tangga Doni akan kembali ke sifatnya.


Di Inggris, Diva memperkenalkan kekasihnya pada Deva, Disa dan Vida. Laki laki itu bernama Rangga. Kebetulan Rangga juga orang Indonesia, hanya ia tinggal di kota yang berbeda dengan Diva. Wajahnya tak kalah tampan dari Doni. Postur tubuhnya pun 11 12 sama Doni. Ya bagai pinang dibelah dua, Doni dan Rangga hampir memiliki kemiripan di fisik ke mereka. Namun tidak dengan sifatnya.


Sekarang yang menjadi masalah buat Deva dan Disa, apa yang harus mereka ucapkan pada Doni. Karna selama empat tahun ini, Doni sudah menunjukkan kesungguhannya dengan tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Apalagi rencananya minggu depan Rangga akan melamar Diva. Membuat Disa dan Deva semakin galau. Tapi ia tak mungkin menolak keputusan Diva. Dia sudah dewasa, bisa memutuskan mana yang terbaik untuknya.


"Div, aku pulang dulu ya. Aku akan bawa mama dan papaku untuk menemui kamu honey," ujar Rangga sesaat sebelum ia kembali ke Surabaya.


"Iya Ngga. Aku juga sudah bilang sama mama dan papaku. Dan mereka setuju."


"Alhamdulillah. Yaudah aku pulang dulu ya Hon. Oh iya mana mama, papa dan adik kamu?"


"Sebentar aku panggilkan dulu ya," Diva kembali masuk kedalam rumah. Lalu kembali bersama dengan orang tuanya.


Sebelum Rangga pulang, ia mencium tangan Disa dan Deva. Rangga terlihat anak yang baik dan sopan. Dia juga lulusan terbaik di kampus. Jadi apa alasan Deva untuk tidak menyetujui hubungan putrinya.


"Iya nak Rangga. Kami tunggu kedatangan kamu dan orang tua kamu minggu depan ya. Insyaallah kalau niatnya baik akan dilancarakan segalanya," jawab Deva dan di amini oleh semuanya.


Taksi yang di pesan Rangga sudah masuk ke halaman dan membawa Rangga pergi untuk sementara waktu dari sisi Diva.


"Diva, ada yang mau papa dan mama bicarakan sama kamu," ucap Deva.


Diva sudah bisa menebak apa yang mau dibicarakan orang tuanya. Diva memutar kedua bola matanya jengah. Ia pun duduk di teras rumah dengan santainya.


"Mau bicara apa pah, mah."


"Soal Doni, Diva," jawab mama.


"Diva udah tahu. Ada apa sama Kak Doni Bukankah hubungan Diva dengannya sudah berakhir. Aku sudah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Rangga mah, pah. Apa kurangnya Rangga? Dia baik, ramah, sopan, setia, anak pengusaha lagi. Kenapa sih mama dan papa selalu saja ingin Diva menikah dengan Kak Doni. Bukannya dulu saat Diva pergi, mama dan papa malah meminta Diva untuk melupakan dia. Tapi kenapa sekarang kalian berubah? Kenapa mah, pah?" seru Diva.


Emosi Diva, malah membuat Deva ikut emosi. Sejak kapan Diva menjadi anak yang berani berbicara keras dengan orang tuanya? Mungkinkah pergaulan di luar yang merubahnya? Atau Rangga? Atau malah gara gara pembahasan soal Doni?


Melihat perdebatan anak dan suaminya, Disa berusaha menjadi penengah. Baru saja Diva kembali, masak iya mau diajak bertengkar. Disa berbisik ke telinga Deva, memintanya untuk tidak membahas soal Doni untuk waktu dekat ini.


"Diva, duduk ya nak. Kami hanya ingin bertanya saja bukan meminta kamu kembali pada Doni," titah Disa.


"Baik mah."


Daripada suaminya yang bicara dan kembali menyalakan kobaran api antara dirinya dan Diva, Disa memutuskan bicara dari hati ke hati dengan Diva. Sedangkan Deva memilih masuk kedalam rumah.


"Diva, sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Rangga? Dan apa kamu yakin ingin menikah dengannya?"


"Ya mah. Diva yakin," jawab Diva sambil menundukkan kepalanya.


"Lihat mama Diva. Mama tahu kamu bohong. Kamu tidak cinta dengan Rangga kan? Terus kenapa kamu malah mau menerima lamarannya?" Disa mendongakkan kepala Diva, menatap matanya, mencari jawaban disana.


Diva meneteskan air matanya, berusaha berbohong namun ia tetap tidak bisa membohongi perasaannya apalagi dengan mamanya.


"Sini nak, peluk mama. Lepaskan apa yang sudah mengganjal di hati kamu," titah Disa dengan suara lembut, membuat Diva begitu nyaman berada disana.


"Diva ingin jadi seperti papa. Papa menikah dengan mama tanpa ada rasa cinta. Tapi lambat laun cinta itu tumbuh kan mah. Jadi Diva memutuskan untuk melupakan Kak Doni dan berusaha mencintai Rangga. Dia itu seperti mama, sabar. Dia tahu cinta Diva bukan untuk dia, tapi dia bilang akan setia menunggu. Bukannya dulu mama pernah berkata demikian kan sama papa? "


"Tapi sayang, Doni sudah berubah."


" Mah, mungkin saat ini Kak Doni berubah. Tapi bisa jadi kan, setelah Diva kasih kesempatan lagi Kak Doni kembali seperti dulu. Menyakiti hati Diva. Jadi Diva mohon, mama hargai keputusan Diva ya. Dan tolong bantu Diva buat membujuk papa untuk mau menerima Rangga," rengek Diva.


Disa melepaskan pelukannya. Mengusap air mata di pipi putrinya yang sudah lama tak berjumpa dengannya.


"Diva, papa itu bukannya tidak menyukai Rangga. Hanya saja papa kecewa sama kamu, kenapa kamu berbohong pada kami selama ini. Kamu punya hubungan dengan laki laki, tapi kamu tidak cerita sama kami. Dan kamu malah seakan memberi harapan palsu pada Doni. Papa merasa tidak enak hati aja pada Doni. Tapi nanti mama akan coba bicarakan ini pada papa, dan mencari solusi dan waktu yang tepat untuk bicara dengan Doni."


"Makasih mah, Diva sayang sekali sama mama."


"Iya sayang, sama sama. Mama juga sayang sekali sama kamu. Dan mama akan selalu mendukung pilihan kamu," ucap mama yang kembali membawa putrinya kedalam pelukannya.