My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Doa Untuk Kamu



Hampir setiap hari, sepulang bekerja Diva mampir untuk mengunjungi Doni di rumah sakit. Ya Diva sekarang sudah bekerja di rumah sakit milik keluarga papanya. Meski jarak antara rumah sakit tempatnya bekerja dengan rumah sakit dirawatnya Doni agak jauh, namun Diva tetap setia menjenguk Doni.


Minggu ini, sudah minggu kedua Doni dirawat. Tapi Doni masih belum sadar dari komanya. Beberapa dokter yang menangani Doni, sudah menyarankan untuk melepas segala alat bantu yang terpasang. Hanya saja, Andini masih belum mau menyetujui keinginan dokter.


Sore itu, Diva kembali datang. Tapi kali ini ia tak sendirian, ada Rangga yang menemani dirinya. Karna dua minggu lagi pernikahan mereka akan berlangsung.


"Sore tante, om," sapa Diva dan Rangga.


"Sore Diva, Rangga," jawab Aldo.


"Gimana keadaan Kak Doni, apa sudah ada perkembangan?" tanya Diva.


"Belum Div. Tadi dokter sudah menyarankan untuk melepaskan alat bantu di tubuh Doni. Hanya saja, tante Andini masih belum mau."


Mendengarkan cerita Aldo, mata Diva mulai berkaca kaca. Kalau pun dia dimintai pendapat, jawabannya akan sama dengan Andini. Diva tidak akan setuju jika Doni harus pergi meninggalkan mereka semua apalagi dirinya.


Kaki Diva sudah lemas. Ucapan Aldo membuat tubuhnya luruh ke lantai. Untung saja ada Rangga yang berdiri di sampingnya, yang langsung membantu dirinya bangkit kembali.


"Honey, ayo bangun," ucap Rangga sembari menopang tubuh Diva dan merangkul pundaknya.


"Kak Doni. Om Aldo, Diva mohon jangan penuhi saran dokter. Diva ini dokter om, dan Diva percaya Kak Doni bisa akan segera sadar," seru Diva histeris.


"Tapi Div..."


"Enggak Al, aku gak mau. Apa kamu gak sayang Doni. Aku ini ibu kandungnya, dan aku berhak memutuskan apa yang terbaik untuk anakku. Aku baru saja berkumpul dengan Doni, dan aku gak sanggup jika harus kehilangannya. Aku mohon Al, percaya sama aku. Anak kita pasti bisa sembuh," Andini kembali berteriak.


Aldo langsung memeluk tubuh istrinya, mendekap tubuhnya dan berusaha menenangkannya.


"Baik, aku akan penuhi kemauan kamu."


"Makasih Al, makasih," jawab Andini.


"Tante, Om, Diva ijin masuk kedalam buat jenguk Kak Doni boleh?" tanya Diva.


"Boleh dong Div. Masuk aja," sahut Aldo.


Namun saat Diva sudah berada diambang pintu, Andini segera melepas pelukan Aldo dan beranjak dari kursinya.


Ia menarik tangan Diva yang sudah memegang gagang pintu.


"Jangan temui Doni lagi," ucap Andini dengan penuh amarah.


"Tante? Loh kenapa tante. Bukankah setiap hati Diva selalu jenguk Kak Doni. Tapi kenapa sekarang enggak boleh tante?" tanya Diva dengan air yang mulai menggenangi kelopak matanya.


Diva sungguh tak menyangka. Andini yang ia kenal lembut, baik dan sayang padanya kini berubah menjadi jahat, kasar bahkan tega mengusir dirinya. Apa ini gara gara dia membawa Rangga? Entahlah, Diva hanya bisa berdiri dan bersandar di dinding tembok sambil menangis.


"Div, lebih baik kamu pulang ya. Om mohon kamu mengerti kenapa tante tadi bersikap demikian," Aldo mendatangi Diva sambil memberikan pengertian padanya.


"Iya om,Diva ngerti. Ini semua terjadi juga karna Diva."


Aldo hanya diam. Biasanya Aldo akan meminta Diva untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Tapi kali ini Aldo hanya diam ketika Diva berbicara seperti itu.


"Div, om kedalam dulu ya. Mau nemenin tante Andini."


"Iya om," lirih Diva.


Diva kembali menangis. Di dalam hati, dia kembali menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Doni. Dendamnya yang ingin ia balas ke Doni malah membuat dirinya sendiri tersakiti.


Tak tega melihat calon istrinya terus bersedih di depan pintu, Rangga pun langsung menghampiri Diva.


"Kita pulang aja ya hon. Kan kita juga harus ambil kartu undangan pernikahan kita," ucap Rangga.


Diva menggelengkan kepalanya. "Enggak Ngga, aku pengen ketemu Kak Doni dulu," jawabnya.


"Tapi apa kamu gak lihat, mereka terganggu dengan kedatangan kita."


"Kamu salah Ngga, tante Andini dan Om Aldo itu marah dan kecewa sama aku. Kenapa aku bodoh ya Ngga. Aku udah kasih harapan palsu sama Kak Doni. Aku juga meminta dia untuk datang ke pertunangan kita kemarin sebagai syarat aku mau memaafkan dia. Ini salahku Ngga, ini salahku. Kalau sampai Kak Doni meninggal, aku gak akan memaafkan dirimu sendiri," ucap Diva sembari menangkup wajahnya dan menangis sejadi jadinya.


Disana Rangga hanya diam. Menatap sayu calon istri yang malah menangisi laki laki lain di hadapannya.


"Diva, sampai kapan kamu mau menangisi Doni. Kamu sadar gak, disini ada calon suami kamu. Tunangan kamu. Aku juga punya hati Div, kita pulang sekarang. Dan kamu harus fokus sama pernikahan kita," gertak Rangga.


Diva mendongakkan kepalanya. Bari kali ini ia melihat Rangga marah apalagi membentaknya. Meski sakit hati, Diva sadar dia juga salah. Dia seperti tidak menghargai perasaan Rangga, calon suaminya.


"Ngga, maafin aku. Aku janji, hari ini terakhir kalinya aku berkunjung ke rumah sakit. Dan aku akan fokus sama pernikahan kita. Sekali lagi maafin aku ngga," ucap Diva sembari menggenggam tangan Rangga.


"Oke, aku maafin kamu. Sekarang ayo kita pergi."


"Iya hon," jawab Diva.


Perlahan kaki Diva mulai melangkah meninggalkan rumah sakit. Namun sesekali ia masih menoleh ke belakang, berharap Andini maupun Aldo akan menarik perkataannya tadi dan mengizinkan dia untuk menjenguk Doni untuk terakhir kalinya.


Sayang, harapan itu tak akan menjadi nyata. Dan mungkin ini yang terbaik bagi dia dan Doni.


"Kak, maafin Diva. Diva berharap Kak Doni akan segera sadar dan segera sembuh. Doa Diva, semoga Kak Doni bisa memiliki pendamping yang jauh lebih baik dari Diva. Asal Kak Doni tahu, rasa cinta Diva buat kakak gak akan pernah berubah. Selamat tinggal Kak. Diva pergi," batin Diva sambil melihat pemandangan langit dari jendela mobil.