My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Terkejut



Tak berapa lama setelah kedatangan mama disa dan vida, diva dan doni juga tiba di depan supermarket. Mereka memang sudah janjian di telpon tadi.


"Mah, udah dari tadi ya?" tanya diva sambil mencium tangan mamanya.


"Iya tante, maaf ya doni sama diva telat datang,soalnya tadi jalannya macet." sahut doni yang juga ikut mencium tangan mama disa.


"Iya sayang gak papa. Lagian mama dan vida juga baru aja nyampe kok." jawab mama disa.


"Elo darimana sih kak? Pasti pacaran dulu ya?" goda vida.


"Ngaco loe kalau ngomong. Percuma juga gue jelasin ke bocah kayak loe, gak bakal ngerti." gerutu diva.


"Ih, ngeselin banget sih loe kak. Gue udah gak bocah lagi ya. Gue udah SMP, jadi stop panggil gue dengan sebutan bocah lagi." kesal vida sambil memalingkan wajahnya.


"Udah dong diva, bener kata vida jangan panggil dia bocah lagi. Dia kan udah SMP, dan dia juga punya nama. Kasihan vida, kalau temennya ada yang lihat dan denger kamu panggil dia kayak gitu, nanti vida pasti jadi bahan ledekan teman temannya." ucap doni berusaha menasihati diva.


"Hmmm, mulai deh bela vida terus. Bukan pacarnya sendiri yang di bela." kesal diva.


"Bener tuh kak yang di bilang kak doni. Wah kak doni, kakak emang the best calon kakak iparnya gue. Lope lope deh buat kak doni." jawab vida sambil tersenyum penuh kemenangan di depan diva.


Lelah mendengar diva, vida dan doni berdebat, mama diba berusaha mengajak mereka untuk segera masuk kedalam.


"Sudah sudah ya bertengkarnya. Mending sekarang kita masuk, langit udah mau gelap. Nanti kita bisa pulang kemaleman." sahut mama disa yang berusaha melerai perdebatan ketiga muda mudi ini.


"Oh iya mah, diva lupa. Nanti kasihan papa dong kalau nungguin kita sampai malam. Lagian kenapa papa gak ikut sih mah?" tanya diva.


"Papa tadi pamit mau ke apartemennya dokter william, sahabat dokternya saat bekerja di rumah sakit di Singapura. Tadi dokter william cerita kalau dia dapat nomer papa kamu dari kamu. Apa itu benar diva?"


"Iya mah, tadi diva ketemu sama dokter william di makamnya mamanya kak doni."


"Oh yasudah kalau begitu. Ayo kita masuk nak."


Ucap mama disa yang langsung di iya kan oleh diva, doni dan vida.


Ketika berada di supermarket, doni mengajak vida menunggu di luar sambil memakan es krim. Sedangkan diva menemani mamanya untuk berbelanja di dalam supermarket.


"Mah, diva mau cari pembalut dulu ya. Soalnya stok pembalut diva habis dirumah."pamit diva.


"Iya div, nanti mama susul ya. Mama mau cari kopi buat papa kamu."


"Iya mah."


Namun tanpa sengaja diva melihat ibu andini juga berada disana. Diva pun bergegas menghampiri ibu dosennya itu.


"Loh ibu juga disini?" sapa diva yang mengagetkan ibu andini.


"Eh kamu diva, iya saya lagi belanja bulanan. Kamu sendirian atau sama siapa?" tanya andini yang mulai merasa cemas jika ada yang tahu soal dirinya.


Namun belum sempat diva menjawab, mamanya sudah datang dari belakang mereka.


"Diva, kamu bicara sama siapa?" panggil mama disa hingga membuat diva dan andini sama sama membalikkan badan mereka.


"Ini mah, dosen yang aku ceritain ke mama tadi. Namanya ibu andara." jawab diva.


Disa hanya bisa diam terpaku melihat orang yang mirip sekali dengan andini,mantan pacar suaminya.


"Andini." ucap disa sembari membulatkan kedua matanya.


Sebenarnya jantung andini sudah hampir copot. Ia juga merasa kaget dengan kehadiran disa, namun ia berusaha untuk tetap bersikap tenang agar disa tidak curiga dengan dirinya.


"Mah, kok diem. Mama kenapa?" tanya diva karna melihat mamanya yang menatap ibu dosennya tanpa berkedip.


"Oh ini mama kamu ya diva? Perkenalkan saya andara, dosen di kampus Bina Karya." ucap andini sambil mengulurkan tangannya dengan sikap tenang.


"Kenapa wajahnya sangat mirip sama andini. Bahkan dari gaya bicara, fashion bajunya, model rambutnya semua sama seperti andini. Atau dia memang andini? Tapi ini gak mungkin, andini kan sudah meninggal. Dan aku lihat sendiri jenazahnya sampai di makamkan. Jadi ini pasti bukan andini, mereka hanya punya wajah yang sama." batin disa yang masih terus saja menatap andini.


"Oh iya, saya disa mamanya diva." ucap disa terbata.


"Pantas saja kamu cantik, orang mama kamu aja juga cantik."


"Argghh, ibu bisa aja."


"Iya anda bisa saja memuji kami." sahut disa.


"Sungguh saya tidak berbohong. Oh iya maaf sebelumnya, saya sudah ada janji dengan kakak saya. Jadi saya pamit untuk ke kasir terlebih dulu ya."


"Oh iya bu,hati hati ya bu."


"Iya diva terima kasih. Saya permisi dulu ya." pamit andini.


"Iya silahkan." ucap mama disa yang masih sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Diva mulai menanyakan pada mamanya, karna yang diva lihat wajah mamanya berubah pucat setelah bertemu dengan ibu dosennya.


"Mah, diva perhatiin mama kelihatan syok lihat bu andara. Memang kenapa sih mah?" tanya diva.


"Diva, wajahnya. Wajah dosen kamu itu mirip dengan wajah mamanya doni, andini. Bukan hanya mirip tapi sama disa." ucap mama disa.


"Maksud mama? Itu tadi mamanya kak doni? Mama jangan bercanda deh, mamanya kak doni kan udah meninggal mah. Jadi mana mungkin bisa hidup lagi."


"Ya mama tahu dia pasti bukan andini, tapi sebentar mama tunjukin foto andini ke kamu. Coba kamu lihat sama kan?" ucap mama disa sambil memperlihatkan foto andini dulu pada diva.


Melihat foto yang baru saja di tunjukkan mamanya pada dirinya, diva pun tak menyangka dan juga tak percaya. Karna wajah mereka bukan hanya mirip tapi memang sama. Hanya saya sekarang wajahnya sedikit lebih menua.


"Mah, ini bukan lagi mirip. Tapi seperti pinang dibelah dua. Sama mah." ucap diva.


"Bener kan apa kata mama, kalau saja semua sahabat papa kamu, aldo, doni dan papa kamu sendiri melihat dosen kamu tadi mereka juga pasti sama terkejutnya sama kayak mama."


"Iya mah, tapi diva minta tolong ya sama mama, jangan cerita ini sama kak doni. Diva gak mau lihat kak doni sedih mah. Dari tadi di makam, kak doni keliatan rindu banget sama mamanya. Diva gak tega lihatnya. Tolong ya mah." pinta diva.


"Iya diva, tapi mama juga minta tolong sama kamu jangan pernah cerita apapun soal dosen kamu sama papa ya. Karna mama tahu, jika hati papa kamu masih ada di andini. Mama mohon ya nak."


"Iya mah,diva juga tahu kok. Mama tenang aja,diva akan tutup mulut. Karna ini semua cuma kita yang tahu ya mah." ucap diva sembari memeluk pundak mamanya.


"Makasih ya sayang, makasih."


"Iya sama sama mah. Yaudah ayo ke kasir, udah selesai dapet semua kan mah belanjaannya?"


"Iya diva udah, ayo nak." jawab mama disa.


Dan saat andini bergegas pergi dari supermarket, tanpa sengaja doni melihat orang yang sangat mirip dengan mamanya berlari ke arah parkiran. Doni pun berusaha mengejar orang tersebut.


"Vida, kamu jangan kemana mana ya. Kakak ke toilet sebentar." pamit doni.


"Iya kak, jangan lama lama ya."


Doni pun berlari dan berusaha mengejar perempuan yang sangat mirip dengan mamanya. Merasa ada yang mengikuti dirinya, andini semakin mempercepat langkahnya.


"Mama..." Teriak doni.


Walau mendengar teriakan seseorang yang memanggil dirinya, andini berusaha untuk tidak menoleh dan dengan cepat ia masuk ke dalam mobil lalu dengan segera pergi meninggal tempat itu.


"Untung saja doni tidak berhasil mengejar aku. Maafin mama ya doni, mama pasti akan segera menemui kamu dan papa kamu. Tapi bukan untuk sekarang. Hati mama masih belum siap dan takut untuk menerima kemarahan kamu doni. Mama yakin jika mama jujur pun kamu pasti akan membenci mama." batin andini.


Doni yang sudah kehilangan jejak perempuan tadi, kembali ke tempat vida. Dengan langkah yang berat, doni masih teringat wajah perempuan tadi.


"Doni, loe lupa kalau mama loe udah meninggal. Jadi mana mungkin itu tadi mama andini, mungkin gue aja yang masih belum bisa menerima kepergian mama sampai sekarang. Dan gue masih berharap kalau mama masih hidup dan bisa melihat pernikahan gue sama diva. Tapi itu semua gak akan mungkin terjadi, ini kehidupan nyata bukan kehidupan seperti di novel. Mana ada orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali." lirih doni sambil berlari kembali menuju ke tempatnya tadi.