My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Semua karna diva



Tak lama setelah doni masuk ke kamarnya, papa aldo menemui doni yang sedang berada di meja kamarnya sambil mempelajari beberapa buku bisnis.


"Don,boleh papa masuk?" ucap papa aldo yang sedang berdiri di depan pintu kamar doni.


"Masuk aja pah." jawab doni.


Papa aldo berjalan mendekat ke arah doni yang sedang membaca buku bisnis.


"Don, tadi om deva telpon papa. Dan dia bilang jika kamu dan diva sedang menjalin hubungan. Apa itu benar nak?" tanya papa aldo.


"Iya, doni sedang belajar mencintai diva. Bukankah itu juga kemauan nenek, kakek dan papa?" jawab doni.


"Iya itu memang keinginan kami, karna kami merasa diva yang sudah mengembalikan senyum kamu nak. Tapi setelah papa pikir pikir, jangan paksakan hubungan tanpa dasar cinta. Papa tidak mau diva bernasib sama dengan mamanya."


"Maksud papa apa?" tanya doni sambil menutup bukunya dan menghadap ke arah papanya.


Papa aldo menunduk sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Om deva, papanya diva. Dia memang sudah menikah dengan tante disa tapi papa yakin perasaan dan cintanya masih milik mama kamu. Walaupun tante disa tahu tentang statusnya di hati om deva, tante disa berusaha cuek dan tidak peduli karna yang ia pikir saat ini suaminya masih berada di samping. Tapi apa kita tahu isi hati tante disa. Papa pernah merasakan itu don, saat papa tau kenyataan ketika mama kamu bilang sayang pada om deva. Disitu hati papa hancur dan marah hingga papa gelap mata dan mengabaikan mama kamu. Jadi papa paham benar perasaan tante disa. Dan papa gak mau diva mengalami hal yang sama." ucap papa doni.


"Doni tau pah. Tadi om deva juga udah cerita banyak sama doni. Walau sekarang doni belum yakin sama perasaan doni, tapi diva sedikit demi sedikit sudah membuat doni nyaman di samping nya pah. Yah walaupun sikap diva terkadang buat doni kesel, tapi diva punya sesuatu yang membuat doni tertarik sama dia. Ya semoga seiring berjalannya waktu doni bisa jatuh cinta sama diva ya pah."


"Papa seneng dengar kamu bilang ini nak. Papa tambah yakin, doni putra kecil papa benar benar sudah kembali. Doni yang baik, penuh kehangatan dan murah senyum. Diva benar benar sudah merubah kamu ya."


"Pah, semenjak kepergian mama doni tidak pernah mengucapkan ini. Tapi sekarang doni ingin meminta maaf sama papa. Maafin sikap doni selama ini ya pah. Maaf kalau selama ini doni selalu menuduh papa menjadi penyebab kematian mama. Doni minta maaf pah." ucap doni sambil duduk berlutut di kaki papa aldo.


"Doni, ayo berdiri nak. Papa sudah memaafkan kamu. Kenapa kamu tiba tiba seperti ini doni. Kamu kenapa?" tanya papa aldo yang curiga karna perubahan sikap doni.


Doni akhirnya bercerita pada papanya soal diva. Diva yang membuat dirinya sadar bahwa sikapnya selama ini salah.


Flashback on...


Saat perjalanan pulang ke rumah diva, baik doni dan diva masih sama sama diam. Hingga akhirnya diva memulai untuk berbicara dan menanyakan tentang papa aldo.


"Kak, om aldo kelihatannya sayang banget ya sama kakak." ucap diva spontan.


"Loe tau darimana kalau papa sayang sama gue."


"Ya diva tau lah kak. Om aldo kan sering main kerumah diva. Bahkan saat temen temen papa kumpul, om aldo selalu cerita soal kakak."


"Hmmm, wajar kali jika seorang papa nyeritain soal anaknya. Emang om deva gak pernah cerita soal kamu ke temen temennya."


" Ya ceritalah kak. Cuma beda aja kak. Diva tau kok kalau kakak selama ini gak pernah sayang sama om aldo. Kakak ngerasa gak sih kalau sikap kakak itu salah." ucap diva yang membuat doni marah hingga menghentikan mobilnya ke tepi jalan.


Doni menatap wajah diva dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ya walau diva tahu jika doni sedang marah, namun diva bersikap tenang di hadapan doni.


"Kok mobilnya berhenti kak, kakak marah ya sama diva. Perkataan diva salah ya kak?" tanya diva dengan wajah polosnya.


"Yang mana ya kak? Yang diva tanya kenapa kakak berhentiin mobil ya?" kata diva yang sedang berpura-pura lupa dengan perkataannya.


"BUKAN!! yang sebelumnya." ucap doni dengan nada tingginya.


"Oh yang diva bilang sikap kakak salah samam aldo ya? Diva kan cuma bilang jujur sesuai kenyataan. Emang bener kan, kalau anak berani sama orang tua, itu kan salah." jawab diva dengan santai.


"Berani loe nyalahin gue. Gue gak akan bersikap seperti ini, jika sikap papa sama mama itu baik. Jadi kalau loe gak ngerti, gak usah sok ngerti." tegas doni.


"Kakak ini lucu ya, orang salah kok di bilang salah gak mau. Kakak gak tau apa kalau selama ini om aldo itu sedih dengan perlakuan kakak sama dia. Apa kakak tau gimana sakitnya om aldo saat kakak memutuskan untuk kuliah di luar negeri dan memilih tinggal sama kakek atmaja dan nenek rara. Apa kakak tau, gimana menyesalnya om aldo saat tau kalau kakak sering gonta ganti perempuan dan pulang dalam keadaan mabuk. Diva tau semua dari siapa kalau gak pas om aldo cerita sama papa dan diva denger. Harusnya kakak itu bersyukur punya papa yang sayang sama kakak." tegas diva dan membalas tatapan doni.


Mata doni semakin berapi-api mendengar perkataan diva yang membela papanya.


"Oh jadi loe lebih mihak papa. Dibayar berapa loe buat ngomong gini. Gue nyesel udah buat loe jadi pacar gue." gertak doni.


"Emang kakak pikir diva juga mau punya pacar kayak kakak. Pacar yang gak menghormati orang tuanya sendiri. Kakak harusnya mikir kenapa sampai sekarang om aldo gak mau nikah. Karna om aldo berusaha menepati janjinya sama tante andini dan kakak. Apa kakak mau penyesalan om aldo juga menimpa kakak. Apa kak doni nunggu om aldo meninggal dulu baru kak doni maafin om aldo."teriak diva.


"Cukup. Bisa diem gak loe." jawab doni yang suaranya tak kalah tinggi dari diva.


"Diva gak akan diem kak,sampai kakak bener sadar kalau sikap kakak ini salah. Selama ini setiap ada orang yang mau kasih tau kak doni, om aldo selalu meminta mereka untuk diam. Karna om aldo ingin kak doni berubah karna memang kak doni sayang sama om aldo. Bukan karna kasihan. Bukannya itu sama kayak mama kak doni saat berusaha mendapatkan maaf dari om aldo."


"Loe tau darimana cerita mama gue ini."


"Dari papa. Papa selalu cerita soal mamanya kak doni dan penyesalan om aldo selama hidupnya. Diva gak mau kak doni sama menyesalnya dengan om aldo. Diva cuma pengen, kak doni buka mata dan hati kakak. Diva tau kok kalau selama ini kak doni punya sifat yang baik dan lembut sama seperti mama kakak. Karna buah yang jatuh itu pasti tidak jauh dari pohonnya. Dan diva percaya jauh di lubuk hati kakak, kakak juga sayang sama om aldo kan. Jadi jangan pernah karna rasa kebencian kakak, suatu saat itu yang membuat kakak menyesal seumur hidup." ucap diva yang membuat air mata doni tiba tiba jatuh.


Diva pun memberanikan dirinya memeluk doni. Dan berusaha mengusap punggung doni untuk menenangkan dirinya.


"Kak, jangan buang buang waktu kakak. Karna kita gak tau umur seseorang kak. Jangan sampai kita merasakan kehilangan dulu baru kita sadar kalau orang itu sangat berarti buat kita."


"Makasih ya diva. Kamu udah buat kak doni sadar kalau sikap kakak sama papa kakak itu salah. Kak doni gak nyangka kamu itu dewasa juga ya." jawab doni.


"Kak doni baru tau ya kalau diva ini anak yang smart dan sweet." ucap diva.


"Iya deh kakak ngaku kalau pacar kakak ini punya sisi dewasa juga. Sekali lagi makasih ya diva."


"Iya kak sama sama."jawab diva sambil memperlihatkan senyuman manisnya ke arah doni.


"Ayo kak jalan, kok malah ngeliatin diva terus."pinta diva hingga membuat doni salah tingkah.


"Eh iya. Yaudah sini kakak pakaiin selt belt nya ya."


"Iya kak." jawab diva.


Flashback off...