
Pagi ini doni datang menjemput diva untuk mengantarnya ke kampus. Namun sebelum berangkat ke kampus, doni mengajak diva untuk pergi ke makam mamanya.
Setibanya di sana, doni merasa asing dengan laki laki yang juga berada di makam tersebut. Dari kejauhan doni melihat laki laki tersebut duduk sambil menangis di depan makam mamanya.
"Dia siapa? Bukan sahabat sahabat mama dan papa. Aku baru lihat dia sekali ini,tapi kenapa dia menangis di depan makam mama?" batin doni.
"Kak, kok berhenti. Kenapa?" tanya diva.
"Kamu lihat laki laki yang lagi di makam mamaku bukan? Kamu kenal gak? Atau mungkin dia sahabat om deva gitu?"
"Gak tau kak, gak keliatan. Hehehe. Daripada penasaran kenapa gak di samperin aja?"
"Iya, yaudah kita kesana aja ya. Kakak juga penasaran siapa dia? Kenapa di anter lihat sedih menangisi makam mama kakak." jawab doni sembari menarik tangan diva.
Saat doni datang, ia berdiri membelakangi william yang masih duduk di depan makam. Suara deheman dari mulut doni pun membuat william seketika dengan segera menghapus air matanya.
"Ehem... Ehem... Anda siapa? Kenapa anda menangis di makam mama saya?" tanya doni dingin.
William dengan segera bangkit, lalu berdiri dan membalikkan badan berdiri berhadapan dengan doni.
"Perkenalkan saya william, dokter yang mengoperasi mama kamu bersama dokter devano." ucap william sambil mengulurkan tangannya ke hadapan doni.
"Oh jadi anda ini dokter william? Tapi kenapa anda menangisi mama saya? Memang anda dekat dengan mama saya?" tanya doni yang sudah mulai curiga.
"Ya saya memang tidak dekat sama mama kamu. Hanya saja sebelum operasi mama kaki sering bercerita tentang putranya yang masih kecil. Jadi kamu itu putra andini ya?" tanya william berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, perkenalkan dok saya doni putranya. Dan ini diva, putri dokter devano." jawab doni.
"Oh jadi kamu putri dokter devano ya, cantik ya. Bolehkah saya minta alamat dokter devano atau mungkin nomor handphonenya? Sudah lama saya tidak bertemu dengan beliau semenjak terakhir kita kerja sama dalam operasi mama kamu. Bagaimana kabar dokter devano?" tanya william dengan cerdiknya agar tak membuat doni bertanya lebih pada dirinya.
"Papa baik kok om. Jadi yang sering di ceritain papa itu om ya. Oh iya om, ini nomor papa, nanti om telpon aja papa. Papa pasti seneng kalau ketemu om." ucap diva.
"Oke, terima kasih ya doni dan diva. Kalau begitu saya pamit dulu, karna saya masih banyak urusan. Salam kenal ya doni diva."
"Iya om william." jawab diva dan doni kompak.
William kemudian segera pergi dari tempat itu, namun ketika mulai jauh dari makam andara adiknya, ia menengok kembali kebelakang. Ia melihat kesedihan begitu terlihat di diri doni. Walau sudah 20 tahun ia kehilangan mamanya, tapi doni masih sangat merasa kehilangan akan kepergian mamanya.
"Kasihan kamu doni, gara gara sikap bodoh papa kamu, kamu yang harus menanggung semua ini hingga andini memutuskan mengiyakan rencana gila andara. Kalau saja papa kamu tidak berselingkuh dan tidur bersama wanita lain disaat mama kamu sedang berjuang melawan penyakitnya, mungkin kamu dan mama kamu tidak akan terpisah seperti ini." kata william sembari memakai kacamatanya kembali.
Tak berapa lama william masuk ke dalam mobil, dan ia melihat andini sedang menangis sambil melihat dari jauh putra kesayangannya.
Dan secara tiba tiba, william mengucapkan kata yang membuat andini tak percaya.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya william menggunakan bahasa indonesia.
Andini seketika menoleh ke arah william, karna yang selama ini ia tidak tahu jika william bisa berbahasa indonesia.
"Brother, since when can you speak indonesian?( kak, sejak kapan kamu bisa berbahasa Indonesia?) " tanya andini kaget.
" Sudah dari kecil, karna dulu aku kecil tinggal di Indonesia. Mama papa ku juga orang Indonesia. Dia bekerja sebagai direktur utama, hingga suatu kejadian membuat kamu sekeluarga pindah ke Singapura." ucap william.
William terdiam melihat kemarahan andini, ingin rasanya ia mengatakan jujur jika andara adalah saudara kembar andini yang diambil oleh mamanya yang terobsesi memiliki anak perempuan. Hingga papanya meminta dokrer kandungan yang memeriksa mamanya andini memanipulasi kelahiran yang seharusnya kembar, menjadi hanya satu.
"Mungkin memang ini saatnya andini tahu rahasia keluargaku selama ini, jika sebenarnya andara itu saudara kembarnya."
"Andini, sebenarnya... " ucap william terputus karna ponsel william tiba tiba berbunyi.
" Sebenarnya apa kak?"
"Bentar, kak febi telpon. Mungkin penting. Kakak angkat dulu ya." ucap william sambil menyuruh sopir melajukan mobil mereka.
"Kak william mau bicara apa ya tadi? Nanti aja deh aku tanya sama dia. Kayaknya dia lagi bicara serius sama kak febi di telfon. Gak enak juga kalau aku desak dia." batin andini.
Diva berusaha menenangkan doni yang masih menangis di depan makam mamanya. Denhan lembut diva mengusap air mata doni dengan sapu tangannya.
"Kak udah ya jangan nangis lagi. Nanti tante andini malah sedih lihat kakak kayak gini. Mending kira berdoa aja buat mama kak doni ya." kata diva sambil mengelus pundak doni.
"Iya diva."
Saat akan pulang, doni berkata di depan makam mamanya yang memperkenalkan diva sebagai calon istrinya. Perkataan doni tersebut, langsung membuat diva tersipu malu dan hatinya melayang.
"Kak doni ngenalin gue sama tante andini sebagai calon istrinya. OMG, gue gak lagi di dunia mimpi kan ini. Tante andini tenang aja, calon menantu tante ini bakal sayang dan cinta sama kak doni. Dan diva janji diva akan selalu buat kak doni tersenyum dan melupakan kesedihannya ya tante. Pokoknya tante andini harus tenang di surga." ucap diva dalam hatinya.
Tawa diva seketika hilang saat ia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"KAK DONI, DIVA TELAT!!! " teriak diva.
" Kak ayo buruan, tes nya jam 10 dan ini udah jam setengah 10 kak. Bisa bisa diva gak boleh masuk ruang tes. Ayo kak." ucap diva panik.
"Iya iya div, kenapa kamu gak bilang dari tadi. Kamu itu dari tadi gak lihat jam apa. Yaudah kak doni pamit sama mama kak doni dulu ya"
"Mah, doni pergi dulu ya. Mau nganter diva tes masuk universitas. Kapan kapan doni main kesini lagi." ucap doni sembari mengusap papan nisan andini.
"Tante, diva pamit dulu ya. Doain diva ya tante biar bisa keterima di sana." pamit diva juga.
Diva lalu menarik tangan doni dengan berjalan cepat agar nanti mereka tidak terlambat sampai kampus.
"Div, pelan dong jalannya." ucap doni namun tak di hiraukan diva.
"Kak doni, 15 menit lagi diva tes nya mulai. Gimana diva mau tenang." kesal diva.
Sampai di mobil, diva masih saja panik dan takut jika ia akan terlambat sampai kampus. Namun doni berusaha meyakinkan diva untuk tetap tenang, agar konsentrasinya tetap fokus saat mengerjakan soal tesnya.
"Nanti kalau telat, kakak akan jelasin ke mereka. Yang penting kamu fokus sama soal tes nya dan kerjain dengan sungguh sungguh ya."
"Iya kak, yaudah buruan kak." perintah diva.
"Iya iya sayang." jawab doni sambil mengacak rambut diva hingga membuat diva akhirnya bisa tersenyum kembali.