My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Perubahan sikap doni



Tak berapa lama setelah kedatangan doni, papa aldo juga tiba di di apartemen.


"Doni, kamu sudah baru aja sampai atau sudah dari tadi?" tanya papa aldo.


"Baru aja kok pah."


"Doni, papa minta maaf atas nama opa ya. Jangan kamu masukkan hati semua ucapan opa kamu. Sekarang dia sudah tua, jadi wajar kalau opa suka asal bicara."


"Kenapa papa minta maaf sama doni, harusnya doni yang minta maaf sama papa."ucap doni sambil berjalan mendekat kearah papanya.


"Maksud kamu apa doni? Apa papa gak salah dengar? Kamu minta maaf sama papa?"


Tanpa menjawab ucapan papanya, doni langsung memeluk papanya.


"Maafin sikap doni ya pah. Selama ini doni udah keterlaluan. Doni selalu menyalahkan papa atas kematian mama. Doni sudah membenci papa selama ini, padahal papa selalu menyayangi doni. Bahkan papa sabar menghadapi sikap doni. Doni minta maaf ya pah."tangis doni.


"Doni, papa gak pernah marah sama kamu. Bahkan sekarang papa bahagia bisa memeluk kamu seerat ini nak. Terima kasih Tuhan, kau sudah mengembalikan putra kecilku."


"Pah, doni sayang sama papa. Selama ini doni mengira papa selalu membuat mama menderita, tanpa doni tahu jika semua ini berawal dari perjodohan antara opa dan kakek. Maafin doni yang gak pernah mau mendengar penjelasan papa."


"Lupakan semua ya nak. Sekarang kita harus bangkit. Jangan membuat mama bersedih diatas sana."


"Iya pah. Doni janji, doni gak akan menentang perintah papa lagi. Dan doni akan lebih patuh dan hormat sama papa."


"Akhirnya kamu kembali doni. Doni putra kecil papa."


"Tapi tunggu dulu nak, kenapa kamu bisa berubah secepat ini. Bukankah tadi kamu sangat marah dengan papa dan opa?"tanya papa aldo.


"Nenek sudah cerita semua sama doni pah. Dari papa bersahabat sama mama, bahkan akhir cerita cinta mama bersama papa. Selama ini kakek gak pernah cerita jujur sama doni, kakek hanya cerita tentang papa yang selalu menyakiti mama. Jadi selama ini doni pikir papa yang sudah menyebabkan mama pergi."


Papa hanya tertunduk lesu sambil menyadarkan punggungnya ke sofa.


"Tapi memang kamu gak salah doni, papalah yang membuat mama kamu meninggal."


"Sudah pah, berhenti menyalahkan diri papa. Ini semua sudah takdir pah. Doni aja sudah memaafkan papa, masak papa gak bisa memaafkan diri papa sendiri?"


"Iya doni, jujur papa belum ikhlas melepas kepergian mama kamu. Karna papa sangat mencintai mama kamu."


"Doni yakin, mama pun mencintai papa. Dan doni percaya, suatu saat kita akan berkumpul kembali pah."


"Iya doni, kamu benar. Semua tinggal menunggu waktu saja. Oh iya, terus apa kamu tetap akan pergi meninggalkan papa nak?" tanya papa.


"Pah, bukannya doni gak sayang sama papa. Hanya saja, doni sudah berjanji pada kakek untuk menjadi penerus perusahaan kakek. Dan doni juga ingin menemani nenek di masa tua nya. Doni harap papa mengerti dan menghargai keputusan doni ya."


"Ya sudah doni,papa hargai semua keputusan kamu. Jika papa cuti, papa usahakan untuk menengok kamu. Kamu belajar yang sungguh sungguh ya, buktikan sama mama dan buat dia bangga memiliki anak seperti kamu."


"Iya pah, doni akan membuat papa dan mama bangga sama doni."


Dan malam itu, doni dan papanya menghabiskan waktu semalaman sambil bersandau gurau. Doni kecil yang ceria kini sudah kembali.


Papa aldo amat bahagia hari itu, walaupun doni tak merubah keputusannya namun kembali ya senyuman doni sudah membuat papanya senang.


Keesokan harinya papa aldo mengantar doni ke rumah kakeknya. Dan kini sikap kakeknya pun sudah berubah. Nenek sudah membuat kakek sadar dengan sikapnya yang salah pada papanya. Bahkan sebelum mengantar doni ke bandara, papa aldo ikut sarapan pagi bersama di rumah kakek.


2 jam kemudian..


Papa aldo mengantar doni, kakek dan nenek ke bandara. Dan sebelum take off papa aldo memeluk dan mencium kening doni.


"Papa akan tunggu kamu pulang ya doni."


"Iya pah, doni janji doni akan sering sering pulang ke Indonesia buat jenguk papa dan mama."


"Hati hati ya doni, papa sayang kamu."ucap papa aldo.


"Doni juga sayang papa." jawab doni sambil mencium punggung tangan papanya.


Papa aldo pun juga mencium tangan kakek dan nenek.


"Pah, mah, aldo titip doni ya."


"Iya mah."


"Al,maafkan sikap papa selama ini ya."


"Iya pah, tanpa papa minta maaf, aldo sudah melupakan semuanya."


Pemberitahuan pesawat akan berangkat sudah terdengar, doni kembali memeluk papanya sebagai tanda perpisahan mereka. Keduanya pun menangis. Dan kini tangan doni sudah terlepas dari tangan papanya. Hanya lambaian tangan yang semakin jauh yang kini terlihat. Hingga doni dan papanya benar benar berpisah.


*********


Tiga tahun berlalu, dan selama itu doni masih sering kembali bolak balik Jerman Indonesia untuk menjenguk papanya dan pergi ke makam mamanya.


Hingga suatu hari, sikap doni mulai berubah. Ia mulai mengikuti pergaulan bebas diuar. Nenek dan kakeknya pun mulai kewalahan menghadapi sikap doni yang sering pulang pagi dalam keadaan mabuk.


Mendapat kabar tentang doni, papa aldo langsung pergi ke Jerman untuk menemui doni. Sesampainya disana, doni kaget dengan kedatangan papanya.


"Papa?" ucap doni saat membuka pintu rumah.


"Kenapa kamu kaget lihat papa? Kamu mau pergi kemana? Bukannya ini sudah malam ya?"


"Oh doni mau pergi ke rumah temen pah."


Papa aldo yang sudah tahu jika doni berbohong berusaha membujuk doni untuk tidak pergi.


"Papa baru dateng loh, kamu tega ninggalin papa?" tanya papa aldo.


"Tapi doni udah janji mau kerjain tugas pah."


"Yaudah kerjain sama papa aja. Dulu kan pak juga kuliah bisnis, jadi papa bisa bantu kamu kerjain tugas kamu."


"Tapi pah... "


" Tapi apa doni? Atau jangan jangan kamu bohong ya sama papa?"


"Enggak kok pah, doni gak bohong. Yaudah deh, doni gak jadi pergi. Tapi papa temenin doni tidur dikamar ya sambil kerjain tugas kuliah doni."


"Pasti dong nak. Oh iya kakek sama nenek mana?"


"Ada kok pah, paling udah tidur. Lagian kok papa sampai sini malem banget sih? "


"Iya tadi pesawat papa transit lama di Singapura karna ada hujan badai."


" Oh yaudah ayo pah kita ke kamar, nanti doni buatin papa hot milk."


"Makasih ya nak."


"Sama sama pah."


Doni mengirim pesan pada sahabatnya mikael. Mikael sendiri juga orang Indonesia yang sedang kuliah di Jerman. Doni memberitahu pada mikael jika dirinya hari ini tidak bisa ikut pergi ke bar.


Me : " Bro, gue gak bisa ikut. Bokap gue dateng."


Mikael : "Wah gak seru loe. Padahal gue udah bawa cewek inceran loe si danisa."


Me: "Danisa dateng juga? Gue coba usahain buat kesana nanti, tapi gue gak janji. Gue curiga kakek sama nenek gue udah ngadu sama bokap gue."


Mikael: " Yaudah nikmati aja jadi anak papi dulu, gue pinjem danisa ya."


Me: "Awas aja loe kalau sampai loe macem macem sama dia."


Mikael: "Ampun bro, udah jangan chat gue lagi. Gue lagi nyetir nih."


Me: "Iya, salam ya buat danisa."


Mikael: "Iya nanti gue sampein."