My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Cinta tak harus memiliki



Doni kemudian mengantar diva untuk pulang. Dan saat sampai di rumah, ternyata papa deva sudah pulang dari rumah sakit. Kebetulan saat itu mama disa, papa deva dan vida sedang mengobrol di teras rumah mereka.


"Sore om, tante." sapa doni yang baru saja datang bersama diva.


"Sore mah pah, diva udah pulang." tambah diva.


"Sore doni diva, gimana udah belanja buat persiapan kamu ke kantor minggu depan." tanya papa deva.


"Sudah om." jawab doni.


"Oh iya mending kita ngobrol di dalam rumah ya. Masak iya kamu mau langsung pulang? Makan malam aja dulu disini." ajak mama disa.


"Doni makan malam dirumah aja tante." jawab doni.


"Udah doni, kamu makan malam disini aja. Nanti om telpon papa kamu. Gimana?"


"Iya kak, makan malam di sini aja ya." sahut vida sambil menggelendot manja di lengan doni.


Melihat adiknya yang manja dengan pacarnya, membuat hati diva pun mulai sedikit panas.


"Ehem... Ehem.." suara deheman dari mulut diva sambil lirikannya tajam ke arah vida.


"Apa sih kak, serem amat muka loe." ucap vida yang masih manja di lengan doni.


"Lepas gak tuh tangan, sekarang itu kak doni pacar kakak." tegas diva


Papa deva, mama disa dan vida langsung membelalakan matanya.


"Idih loe lagi ngigau ya kak?" ejek vida.


"Enggak keles, kalau gak percaya tanya aja kak doni." jawab diva.


"Doni, apa benar yang diva bilang barusan?" tanya mama disa dengan tatapan yang serius.


Doni yang malu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan papa deva masih diam sambil menoleh ke arah doni.


"Don, kenapa kamu jadi salah tingkah sih? Apa bener yang dibilang diva? Atau diva lagi ngancem kamu ya?" tanya papa deva.


"Emm, itu om tante." jawab doni


"Arggh, kak doni. Tinggal bilang jujur kali. Gak usah takut sama mama dan papa. Mereka pasti bolehin diva pacaran, apalagi sama kakak." teriak diva sambil memonyongkan bibirnya karna kesal.


"Tuh kan, pasti kak diva lagi halu ya. Jangan mau disuruh bohong kak. Bohong kan dosa." ucap vida yang langsung mendapat pelototan mata dari diva.


Melihat kakak beradik yang selalu saja berdebat, akhirnya doni mulai mengakui hubungannya dengan diva.


"Iya om, tante, vida. Doni sama diva udah resmi pacaran. Doni minta ijin ya sama om dan tante buat jadiin diva pacar doni. Insyaallah kalau emang jodoh kita akan lanjut sampai menikah." ucap doni membuat diva seketika memeluk dirinya.


"Tuh kan diva gak bohong." sahut diva sambil menjulurkan lidahnya ke arah vida.


"Wah akhirnya, kalian sudah resmi jadian ya." jawab mama disa.


"Iya, kalau bisa jangan kelamaan pacarannya. Dan kamu doni, om percaya kamu pasti bisa buat diva bahagia."


"Iya om. Doni akan pegang komitmen doni sama diva. Ya semoga aja kita emang berjodoh ya om, tante." ucap doni.


"Amin." jawab papa deva dan mama disa kompak.


Semua begitu nampak bahagia dengan hubungan doni dan diva, namun doni melihat kekesalan di wajah vida. Doni pun berjalan menghampiri vida dan duduk di sebelah vida.


"Loe kenapa dek, kok mukanya jelek gitu?" tanya doni.


"Gue lagi patah hati kak, soalnya sekarang kakak udah jadian sama kak diva. Tuh nenek lampir pasti bahagia banget." gerutu vida dan membuat doni menjadi gemas dengan tingkahnya.


"Udah loe sekolah dulu, jangan sama kayak kak diva dulu. Seumuran loe udah tanya mau pacaran." ucap doni sambil mengacak rambut vida dan membuat suasana pun menjadi penuh tawa.


"Apa iya kak?" tanya vida yang berusaha memastikan ucapan doni.


"Iya vida, papa juga inget kalau gak salah kakak kamu bilang pas dateng di ulang tahun doni ke 17." sahut papa deva.


"Iya om, bener banget." jawab doni kembali namun diva langsung mencubit doni yang sedang menggoda dirinya.


"Salah sendiri ngeledek diva terus. Yang penting kan sekarang kakak cinta kan sama diva. Diva udah yakin dari dulu sih kak, secara diva kan emang cantik, imut, cute, lucu lagi. Pasti kakak susah nemuin cewek yang modelnya kayak diva." ucap diva penuh percaya diri hingga membuat doni membalas cubitan di hidung diva.


"Tuh kan kak, pede banget kan kakak gue. Kak doni yakin mau jadiin kak diva pacar kakak? Kalau vida jujur gak ikhlas deh." jawab vida.


"Vida!! Loe itu adik kandung gue bukan sih." kesal diva sambil menghentakkan kakinya.


Kekesalan diva malah semakin membuat vida tertawa puas. Dan karna sikapnya yang berlebihan pada kakaknya, vida pun langsung mendapat teguran dari mamanya.


"Vida, kamu gak boleh bicara gitu sama kakak kamu. Gimana pun kamu harus menghormati dia sebagai kakak kamu. Kalian itu gak malu apa di lihat sama kak doni berantem terus. Kepala mama bisa pecah lihat kalian saling adu mulut kayak gini." gerutu mama disa.


"Sudah mah, mereka kan memang seperti itu. Tapi mereka sebenarnya saling menyayangi satu sama lain. Udah jangan marah marah lagi." jawab papa deva yang berusaha menenangkan kemarahan mama disa.


"Mama gak asik ah, vida itu cuma bercanda kali mah. Vida cuma seneng aja lihat kak diva marah marah. Mukanya kan jadi lucu gitu." ucap vida dan membuat diva kembali merasa marah.


"Oh jadi loe pengen lihat gue cepet tua dan keriputan gitu?" jawab diva yang sudah berjalan mendekati vida.


Namun sebelum diva mendekati dirinya, vida langsung bersembunyi di balik badan doni.


"Kak tolong vida dong." rengek vida.


"Makanya, loe diem jangan jahilin kak diva terus." ucap doni.


"Iya kak, sumpah gue cuma bercanda. Gue juga seneng kali lihat loe jadian sama kak doni. Secara nanti kak doni kan jadi kakak ipar gue. Udah ya marahnya?" teriak vida.


"Udah udah, daripada mama pusing lihat kalian mendingan kalian bantuin mama nyiapin makan malam. Biar papa sama doni disini." ucap mama disa sambil menarik tangan diva dan vida.


Setelah kepergian ketiga perempuan tadi, papa deva kemudian meminta doni untuk duduk di sebelahnnya.


"Don, om boleh tanya sesuatu?" ucap papa deva sambil melepas kacamatanya.


"Tanya apa om?"


"Apa kamu menjadikan diva pacar kamu karna memang kamu mencintai dia, atau hanya krna kamu merasa tidak enak dengan kami?Atau papa, kakek dan nenek kamu yang memaksa kamu? Om gak mau kamu merasa tersiksa,karna setiap hubungan yang dipaksakan itu gak baik don." ucap papa deva dengan bijak.


"Om, maafin doni. Mungkin untuk saat ini doni memang belum mencintai diva dan diva pun juga mengetahui ini. Tapi doni akan berusaha mencintai diva om. Doni percaya diva diatas sana mama juga pasti ingin diva yang menjadi istri doni. Dan doni ingin belajar mencintai diva. Ini semua juga bukan karna paksaan dari papa, nenek atau kakek om. Ini pyur keputusan doni sendiri. Tapi om gak marah kan?"


"Enggak don, om mengerti kamu belum bisa mencintai diva. Dan andai saja sampai nanti kamu belum mencintai diva, sebaiknya kalian putuskan saja hubungan kalian. Om gak mau melihat diva semakin berharap sama kamu,walaupun jauh di lubuk hati om, om pengennya kamu yang akan menjadi suami diva. Tapi om gak mau memaksa kalian, karna rasanya menikah tanpa cinta itu sakit, apalagi jika kamu sudah mempunyai seseorang di samping kamu. Kamu paham kan sama ucapan om?" tegas papa deva.


"Iya om, doni mengerti. Orang tua mana pun pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jadi doni paham sama maksud om deva. Dan doni bakal buktikan sama om deva, kalau doni serius dengan diva." jawab doni.


"Iya don, om percaya sama kamu. Karna kamu putra andini orang yang sangat berarti bagi om. Makanya om yakin hati kamu pun selembut hati mama kamu."


Mendengar ucapan papa deva dan melihat mata papa deva yang berkaca kaca membuat doni menjadi teringat pada mamanya.


"Om, gantian doni yang pengen tanya sama om. Boleh?" ucap doni.


"Tanya aja don, kamu pasti mau tanya soal mama kamu ya?


"Iya, kok om tahu?Doni cuma pengen tahu aja seberapa dalam cinta om buat mama. Apalagi dulu yang doni denger, om dokter yang mengoperasi mama."


"Iya don, om lah yang membuat mama kami meninggal. Om yang sudah membuat mama kamu mengalami kecelakaan, hingga akhirnya dia menderita penyakit keras. Ini semua slah om don, andai saja dulu om tidak memutuskan cinta kami, semua ini pasti tidak akan terjadi." ucap papa deva sambil menangis.


Doni bukannya marah mendengar cerita papa deva, melainkan ia merasa iba dengan kesedihan dari wajah papa deva.


"Jujur ini yang buat doni sempat marah dan benci sama papa. Kenapa papa tega merebut pacar sahabatnya sendiri. Dan egoisnya, papa malah semakin membuat mama menderita dan merasakan penyakitnya sendirian om." ucap doni.


"Kamu salah doni. Papa kamu sangat mencintai mama kamu, walaupun dia sudah mengambil andini dari om tapi dia menepati janjinya untuk membahagiakan andini. Nyatanya dia bisa membuat hati mama kamu yang awalnya cinta sama om menjadi mencintai papa kamu. Jadi jangan pernah kamu membenci papa kamu, dia orang baik doni. Bahkan sampai sekarang pun papa kamu masih belum bisa membuka hati untuk wanita manapun." jawab papa deva sembari menepuk pundak doni.


"Iya om, nenek juga pernah cerita itu sama doni. Oh iya om, satu lagi. Apa sampai sekarang om masih mencintai mama? Terus gimana sama tante disa. Soalnya yang doni lihat om sangat mencintai tante disa."


Fiiiuhh...


Suara hembusan nafas papa deva.


"Sampai kapan pun gak ada yang bisa gantiin mama kamu di hati om. Bahkan tante disa pun sampai saat ini belum bisa menggantikannya. Dan ini yang namanya cinta gak harus memiliki. Melihat dia bahagia itu juga akan membuat hati kita bahagia, walaupun kita sendiri sudah kehilangan kebahagian kita." ucap papa deva dan akhirnya membuat doni meneteskan air matanya.


"Om deva orang yang baik. Dan cintanya sama mama sangat tulus. Semoga aja gue bisa kayak om deva, dan gue juga bisa mencintai diva dengan tulus sama kayak cinta diva sama gue." batin doni.