My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Lapor Polisi



Setibanya di apartemen, Aldo mengajak Andini masuk kedalam. Tak ada yang berubah dari penataan dari 20 tahun yang lalu.


"Al, maafkan aku ya. Seharusnya aku tidak pergi selama ini, harusnya aku menanyakan semuanya sama kamu. Aku menyesal Al,"ucap Andini sembari menangis dalam pelukan Aldo.


"Kita duduk ya sayang, lalu kamu ceritakan semuanya sama aku. Apa yang aku bilang benar kan? Jika Cindy sebenarnya juga datang bersama Nabila kan?"


"Enggak cuma itu Al," Andini kemudian menceritakan semua yang Cindy ucapkan pada dirinya.


Mendengar cerita Andini, Aldo berdiri dan kemudian ia mengambil kunci mobilnya.


"Al, kamu mau kemana?" tanya Andini yang berusaha menghadang langkah Aldo.


"Aku mau ketemu sama Cindy. Ternyata semua ini ulahnya. Aku pikir dia dulu sudah berubah, tapi semua hanya topeng dia untuk menutupi kelicikannya. Dia sudah buat hancur rumah tangga kita sayang. Dia sudah membuat aku terpisah dengan kamu selama 20 tahun. Dan aku akan buat perhitungan sama dia," ucap Aldo dengan nafas yang tidak beraturan.


Andini berusaha menenangkan Aldo yang emosinya kini tidak stabil. Ia memeluk suaminya begitu erat.


"Al, aku mohon tetap disini menemani aku. Aku hanya ingin melepas rindu dengan kamu. Aku mohon Al, biarkan semua berlalu."


"Apa kamu bilang Din? Melupakan? Kamu ingin aku memaafkan Cindy begitu saja. Andini, terbuat dari apa hati kamu. Kenapa begitu gampangnya kamu memaafkan dia."


"Aku memang ingin melupakan semua, tapi bukan berarti aku memaafkan Cindy. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi dengannya. Karna malam ini aku ingin kamu, suamiku," ucap Andini sambil mencium bibir Aldo.


Aldo yang memang sudah menantikan malam ini, langsung menggendong Andini ke ranjang mereka. Ia pun menciumi seluruh tubuh istrinya yang begitu ia rindukan.


"Kamu memang bisa membuat aku melupakan masalahku sayang," bisik Aldo.


"Iya Al, karna aku tahu kelemahanmu," jawab Andini sambil berusaha menggoda suaminya.


Akhirnya malam itu, Aldo kembali menyatakan tubuhnya dengan tubuh Andini. Dan tanpa mereka tahu, di rumah Doni begitu mengkhawatirkan mama dan papanya yang dari tadi belum juga kembali.


"Doni, gimana apa kamu bisa menghubungi mama dan papa kamu?" tanya Nenek Rara yang ikut mencemaskan keadaan putri dan menantunya.


"Belum nek, Doni juga khawatir sama mama. Doni masih takut kalau mama menyembunyikan sesuatu dari Doni. Atau jangan jangan penyakit mama kambuh ya nek?"


"Hust kamu bilang apa Doni. Oh iya apa jangan jangan mama dan papa kamu ke apartemen papa kamu. Siapa tahu mereka ingin menghabiskan waktu berdua mereka dan memberikan kamu adik," sahut Kakek Atmaja.


"Kamu itu bilang apa sih kek. Sudah jangan mikir kotor. Inget udah tua," jawab Nenek Rara.


"Tau nih kakek. Buat apa mereka ke apartemen kek. Lagian papa sama mama umurnya udah 40 tahun, mana mungkin bisa punya anak," sahut Doni.


"Memang masih bisa Doni, cuma nenek pikir gak mungkinlah mereka mau punya anak lagi. Apalagi kamu juga sudah mau menikah dengan Diva."


"Iya nek, kakek ini ngaco. Udah Doni mau mandi, nanti kalau mama udah datang kasih tau Doni ya nek, kek." ucap Doni.


"Iya Doni," jawab kakek dan nenek kompak.


**********


Keesokan harinya, Doni yang hendak berangkat kerja masih belum melihat keberadaan papa dan mamanya.


"Papa sama mama kemana ya? Apa mereka masih dikamar? Tapi tumben banget, jam segini kok mama belum bangun," batin Doni sambil berjalan menuju kamar orangtuanya.


Belum sampai Doni sampai didepan kamar papa dan mamanya, kebetulan ia berpapasan dengan Bi Siti.


"Eh bi.. bi... bi..., mama sama papa semalam pulang jam berapa ya? Kok tumben mama belum bangun?" panggil Doni.


"Loh mama sama papanya mas Doni kan belum pulang."


"Apa? Jadi mama sama papa belum pulang."


"Iya mas. Kalau gitu bibi permisi ya mas, mau beres beres dapur dulu," pamit Bi Siti.


"Iya bi," jawab Doni.


Perasaan Doni kini mulai campur aduk. Pikiran buruknya mulai mengisi otaknya.


"Mah, pah, kalian dimana? Apa terjadi sesuatu sama kalian?" batin Doni sambil berusaha menghubungi nomor orang tuanya yang masih belum aktif.


Doni bergegas pergi setelah mangambil tas kantornya.


Di depan teras, ia melihat Kakek Atmaja sedang membaca koran sambil minum kopi hitam kesukaannya. Ia pun lalu pamit pada kakeknya.


"Kek, mama sama papa belum pulang ya?" tanya Doni.


"Kok kakek tenang tenang aja sih. Aku berangkat ya kek, soalnya mau ke kantor polisi dulu kek."


"Hah, kantor polisi? Mau ngapain kamu Doni," ucap kakek yang langsung menoleh ke arah Doni.


"Ya mau lapor kalau mama sama papa belum pulang. Doni takut mereka di begal di jalan atau ada kejadian buruk lainnya."


Bukannya mendukung rencana Doni, Kakek Atmaja malah tertawa terbahak bahak mendengar perkataan cucunya.


"Kakek, kenapa ketawa? Emang ada yang lucu?" kesal Doni.


"Cucu, sebelum kamu lapor ke kantor polisi cek saja dulu ke apartemen papa kamu. Siapa tahu mereka sedang memadu kasih disana. Nanti jika memang mereka tidak ada disana, kamu baru lapor ke polisi. Kamu kan tahu mama san papa kamu batu bersatu kembali setelah 20 tahun berpisah. Jadi kamu seharusnya pahamlah. Sebentar lagi kamu juga akan merasakannya," ucap kakek sambil meneruskan membaca korannya.


"Tapi awas ya kek, kalau sampai keyakinan kakek salah. Aku marah besar sama kakek," gerutu Doni.


"Iya, sudah sana pergi. Kebetulan apartemen papa kamu kan dekat dengan rumah Diva. Jadi sekalian saja kamu jemput dia untuk berangkat ke kantor."


"Gak usah kakek suruh, tiap hari aku juga jemput Diva. Udah ya kek, Doni berangkat. Tolong bilang ke nenek kalau aku udah berangkat."


"Iya cu, hati hati ya," pesan kakek.


"Iya, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Doni melajukan mobilnya dan bergegas menuju apartemen papanya sesuai dengan pesan kakeknya.


Dan sesampainya disana, Doni bergegas menekan bel.


Ting Tong...


Suara bel apartemen Aldo.


"Al, bangun. Ada yang datang," ucap Andini sambil mengoyangkan tubuh Aldo.


"Arrghhh, sayang. Tidur lagi aja. Aku masih ngantuk."


"Tapi itu siapa Al. Atau jangan jangan Doni, atau mama sama papa," ujar Andini.


Mendengar nama Doni, Aldo bergegas memakai semua pakaiannya.


"Kalau sampai beneran Doni bahaya, dia kan punya kunci akses masuk kesini." batin Aldo yang mulai panik.


"Sayang, cepat kamu masuk ke kamar mandi ya."


"Loh emang kenapa? Apa jangan jangan itu selingkuhan kamu ya?" ucap Andini dengan mata yang mendelik.


"Bukan, aku takut itu Doni. Dia kan punya kunci akses masuk. Lah kamu mau, Doni melihat kamu dengan keadaan seperti ini."


"Kenapa kamu gak bilang sayang, yaudah aku pergi ke kamar mandi dulu."


Sesaat setelah Andini pergi ke kamar mandi, Doni langsung masuk ketika teringat dengan kunci duplikat miliknya.


"Papa, ternyata papa disini. Terus mama mana pah?" tanya Doni.


"Eh kamu Don, i.. i.. itu mama ada di kamar mandi," jawab Papa Aldo yang sedikit gugup.


Melihat keadaan ranjang yang berantakan, dan baju mamanya yang masih berserakan di lantai. Doni pun kini percaya dengan ucapan kakeknya.


"Ternyata jiwa mama dan papa gue masih mudah juga ya. Pantes aja wajah papa jadi merah gitu. Untung gue tadi pencet bel dulu, kalau gue masuk pasti mereka sekarang malu banget sama gue," batin Doni dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Don, kamu kenapa kok senyum senyum?" tanya Papa Aldo.


"Enggak kok pah, aku langsung berangkat kerja aja ya pah. Masih jemput Diva juga. Nanti kalau terlambat, papa marah."


"Ya pasti marah. Karna kamu itu jadi contoh karyawan karyawan kamu. Apa kata mereka jika pemimpinnya saja suka datang terlambat ke kantor."


"Iya iya pah, kalau gitu salam buat mama ya pah. Jangan lupa bawa oleh oleh adik buat Doni," ujar Doni yang langsung pergi dari sana.


Wajah Aldo seketika memerah karna godaan dari putranya. Matanya langsung membulat, saat matanya tertuju dilantai.


"Andini, Andini. Kenapa kamu teledor banget. Kok bisa bisanya lupa bawa baju dan dalemannya. Pantas saja tadi Doni menggoda aku. Pasti dia melihat pakaian kamu yang berserakan dilantai," batin Aldo sambil menggelengkan kepalanya.