
Dua hari sudah berlalu, hubungan Doni dan Diva semakin erat. Bahkan sikap Doni kini semakin manis hingga membuat Diva semakin mencintai calon suaminya itu.
Pagi itu, Doni yang hendak menjemput Diva untuk ke kantor tiba tiba berbalik arah ketika ia mendapat kabar akan kedatangan Tanisha. Tak lupa Doni mengabari Diva dan meminta dirinya untuk berangkat ke kantor sendiri.
"Halo Kak," ucap Diva
"Halo Div, maaf ya pagi ini aku gak bisa jemput kamu. Aku mau servis mobil dulu. Kamu berangkat sendiri gak papa?"
"Gak papa kak. Yaudah sampai ketemu di kantor ya kak."
"Iya. Tapi serius kamu gak papa."
"Gak papa kali kak. Udah kak Doni urus mobil kakak dulu ya. Biar Diva minta tolong papa buat nganter ke kantor."
"Yaudah hati hati ya sayang. Love you," ucap Doni.
"Love you too kak," jawab Diva.
Setelah selesai mengabari Diva, Doni pun dengan segera menjemput Tanisha yang menunggu sudah dari tadi menunggu dirinya.
Setibanya di bandara, Doni bergegas menemui Tanisha. Dan mereka berdua saling berpelukan sembari melepas kerinduan mereka.
"Hai don, how are you?" sapa Tanisha sambil mencium pipi Doni.
"Fine, and you?"
"Yess you can tell, i'm not okay,(Ya kamu tahu, aku sedang tidak baik baik saja)" jawab Tanisha.
"Sudahlah, masih banyak laki laki yang jauh lebih baik dari Justin. So, lupakan dia ya," ucap Doni.
"Oh ya, contohnya?" tanya Tanisha sambil menatap Doni dengan senyuman manisnya.
"Hmmm, I don't know. Ya banyaklah Sha. Lebih baik sekarang aku anter kamu ke hotel aja ya. Soalnya aku masih ada beberapa pekerjaan. Tadi aku sudah pamit ke Diva untuk datang terlambat hari ini. Jadi, aku gak enak jika terlambat lama datang ke kantor."
"Diva? Who is she don?" tanya Tanisha sambil memicingkan sebelah matanya.
"Oh dia sekretarisku," jawab Doni.
"Oh ya? Hanya sekretaris gak lebih?"
"Hahahaha, kamu itu kenapa Sha?Jealous ya?"
"No, sejak kapan aku menjadi tipe pencemburu don."
"I know, lain kali aku akan cerita soal Diva pada kamu,tapi tidak hari ini ya. Sekarang ayo aku anter kamu, dan setelah itu aku langsung ke kantor."
"Okay Don, thanks ya," ucap Tanisha.
"Sama sama Sha," jawab Doni.
Selama di mobil, Tanisha menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan Justin. Terlihat jelas rasa cinta Tanisha masih begitu dalam, mungkin juga sedalam rasa sakit hati yang ia rasakan.
Karna kasihan, Doni pun berjanji untuk menemani Tanisha selama berada di Indonesia. Dan ia juga akan mengajak dinner wanita yang pernah singgah di hatinya itu.
"Sha, kita udah sampai. Nanti malam aku jemput kamu ya," ucap Doni.
"Okay Don, aku tunggu ya."
"Iya, kalau gitu aku langsung pergi ya. Kamu gak papa kan masuk ke hotel sendirian?"
"Gak papa Don, tenang saja. Sudah cepat berangkat, nanti kamu dicari Mickael dan sekretaris kamu loh."
"Hahahaha, iya iya. Kamu tahu aja. See you Sha," pamit Doni.
"See you Doni," jawab Tanisha sambil melambaikan tangannya.
Dikantor, Diva mondar mandir di dalam ruangannya sambil terus melihat kearah jam dinding. Hingga pukul 10, Doni masih saja belum tiba. Beberapa kali ia menghubungi nomor Doni, namun nomor Doni masih saja tidak aktif.
Karna khawatir, Diva pun memutuskan pergi keruangan Mickael.
Tok...tok...tok...
"Masuk," ucap Mickael sembari melihat ke layar laptop.
"Permisi kak, aku ganggu gak?"
"Oh kamu Div, masuk."
"Makasih kak," jawab Diva sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Mickael.
"Ada apa Div? Tumben kamu kesini?" tanya Mickael yang kini sudah menutup laptopnya.
"Kak Doni kok belum datang ya kak? Ini udah jam 10 loh. Dia udah terlambat dua jam. Diva coba telpon, tapi nomernya gak aktif. Aku khawatir kak, kalau Kak Doni kenapa napa," ucap Diva.
Michael terdiam sambil mencoba mencari alasan. Jujur ia tak tega melihat kecemasan di wajah Diva, sedangkan orang yang di pikirkan Diva kini tengah pergi bersama wanita lain.
"Kak, kok diem sih. Apa kak Doni kenapa napa di jalan ya kak?" tanya Diva yang seketika membuyarkan lamunan Mickael.
"Oh, iya. Tadi Doni bilang kalau baterainya low bat. Dan sebelum ponselnya mati dia pesan kalau dealernya rame jadi antrinya banyak."
"Tapi kak..."
"Lah itu orangnya," ucap Mickael hingga membuat Diva menoleh ke belakang.
"Eh kak Doni. Dari mana aja sih kamu kak, aku khawatir tau," ucap Diva yang langsung memeluk erat tubuh Doni.
"Div lepas dong. Malu di lihat Mickael," jawab Doni.
"Eh iya maaf aku lupa kak."
"Terus kamu ngapain disini? Berduaan lagi sama Mickael," ucap Doni dengan mata yang melirik bergantian ke arah Diva dan Mickael.
Diva yang tahu jika Doni sedang cemburu, berusaha merayunya. Ia pun memeluk lengan Doni sambil mengelus pipinya.
"Kak, Diva tadi kesini cuma mau minta tolong Kak Mickael buat hubungi handphone kakak. Ternyata handphone Kak Doni baterainya habis ya."
Bingung dengan maksud perkataan Diva, Doni lalu melirik sekilas ke arah Mickael yang sedang mengode dirinya dengan kedipan mata.
"Oh iya Div, handphone kakak mati."
"Oh, terus dealernya juga rame ya kak?" tanya Diva kembali hingga membuat mata Doni kembali menatap Mickael.
"Eh iya, rame sayang. Udah sekarang mendingan kamu balik ke ruangan kamu ya. Soalnya kak Doni mau meeting sebentar sama Mickael."
"Oke kak, nanti jam makan siang makan bareng kan?"
"Pasti dong, yaudah sana balik kerja lagi."
"Iya kak," jawab Diva yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja Mickael.
Sambil membuang nafasnya, Doni merebahkan dirinya di sofa.
"Hampir aja Diva tahu kalau gue bohong," ucap Doni dengan tangannya yang menutupi wajahnya.
"Gila loe Don. Kenapa sih loe gak jujur aja sama Diva."
"Buat apa Mic, toh gue sama Tanisha gak ada hubungan apa apa kan?"
"Yakin? Loe udah gak punya perasaan sama dia?"
"Ya iyalah, emang kenapa?" tanya Doni balik.
Mickael berdiri dari kursinya dan duduk menyebelahi Doni.
"Jangan main api bro. Karna kalau sampai loe menyakiti Diva, gue orng pertama yang akan mengambil Diva dari loe," ucap Mickael dan membuat Doni kembali duduk sambil menatap mata Mickael.
"Maksud loe apa? Jangan bilang loe naksir Diva? Cepat bilang, maksud loe bilang barusan apa?" teriak Doni sambil menarik kerah baju Mickael.
Mickael melepas tangan Doni yang menarik kerah kemejanya. Ia berdiri dan membalas tatapan Doni yang tak kalah tajam.
"Jujur bro, gue emang punya hati sama Diva. Tapi loe tenang aja, gue bukan teman makan teman. Gue akan berusaha membuang perasaan gue sama Diva. Soalnya gue tahu, Diva cinta mati sama loe. Jadi jangan pernah loe sakiti dia, atau loe benar benar akan kehilangan dia. Hari ini gue bantuin loe buat bohong sama Diva, tapi berikutnya gue lepas tangan," ujar Mickael yang berhasil membuat Doni cemburu.
"Br*****k loe Mic, jadi selama ini loe menyimpan perasaan sama Diva?" ucap Doni sembari melempar satu pukulan ke wajah Mickael.
Buughh...bugghhh...buughhh..
Doni menghujani Mickael dengan beberapa pukulan dari tangannya. Hingga Mickael pun terjatuh ke lantai.
Sambil membersihkan darah yang mengalir di tepi bibirnya, Mickael justru tertawa melihat Doni saat ini.
"Hahahaha, akhirnya gue tahu kalau loe juga udah cinta beneran sama Diva," ucap Mickael.
"Maksud loe apa?"
"Ucapan gue tadi cuma bercanda kali Don. Tapi pukulan loe sakit juga ya. Gimana akting gue barusan, bagus gak?"
"Akting? Jadi tadi loe cuma ngerjain gue?"
"Hahahaha, iya lah. Loe kira gue beneran suka sama Diva? Mana mungkin, Diva bukan selera gue kali Don. Gue cuma mau tahu aja, sebenernya loe itu masih cinta sama Tanisha atau beneran udah mencintai Diva. Habis gue bingung sama sikap loe tau," jelas Mickael.
Doni mengulurkan tangannya dan membantu Mickael untuk bangkit dari lantai. Ia pun merasa bersalah karna telah memukul wajah Mickael hingga menjadi lebam.
"Sialan loe, ngapain loe pakai acara ngetes gue kayak tadi. Muka loe jadi babak belur kan."
"Gak papa. Makanya jadi cowok harus tegas Don. Gue rasa mending loe jangan kasih perhatian lebih ke Tanisha. Takutnya dia mengira loe masih mengharap. Lagi pula loe juga harus jaga perasaan Diva."
"Iya, loe tenang aja Mic. Nanti malem gue bakal cerita soal Diva sama Tanisha. Kebetulan gue mau dinner sama dia."
"Dinner? Bener bener loe Don, cari mati. Tapi terserah loe ajalah, yang penting jangan libatin gue. Sekarang gue mau kerjain tugas dari loe kemarin malam. Mending loe balik sana ke ruang kerja loe. Nanti kalau kelamaan disini, Diva curiga."
"Hmmm, kalau gitu gue pamit. Tapi bener kan loe gak menyukai calon bini gue."
"Enggak, udah sana buruan pergi," usir Mickael.
"Iya iya," jawab Doni yang langsung berjalan kearah pintu.
Setelah kepergian Doni, Mickael kembali duduk ke kursi kerjanya sambil melihat foto Diva yang ia simpan di dalam ponselnya.
"Maafin gue Don. Sebenarnya gue emang punya perasaan sama Diva. Tapi gue janji, gue gak akan merusak hubungan kalian. Karna gue tahu perasaan gue ini salah. Gak seharusnya gue mencintai pacar sahabat gue sendiri," batin Mickael.