
Doni masuk ke dalam kantor dengan langkah lunglai, tatapan yang kosong dan penyesalan yang terus ia rasakan.
"Diva kamu kemana? Maafin kakak Div. Kak Doni bodoh Diva, kak Doni bodoh," rutuk Doni.
Meski hati hancur, akal sehat terus berjalan. Doni teringat dengan seseorang yang sudah membuat Diva pergi darinya. "Tanisha, dia harus tanggung jawab dengan semua ini," batin Doni.
Segera ia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Tanisha. Tapi sayang, nomornya sedang tidak aktif.
Saat sampai di ruang kerjanya, ia masih berusaha menelpon Diva namun tetap saja hasilnya nihil. Nomor itu sudah tidak aktif. Tak menyerah, ia juga mencoba menghubungi semua anggota keluarga Diva, tapi tak ada satupun yang menjawab. Bahkan saat ini nomornya sudah di blokir oleh Disa dan Vida.
"Hancur sudah semuanya," sebuah kalimat yang terlontar pelan dari mulut Doni.
Sekarang Doni hanya bisa memandangi wajah Diva lewat layar ponsel. Biasanya setiap pagi, jangankan memegang Doni bisa mengecup kening, bibir ataupun pipinya setiap waktu.
Rasanya hampa sekali, jauh lebih hampa saat dulu ia mendengar rencana pertunangan Tanisha dengan Justin. Ya mungkin dulu ia hanya mengagumi tanpa memiliki jadi rasanya tak seberat saat memiliki namun ia kini sudah pergi.
Buliran air terus berlinang di matanya, hingga tanpa ia sadari Mickael sudah duduk tepat di depannya.
"Don, loe kenapa? Kalau ada masalah cerita sama gue. Siapa tau gue bisa bantu," tanya Mickael.
"Diva pergi," jawab Doni dengan pandangan kosong.
"Pergi kemana? Yaudah sih tinggal telpon terus loe samperin. Gak perlu sampai alay kayak gini lagi Don."
"Bukan pergi jarak dekat, tapi dia pergi jauh ninggalin gue. Dia minta putus."
Dueeer...
Mickael kaget bukan main. Gimana ceritanya seorang Diva yang begitu mencintai, mengagumi bahkan sabar menanti Doni selama ini tiba tiba minta putus.
"Maksud loe gimana sih? Kok bisa?" Mickael terus saja menghujani Doni dengan pertanyaan yang masih membuatnya penasaran. Karna mustahil Diva pergi tanpa sebab.
"Dia batalin acara pernikahan. Dan sekarang dia pergi sama keluarganya. Gue gak tahu dia kemana, nomornya udah gak aktif. Bahkan nomor gue juga udah di blokir sama mama dan adiknya. Kalau sama Om Deva belum, tapi telpon gue gak diangkat," jelas Doni.
"WHAT? emang loe sama Diva ada masalah apa sih? Kok bisa sampai keluarganya juga marah besar sama loe. Lagipula bukannya bokap nyokapnya Diva temen baik sama bokap nyokap loe."
Doni sudah tak bisa berkata. Ingin jujur pada Mickael, Doni sudah tak punya nyali. Mulut yang terkunci itu sulit sekali untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Tanisha.
Mickael semakin penasaran. Tak biasanya Doni diam seribu bahasa. Jikalau dia tak bersalah, Doni akan mati matian membela diri, tapi kenapa sekarang tidak? Masih banyak pertanyaan yang ada di kepala Mickael.
Hingga matanya tiba tiba tertuju dengan sebuah foto yang jatuh di lantai. Meski sudah di remas, namun foto itu sudah menjadi bukti tentang alasan apa yang membuat Diva pergi.
"Don, ini apa?" Mickael begitu geram. Tangan kirinya sudah mengepal, melihat pemandangan yang mengotori matanya saat ini.
Bughh...
Mickael melempar beberapa pukulan ke wajah Doni. Namun sahabatnya itu tak membela diri. Karna hatinya jauh lebih sakit dari pukulan yang di berikan Mickael.
"Loe gila Don, loe gila. Gue aja yang cuma sahabat loe jijik lihat foto ini apalagi Diva."
"Gue tahu, kalau loe mau pukul gue lagi pukul aja Mic. Gue pantes buat dapetin ini. Karna luka yang gue gores di hati Diva gak sebanding sama luka yang loe berikan," ujar Doni.
Saat perasaannya mulai tenang, Mickael mulai mengatur nafas. Ia mulai menjernihkan pikirannya, kalau seperti ini terus, Doni bisa tahu tentang perasaannya pada Diva.
Meski tatapan tajam tak beralih dari arah pandangannya pada Doni, namun kini Mickael jelas melihat penyesalan dari wajah Doni. Rak pernah sebelumnya, ia melihat sahabatnya merasa down hingga seperti ini.
"Nih, lap darah di bibir loe pakai tisu. Sekarang loe cerita gimana semuanya bisa terjadi," ucap Mickael sembari memberikan selembar tisu kepada Doni.
"Gak usah pakai tisu, pakai tangan aja," Doni mengelap darah segar di ujung bibirnya.
Doni mulai menceritakan awal kejadian yang mengenakan tapi berujung penyesalan pada Mickael. Geram? Pasti. Bisa bisanya Doni enak enakan dengan wanita lain, sedangkan wanitanya sendiri ia lupakan begitu saja.
Saat arah pembicaraan mulai menjurus pada Justin dan Christy, Mickael merasa ada yang janggal. Yang ia tahu Christy gadis yang polos dan lugu, disini pasti ada kesalah pahaman. Pikirnya.
"Tunggu, tunggu. Berhenti dulu Don," Mickael menyela ucapan Doni saat membahas tentang Christy dan Justin.
"Hmmm, gue belum selesai Mic."
"Iya tapi loe dengerin gue dulu. Loe lupa dari dulu Christy itu suka sama gue. Malah beberapa kali dia nembak gue. Loe lupa?" ujar Mickael.
"Gak gue gak lupa. Tapi namanya hati siapa yang tahu. Apalagi loe di Indonesia dia di Jerman. Semua pasti udah berubah. Andai aja Justin sama Tanisha gak ada masalah, pasti Tanisha gak senekat itu sama gue," Doni kembali menangis, mengingat kejadian malam itu. Ia melanjutkan lagi perkataannya yang belum selesai.
Setelah selesai bicara, Mickael sudah tak bisa berkata apa apa lagi. Semua sudah terlanjur menjadi bubur. Mickael hanya bisa mendoakan hubungan Doni. Harusnya putusnya hubungan Doni dan Diva membuat dirinya bahagia, tapi entah kenapa Mickael enggan mengambil kesempatan ini. Ia sudah memutuskan untuk memupus perasaannya pada Diva.
Mickael lalu keluar, memberikan waktu untuk Doni sendiri. Tapi pikirannya kembali tertuju pada Christy. Mengingat beberapa ini, dia dan Christy sedang dekat.
Didalam ruang kerjanya, Mickael menuntaskan apa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Segera ia ambil ponselnya, menghubungi Christy.
Setengah jam pembicaraan antara Mickael dan Christy berlangsung. Bahkan demi ini semua, Mickael merelakan jam makan siangnya.
Christy yang semula masih menutupi semua, mulai membuka suara. Mickael berhasil meyakinkan Christy untuk menutup rapat rapat, rahasia antara dirinya dan Ririn. Hingga sambungan telpon kini sudah terputus.
Walaupun kecewa pada Christy, Mickael tahu posisi Christy saat itu. Mengingat Christy yang ia kenal sifat, sikap dan gaya pakaiannya berbeda dengan Tanisha. Apalagi Justin bukan tipenya, begitu juga sebaliknya. Dan keadaan itu justru di manfaatkan oleh mama tirinya Tanisha.
"Sudah gue duga, pasti ada dalang dari kejadian ini. Untung aja gue masih inget omongan Om Aldo soal siapa Tanisha. Mama tiri Tanisha ini licik dan berbahaya. Mending gue segera kasih tahu Om Aldo. Biar dia aja yang bertindak," batin Mickael sembari mengambil ponselnya kembali dan menelpon Aldo lalu menjelaskan semua yang sedang terjadi.