
Mobil Doni kini berhenti di basement sebuah mall. Doni kemudian menggandeng tangan Diva dan mengajaknya masuk kedalam mall.
"Kak, ngapain kesini. Jam istirahat tinggal sepuluh menit lagi loh. Kalau mau ngajak Diva belanja nanti pulang dari kantor kan bisa," ujar Diva.
"Bisa gak sih kamu diem dan nurut sama kakak. Masalah kantor udah ada Mickael,jadi kamu gak perlu khawatir."
"Iya deh kak, Diva ngikut aja."
Tak berapa lama Doni mengajak Diva masuk ke sebuah toko berlian. Dan dengan langkah ragu, Diva tetap mengikuti kemauan Doni.
"Selamat siang kak, mau cari apa?" tanya pelayan di toko itu.
"Iya mbak, saya mau cari cincin buat pernikahan untuk kami. Saya ingin model keluaran terbaru kak," jawab Doni.
"Kak, udah yang biasa aja. Yang penting kan bukan cincinnya tapi arti sebuah pernikahan itu sendiri kak," bisik Diva.
Doni lalu memegang kedua pundak Diva sembari menyentuh pipi mulus Diva.
"Diva sayang, memang benar kata kamu yang terpenting arti pernikahan itu sendiri. Tapi apapun salah kakak ingin memberikan yang terbaik untuk calon istri kakak ini? Jadi kakak minta, kamu pilih ya sesuai selera kamu. Karna selera kamu pasti aku juga suka yank," ucap Doni.
Mendengar ucapan Doni membuat hari Diva menjadi berbunga-bunga kembali. Kekesalannya tadi pada Doni seakan musnah begitu saja setelah mendengar rayuan Doni.
"Kak Doni makasih ya. Div sayang banget sama kakak," ucap Diva sembari memeluk Doni.
"Iya sama sama sayang." jawab Doni.
Handphone Doni pun tiba tiba berbunyi, dan saat ia menengok ponselnya lagi lagi Tanisha yang menghubungi dirinya.
Namun karna tak ingin merusak moment kebahagiannya dengan Diva, Doni tk menghiraukan panggilan Tanisha dan kembali masuk kedalam toko tersebut.
Doni menemani Diva yang sedang memilih milih beberapa cincin untuk pernikahannya nanti.
"Kak, ini bagus ya? Yang ini juga. Kakak suka yang mana?" tanya Diva
Ikut bingung dengan cincin yang di hadapannya, Doni hanya menggarukan kepala karna bingung dengan pilihan dari Diva.
"Kak, yang mana? Kok malah diem sih," gerutu Diva.
"Eh sama aja sayang, aku suka semua. Apa mau kita beli semua?" tanya Doni yang membuat Diva seketika memelototkan bola matanya.
"Kak Doni!! Dimana mana cincin nikah itu sepasang, kalau diborong sama aja kakak mau buka toko perhiasan sendiri." jawab Diva.
"Hahahaha, lah daripada kita bingung mending ketinggalan beli semua kan?" goda Doni.
Diva menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan pacarnya yang selalu boros ini.
"Udah yang ini aja deh Kak, bagus kan simple juga," ucap Diva sambil menunjuk cincin bermata satu.
"Boleh boleh, bagus juga ya selera calon istriku ini," Doni berkata sembari menyentil hidung Diva.
"Kak Doni apaan sih. Malu tuh dilihat sama mbaknya."
"Gak papa kok mbak, saya malah seneng kalau ada pasangan yang romantis kayak mbak dan masnya," ucap seorang penjaga toko itu.
"Tuh kan sayang, apanya yang bikin malu. Kakak kan gak jelek, kenapa kamu malu," ucap Doni dengan puppy eyesnya.
"Udah deh, gak usah sok narsis."
"Hahahaha, narsis sama pacar sendiri gak papa kan?"
"Iya iya, oh iya mbak kalau mengukir namanya butuh waktu berapa hari ya?" tanya Diva.
"Hmmm, paling sekitar 3 hari ya mbak. Nanti diambil kesini aja."
"Oke deh mbak."
"Kalau gitu kakak bayar dulu ya, kamu tunggu disini," ucap Doni.
"Iya kak."
Saat Doni sedang dikasir, ia melihat ada sebuah kalung yang cantik. Doni pun membeli kalung itu untuk memberi kejutan pada Diva.
"Mbak saya ambil yang ini juga ya, tapi tolong di taruh di kotak perhiasan."
"Baik mas."
Selesai dari sana, Doni dan Diva kembali ke kantor. Namun sebelumnya mereka membelikan pesanan untuk Mickael.
Sesampainya di parkiran kantor, Diva hendak keluar dari mobil Doni namun tangan Diva di tarik oleh Doni.
"Sayang, tunggu," ucap Doni.
"Ada apa kak? Kita udah telat satu jam loh," gerutu Diva.
"Aku mau kasih sesuatu. Kamu merem dulu ya."
"Kak Doni jangan aneh aneh deh. Jangan main cium cium lagi."
"Udah nurut aja sama kakak, apa susahnya sih tinggal merem. Kalau Kak Doni mau cium kamu gak perlu kan nyuruh kamu merem," ujar Doni.
"Iya iya, ini Diva udah merem," jawab Diva kesal.
Doni kemudian mengambil perhiasan yang sudah ia beli tadi. Ia pun memakaikan kalung itu di leher jenjang Diva.
"Sudah sayang, ayo buka mata kamu," ucap Doni.
Diva pun menitihkan air matanya. Ia melihat sebuah kalung cantik berbandul D melingkar di lehernya.
"Kak, ini apa?" tanya Diva dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu suka gak sayang?"
"Suka kak, suka banget. Makasih Kak Doni. Diva sayang banget sama kakak," ucap Diva sembari memeluk erat tubuh Doni lalu mencium kedua pipinya.
Wajah Diva seketika memerah karna malu. Hingga membuat Doni gelas dengan wajah polosnya itu.
Cupp..
Satu kecupan mendarat di bibir merah Diva.
" Div, terima kasih ya karna kamu selalu mencintai dan menyayangi kakak selama ini.""
"Iya kak, terima kasih juga karna kakak udah buat Diva bahagia hari ini."
"Yaudah ayo masuk. Di jaga ya kalung dari kakak itu."
"Pasti kak," ucap Diva.
Saat masuk kedalam kantor, semua mata karyawan tertuju pada keromantisan Doni dan Diva. Mereka tak malu berjalan sambil bergandengan. Bahkan ada beberapa karyawan menyapa mereka, dan Doni membalas dengan senyuman.
"Kak, tumben disapa kok manis gitu. Biasanya aja kayak batu diem lempeng kedepan," ujar Diva.
"Karna hari ini kakak lagi happy. Kamu ke ruangan kakak dulu ya,"
"Mau ngapain kak?" tanya Diva namun hanya dibalas senyum licik doni.
"Gue udah tau nih maksud Kak Doni. Dasar piktor banget sih calon suami gue ini," batin Diva.
Di tengah jalan, saat hendak memasuki ruangan tiba tiba Mama Andini dan Papa Aldo datang ke kantor Doni.
"Mama papa," ucap Doni sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
"Om, tante," sambung Diva yang juga ikut mencium tangan mereka.
"Loh kalian dari mana nak?" tanya Andini.
"Doni, kamu darimana? Bukankah ini jam kantor, kenapa kamu malah main pergi dari kantor. Apa kata karyawan kamu nanti, jika pimpinannya saja tidak disiplin," sambung Papa Aldo.
"Al, sudah. Toh ini masih jam dua kan. Paling mereka ada sesuatu. Memang kalian darimana sayang?" tanya Mama Andini dengan suara lembutnya.
"Kita masuk dulu ya pah, mah. Doni jelasin di dalam."
Mereka semua pun masuk ke ruangan Doni. Wajah Papa Aldo begitu nampak kesal, karna memang dirinya orang yang sangat disiplin. Dan ia tidak ingin anaknya tidak seperti dirinya.
"Doni, kamu tahu papa itu tidak pernah terlambat datang ke kantor. Bahkan jika tkdak ada urusan mendesak, papa tidak akan meninggalkan kantor," ucap Papa Aldo.
"Om, jangan marah sama Kak Doni ya. Tadi Kak Doni nganterin Diva ke kampus buat ambil pengumuman," sahut Diva.
"Oh iya Diva, hari ini kamu pengumuman ya. Tante sampai lupa, terus gimana hasilnya sayang?" tanya Mama Andini.
"Diva keterima kuliah disana tante."
"Alhamdulillah. Nanti kita bisa ketemu tiap hari dong. Tante kan juga jadi dosen disana."
Tatapan Papa Aldo kemudian terarah pada istrinya. Ia tak mau Andini bekerja, karna ia ingin menghabiskan waktu yang sudah mereka buang selama ini.
"Al, kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Andini.
"Hmmm, Gak perlu aku bilang seharusnya kamu tahu kan? Aku tidak ingin kamu bekerja. Kita sudah kehilangan waktu 20 tahun, makanya aku pensiun dini dari kantor karna aku ingin menghabiskan waktuku bersama kamu," jawab Papa Aldo.
"Sudah dong pah, mah. Apa kalian gak bisa gak berdebat sehari aja," sahut Doni yang membuat kedua orang tuanya seketika diam.
"Terus sehabis dari kampus kamu sama Diva kemana? Gak mungkin kan kalau hanya dari kampus Diva aja kalian bisa terlambat," tanya Papa Aldo kembali.
"Makanya dengerin Doni dulu pah. Tadi Doni ajak Diva nyari cincin pernikahan buat pernikahan kita nanti."
"Oh jadi kamu sudah memutuskan untuk menikahi Diva?"
"Iya pah," jawab Doni.
"Wah bagus, kalau begitu besok malam kita kerumah kamu ya Diva. Tolong sampaikan pada orang tua kamu kalau kita akan datang untuk melamar kamu," ucap Papa Aldo.
"Tapi kalau besok malam gak bisa deh om, tante."
"Loh memang kenapa?" tanya Mama Andini.
"Besok Om Reva dan Tante Cindy mau main kerumah karna mereka baru liburan ke Indonesia. Dan papa sempat minta tolong Diva biaya nyampein ini ke tante dan om."
"Jadi Cindy mau kesini?"
"Iya Tante." jawab Diva.
Andini dan Aldo pun saling bertatapan. Mereka sudah tahu maksud dari perkataan Deva.
"Baik diva sampaikan pada mama dan papa kamu kalau besok om dan tante akan datang kerumah mereka besok," ucap Papa Aldo.
"Baik om."
Tak lama Andini dan Aldo kembali ke rumah mereka. Dan selama perjalanan pulang tatapan Andini selalu kosong.
"Besok aku akan mengetahui kebenarannya. Sahabatku atau suamiku yang berbohong dan berkhianat," batin Andini sambil menghapus air matanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aldo sembari menggenggam tangan Andini.
"Nasib rumah tangga kita tinggal besok Al. Jika kamu berbohong, maaf aku rasa aku tidak bisa memaafkan kamu. Tapi jika memang semua ini karna Cindy, aku gak akan pernah mau lagi bersahabat dia," ucap Andini dingin.
"Tapi sayang, bukankah kemarin kamu sudah mau memaafkan aku?"
"Iya, karna aku punya keyakinan kalau kamu tidak bersalah. Tapi jika semua keyakinanku terbukti salah, maaf Al aku hanya ingin hidup sendiri," jawab Andini.
Aldo pun langsung memalingkan wajahnya. Ia takut jika ia benar benar akan kehilangan istri yang sudah lama pergi dari hidupnya.
"Ya Tuhan, aku mohon tunjukkan kebenaran tentang semuanya." Aldo bergumam dengan hatinya sendiri.