My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Mimpi Buruk



"Sekarang kita berkemas ya. Kita pergi subuh," ujar Deva.


"Kok berangkat besok? Memang papa sudah pesan tiket buat Diva?" tanya Disa.


"Belum mah. Tapi kita akan pergi liburan dulu keluar kota, dan Diva akan berangkat dari bandara disana. Kalau dari bandara sini, Doni bisa tahu kemana Diva pergi," jawab Deva. Deva sudah hafal dengan sifat Doni yang seperti Aldo.


"Iya benar juga sih pah. Yaudah Diva cepat kamu bersiap, kita pergi besok subuh ya," ujar mama.


"Iya mah."


Disa dan Deva mulai pergi dari kamar Diva. Dan sebelum pergi, Deva membisikkan sesuatu pada Diva


"Jika kamu ingin menelpon Doni, papa izinkan tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Dan setelah itu, buang semua kenangan kamu dan dia. Mengerti nak?" bisik papa.


"iya pah, Diva ngerti," jawab Diva.


Malam itu semua sudah mulai berkemas. Menyiapkan diri, untuk pergi esok dini hari.


Didalam kamarnya, Diva merobek semua foto antara dirinya dan Doni. Dan sesuai kata hati, ia menelpon Doni untuk terakhir kalinya.


Dirumahnya, Doni yang sedang makan malam bersama mama papa dan nenek kakeknya melihat ke layar ponsel yang bergetar disamping piring.


"Semuanya, Doni angkat telpon dulu ya," pamit Doni.


"Iya Don, memang siapa yang telpon. Kok happy banget," tanya mama.


"Siapa lagi sayang, pasti Diva lah," sahut papa.


"Iya mah, pah, Diva," ujar Doni sembari berjalan menjauh dari meja makan.


Baru saja mau diangkat, telpon dari Diva sudah mati. Namun dengan segera Doni menghubungi Diva balik.


"Halo sayang, kamu baru bangun? Gimana udah enakan badannya?"


"Udah kak, cuma ini masih tiduran. Kak Doni lagi apa?"


"Oh ini lagi makan malam sama mama, papa, nenek, dan kakek dirumah. Apa kamu mau aku jenguk, biar cepet sembuh?"


"Gak usah kak. Diva masih mau lanjut tidurnya."


"Oh gitu ya yank. Tapi kok tumben sih kamu agak menjauh dari kakak hari ini. Ada apa sayang? Kalau lagi ada masalah bilang sama aku biar aku juga tahu."


"Enggak kok kak, itu cuma perasaan Kak Doni aja. Udah dulu ya kak, dan besok Diva ijin gak masuk dulu ya kak. Soalnya Diva masih mau istirahat."


"Iya sayang. Yaudah bobok lagi gih, besok pulang kerja Kak Doni mampir kerumah. Mau di bawain apa?"


"Diva gak pengen apa apa kak. Aku cuma pengen Kak Doni jaga hati dan setia aja sama aku selama aku gak disamping kak doni."


"Maksud kamu apa sih Div? Memang kamu mau kemana?" Doni mulai curiga.


"Ya gak kemana mana, cuma aku kan gak mungkin di samping kamu terus kan kak. Kayak sekarang, aku dirumah, kamu juga dirumah."


"Oh,kalau itu pasti sayang."


"Yaudah ya kak, Diva juga mau turun buat makan malam sama mama papa dan Vida. Kak Doni lanjut aja makan malamnya. Salam buat tante, om, nenek dan kakek ya kak."


"Iya sayang, love you."


"Love you more kak," jawab Diva diikuti air matanya yang jatuh.


"Kak, kenapa sih kak kamu melakukannya. Andai semua ini gak terjadi, mungkin sekarang aku masih bahagia bersama kamu. Makan malam diluar sepulang aku dari kuliah. Bercanda tawa bersama. Tapi kenapa kak. Apa salahku selama menjadi pacar kamu. Kurang setia apa aku sama kamu," batin Diva.


Diva menangis sejadi jadinya, meluapkan segala kekecewaannya pada Doni.


"AKU BENCI KAMU KAK DONI. AKU BENCI KAMU!" Diva berteriak sekencang kencangnya. Karna itu caranya melepaskan semua kesedihan di hatinya.


Di teras bawah, Disa dan Deva mendengar teriakan putrinya yang sedang patah hati. Mereka juta dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Diva saat ini.


"Pah, kenapa semua jadi seperti ini," ujar Disa. Perasaan ibu mana yang tega melihat anaknya disakiti.


Deva memeluk istrinya. Berusaha menguatkan istrinya yang tak kalah kecewa dari Diva.


"Sudah ya mah. Anggap semua mimpi buruk. Aku percaya, dengan menjauhkan Diva dari Doni perlahan akan mengembalikan senyuman Diva lagi."


"Kenapa kamu begitu yakin pah? Padahal kamu sendiri juga butuh waktu lama kan saat Andini meninggalkan kamu dan menyakiti kamu?" ujar Disa.


"Jangan bahas itu. Karna aku paling gak suka kamu mengingatkan aku pada masa laluku."


"Maaf pah."


"Hmmm, sekarang lebih baik kita masuk dan istirahat. Besok kita harus pergi pagi. Dan jangan pasang wajah sedih kamu do depan Diva. Karna saat Diva rapuh, kita sebagai orang tua harus menguatkannya."


"Iya pah, aku akan beri ruang buat Diva sendiri dulu malam ini. Terus gimana dengan semua catering, gedung dan undangan pernikahan yang sudah di pesan pah?"


"Itu akan menjadi urusanku. Biar aku yang menyelesaikannya. Sepulang dari kita pergi, aku akan bicara sama Aldo dan Andini. Agar mereka tahu alasan apa yang membuat kita membatalkan pernikahan ini," tegas Deva.


"Terima kasih pah. Kamu memang seorang kepala keluarga yang pantas untuk kami banggakan," ujar Disa.


"Aku bisa seperti ini karna aku juga memiliki seorang istri yang selalu mendukung semua keputusanku. Kamu mah, kamu yang bisa menguatkan aku dalam kondisi apapun. Aku minta tolong sama kamu, ikhlaskan kepergian Diva untuk beberapa saat. Aku tahu kamu sebenarnya gak rela jan Diva pergi jauh kuliah di luar negeri?"


"Iya pah, aku sebenarnya gak mau jauh dari Diva ataupun Vida. Tapi jika ini yang terbaik aku rela. Dan untuk Doni, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima dia menjadi menantuku," jawab Disa.


Baik Deva dan Disa sudah memutuskan untuk tidak menerima Doni sampai kapanpun. Selepas mengobrol, mereka masuk kembali di dalam rumah.


****


Keesokan harinya, semua koper sudah masuk ke dalam mobil. Dan kini Deva dan keluarganya sudah pergi meninggalkan rumah mereka.


Di dalam mobil, Diva masih saja diam. Melihat pemandangan di luar dengan tatapan kosong. Mungkin hatinya masih sangat sakit dengan semua kenyataan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh dirinya.


"Diva, mau makan dulu nak?" tanya mama.


"Enggak mah," lirih Diva.


Vida yang biasanya selalu bermusuhan dengan Diva, tiba tiba air matanya juga ikut jatuh. Apalagi sikap periang Diva kini sudah tidak ada.


Seketika tubuh Vida jatuh dalam pelukan kakaknya. "Kak, gue bakal kangen sama loe. Dan gue minta ya tolong sama loe kak, lupain Kak Doni ya. Loe itu cantik kak loe bisa kok cari yang lebih dari Kak Doni. Pokoknya loe harus lupain dia. Dan loe harus selalu ngabarin gue selama loe disana," ucap Vida.


"Iya," jawab Diva sembari memeluk Vida dan akhirnya buliran air kembali jatuh membasahi pipinya.


Disa tak kuasa menahan kesedihannya. Ia juga ikut terhanyut dalam suasana. Hanya Deva yang masih berusaha tegar, meski jauh di dalam hatinya ia juga menangis. Harus berpisah dengan putri sulungnya.


"Diva, ini nomor baru yang sudah papa beli semalam. Buang nomor kamu, agar Doni gak bisa menghubungi kamu. Akun sosmed kamu juga sudah papa hapus. Buat akun baru jika kamu masih ingin bermain sosmed. Paham nak!"


"Iya pah."


Diva melepas sim card di ponselnya dan menggantinya dengan yang baru. Dan mulai detik ini, Doni sudah dianggap tidak ada dalam keluarga Devano.