My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Penyesalan



Andini berlari masuk kembali kedalam rumah, kemudian ia mengajak Aldo untuk segera pergi dari rumah Deva.


"Al, ayo kita pulang," ucap Andini sambil menangis.


"Din, ini ada apa?" tanya Aldo.


"Din, aku bisa jelasin. Aku minta maaf din," rengek Cindy yang masih berusaha mendapatkan maaf dari Andini.


"Ini ada apa sih, bukannya tadi kalian baik baik aja kan?" sahut Reva bingung.


Tak menghiraukan ucapan Cindy, Andini menarik Aldo untuk segera pergi.


"Ayo pulang al."


"Iya iya sayang. Dev, Dis, Reva, Cindy kita pulang dulu ya," pamit Aldo sembari berjalan keluar dari rumah Deva.


Cindy masih terus berusaha mengejar Andini untuk mendapatkan maaf darinya, namun sayang Andini sama sekali tak menghiraukan semua ucapannya.


"Din, aku minta maaf," teriak Cindy ketika melihat mobil Aldo sudah pergi dari rumah Deva.


Reva perlahan mendekati istrinya lalu memeluk dan mengecup kening Cindy sekilas.


"Udah udah mah, memang kalian ada apa? Kenapa sepertinya Andini marah sama kamu mah?" tanya Reva.


"Pah, aku udah jahat sama Andini. Aku salah pah."


"Mending kita masuk ya, kamu jelaskan di dalam aja cin," ajak Disa.


"Iya benar kata Disa. Ayo kita masuk. Mah, tolong kamu ambilkan Cindy segelas air putih hangat," ucap Deva.


"Iya pah."


Deva kemudian mengajak Reva dan Cindy untuk duduk di sofa ruang tamunya. Disana Reva semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara Andini dan istrinya.


Tak lama, Disa pun datang sambil memberikan segelas air untuk Cindy.


"Diminum dulu Cin, kalau kamu udah tenang pelan pelan kamu jelasin ke kita apa yang sebenarnya terjadi," ujar Disa.


Sesudah meneguk air pemberian Disa, pelan pelan Cindy mulai membuat pengakuan akan kesalahannya pada Andini. Dan benar sesuai dugaan Cindy, wajah Reva seketika memerah karna murka dengan kelakuannya di masa lalu pada Andini.


"Aku gak menyangka, kamu seburuk itu Cindy. Jujur aku menyesal sudah menikah dengan kamu. Teganya kamu merusak rumah tangga sahabat kamu sendiri," teriak Reva sembari menunjuk mata Cindy.


"Pah, maafin aku. Maafin aku pah," rengek Cindy sambil memeluk pinggang suaminya.


"Kak udah, aku juga gak menyangka Cindy sampai segitunya. Sampai Andini rela pergi meninggalkan anak dan suaminya," ujar Deva berusaha menenangkan Reva.


"Sekarang kamu jujur sama aku, jangan jangan sampai sekarang kamu masih mencintai Aldo? Jika benar, aku akan segera kirimkan surat gugatan cerai untuk kamu."


"Pah, tolong jangan lakukan itu. Aku sama sekali sudah tak memiliki perasaan apapun sama Aldo. Apa kamu gak kasihan sama Dia dan Dio. Tolong pah, maafkan aku," ucap Cindy yang masih berusaha meyakinkan Reva.


Disa yang merasa tak tega dengan Cindy, berjalan mendekati Cindy dan berusaha memeluk dan menenangkan dirinya.


"Cin, udah ya. Aku percaya sama kamu, kamu sudah berubah. Kak Reva, benar kata Cindy. Kalau kalian sampai berpisah, kasihan Dea dan Dio. Lagipula ini kejadian sudah lama berlalu, aku yakin dulu Cindy hanya terobsesi dengan Aldo. Tapi sekarang Disa bisa lihat kalau Cindy jujur."


"Benar Kak kata Disa. Kita sekarang sudah gak muda. Semua orang punya masa lalu. Kasih Cindy kesempatan kak," sahut Deva.


Reva yang semula begitu marah, hatinya langsung melunak melihat kesedihan yang amat dalam dari mata Cindy.


"Baiklah, aku akan memaafkan kamu. Asalkan jangan pernah kamu berbuat hal seperti itu lagi. Nanti kita temui Andini dan Aldo, dan kamu harus meminta maaf sama mereka."


Tak lama kemudian, Doni datang untuk mengantar Diva pulang.


"Assalamualaikum, Diva pulang mah pah," sapa Diva.


"Walaikumsalam nak," jawab Mama Disa.


"Malam tante, om," sapa Doni sembari mencium tangan Papa Deva dan Mama Disa.


"Malam Doni," jawab Papa Deva.


"Eh ada tante Cindy dan Om Reva. Apa kabar om, tante? Loh tante kenapa nangis?" tanya Doni.


"Oh gak papa kok Doni," jawab Cindy.


"Mama sama papa belum dateng ya om, tante?"


"Sudah Don, cuma mereka barusan pulang. Kayaknya mama kamu lagi gak enak badan."


"Mama sakit ya om? Yaudah kalau gitu Doni langsung balik aja ya. Diva, Kak Doni pulang dulu ya," pamit Doni yang tak lupa mencium tangan Deva, Cindy, Disa dan Reva.


"Kamu hati hati ya Doni. Tante titip salam buat mama kamu," ucap Cindy.


"Iya tante."


"Diva anter keluar ya kak. Mah, pah, om, tante Diva anterin Kak Doni kedepan dulu ya," pamit Diva.


"Iya Diva," jawab Reva dan Cindy kompak.


Diva lalu mengantar Doni untuk keluar sampai kedepan rumah. Dan setelah mereka pergi,abi lagi rasa bersalah Cindy kembali muncul.


"Kasihan Doni, gara gara aku dia kehilangan kasih sayang dari mamanya selama ini. Aku memang jahat, aku sudah memisahkan ibu dari anaknya. Aku dulu memang bodoh ya pah," ucap Cindy dengan air matanya yang kembali mengalir.


"Sudahlah Cin, lupakan masa lalu dan perbaiki mulai sekarang. Aku yakin Andini wanita yang baik, dia juga bukan wanita pendendam. Percaya sama aku, kalau kamu sungguh sungguh minta maaf sama dia, pasti dia akan memaafkan kamu. Apalagi kalian ada sahabat baik," sahut Deva.


"Iya mah, benar kata Deva. Lupakan masa lalumu yang buruk dulu, dan perbaiki diri kamu mulai sekarang."


"Iya pah," jawab Cindy.


************


Didalam mobilnya Andini masih saja menangis histeris tanpa mau berkata satu kata pun.


"Din, kamu mau langsung pulang atau kita keliling kota dulu? Biar hati kamu sedikit membaik," tanya Aldo.


"Kita ke apartemen kamu aja ya Al. Aku gak mau pulang dalam keadaan sedih begini. Aku gak mau Doni, papa dan mama jadi khawatir kalau melihat keadaanku saat ini."


"Iya sayang. Tapi kamu janji harus cerita ya. Apa yang tadi Cindy katakan sama kamu, hingga kamu sesedih ini."


"Iya Al."


"Sudah ya Din, jangan menangis lagi. Sudah cukup aku membuat dan melihat kamu menangis selama ini. Aku gak mau melihat ada kesedihan lagi di mata kamu," ucap Aldo sambil mengusap air yang membasahi pipi Andini.


"Iya Al, makasih," jawab Andini.


Andini masih saja menatap Aldo yang fokus menyetir dan tiba-tiba Andini memeluk lengan Aldo lalu menyandarkan kepalanya di pundak Aldo.


"Harusnya sejak awal aku mencari tahu kebenarannya dan seharusnya aku percaya pada suamiku. Aku menyesal sudah membuang waktu untuk anak dan suamiku. Aku memang wanita bodoh. Andai saja waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan pernah pergi sedetik pun dari kamu dan Doni Al. Sekarang aku sudah percaya, jika kamu memang suami yang setia, baik dan bertanggung jawab," gumam Andini dalam hatinya.