My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Sensitif



Sesaat kemudian Mickael keluar dari ruangan Doni, dan saat membuka pintunya ia kaget karna melihat Diva sudah berdiri disana.


"Eh Diva, udah lama disini?" tanya Mickael.


"Belum sih kak, baru aja kok. Emang kenapa kak?"


"Gak papa kok Div. Yaudah kalau gitu gue ke ruang kerja gue dulu ya. Elo mau ketemu Doni kan?"


"Iya, mau kita tanda tangan beberapa berkas ini. Kak Doni gak lagi sibuk kan kak?"


"Oh enggak kok. Gue duluan ya Div."


"Oke kak," jawab Diva.


Tanpa mengetuk pintu, Diva pun langsung masuk sesuai ucapan Doni tadi pagi padanya.


"Kak Doni, ini Diva mau..," ucap Diva, dan sontak membuat Doni yang sedang menelpon Tanisha seketika mematikan telponnya.


"Div, lain kali kalau masuk Ketuk pintu dulu bisa gak? Aku lagi ada telpon penting dari klien," ucap Doni dengan nada meninggi.


"Oh maaf kak, Diva kan cuma ngelakuin sesuai yang kakak bilang tadi pagi. Emang kakak lupa, kalau tadi pas di lift kakak nyuruh Diva kalau masuk ga perlu ketuk pintu dulu. Jadi jangan bentak Diva kayak tadi kak. Udah ya kak, maaf kalau Diva ganggu. Diva cuma mau kasih ini kok kak, tolong di tanda tangani. Diva balik ke ruangan dulu," ucap Diva sambil berlalu pergi setelah menaruh berkas ke meja Doni.


"Div, tunggu bukan itu maksud kakak," ucap Doni namun tak dihiraukan Diva.


Diva langsung berlari keluar dari ruangan Doni, dan ia menuju ke ruang OB untuk menenangkan dirinya.


"Kenapa sih sikap Kak Doni kayak bunglon. Kadang baik banget, tapi juga kadang bikin hari gue sakit. Emang sepenting apa sih kliennya, sampai bikin Kak Doni marah sampai segitunya," batin Diva sembari mengusap air matanya.


Sadar akan kesalahannya, Doni berusaha mencari Diva ke ruang kerjanya namun Diva tidak berada disana. Doni kemudian pergi ke ruang Mickael, karna ia pikir Diva pasti akan cerita pada Mickael.


"Mic, loe tau Diva gak?" tanya Doni yang langsung masuk ke ruang Mickael tanpa permisi.


"Woi bro. Loe tadi marah sama gue gara gara asal masuk ruangan loe, sekarang loe malah...," ucap Mickael yang langsung di potong oleh Doni.


"Gue lagi gak pengen bercanda. Loe tahu Diva gak?" tanya Doni mulai panik.


"Diva? Lah bukannya tadi ke ruangan elo. Tadi pas gue keluar dari ruangan elo, dia udah berdiri disana."


"Apa? Terus dia denger soal Tanisha gak?" tanya Doni dengan nada meninggi.


"Kayaknya sih enggak bro, tadi gue sempet tanya ke dia sejak kapan dia berdiri didepan pintu, tapi dia bilang baru aja. Berarti dia gak dengar pembicaraan kita kan." jelas Mickael.


"Yaudah kalau gitu, loe bantuin gue cari dia. Soalnya ponsel dia ada di meja kerjanya. Jadi gue gak bisa telpon dia."


"Loe berantem sama Diva? Atau dia marah, karna sebenarnya dia denger pembicaraan kita tadi?" selidik Mickael.


"Enggak, tadi gue sempet bentak dia pas masuk tanpa ketuk pintu. Soalnya gue lagi telponan sama Tanisha. Gue lupa kalau gue udah pesen ke Diva kalau masuk gak usah ketuk pintu. Dan kayaknya Diva marah sama gue." jelas Doni.


"Loe emang udah gila Don. Loe bentak Diva cuma gara gara Tanisha? Emang loe udah gak waras tau. Nanti kalau sampai Diva tau loe deket lagi sama Tanisha, gue jamin elo bakal kehilangan dia. Inget Don, secinta cintanya Diva sama loe, dia juga punya hati. Orang yang terlalu percaya, gak akan pernah bisa memaafkan jika kepercayaan hilang. Inget itu Don, jadi menurut gue mending loe fokus sama masa depan loe dan gak usah nengok ke belakang. Diva itu masa depan loe, sedangkan Tanisha itu masa lalu loe," ucap Mickael.


"Sekarang bukan saatnya loe ceramahin gue. Yang penting loe bantu gue cari Diva."


"Iya iya pak bos," jawab Mickael.


"Mic, Diva kemana ya? Apa dia pulang ya?" tanya Doni cemas.


"Makanya kalau mau ngomong itu di pikir. Ngambek kan tuh bocah. Loe sadar gak sih sebenernya yang gue lihat loe itu udah cinta sama Diva, cuma loe gengsi aja mengakuinya."


"Apa sih loe Mic, malah ngomong cinta cinta. Mending kita balik ke ruangan aja. Gue mau ambil handphone gue, mau telpon mamanya siapa tahu dia udah di rumah," ajak Doni.


Namun saat hendak masuk ke lift, dari jauh Mickael melihat Diva keluar dari ruang OB.


"Don, don, itu bukannya Diva?" ucap Mickael yang membuat Doni langsung menoleh


Tanpa menjawab Doni berlari ke arah Diva.


"Sayang, ternyata kamu disini. Dari tadi kakak sama Mickael nyari kamu Diva. Jangan buat kakak khawatir kayak gini lagi dong Div," ucap Doni.


"Oh kakak nyariin Diva ya? Maaf ya kak, Diva gak pamit tadi Diva ngantuk kak makanya Diva kesini mau buat kopi. Ini Kak kopinya, Kak Doni mau Diva buatin juga," ucap Diva yang berusaha menutupi kesedihannya.


Walau Diva berusaha menutupi kesedihannya dari Doni, tapi Doni dapat melihat mata Diva yang bengkak karna menangis. Dan dengan cepat Doni memeluk Diva dengan erat.


"Div, maafin kakak ya. Tadi kakak udah bentak kamu. Maafin kakak karna udah buat kamu nangis," ucap Doni.


"Siapa yang nangis kak? Diva? Kakak bercanda kali," jawab Diva sambil berusaha menahan air matanya.


"Kamu jangan bohong. Kamu pikir kakak buta gak bisa lihat mata kamu yang bengkak."


"Kelihatan ya kak? Hahahaha, Diva alay ya kak. Maklum ya kak, Diva lagi datang bulan makanya sensitif banget. Udah ya kak jangan meluk. meluk Diva lagi,malu di lihat karyawan lain. Kan tadi Kak Doni bilang jangan sampai ada karyawan yang tahu hubungan kita," ucap Dig.


"Biarin aja pada tahu,kakak gak peduli. Lagipula bulan depan kita kan memang akan menikah."


"Tapi bukannya itu permintaan kakak sendiri ya? Kak Doni kayaknya udah mulai pikun ya," kata Diva yang kini mulai bisa tertawa.


"Berani kamu ngetawain kakak? Berani?" ucap Doni sambil menggelitiki Diva.


"Kak Doni geli, nanti kopi Diva tumpah kak. Kak udah dong, geli," teriak Diva.


"Makanya jangan suka ngeledekin kakak. Terus tawaran kamu buat bikinin kakak kopi jadi gak?"


"Lah tadi katanya gak mau. Emang ya Kak Doni ini udah dewasa tapi masih labil."


"Kamu berani ngatain kakak lagi?mau kak..," ucap Doni yang langsung mendapat senyuman manis Diva.


"Bercanda kali kak, yaudah Diva buatin dulu ya kakak tunggu aja di ruang kerja kakak."


"Enggak, kakak mau nemenin kamu buat kopi di dalam. Kan kakak mau lihat, gimana sih calon istri kakak ini kalau buatin kopi buat calon suaminya," kata Doni yang seketika membuat pipi Diva memerah.


"Argghh, Kak Doni jangan bikin Diva malu dong. Yaudah ayo kak ke dalam, katanya mau dibuatin kopi. Oh iya Kak Mickael mau gak?" teriak Diva.


"Boleh Div, kopi gue kasih gula ya. Kalau kopi Doni kasih aja garam biar tau rasa," ucap Mickael yang langsung mendapat tatapan tajam dari Doni.


Mickael hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum licik ke arah Doni.


"Don, gue gak akan biarin loe menyakiti Diva. Karna kalau loe lakuin itu, gue orang pertama yang akan mengambil Diva dari pelukan loe." batin Mickael sambil berjalan masuk kedalam lift.