My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Tangisan bahagia



Malam harinya, andini dan istri dari william sedang memasak untuk tamu spesial teman william. Tanpa sepengetahuan andini tamu itu adalah deva, mantan kekasihnya. Dan tak berapa lama deva menekan bel apartemen william.


Ting Tong...


"Suamiku, sepertinya itu teman kau sudah datang." ucap febi.


"Oh iya biar aku saja yang membukakan pintunya. Andini dimana?"


"Dia masih sibuk memasak. Mau aku panggilkan?"


"Tidak usah, kalau begitu aku mau keluar untuk membukakan pintu dokter devano." ucap william sembari berjalan keluar.


Dokter william langsung memeluk rekan kerja lamanya. Dan ia pun meminta deva untuk segera masuk ke dalam.


"Hai dokter devano apa kabar? Kamu ternyata masih tetap tampan ya? Pantas saja putri mu begitu cantik." ucap dokter william sambil menepuk pundak deva.


"Hahahaha, kamu bisa saja. Kamu juga masih tetap tampan. Apa sekarang kamu sudah berkeluarga dokter?"


"Tentu, aku menikah 5 tahun yang lalu, sebentar saya panggilkan istri saya dulu."


Dokter william lalu memperkenalkan istrinya yang juga cantik dan seksi pada deva. Setelah berkenalan, dokter william langsung mengajak deva masuk ke ruang tamu. Mereka masih saja mengobrol tanpa membahas soal andini, hingga deva teringat ucapan istrinya sebelum pergi.


"Oh iya dokter, ada yang ingin aku tanyakan pada kamu?" ucap deva dengan tatapan serius.


"Silahkan dokter, kamu mau tanya soal apa?" jawab dokter william dengan santai.


"Bagaimana kamu tahu dimana makam sahabatku andini, bukankah saat itu kamu tidak ikut ke pemakamannya. Dan buat apa kamu kesana. Kamu dan dia kan tidak dekat? Bahkan kamu mengenal dia saat dia menjadi pasienmu bukan? Tapi kenapa kamu bisa ingat tentang dia. Itu kan sudah lama sekali. Dan pasien mu pasti kan juga banyak, tapi kenapa aku rasa andini begitu spesial hingga memori kamu tentang dia masih ada. Kejadian ini kan sudah lama sekali. Tolong jangan buat aku penasaran." ucap deva dengan nada yang mulai meninggi.


Dokter william mulai mematikan rokoknya. Ia meminum sejenak kopi buatan febi, istrinya.


"Dokter devano, ada satu rahasia yang tidak kamu tahu. Dan aku minta maaf sebelumnya." ucap dokter william pelan.


"Tentang apa dokter? Apa kamu memiliki hubungan rahasia dengan andini?"


Tak menjawab pertanyaan deva, dokter william memanggil istrinya dan berbisik pada febi untuk memanggilkan andini. Merasa tak ada jawaban dari dokter william, deva bangkit berdiri dengan wajah sedikit kesal dan cemburu.


"Dokter, kenapa anda diam!! Jawab pertanyaan saya, apa anda sempat mempunyai hubungan dengan andini saat ia di rawat dulu?" ucap deva dengan wajahnya yang mulai memerah.


"Tidak dokter, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan sahabatmu. Aku minta kamu duduk dan tenang dulu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." pinta dokter william.


Setelah deva mulai duduk kembali, andini datang. Deva dan andini sama sama kaget. Deva mulai bangkit kembali dari tempat duduknya sambil memandangi andini tanpa berkedip.


"Andini... " lirih deva dan tanpa terasa buliran air matanya jatuh satu per satu.


"Ini maksudnya apa dokter. Bukankah andini sudah meninggal? Saya yakin itu andini yang meninggal, terus dia siapa?" tanya deva sambil berjalan ke arah andini untuk mencermati wajah andini dengan seksama.


Sementara andini mulai marah dengan william yang membohongi dan merencanakan ini semua tanpa ijin dulu padanya. Untuk membuat deva tidak curiga, andini berusaha bersikap tenang, sambil menyingkirkan rambut yang menutupi telinganya. Andini pun mengulurkan tangannya, seolah ia baru pertama bertemu dengan deva.


"Perkenalkan saya adik dokter william, nama saya anda....." kata andini yang langsung di putus oleh dokter william.


"Dia andini sahabat mu dokter, mantan kekasihmu dan cinta pertamamu. Dia andini yang kita operasi dulu." tegas william hingga membuat deva dan andini seketika terkejut dengan pernyataan william.


"Apa apaan ini dokter, jangan bohong sama saya. Dia pasti bukan andini. Andini sudah meninggal, dan bagaimana ini bisa terjadi. TOLONG CERITA YANG JUJUR DOKTER WILLIAM!!" teriak deva hingga otot di lehernya terlihat.


"Iya dokter, dia andini. Dia masih hidup, sedangkan yang waktu itu dikubur di pemakaman itu andara, adikku. Mereka mempunyai wajah yang sama."


"Kak hentikan, jangan bicara lagi. Sudah aku mau pergi dari sini. Aku kecewa sama kamu kak." ucap andini sambil menghapus air matanya.


Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, dengan cepat deva menarik tangan andini dan memeluknya dengan erat.


"Andini, kamu masih hidup din, kamu masih hidup. Jangan pergi lagi andini, aku mohon." ucap deva sambil menangis bahagia.


"Aku bukan andini." jawab andini dengan suara berat.


"Jangan bohong andini, aku bisa merasa hangat saat memeluk kamu. Itu tandanya kamu andini, andini cintaku yang hilang." ucap deva sembari melepaskan pelukannya dan menatap mata andini.


"Deva, maafin aku. Iya aku memang andini,andini putri." jawab andini.


Deva dengan spontan mencium kening andini, karna rasa rindu dan bahagianya.


"Andini, ini bukan mimpi kan. Aku bahagia bisa melihatmu kembali. Kamu masih cantik seperti dulu. Kamu gak banyak berubah. Andini, kami kembali." ucap deva kembali memeluk andini.


"Deva, udah dong. Kamu mau curi curi kesempatan ya buat peluk peluk aku." jawab andini hingga membuat semua tertawa.


"Eh maaf din, bukan maksudku seperti itu tadi. Aku hanya terlalu bahagia." ucap deva.


"Hmmm, harusnya yang menikah dengan kamu itu dokter devano andini. Aku yakin andai dia yang menjadi suami kamu, dia tidak akan membuat kamu sampai terluka sedalam ini. Tapi bodohnya kamu mau saja dinikahkan oleh laki laki bre****k seperti aldo." geram dokter william.


Deva tidak mengerti maksud ucapan yang terlontar dari mulut dokter william. Karna penasaran, deva mendesak andini dan mencari tahu kenapa semua bisa terjadi. Dan ia ingin memastikan jika yang di makamkan itu benar andara, dan deva mencoba meminta foto andara.


Saat deva melihat foto andara, memang tidak ada celah yang membuat antara andara dan andini yang berbeda.


"Din, Cerita ke aku kenapa kamu bisa mempunyai rencana gila ini. Apa kamu gak tau aldo dan doni sempat bermusuhan karna kamu. Mereka semua terpuruk karna kepergian kamu andini. Dan kenapa baru sekarang kamu datang?" tanya deva sambil terus menggenggam tangan andini.


"Kamu kenal aku deva, aku gak mungkin senekat ini tanpa alasan. Hatiku saat itu hancur dev, hatiku sakit. Semua kekecewaanku sudah tak bisa dibendung. Dari papa yang mengkhianati mama dan pernah mempunyai hubungan dengan mama kamu,hinhg mereka mempunyai seorang anak. Ditambah aldo yang mempunyai hubungan gelap dengan nabila. Padahal aku sudah berusaha percaya pada dia. Dia selalu menuduh aku berselingkuh dengan kamu, padahal dia sendiri yang mempunyai hubungan gelap. Bahkan di malam terakhir sebelum aku operasi, aku mendapat kabar dan video dari seseorang saat aldo melakukan hal yang haram itu dengan nabila di kantornya ya. Padahal saat itu aku sedang berjuang untuk hidup. Dan malam itu setelah aku mendapat kiriman video menjijikan antara aldo dan nabila, aku memutuskan menerima rencana andara dan berganti tempat dengan andara." jawab andini sambil menangis terisak mengingat apa yang sudah aldo lakukan di belakangnya.


"APA? gak mungkin andini. Itu pasti rekayasa. Setahuku aldo begitu mencintai kamu. Bahkan sampai saat ini dia belum menikah bukan? Mungkin saja orang yang mengirim video ke kamu itu tidak iri dengan rumah tangga kalian." ucap deva berusaha meyakinkan andini.


"Tidak dok, saya sudah cek ke pakar ITE dan itu nyata." sahut william.


"Jadi yang waktu itu kita operasi itu andara, adik kamu?"


"Tidak, itu andini. Dan sebenarnya operasi itu berhasil dokter. Namun saat anda keluar saya mendapat kabar dari dokter yang mengoperasi andara jika operasi andara gagal. Kebetulan andini dan andara saat itu sama sama menjalankan operasi. Hanya saja operasi andara itu kanker otak stadium akhir, dan memang kemungkinan keberhasilannya kecil. Maka dari itu, saat dokter keluar untuk memberitahu keluarga andini tentang hasil operasi, saat itu saya dan dokter yang mengoperasi andara bekerja sama memindahkan mereka dengan cepat. " ucap dokter william.


"Dokter, apa anda sudah gila. Ini melanggar kode etik kedokteran. Bisa saja jika keluarga andini tahu, kamu bisa di tuntut hukuman penjara." jawab deva.


"Enggak dev, ini memang permintaan aku buka inisiatif kak william. Dan gak ada yang bisa menuntut kak william, karna ini semua memang rencanaku dan andara." jawab andini.


Deva kembali mendekat dan memeluk andini.


"Sekarang kamu cerita sama aku, kenapa kamu yakin aldo memiliki hubungan dengan nabila. Biar aku juga gak salah paham sama aldo." ucap deva sembari menangkup kedua pipi andini.


"Iya dev, jadi gini ceritanya." jawab andini sambil menceritakan awal mula kecurigaannya pada aldo dan nabila.