
Semenjak merasakan perubahan doni, papa aldo sekarang lebih sering bolak balik Indonesia - Jerman untuk memantau pergaulan doni, dan memastikan jika doni tidak akan berbuat hal yang akan merugikan dirinya sendiri.
Satu tahun berlalu, doni telah menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah dengan nilai yang memuaskan. Dan sepulang dari acara wisuda, papa aldo langsung mengajak doni, kakek dan nenek untuk kembali ke Indonesia.
"Doni, habis ini kita semua pindah ke Indonesia." ucap papa.
"APA?? Doni gak mau. Doni masih ingin melanjutkan S2 disini. Lagi pula doni udah bilang kan ke papa, kalau doni mau ikut kakek dan nenek."
"Kamu tenang saja doni, kamu bisa melanjutkan pendidikan kamu di Indonesia. Dan untuk kakek nenek, mereka juta akan ikut bersama kita. Karna papa sudah belikan rumah untuk kita tinggal bersama."
"Papa, kenapa gak bilang dulu sama doni. Kenapa papa asal main ambil keputusan sendiri. Pokoknya doni gak mau."bantah doni.
"Terserah jika kamu tidak mau, silahkan kamu bersiap menjadi gelandangan. Karna sekarang perusahaan papa dan kakek sudah menjadi satu. Jika kamu tetap menolak, papa pastikan kamu tidak akan pernah mendapat warisan baik dari papa ataupun kakek. "ancam papa dengan suara tegasnya.
" Papa gak pernah sayang doni, kakek dan nenek juga." Doni berkata dengan suara tinggi.
"Doni, maafkan kami nak. Lebih baik kamu menurut saja ya sama papa kamu." ucap nenek sembari mengelus elus punggung doni.
"Iya doni, selama ini kakek selalu memanjakan kamu hingga tanpa kakek sadari kakeklah yang membuat kamu berubah seperti ini. Jadi kakek pikir, ini memang keputusan yang tepat buat kita semua." sahut kakek.
"Kamu salah doni, justru karna papa sayang makanya papa melakukan ini buat kamu. Kamu pikir selama ini papa gak tahu apa yang kamu lakukan setiap malam. Sekarang papa tanya, apa kamu ingin membuat mama kamu menyesal mempunyai anak seperti kamu. Mana janji kamu yang selalu ingin membuat mama andini bangga sama kamu?" ucap papa dan langsung membuat doni terdiam.
Doni sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, ia merasa terpojok. Biasanya kakeknya yang selalu membentengi dirinya, namun sekarang kakeknya juga memihak pada papanya. Akhirnya doni menuruti keinginan papa aldo untuk kembali ke Indonesia.
Selama di dalam pesawat, doni tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia hanya diam sambil memandang ke arah langit. Melihat putranya yang marah, papa aldo berusaha untuk mencairkan suasana.
"Doni.. "panggil papa aldo namun tak dijawab oleh doni.
" Doni, kamu marah sama papa? Jujur sama papa, apa yang membuat kamu berat pergi dari sana."tanya papa aldo kembali.
"Banyak."jawab doni singkat.
"Oh iya ada satu hal lagi yang belum papa sampaikan ke kamu."
"Apa?"tanya doni.
"Papa ingin jika kita sudah sampai di Indonesia, kita belanja untuk kebutuhan kamu. Karna minggu depan, kamu akan menggantikan papa menjadi pemimpin perusahaan." kata papa aldo yang membuat doni langsung membalikkan badannya.
"Papa!! Barusan papa bilang apa? doni sekarang aja masih marah karna papa langsung mengajak doni pulang tanpa berdiskusi dulu sama doni, sekarang papa bilang kalau minggu depan doni sudah menggantikan papa menjadi CEO. Apa-apaan ini pah! "
Papa aldo berusaha tenang menghadapi kemarahan doni. Setelah melihat suasana hati doni sedikit membaik, papa aldo pun mulai menjelaskan semua alasannya pada doni.
" Doni, bukannya papa ingin mengatur kehidupan kamu. Tapi papa ingin yang terbaik untuk kamu. Papa yakin kamu bisa memimpin perusahaan malah mungkin jauh lebih baik dari papa."
"Tapi doni baru aja lulus kuliah, dan doni pun belum punya pengalaman apa apa pah. Kenapa papa langsung kasih tanggung jawab itu sama doni sih."
"Kamu gak perlu takut atau khawatir. Papa masih akan sering memantau pekerjaan kamu. Lagi pula papa sudah siapakan asisten yang akan membantu kamu mengurus perusahaan dan juga seorang sekretaris." ucap papa sambil menepuk pundak doni.
"Arrgh.. Terserah papa ajalah. Kalau pun doni menolak juga tidak akan merubah semuanya." gerutu doni yang kembali memalingkan wajahnya.
"Terima kasih nak, papa yakin diatas sana pasti mama andini bangga melihat kamu saat ini." jawab papa aldo sambil menepuk tangan doni.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya papa, doni, kakek dan nenek tiba di Bandara. Lalu papa aldo langsung mengajak mereka bertiga ke rumah baru.
Disana ternyata sudah ada opa wawan, omah bella, dan tante bita. Seketika wajah doni menjadi muram mengingat kejadian sebelum kepergiannya saat berdebat dengan opanya.
"Doni apa kabar? Selamat ya cucu opa sekarang sudah menjadi sarjana." kata opa sembari memeluk doni.
"Terima kasih opa."jawab doni malas.
"Maafkan opa ya jika dulu opa sering membentak dan memarahi kamu. Opa ingin kita menjadi keluarga yang utuh kembali. Bahkan opa kangen dengan rasa kebersamaan yang sudah lama hilang semenjak kematian mama kamu. Tidak ada yang bersalah, karna semua ini sudah jalan Tuhan. Sekali lagi maafkan opa ya doni."ucap opa sambil menangis mengingat kesalahannya.
Kakek atmaja kemudian mendekat ke arah opa wawan, setelah sekian lama kakek pun langsung memeluk opa.
"Ini juga bukan salah kamu wan, aku juga salah. Sekarang aku sadar jika kematian putri ku memang sudah di takdir. Maafkan atas sikapku pada keluargamu selama ini ya."kata kakek.
"Iya atmaja kita lupakan semuanya."
"Akhirnya, aku bisa bahagia melihat kebersamaan ini lagi." sahut nenek rara.
"Iya ra, aku senang akhirnya setelah semua kejadian ini mereka sadar akan kesalahan mereka."timpal oma bella.
Meski melihat semua kakek dan neneknya sudah kembali akur, namun doni tak sedikit pun tersentuh. Ia langsung pergi ke taman rumahnya, sambil melihat layar ponsel yang terdapat foto tanisha, orang yang ia suka.
Papa aldo lalu menyusul doni, dan duduk disamping doni.
"Kamu kenapa disini? Apa kamu teringat dengan mama kamu lagi, besok pagi kita pergi ke makam ya."ucap papa seraya menepuk pundak doni.
"Iya papa tau,namanya tanisha berliana surya. Teman kuliah kamu, dia juga orang Indonesia. Papanya seorang pengusaha fashion di Jerman."
"Papa tau semua darimana?"
"Semenjak mendengar keluhan nenek dan kakek, papa menyuruh seseorang untuk memata matai kamu. Dan papa sudah tau yang membuat kamu berubah. Itu semua karna tanisha. Makanya, papa membawa kamu kembali ke Indonesia. Karna dia bukan wanita yang pantas buat kamu cintai doni. Dia hanya mengincar harta kamu saja."ucap papa aldo.
"Papa jangan bilang itu soal tanisha, dia bukan wanita seperti itu pah. Jadi doni minta berhenti menjelek jelekan tanisha. Kalau saja papa gak menyuruh doni pindah, mungkin sekarang doni sudah menjadi kekasih tanisha."kata doni sambil berdiri dan membentak papanya.
Papa aldo mengeluarkan beberapa foto tanisha yang masuk ke dalam hotel bersama orang yang dikenal doni.
"Lihat foto ini dan buka mata kamu. Dia Justin musuh kamu bukan? Dan lihat wanita yang bersamanya. Ini bukankah tanisha? Dia itu kekasih Justin, dan mereka bekerja sama untuk membodohi kamu. Kalau kamu tidak percaya tanya sama mikael, sahabat kamu."ucap papa yang juga mulai emosi.
Tiba tiba mikael datang untuk menengahi perdebatan antara anak dan papa itu.
"Iya don, sebenarnya gue sudah lama tau itu. Hanya saja gue lihat loe begitu mencintai tanisha. Makanya gue gak tega buat jujur sama loe soal tanisha. Apalagi loe pernah bilang, loe baru sekali ini mendekati wanita." sahut mikael.
"Bro, loe kok bisa disini?" tanya doni yang terkejut akan kedatangan sahabatnya.
"Iya, papa yang minta mikael datang kesini. Karna papa ingin dia menjadi penasehat dan asisten kamu di perusahaan nanti." sahut papa aldo.
"Jadi maksud papa? Mikael akan bekerja dengan doni di perusahaan papa?"
"Iya don, loe harusnya beruntung punya papa kayak om aldo. Dia itu sayang banget sama loe."ucap mikael.
"Makasih ya pah, dan karna papa doni sekarang tau kebusukan tanisha."
"Iya doni, papa ingin memberikan yang terbaik buat kamu. Yasudah ayo kita masuk, kita makan bareng sama yang lain."
"Ayo pah." jawab doni sambil merangkul mikael.
Di tempat lain, papa deva, mama disa, diva dan adiknya vida sedang berkumpul di ruang tengah.
"Diva, apa kamu yakin tidak ingin mengambil kuliah kedokteran seperti papa dan mama? " kata papa deva.
"Gak pah, diva ingin kuliah di informatika. Diva pengen banget kerja di Google pah."
" Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi ada sesuatu yang ingin papa dan mama bicarakan sama kamu."ucap mama disa.
"Soal apa mah?"
Mama disa yang berada di pelukan papa hanya melirik ke arah papa.
"Diva kamu ingat doni, anak om aldo dan tante andini?"
"Iya pak diva inget. Ada apa pah?"
"Om aldo kemarin telpon papa dan meminta papa untuk mengijinkan kamu menjadi sekretaris pribadi doni. Karna mulai minggu depan doni yang akan memimpin perusahaan. Dan om aldo menginginkan kamu yang menjadi sekretaris doni. Apa kamu bersedia nak?" tanya papa deva.
Tanpa pikir panjang diva mengiyakan permintaan papanya. Ia terlihat sangat bahagia mendengar kedatangan doni kembali ke Indonesia. Ditambah ia akan setiap hari bertemu dengan doni.
"Diva mau pah, mau banget."ucap diva dengan senyum lebarnya.
"Tapi kamu harus tetap fokus ya sama kuliah kamu."jawab mama disa.
"Pasti dong mah, yeyeye.. diva bakal ketemu lagi sama kak doni. Sekarang kak dini kayak apa ya pah?"ucap diva membayangkan wajah doni.
"Yaelah yang mau ketemu pujaan hati." gada vida dan langsung mendapat lemparan bantal dari diva.
"Hei bocil, tau apa soal cinta cinta. Masih SMP aja sok sokan. Sekolah dulu yang bener." kata diva.
"Sudah sudah, mending daripada kalian berantem mending bantuin mama siapin makan malam. Karna nanti om aldo dan keluarganya akan dateng kesini." ucap mama disa.
"Kak doni mau kesini mah?"tanya diva untuk memastikan ucapan mamanya.
"Iya sayang, makanya ayo temenin mama masak ya."
"Ayo mah."jawab diva dan vida penuh semangat.
"Pah, aku ke dapur dulu ya, mau masak."
"Iya mah, sekarang aku tambah yakin untuk menjodohkan diva dan doni."
"Iya pah, mama juga sependapat. Sepertinya diva memang mencintai doni. Dan mama garap doni juga akan seperti itu."jawab mama disa yang langsung mendapat ciuman di bibirnya dari papa deva.