My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
I Love You Forever



Diva masuk dan melihat Doni menatapnya sayu. Diva berjalan mendekati ranjang Doni lalu duduk di kursi samping ranjangnya.


"Div,, ka...kamu..," belum selesai bicara, jari telunjuk Diva sudah berdiri di depan bibir Doni.


"Sssttt... Jangan banyak bicara dulu ya kak. Diva akan selalu disisi kakak sampai Kak Doni sembuh. Pokoknya Kak Doni harus cepet sembuh ya," ucap Diva.


Doni melempar senyum seakan mengiyakan permintaan Diva.


"Andaikan kamu bukan calon istri orang lain, kebahagiaanku pasti akan sempurna Div," batin Doni yang belum tahu jika Rangga sudah membatalkan rencana pernikahannya dengan Diva.


Satu minggu sudah berlalu. Keadaan Doni pun berangsur membaik, meskipun masih ada alt penyangga yang melilit di lehernya.


Diva selalu setia menemani Doni di rumah sakit. Setiap waktu ia selalu datang untuk menjenguk dan merawat laki laki yang sangat ia cintai.


Sayang, Doni yang belum mengetahui jika Diva dan Rangga sudah putus berusaha menjaga jarak dengan Diva, tak mau berharap pada calon istri orang. Ini semua atas permintaan Diva yang ingin memberikan kejutan pada Doni.


Siang itu, seperti biasa Diva datang untuk menjenguk Doni.


"Siang kak," sapa Diva sambil meletakkan beberapa buah ke meja samping ranjang.


"Siang Div. Sendiri lagi? Kok aku gak pernah lihat Rangga mengantar kamu kemari?" tanya Doni.


Diva masih berakting seolah dia masih menjalin hubungan dengan Rangga.


"Oh Rangga ya kak. Dia sibuk kerja," jawab Diva singkat.


"Div, boleh gak kakak bicara?" ucap Doni.


Diva menaikkan sebelah alisnya sambil terus melanjutkan kegiatannya mengupas buah untuk Doni.


"Tanya apa kak?" ucap Diva santai.


"Div, kakak pengen bicara serius. Ditaruh dulu dong buahnya."


Diva menghela nafas lalu menaruh pisau dan buah di tangannya. Badannya sudag menghadap Doni dan membalas tatapan di mata Doni.


"Kak Doni mau bicara apa?" tanya Diva.


Doni menarik nafasnya, menggenggam tangan Diva sambil memberikan tatapan sayu padanya.


"Div, berhenti perhatian sama aku. Kalau kamu bersikap seperti ini terus aku semakin susah melupakan dan mengikhlaskan kamu. Kamu harus ingat kalau kamu itu udah punya tunangan dan bukankah sebentar lagi kalian akn menikah. Jadi stop perhatian sama kakak. Dan kamu gak usah repot repot buat kesini lagi," ucap Doni.


Mendengar ucapan Doni, Diva melepaskan tangan Doni dari tangannya. "Jadi kamu ngusir aku kak?" ucapnya.


"Bukan gitu Div maksud kakak. Tapi..."


"Tapi apa kak? padahal Diva kira setelah Diva putus sama Rangga, Kak Doni bakal ngelamar Diva. Tapi malah Kak Doni minta Diva pergi. Yaudah deh kak, kalau memang itu mau kakak, Diva pergi dan gak akan kesini lagi," tegas Diva sambil beranjak dari kursi.


Mata Doni terbelalak dengan mulut yang menganga. Doni mencoba mencerna kembali setiap ucapan yang keluar dari mulut Diva.


"Bilang apa?" tanya Diva yang masih berusaha menahan senyum di bibirnya.


"Yang tadi soal hubungan kamu dengan Rangga."


"Oh itu tadi. Bukannya udah gak penting ya kak," cetus Diva.


Doni meraih tangan Diva dan membujuknya untuk duduk kembali. Diva menurut, ia pun duduk sambil berakting memasang wajah kesal dan marah di depan Doni.


"Div tolong jelasin sama kakak, maksud ucapan kamu tadi apa? apa benar kamu dan Rangga putus?" cecar Doni.


Bibir Diva melengkung lebar. Namun itu belum membuat Doni belum yakin. Hanya senyuman itu bukan jawaban bagi Doni.


"Diva," ucap Doni dengan nada penuh penekanan. Diva benar benar membuat rasa penasaran Doni semakin kuat.


"Apa sih kak?" omel Diva.


"Cepet jelasin ke kakak. Apa maksud ucapan kamu tadi?"


Diva mendengus kesal. Apa Doni masih belum mengerti arti senyuman yang dia berikan barusan.


"Div..," ucap Doni kembali.


"Iya kak, iya. Aku udah putus dari Rangga."


Entah harus bahagia atau sedih. Perasaan Doni seperti permen nano nano. Semua rasa menjadi satu disana.


"Kamu serius Div? Gak lagi bohong kan? Kakak gak mau, gara gara kejadian yang aku alami ini, kamu jadi kasihan sama aku hingga kamu mengambil keputusan ini," ujar Doni.


Melihat kesedihan di wajah Doni, Diva menarik tangan Doni dan membawa tangannya lalu menciumnya penuh rasa cinta.


"Aku putus dengan Rangga bukan karna aku kasihan sama kakak. Tapi cintaku sama kakak dari dulu gak pernah berubah. Dan soal yang memutuskan hubungan ini bukan aku kak, tapi Rangga. Dia bilang dia gak mau jadi penghalang cinta kita. Karna sebuah pernikahan tanpa di landasi cinta itu menyakitkan kak. Selama ini Rangga tau kalau cintaku itu sama kakak. Meski ku sudah berusaha mencintai dia, tapi namanya perasaan itu gak bisa di paksakan kak."


"Diva," Doni menitihkan air matanya. Semua seperti keajaiban. Sempat ia berpikir hidupnya akan hampa melihat wanita yang ia cinta menikah dengan laki laki lain. Tapi semua berubah dalam sekejap. Divanya kembali dalam pelukannya.


Doni bangun dari tidurnya. Dipeluknya wanita yang berada di hadapannya sekarang.


"Diva, aku bahagia sekali. Jangan pernah tinggalin aku lagi Div. Jangan pernah pergi dari kakak lagi," ucap Doni dalam tangisnya.


"Iya kak, sampai kapan pun Diva gak akan pergi dari kakak. Karna Diva cinta banget sama Kak Doni," jawab Diva.


Tak mau melewatkan moment ini, Doni menarik dagu Diva lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Cukup lama berciuman, Doni melepaskan bibirnya sejenak untuk memberi ruang untu Diva bernafas.


"I love you Diva," ucap Doni melepas sebentar tautan di bibir mereka.


"I Love you forever kak," balas Diva dan mereka kembali melanjutkan ciuman panas mereka berdua.