
WARNING !! BOCIL MINGGIR DULU YA !!
Besok adalah hari bersejarah bagi Doni dan Diva. Tinggal satu hari lagi mereka akan sah menjadi suami istri. Dan karna hal itu , Doni terpaksa menahan rindunya untuk bertemu calon istri tercinta.
Diva yang sedang menjalani masa pingit, juga menahan rindunya. Mungkin ini namanya jodoh. Diwaktu yang sama, Doni melakukan video call namun Diva enggan mengangkat. Ia tidak mau ,ketika besok bertemu Doni rasa rindu itu akan hilang karna sudah melihat Doni di telpon.
Dikamarnya, Doni mendengus kesal. Ia mengirim pesan pada calon istrinya ,dan hanya dibalas dengan emoticon smile yang membuat Doni mengumpat kesal.
"Div, Kak Doni cuma pengen lihat kamu sebentar aja. Angkat ya vcall dari kakak," tulis Doni dalam pesannya.
"Gak mau kak. Kalau kita vcallan sekarang, besok gak ada gregetnya dong pas ketemu," balas Diva dalam pesannya.
Doni membuang nafas lalu menjambak rambutnya sendiri. "Gini ya rasanya di pingit. Padahal baru dua hari gak ketemu, berasa udah kayak setahun," batinnya.
Di tengah rasa gusar yang melanda, ada notifikasi pesan masuk dari Diva.
"Kalau kakak mau,kita telpon biasa aja gimana? Karna jujur,Diva juga kangen banget sama kak Doni," tulis Diva.
Tanpa membuang waktu, Doni segera menelpon Diva. Baru beberapa nada panggilan, suara yang sangat ia rindukan kini terdengar ke telinganya.
"Halo kak," sapa Diva.
"Diva sayang, aku kangen banget sama kamu," rengek Doni seperti anak kecil yang sedang merindukan ibunya.
"Sama kak, Diva juga."
"Div, Vcall sebentar ya please."
"Gak ah kak. Tuh kan Kak Doni selalu aja ngelunjak. Dikasih hati minta ampela. Yaudah deh mending Diva matiin aja telponnya," gerutu Diva.
"Eitss jangan dong Div. 5 menit lagi ya temenin kakak biar kak Doni bisa tidur."
"Hmm,iya iya kak," jawab Diva. " Kak Doni, boleh Diva tanya sesuatu sama kakak?" Diva kembali bersuara ,namun nadanya kini terdengar lebih serius.
"Apa sayang?"
"Kak Doni beneran gak akan kecewa ketika malam pertama kita besok. Dulu aku kan pernah bilang sama kakak kalau aku dan Rangga..," belum sampai Diva menyelesaikan kalimatnya, Doni langsung menyela perkataannya di telpon.
"Ssstt. Jangan pernah kamu tanya itu lagi. Aku gak pernah masalah dengan apa keadaan kamu, karna aku juga tidak bersih. Jadi,berhenti kamu bertanya apa aku kecewa atau gak. Aku tidak akan pernah mempermasalahkan keperawanan kamu sayang. Bagiku, kalau kita mencintai seseorang kita harus menerima apa adanya pasangan kita bukan karna ada apanya dari diri pasangan kita."
Suara isak tangis Diva terdengar ditelpon. Ia menyesal, dulu pernah begitu membenci Doni yang mempunyai cinta tulus untuk dirinya.
"Diva ,kamu masih dengar aku," ucap Doni khawatir.
"Iya kak, Diva denger."
"Sekarang kita bobok aja yuk. Biar besok gak telat bangun buat ke acara akad nikah."
"Iya kak."
"Selamat malam calon istriku, mimpi yang indah ya."
"Selamat malam juga calon suamiku," jawab Diva sebelum sambungan telpon mereka terputus.
Diva dan Doni sama sama tidur terlentang di ranjang mereka masing masing sambil memejamkan kedua matanya.
"Tinggal besok aku akan menjadi istri sah Kak Doni," batin Diva.
Mereka akhirnya terlelap dalam tidur sambil menunggu hari esok tiba.
****
Hari yang dinantikan tiba. Dimana akan berlangsung acara akad hingga resepsi pernikahan Doni dan Diva.
Diva sudah bersiap, dan beberapa saat kemudian mama dan adiknya datang menjemputnya dan membawa dirinya ke meja penghulu.
Semua mata mulai tertuju pada Diva. Tanpa make up saja Diva sangat mempesona ,apalagi jika ada tambahan make up di wajahnya. Diva seperti ratu dalam acara tersebut ,dan Doni sebagai rajanya.
Acara akad berlangsung khidmat. Dan tak lama terdengar suara SAH menggelegar memenuhi seluruh isi ruangan.
Mulai detik ini Diva menyandang status menjadi istri Doni. Dan tak lupa Doni mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Semua nampak tersenyum bahagia. Apalagi Diva, cintanya pada Doni dan impian untuk menjadi istri Doni sudah menjadi kenyataan. Tak mudah untuk sampai di titik ini. Tapi semua sudah berlalu. Mereka percaya, jika ada hikmah dari setiap kejadian.
Bukan hanya Doni dan Diva, kedua orang tua mereka pun juga ikut meneteskan air matanya. Saat anak anak mereka tengah duduk bersimpuh di kaki mereka untuk meminta restu.
Selesai acara akad, Doni dan Diva beristirahat sejenak dikamar mereka dan harus bersiap lagi untuk melangsungkan acara resepsi nanti malam.
"Sayang," Doni merangkul pinggang Diva sambil menciumi tengkuk leher Diva.
"Kak,please jangan sekarang ya."
"Sebentar aja sayang," rengek Doni.
Diva masih menggeleng, hingga akhirnya Doni hanya bisa pasrah menuruti kemauan istrinya.
"Nanti malam aja ya kak. Mau berapa ronde?" goda Diva.
"Dih udah pengalaman ya," goda Doni. Namun tanpa dia sadari Diva malah memasang wajah sedih, dan rupanya Doni seperti salah bicara. Ia sama saja mengungkit kembali masa lalu Diva.
"Div, maaf div. Kak Doni gak berniat buat bikin kamu sakit hati. Maafin aku ya sayang," ujar Doni.
"Iya kak gak papa. Mending sekarang kita mandi ya ,habis ini MUA nya datang," jawab Diva datar.
Doni kembali meraih tubuh Diva sambil mendekatkan wajah mereka berdua.
"Kamu jangan marah ya. Aku janji aku gak akan mengingatkan kamu akan hal itu. Karna aku pun juga pernah melakukan hal itu. Maafin aku ya sayang," Doni masih berusaha meminta maaf pada istrinya atas lisannya tadi.
Diva melebarkan senyumnya."Iya kak, dimaafin kok."
Tak bisa dapat celup celup sekarang, Doni meminta jatah lain. Doni mencium bibir istrinya begitu rakus ,dengan tangannya yang bergerilya menyelusuri setiap lekukan di tubuh Diva.
Masih belum tersalurkan hasratnya, Doni memainkan lidahnya. Wajahnya masuk diantara dua kaki Diva dan memainkan lidahnya disana.
Diva hanya bisa merem melek menikmati permainan suaminya. Jujur, Diva juga ingin lebih dari ini tapi apalah daya ia harus menjaga staminanya untuk acara nanti malam.
"Sabar ya sayang, nanti malam aku pasti akan membuatmu puas," bisik Doni dengan nafas tersengal sengal tepat di telinga Diva.
"Iya sayang. Dan aku juga akan membuat kamu puas," balas Diva tanpa rasa malu ataupun gengsi lagi seperti biasanya.