
Keesokan harinya, william dan febi sudah berangkat dari pagi untuk kembali ke Singapura sebentar, karna ada urusan yang harus mereka selesaikan. Sementara andini sudah bersiap untuk pergi ke kampus lalu setelah itu menemui aldo.
Namun saat ia sedang merias dirinya, tiba tiba suara bel berbunyi. Ia pun bergegas membuka pintu, dan betapa kagetnya ia saat yang berdiri di depannya adalah suami yang amat dia cintai dan amat begitu ia benci.
"Andini." lirih aldo.
"Aldo." ucap andini pelan sambil membulatkan kedua matanya.
Flashback on...
Pagi tadi deva sengaja meminta aldo untuk pergi ke rumah sakitnya. Disana amarah deva memuncak saat melihat kedatangan aldo. Mata dan mukanya mulai memerah sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tok.. Tok..tok...
Suara ketukan pintu ruang kerja deva, dan tak lama aldo pun masuk.
"Ada apa dev kamu manggil aku kesini. Tumben banget." ucap aldo.
Dan bugghh..
Deva melemparkan bom atomnya ke wajah aldo.
"Dev, kamu kenapa?kenapa kamu mukul aku? Apa doni berbuat tidak senonoh pada diva?" tanya aldo.
"Bukan doni, tapi kamu. Apa benar dulu kamu sempat berselingkuh dengan nabilla di belakang andini. Apa benar kamu sempat berciuman dengan nabila sebelum keberangkatan andini ke Singapura. Jawab aku bre****k. Ternyata kamu selama ini menyimpan sebuah kebusukan al. Apa kurangnya andini,sampai kamu tega menyelingkuhinya. Kalau memang kamu hanya ingin menyakiti, kenapa kamu ambil dia dari aku al."
Aldo hanya diam sambil menatap deva dengan wajah sayu. Ia bingung kenapa deva bisa mengetahui rahasianya.
"Dev, kenapa kamu bisa tahu semua. Kamu tahu darimana?" tanya aldo dengan pandangan kosong.
"Oh jadi itu benar. Dasar kamu memang ba****an." jawab deva yang hendak menghujani aldo kembali dengan sebuah pukulan.
Namun tangan deva dengan cepat di tahan oleh aldo, dan di hempaskan.
"JAWAB AKU! TAHU DARI MANA KAMU!! " teriak aldo dengan suara menggelegar.
Deva melihat kemarahan di wajah aldo. Seperti sesuatu yang memang sudah di kubur aldo dan membuatnya tak mau membahas itu kembali. Tapi demi rada cintanya pada andini, deva tak kalah emosi jika mengingat video yang ia tonton kemarin.
"Asal kamu tahu, andini sudah tahu jika kamu pernah bercinta dengan nabila. Saat sabtu malam ia tak bisa memenuhi janjinya untuk pulang menemui kamu dan doni. Dan itu alasannya kenapa ia pergi meninggalkan kalian." ucap deva dengan nada tak kalah tinggi dari aldo.
"Maksudmu apa? Kenapa kamu harus cerita sekarang?"
"Karna aku juga baru tahu kemarin (deva menceritakan pada aldo jika andini masih hidup dan kemarin ia dipanggil william untuk pergi ke apartemennya) begitu al ceritanya. Andai aku belum menikah dengan disa, aku sudah mengambil andini kembali dari kamu. Awalnya aku sempat ingin kembali dengan andini, namun andini menolak karna aku sudah beristri dan tatapan cintanya buat aku dulu memang terlihat seperti tidak ada. Aku melihat cinta dan luka yang amat dalam dari matanya untuk kamu. Setiap mengingat kamu, ia selalu menangis al." kata deva.
Aldo terduduk lemas di sofa ruangan deva. Ia menangkup wajahnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku bodoh dev. Tapi semua gak seperti apa yang andini pikirkan. Aku sama sekali gak pernah mencintai nabilla." ucap aldo.
"Tidak mencintai tapi berciuman? Dan juga sempat bermain kuda kudaan? Kamu mau menutupi kebohongan kamu dengan kebohongan lagi!"
"Dev, stop jangan ingatkan aku dengan kejadian itu lagi (aldo kemudian menceritakan dengan jujur semua awal mula kedekatannya dengan nabila)."
"Lebih baik segera kamu temui andini, aku akan kasih alamat apartemen william. Aku yakin dia masih disana. Dulu andini yang berjuang meyakinkan kamu, sekarang giliranmu yang memperjuangkannya. Sebelum ia benar benar akan pergi dari sisi kamu. Aku percaya kamu al, gak mungkin kamu melakukan hal yang diluar batas seperti itu. Lagipula dari awal aku sudah yakin al, banyak yang iri dengan keluarga kalian. Makanya jangan lakukan hal bodoh lagi. Kejar andini al, dia sudah kembali." ucap deva sambil menepuk pundak aldo.
"Thanks dev, thanks kamu masih percaya sama aku."
"Iya, kamu harus bisa meyakinkan andini jika memang hanya dia yang ada di hati kamu."
"Pasti dev, aku pamit dulu. Aku sudah sangat merindukan andini." ucap aldo sambil berlari keluar.
Flaahback off...
Melihat kedatangan aldo, andini dengan cepat hendak menutup pintu apartemennya. Namun tangan aldo menahan pintu itu.
"Pergi kamu al. Pasti deva sudah menceritak semuanya sama kamu! Kalian berdua sama aja!!" teriak andini.
"Andini, biarkan aku jelaskan semua sama kamu! Aku sudah tersiksa dengan kepergianmu. Kenapa kamu ambil keputusan seperti ini din. Apa kamu tahu kematianmu sudah menghancurkan hatiku dan doni. Kenapa kamu gak bicara baik baik denganku din." teriak aldo yang masih berusaha menahan pintu.
Bugghh..
Tubuh andini tergulai di atas lantai.
"Andini, kamu gak papa?" teriak aldo yang berusaha menolong andini.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu al. Aku bisa berdiri sendiri." ucap andini sembari bangkit dari lantai.
Karna kakinya terkilir, andini kesusahan untuk bangkit dan aldo dengan sigap menggendong andini. Ia tak memperdulikan pukulan keras dari andini di dadanya.
"Lepas al, lepas!! Atau kamu mau aku teriak!" ancam andini.
"Teriak saja din. Bagaimana pun kamu masih istri sah aku. Letak salahku dimana jika seorang suami ingin menemui istrinya yang sudah 20 tahun pergi dan membohonginya." jawab aldo.
"Bohong kamu bilang? Kamu mau melimpahkan kesalahan ini sama aku, padahal hidup kamu yang penuh kebohongan. Cepat turunkan aku! " ucap andini dengan tatapan tajam.
Aldo menaruh andini di sofa. Dengan penuh rasa sayang, ia memijit kaki andini.
"Gak usah dipijit, nanti aku bisa panggil tukang pijat. Jadi lepaskan tanganmu dari kakiku." ucap andini penuh emosi.
"Sudahlah diam din, kalau gak segera di pijit kaki kamu bisa bengkak. Tahan bentar ya,sakit nya cuma sebentar kok." kata aldo
"Sakit sebentar? Sakit yang lama pun sudah aku jalani al." ucap andini sambil menghapus air matanya.
Selesai memijat kaki andini, aldo duduk bersimpuh di hadapan andini. Bahkan ia mencium kaki andini sambil terus menangis.
"Maafkan kelakuan bodohku din. Maafkan aku, hingga membuat luka yang dalam di hati kamu. Tapi jujur semua aku lakukan tanpa sadar." ucap aldo sambil menangis di kaki andini.
Mendengar ucapan aldo, andini tertawa untuk menutupi sakit hatinya.
"Hahahaha, tanpa sadar. Kamu mau bohong apalagi al? Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri saat kamu berciuman dengan nabilla. Dan aku juga sudah mengecek keaslian video itu." ucap andini tanpa memandang wajah aldo.
"Aku akui untuk ciuman itu aku khilaf. Awalnya aku hanya mendengar cerita nabilla yang sedang ada masalah dengan tunangannya begitu pun aku yang sedang ada masalah dengan kamu. Karna kekosongan hatiku, tiba tiba nabila mendekat ke arahku dan mencium ku. Dan bodohnya aku malah membalas ciuman itu." jawab aldo.
Pllokk..plookk..pllokkk..
Suara tepuk tangan andini.
"Bagus ya al. Kamu inget gak sejarah apa saat aku hanya berkata sayang pada deva disaat ia sekarat. Dan dengan entengnya kamu bilang kamu khilaf?" ucap andini.
"Maafkan aku dini, aku menyesal. Tapi aku hanya sekali itu berciuman dengan nabila." jawab aldo.
"Tapi setelah itu kalian malah enak enakan di kantor ya. Dan apa kamu mau bilang lagi jika itu khilaf? Dan bukankah setiap hari kamu dan nabilla sering bertemu di kantor. Vita sudah cerita semua sama aku,mau bohong apalagi kamu al." gertak andini dengan tatapan sinisnya.
"Memang aku sering bertemu dengan nabila, karna proyek kerjasama kita sedang ada masalah. Dan terkadang aku pergi bukan hanya dengan nabila, tapi dengan cindy. Hanya saja cindy tidak pernah mau ikut jika meeting di kantorku. Dan soal malam itu aku marah sama kamu yang tidak menepati janjimu sama doni. Aku sudah berusaha menelpon handphonemu tapi gak kamu angkat. Hingga aku menelpon mama rara, dan dia bilang kamu masih sibuk. Maka dari itu aku mengajak nabila untuk pergi minum ke bar, tapi karna hujan yang deras nabila tidak mau pergi. Maka dari itu, akhirnya kami memutuskan untuk minum dikantor. Sebenarnya malam itu gak hanya dengan nabilla, tapi dengan cindy juga namun cindy tiba tiba ada urusan mendadak dan tidak jadi ikut minum lalu menitipkan wine yang sudah ia beli pada nabila. Namun karna efek alkohol dalam wong itu, tiba tiba badan terasa panas dan bergairah. Waktu itu aku fikir dihadapanku itu kamu andini, namun keesokan harinya saat aku sadar ternyata yang ada disampingku itu nabila. Aku mohon percaya sama aku. Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku untuk main perempuan." ucap aldo yang masih berusaha meyakinkan andini.
Andini hanya diam sambil sesekali menoleh ke arah aldo yang masih duduk di kakinya. Ingin rasanya ia memeluk suami yang sangat ia cintai. Namun hatinya masih menolak untuk memaafkannya, bila mengingat isi video yang masih tersimpan dalam memori kepalanya.
"Satu lagi, kata kak william dia mendapat informasi jika kamu sudah pernah menikah siri dengan nabila karna hamil. Dan waktu nabila keguguran, kamu langsung menceraikannya. Itu semua juga tanpa sepengetahuan doni kan?" tanya andini kembali.
"Iya, tapi dia hamil bukan anakku. Setelah sebulan dari kejadian itu, nabila bilang jika dia hamil. Dan akhirnya aku pun menikah siri dengannya, karna rasa tanggung jawabku. Tapi ternyata nabila berbohong, saat aku ke dokter kandungan ternyata dia sudah hamil 2 bulan. Disitu aku sangat marah dengannya, dan sampai sekarang aku berfikir jika nabila menjebakku. Karna kekasih gelap ya tidak mau bertanggung jawab, ditambah tunangannya langsung pergi saat tahu ia hamil. Dan bodohnya aku malah percaya begitu saja. Namun ada kejadian yang membuat nabila keguguran. Di kesempatan itu aku langsung menceraikannya." jelas aldo.
"Sekarang aku minta, pertemukan aku dengan nabilla. Aku ingin dengar cerita darinya, karna saat ini aku masih susah untuk percaya dengan kamu." ucap andini.
"Baik, kita pergi ke rumahnya. Sekarang dua sudah berkeluarga dan memilik 1 orang putri. Kita pergi sekarang dan tanyakan semua yang kamu mau sama dia." ucap aldo dengan yakin.
"Sebentar aku ambil tas dulu."
Saat andini hendak melangkah, tangannya langsung di raih oleh aldo dan aldo meluapkan rasa rindu yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Andini, jangan pergi lagi ya. Jangan buat aku tersiksa dan merasa bersalah. Kita mulai lagi dari awal ya. Dan setelah semua kejadian ini, aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi." ucap aldo sambil memeluk erat istrinya.
Tak ada jawaban dari andini, hatinya masih terlalu sakit untuk membalas pelukan suaminya. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini, apa benar nabila sudah menjebak suaminya.