
Di apartemennya, dokter william menghubungi dokter devano. Ia segera menelpon nomor yang baru saja ia dapatkan dari diva.
Kriiiingg...
Suara ponsel papa deva.
Saat melihat ke layar ponselnya, papa deva enggan mengangkat telpon tersebut karena nomor yang tidak ia dikenal. Namun panggilan nomor itu terus menghubunginya, akhirnya papa deva pun menerima panggilannya.
"Halo, maaf dengan siapa ini?" ucap papa deva.
"Halo dokter devano, apa kabar? Masih ingat kah dengan saya?"
Dalam pikirannya papa deva belum yakin dengan seseorang yang menelpon dirinya. Namun suara orang tersebut seperti tidak asing baginya.
"Maaf siapa ya, saya tidak mengingat anda."
"Saya dokter william, apa kamu sudah mengingat saya."
"Iya saya ingat, apa kabar dokter? Sejak kapan kamu bisa menggunakan bahasa Indonesia."
"Hahahaha, sebenarnya sudah sejak kecil. Cuma saya memang merahasiankannya."
"Terus selama ini kamu kemana saja, saya mencarimu tapi kamu tiba tiba menghilang dan mengundurkan diri dari rumah sakit setelah operasi sahabatku dulu."
"Waktu itu saya mendapat tawaran bekerja di Australia, dan saya langsung menerima tawaran itu. Karna saya diminta secepatnya berangkat, makanya saya belum sempat berpamitan dengan kamu."
"Oh, ternyata begitu. Terus dokter dapat nomor saya darimana? Apa dokter masih di Australia?"
"Saya tadi dapat nomor kamu dari putrimu saat saya ziarah ke makam sahabatmu andini. Karna semalam tiba tiba dia datang dalam mimpiku. Sudah satu bulan saya tinggal di Indonesia. Dan saya sekarang membuka praktek di Jakarta." ucap dokter william.
"Wah bagus kalau begitu, kapan kapan gimana kalau kita ketemu."
"Bagaimana kalau nanti malam dokter devano, kebetulan saya hari ini libur praktek. Datang dan mainlah ke apartemenku. Sekalian ada yang mau saya tunjukkan pada kamu."
"Boleh dokter, kirimkan saja alamatnya. Nnti malam saya akan mampir ke apartemenmu."
"Oke dokter, sampai ketemu nanti malam. Kebetulan istri ku baru saja datang dari Spanyol. Dia membawa beberapa wine, sudah lama bukan kita tidak minum bersama."
"Hahahaha, kau itu dokter. Itu kan waktu saya masih muda. Sekarang saya sudah tua, jadi saya agak mengurangi minuman seperti itu."
"Oke baiklah. Tapi kamu tetap akan kemari bukan."
"Tentu saja. Pasti saya akan kesana. Kalau begitu sampai ketemu nanti malam ya dokter."
Mama disa yang sedang berada di dapur mendengar suaminya tertawa di telpon. Ia pun langsung menghampirinya.
"Dapet telpon dari siapa pah? Kok kayak bahagia banget?" tanya mama disa.
"Kamu inget dokter william gak mah? Rekan dokterku yang di Singapura dulu. Yang kerja sama aku mengoperasi andini. Ternyata sebulan ini dia stay di Indonesia. Dan dia juga praktek di Jakarta. Makanya dia ngajakin aku ketemuan di apartemennya."
"Oh iya pah aku inget. Tapi dia tahu dari mana nomer kamu pah? Kan kalian sudah lost contact lama banget. Sejak kematian andini kan."
"Tadi dia bilang dia dapet dari diva. Tadi dia ke makamnya andini dan disana dia bertemu diva makanya dia minta nomor aku ke diva." jawab papa deva.
"Terus dia tahu makam andini darimana? Kamu ngerasa aneh gak sih? Dia kan gak ikut ke Indonesia." tanya mama disa.
"Iya sih, coba nanti pas ketemuan aku tanya dokter william lagi. Kamu mau ikut mah?"
"Enggak pah, gak enak juga. Nanti kalian malah gak leluasa ngobrolnya. Oh iya pah, aku mau pamit belanja bulanan dulu ya." pamit mama disa.
"Mau aku anter mah?"
"Gak usah pah, aku udah pesen taksi online kok. Nanti diva sama doni mau nyusul ke supermarket. Mending kamu mandi dan siap siap ke tempatnya dokter william. Dan jangan pulang malam malam ya pah."
"Iya mah, kamu juga hati hati ya." ucap papa deva sembari mencium bibir mama disa sekilas.
Setelah mama disa pergi bersama vida, papa deva bersiap untuk juga pergi ke apartemen dokter william.
Di tempat lain, andini mendapat banyak telpon dari william. Setelah selesai dengan tugasnya, andini menelpon balik nomor william.
"Halo kak, kenapa kak william telpon andini berkali-kali? Apa ada sesuatu yang penting kak?"
"Oh ini kakak pengen kamu main ke apartemen kakak ya. Disini ada kak febi. *Dia bawa oleh oleh buat kamu, kamu bisa mampir ke tempat kakak?"
"Bisa dong kak, nanti aku ke tempat kakak ya. Tapi aku mau ke supermarket dulu. Mau belanja beberapa kebutuhan pribadi ku."
"Oke andini, kakak tunggu ya."
"Oke kak." jawab andini.
Selesai berbicara pada andini di telpon, dalam hati william merasa bersalah karna bertindak tanpa sepengetahuan andini. Ia merasa semua masalah ini harus segera di selesaikan dan tidak berlarut larut. Ditambah andini hanya bisa memandangi doni dari jauh, padahal jauh di lubuk hatinya ia sangat ingin memeluk anak kesayangannya itu.
"Maafin kakak ya andini, kakak terpaksa bohong sama kamu. Dan kakak pikir dengan bantuan dokter devano, kamu dan keluarga kamu bisa mengerti alasan kamu pergi. Dan disitu kakak juga akan mengatakan siapa andara sebenarnya. Maafin kakak ya andara,sampai kamu tutup usia kamu belum tahu siapa orang tua kamu sesungguhnya." ucap dokter william sambil memandangi fotonya dan andara.