
Aldo menggandeng tangan Andini untuk masuk kedalam rumah. Setelah menekan bel rumah, Bi Siti melompat kaget setelah membukakan pintu karna melihat Andini.
"Mb.. Mb.. Mbak A.. A.. andini.." ucap Bi Siti terbata.
"Bi Siti.." peluk Andini.
Antara takut dan bahagia, Bi Siti sudah tak mampu berbicara.
"Bibi apa kabar?" tanya Andini namun Bi Siti masih sedikit syok dengan hidupnya kembali Andini.
"Mas Aldo, ini bukan hantunya Mbak Andini kan?" tanya bibi dengan suara bergetar.
"Bukan bi, oh iya Doni, mama sama papa dimana bi?" tanya Aldo.
"Semua sudah ada di meja makan mas." ucap bibi dengan matanya masih memandangi Andini.
"Yaudah ayo sayang kita temui mereka." ajak Aldo sambil menarik tangan Andini.
"Bi, Andini duluan ya." ucap Andini namun Bi Siti masih menganga melihat dirinya.
"Sudah sayang, bibi masih sedikit kaget. Ayo masuk mereka pasti bahagia lihat kamu kembali." ucap Aldo.
Aldo membawa Andini ke ruang makan. Saat mereka hadir spontan kedua orang tua Andini, Doni dan Diva berdiri dari kursi mereka.
"Andini." ucap Pak Atmaja dan Mama Rara.
"Mama." sahut Doni.
Namun saat mereka masih terkejut dengan kedatangan Andini, Diva pun berlari memeluk Andini yang ia kira ibu dosennya.
"Bu Andara, kok ibu bisa sama Om Aldo?" tanya Diva
"Andara? Kamu kenal dia Diva?" tanya Doni.
"Iya kak, dia dosen penjaga di ruang tes aku kemarin. Mirip banget ya sama mama kakak. Kemarin juga mama kaget waktu lihat Bu Andara. Mama pikir ini Tante Andini. Dan waktu Diva lihat foto Tante Andini, emang mirip banget sih kak." ucap Diva.
"Oh, nenek kira dia Andini. Mana mungkin Andini masih hidup. Tapi kenapa kamu bawa dia kesini Aldo? Kalian saling kenal?" tanya Mama rara.
Sebelum semua benar benar mengira Andini adalah Andara, Aldo pun segera meluruskan ucapan Diva.
"Mah, pah, Doni, Diva, ini bukan Andara tapi Andini. Anak papa dan mama, sekaligus mama kamu Doni." ucap Aldo.
Semua hanya membelalakan mata mereka mendengar pernyataan Aldo.
"Gak mungkin, kamu jangan ngaku ngaku jadi mamaku." teriak Doni.
Andini berjalan mendekati Doni, ia menyentuh pipi Doni dengan berurai air mata.
Doni memejamkan matanya seakan masih belum percaya dengan semua kondisi ini. Sedangkan Mama Rara dan Pak Atmaja berjalan mendekat ke arah Andini.
"Andini, ini benar kamu nak? Terus siapa yang kami kuburkan waktu itu sayang?" tanya Mama Rara sambil memegang pipi Andini.
"Itu Andara mah, adik Dokter William." jawab Andini.
"Jadi semua ini rencana Dokter William yang mengoperasi kamu. Dan ia memanipulasi kematian kamu, nak?" sahut Pak Atmaja dengan nada tinggi.
"Bukan pah, ini permintaan aku sendiri. Maafkan aku ya pah, mah, doni saat itu aku terlalu sakit hati dengan Aldo. Dan semua itu membuat sakit hatiku pada papa tentang perselingkuhan papa kembali. Makanya aku ingin pergi dan aku bertukar tempat dengan Andara yang kebetulan saat itu juga operasi kanker otak. Hanya saja operasi Andara gagal, dan sebenarnya operasiku itu memang berhasil. Tapi karna aku dan Andara sudah berencana bertukar tempat,akhirnya kami berpindah tempat saat Deva keluar." ucap Andini yang berusaha menutupi alasan sebenarnya.
Tak mengerti dan paham dengan alasan mamanya, kemarahan Doni pun muncul.
"Buat apa kamu kembali. Kemana saja kamu. Seorang mama yang baik gak mungkin meninggalkan anaknya hanya demi mementingkan perasaannya sendiri. Aku kira kamu itu mama yang baik. Selama ini aku membenci papa dan mengira dia yang menyebabkan kamu meninggal. Dan aku menyesal karna sudah membanggakan mama yang gak punya hati. 20 tahun kamu pergi, dan buat apa sekarang kamu kembali. Lebih baik kamu benar benar meninggal saja. Aku sudah terbiasa hidup tanpa mama, jadi lebih baik kamu pergi dari kehidupanku sekarang." gertak Doni dengan mata yang memerangi dan emosi yang membara.
Hati Andini terasa sakit, ia sudah bisa menebak jika Doni akan membenci dirinya. Namun air matanya sudah tak dapat ia tahan. Ingin rasanya ia memeluk putra yang amat dirindukannya, namun kini yang ia dapat hanya kemarahan dari Doni.
"CUKUP DONI!! jangan pernah kamu menjelek jelekan mama kamu. Dia gak bersalah, dia punya alasan yang kuat untuk pergi. Dia itu pergi karna.. " sahut Papa Aldo namun ucapannya langsung di potong oleh Andini.
"Sudahlah Al, aku memang salah. Wajar jika Doni sangat membenci aku. Aku kira aku bisa memeluk kamu Doni, dan menghabiskan waktu yang sudah terbuang kita. Tapi mama salah, dan mama akan pergi sesuai dengan permintaan kamu. Mah, pah, Aldo, aku pergi dulu ya. Lebih baik aku kembali ke Singapura, dan maaf jika selama ini aku terlalu egois." ucap Andini sambil berjalan pergi.
"Andini, kamu mau kemana?" teriak Aldo.
"Doni, kamu keterlaluan." ucap Aldo pada Doni sebelum ia mengejar Andini.
Mama Rara dan Pak Atmaja ikut berlari mengejar Andini. Sedangkan Doni kini terduduk lemas dengan wajah yang masih penuh amarah.
Melihat kesedihan dan kemarahan di wajah Doni, Diva mendekat dan berusaha menenangkan Doni.
"Kak.. " ucap Diva.
"Apa? Kamu juga mau menyalahkan aku ucapanku barusan?"
"Enggak kok kak." jawab Diva.
"Terus apa? Apa aku salah kalau aku marah sama dia. Kemana aja dia selama ini Div? Disaat semua anak bahagia karna memiliki kedua orang tua, aku mengira aku hanya memiliki papa. Ditambah hubunganku dengan papa gak dekat, karna aku mengira selama ini papalah penyebab kematian mama. Tapi selama ini dia cuma bersembunyi hanya karna sakit hati dengan papa dan kakek. Apa itu alasan yang bisa dimaafkan?" teriak doni dengan tangisannya.
Diva langsung memeluk Doni sambil mengelus punggung Doni.
"Diva mengerti perasaan kakak. Tapi bukankah selama ini kakak merindukan sesosok mama? Allah sudah mengabulkan doa kakak. Dan ternyata kakak masih punya orang tua yang lengkap. Diva gak menyalahkan kemarahan kakak, tapi inget satu hal kak. Tanpa Tante Andini, kakak gak akan ada di dunia ini. Semarah apapun kakak sama Tante Andini, Kak Doni gak boleh bicara kasar apalagi mendoakan mama kakak buat meninggal seperti tadi. Diva gak mau punya calon suami yang durhaka dengan orang tuanya. Jadi sekarang lebih baik Kak Doni cepat kejar Tante Andini. Sebelum mama kakak beneran pergi dari kehidupan kakak." ucap Diva dan berhasil membuat hati Doni tersentuh.
Doni kemudian melepaskan pelukan Diva, ia berlari keluar untuk mengejar mamanya yang sudah hilang selama 20 tahun dari hidupnya.
Diva hanya melihat punggung Doni yang mulai pergi meninggalkan dirinya.
"Tante Andini sudah kembali, terus gimana sama papa? Apa perhatian papa ke mama akan berkurang? Aku gak mau lihat mama menangis lagi, sudah cukup mama menahan sakitnya sendiri walaupun mama gak memperlihatkannya di depanku, Vida, apalagi papa." batin Diva sambil menghapus tangisnya.