
Disaat Diva dan Doni melepas kerinduan mereka, Deva dan Disa juga Vida datang untuk menjenguk Doni.
"Sore Doni," sapa Disa.
"Eh sore tante, om, Vida."
"Mama sama papa kok gak bilang sih mau kesini?" protes Diva.
"Yee, suka suka kita dong kak. Iya kan mah, pah," sahut Vida.
"Ihh resek banget sih. Gue kan tanyanya sama mama dan papa. Kok loe sih yang jawab."
"Biarin. Kenapa? Ke ganggu ya quality time loe sama Kak Doni?"
Di tengah perdebatan yang terjadi, Andini dan Aldo pun sudah kembali dari rumah. Kedatangan Deva dan Disa sedikit membuat rasa risih di diri Andini. Apalagi menatap Deva, rasa bersalahnya pada Aldo kembali muncul.
"Eh ada tamu rupanya?" sapa Aldo.
"Iya Al, kita baru aja kok datangnya. Kalian berdua darimana?" tanya Disa.
"Ini Dis, tadi aku sama Aldo pulang sebentar buat ambil baju ganti. Ayo duduk, kita ngobrol ngobrol disana," ajak Andini.
"Iya Din," jawab Disa.
Suasana menjadi semakin ramai. Godaan godaan Vida pada Diva membuat situasi yang semula agak kaku mulai melunak.
Sesaat kemudian Deva pamit untuk keluar dan tak lama Aldo menyusul Deva untuk mengajaknya berbicara.
"Sayang, aku juga keluar dulu ya. Kamu lanjutin aja ngobrol sama Disa," ucap Aldo.
"Iya sayang."
Diluar kamar, Aldo melihat Deva sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Dan Aldo pun bergegas menghampiri Deva untuk menyelesaikan masalah yang ia anggap belum selesai.
"Dev," panggil Aldo.
"Eh iya Al."
Bughh...
Satu pukulan mendarat di wajah Deva. Deva mengusap darah yang ada di ujung bibirnya tanpa membalas pukulan sahabatnya.
"Al, kamu..."
Bughh...
Pukulan kedua kembali mendarat di wajah Deva.
"Brengsek kamu Dev. Kamu tahu gak alasan aku memukul kamu," seru Aldo.
Diva hanya mengangguk. Dia paham apa yang sudah membuat Aldo begitu marah padanya.
"Iya aku tahu Al. Aku ngaku aku salah. Andini pasti udah cerita sama kamu kan soal apa yang sudah terjadi antara aku dan dia," ucap Deva.
"Dasar bajingan, tega kamu Dev sama aku," ucap Aldo dengan tangan yang sudah terangkat dan hendak kembali memukul wajah Deva. Tapi sayangnya Deva dengan cepat menahan tangan Aldo yang hampir kembali memukul wajahnya.
Deva menatap Aldo sinis. "Berhenti sok suci Al," bentak Deva.
"Maksud kamu apa Dev?" Aldo mengangkat sebelah alisnya.
"Hahaha... Gak usah sok lugu sok bersih dan sok polos."
"Apa maksud kamu Deva," detak jantung Aldo berdegup kencang. "Apa jangan jangan..."
"Ya, bukan hanya Andini yang sudah jujur sama kamu. Disa pun juga sama, dia sudah jujur denganku."
Deg..
Jantung Aldo semakin berdetak kencang. Apa Disa menceritakan semuanya pada Deva? Bagaimana kalau Deva cerita tentang apa yang sudah ia lakukan antara dirinya dan Disa dulu.
Flashback on...
Setelah Andini jujur pada Aldo, tak bisa di pungkiri ada rasa marah bercampur dendam di dirinya untuk istri dan sahabatnya.
Di lain tempat, Disa terus mencecar Deva dengan seribu pertanyaan dimana semalam ia tak pulang.
Deva berusaha berkelit. Sayangnya tanpa diketahui Deva, Disa sudah memasak alat pelacak di ponsel suaminya agar ia selalu tahu kemana saja Deva pergi.
Akhirnya, malam itu kekecewaan memenuhi perasaan Disa. Kesetiaannya dibalas dengan sebuah pengkhianatan dari suaminya. Pikiran Disa kacau, ia pun pergi keluar malam itu mencari udara segar.
Tanpa disengaja ia bertemu Aldo yang juga mencari suasana lewat angin malam. Mereka pun sama sama menumpahkan rasa kekecewaan mereka pada pasangan masing masing. Hingga akhirnya muncullah ide gila yang terbesit di otak Disa dan Aldo.
Ya, malam itu untuk membalaskan dendam mereka Aldo dan Disa juga melakukan hal kotor seperti apa yang Deva lakukan pada Andini.
"Disa," Aldo memeluk Disa yang memunggunginya.
"Iya Al," lirih Disa dengan suara serak karna menahan tangis. Sakit hatinya pada Deva, membuat Disa nekat melakukan hal terlarangnya bersama Aldo.
"Maafin aku. Apa sekarang kita sudah sama sama puas karna kita sudah berhasil balas dendam sama mereka?"
"Ya Al, aku sudah puas. Kamu sendiri?" tanya Disa.
"Iya. Jujur aku juga sakit mendengar Andini berkata jujur padaku."
"Sama," jawab Disa singkat.
"Dis, aku minta tolong sama kamu jangan pernah ada yang tahu tentang apa yang terjadi antara kita malam ini ya."
"Iya Al. Sekarang lebih baik kita kembali pulang kerumah ya."
"Baiklah Dis. Terimakasih buat malam yang panjang ini ya Dis," ucap Aldo sembari mengecup kening Disa.
"Sama sama Al."
Flashback off...
Deva kini gantian yang tersenyum getir ke arah Aldo. Ia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap membalas pukulan Aldo. Tapi Deva langsung mengurungkan niatnya.
Mau sampai kapan mereka berkelahi. Demi Diva, dan janjinya pada Andini ia akan melupakan segala hal yang buruk.
"Gimana Al kalau sampai Andini tahu?" gertak Deva.
Aldo hanya bisa menatap sayu. Kenapa Disa harus cerita pada Deva. Bukankah mereka sudah melakukan kesepakatan untuk merahasiakan apa yang terjadi antara mereka. Lagi pula mereka melakukan itu bukan atas dasar cinta namun hanya dendam semata.
Aldo masih diam terpaku. Ia tidak tahu apa yang terjadi jika Deva akan menceritakan perbuatannya pada Andini. Susah payah ia berusaha mendapatkan hati istrinya.
"Kamu tenang aja. Ini hanya akan jadi rahasia antara aku, kamu dan Disa," ucap Deva sambil menepuk pundak Aldo.
"Kamu janji Dev? Bukannya kalau kamu jujur Andini bisa kembali sama kamu?"
"Gak Al. Kamu salah. Aku tahu Andini cinta sama kamu. Jika aku melakukannya atas dasar cinta, berbeda dengan Andini. Dia melakukannya karna amarahnya sama kamu seperti apa yang kamu lakukan bersama Disa. Dia kecewa karna kamu pernah melakukannya dengan Nabila. Sakit hati itu masih ada Al, tapi aku sudah gak mau mengurusi rumah tangga kalian. Ini semua aku lakukan karna aku tidak mau Doni dan Diva terpisah karna masalah dari kedua orang tuanya."
Aldo seketika memeluk tubuh Deva dan menangis dalam pelukannya.
"Dev, maafin aku."
"Lupakan Al. Jangan pernah sakiti hati Andini lagi. Percayalah cintanya itu sudah milik kamu bukan milik aku. Dan aku gak mau Andini hancur mendengar kebohongan yang kamu pendam selama ini."
"Iya Deva. Aku janji, aku tidak akan menyakiti hati Andini lagi."
"Baiklah aku pegang janji kamu. Sekarang lebih baik kita mengobrol di kantin sambil aku ingin mengobati luka di wajahmu gara gara ulah kamu. Aku hanya gak mau Andini tahu akan pertengkaran kita tadi lalu dia jadi curiga," ucap Deva.
"Iya Dev. Sekali lagi maafin aku atas sikapku tadi."
"Lupakan Al. Kalau diingat ingat yang ada hanya sakit hati antara kita. Lagian sebentar lagi kita akan jadi besan. Cinta segitiga kita dulu sudah berakhir, yang terpenting sekarang cinta antara Doni dan Diva kan," kata Deva yang hanya diangguki oleh Aldo.