
Sepulang dari mall, doni mengajak diva pergi ke makam mamanya. Disana diva melihat doni yang biasa kaku, dingin dan angkuh berubah menjadi doni yang rapuh. Diva tak menyangka, doni masih begitu sedih dengan kepergian mamanya.
"Div, ini makam mama gue." ucap doni dengan suara terbata.
"Iya kak, gue tau. Mama dan papa sering kok ngajak diva kesini." jawab diva.
"Om sama tante sering jenguk mama kesini juga ya?" tanya doni kembali.
"Gak cuma mama sama papa sih kak, tante cindy, tante anez, tante dita, tante risa pokoknya semua sahabat papa dan mama pasti kesini kalau pas pulang ke Indonesia."
Doni hanya diam mendengar semua perkataan diva. Pikirannya salah, selama ini doni berpikir jika semua sahabat mamanya sudah melupakan mamanya, namun ternyata bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan sampai saat ini namun sahabat mama dan papanya pun juga.
Diva pun mendekat ke arah doni dan ikut menabur bunga di atas makam andini.
"Kak, kita gak boleh nangis di makam. Itu sama aja kita memperberat langkah mereka ke surga. Kalau kakak nangis, sama aja kakak membuat langkah mama kakak berat." ucap diva.
"Loe tau darimana kata kata kayak gitu. Jangan bilang karna loe sering nonton sinetron."
"Enggak kak, kalau ini bukan karna sinetron tapi mama yang bilang. Karna setiap papa dan mama kesini, papa selalu nangis dan malam selalu mengingatkan papa." jawab diva.
"Div, gue boleh nanya sesuatu gak?" tanya doni.
"Apa kak?" lirih diva yang sudah mulai berpikir jika doni akan menyatakan cinta pada dirinya.
Doni menarik nafas panjangnya dan langsung membuang dengan kasar.
"Apa om deva sampai saat ini masih cinta sama mama kak doni? Dan apa mama loe tau soal perasaan papa loe sama mama kakak?" tanya doni.
"Oh jadi kakak mau nanyain itu ya?gue pikir kak doni mau nembak diva." lirih diva pelan, namun terdengar oleh doni.
"Loe tadi bilang apa div?"
"Oh enggak kok kak diva gak bilang apa-apa. Kalau soal perasaan papa sih diva gak tau. Yang diva tau mama dan papa kelihatan bahagia dan saling mencintai sih kak. Cuma hati seseorang siapa yang tau sih kak. Kayak hati kak doni sama diva." jawab diva yang langsung mendapat tatapan tajam dari doni.
"Loe bisa gak sih serius dikit, kakak gak lagi bercanda." jawab doni yang seketika membuat diva diam.
"Maaf deh kak, diva gak mau lihat kakak sedih aja. Kalau diva salah bicara, diva minta maaf ya kak."
Ucapan diva tak di tanggapi doni yang sedang memandangi makam mamanya.
"Mah, doni kesini karna doni pengen cerita sama mama. Sekarang doni akan menggantikan papa menjadi ceo mah. Dan gara gara keinginan papa, doni harus pergi jauh dari wanita yang doni cinta. Doni tau sebenarnya doni akan di jodohkan sama diva, tapi doni gak mau apa yang menimpa mama juga akan terjadi pada doni. Walau diva cantik dan pengertian, tapi doni gak cinta sama dia mah. Doni hanya menganggap diva adik doni. Andai mama disini, mama pasti bisa kasih saran buat doni. Doni bingung mah, apa yang harus doni lakuin. Apa iya doni harus menerima perjodohan dengan diva?" batin doni yang teringat dengan ucapan papa, nenek dan kakaknya semalam.
Flashback on...
Saat pulang dari rumah keluarga devano, papa aldo meminta doni untuk duduk di ruang keluarga bersama kakek atmaja dan nenek rara. Papa aldo menyampaikan niatnya untuk menjodohkan doni dengan diva.
"Doni, bisa kita bicara sebentar?" ucap papa.
"Bisa pah, memang ada apa?" tanya doni sambil berjalan kemudian duduk di depan papanya.
"Don, papa ingin kamu menikahi diva." ucap papa aldo.
"Iya cu, nenek juga maunya diva yang menjadi istri kamu. Bukannya nenek memaksa kamu, hanya saja yang nenek dan kakek lihat yang bisa mengembalikan senyum kamu itu diva. Dan nenek yakin, gak sulit buat kamu mencintai diva."
"Tapi nek, doni gak mau di jodohin sama diva. Doni punya seseorang yang sudah doni cinta nek, kek, pah. Doni gak mau apa yang papa rasakan juga dirasakan diva. Doni gak mau menikah tanpa cinta seperti apa yang dirasakan mama." jawab doni sambil beranjak dari kursinya dan berlalu pergi.
"Doni tunggu." teriak papa membuat langkah doni terhenti.
"Papa hanya ingatkan kamu, jika memang awal pernikahan mama kamu masih mencintai mantannya yaitu om deva. Tapi apa kamu lupa jika sampai tutup usia siapa yang mama andini cinta? Cinta mama kamu itu milik papa, hanya saja papa terlambat menyadarinya. Maka dari itu, mungkin sekarang kamu masih mencintai tanisha wanita yang hanya mengincar harta kamu. Tapi papa lihat, kamu sebenarnya nyaman dengan diva dan jangan sampai apa yang papa rasakan akan kamu rasakan juga."
"Terserah papa, tapi doni tetap menolak perjodohan ini." jawab doni.
"Baik, papa akan batalkan perjodohan ini. Jika dalam waktu sebulan kamu masih belum bisa mencintai diva, papa tidak memaksa kamu untuk menikah dengan diva dan papa akan bicara sama om deva. Coba kamu jalani dulu dengan diva, dan setelah itu apapun keputusan kamu papa terima." jawab papa.
Tanpa menjawab doni pergi ke dalam kamarnya. Disana ia memandang dua foto wanita yang ada didalam hatinya saat ini. Tangan kanannya foto sang mama, sedangkan ditangan kirinya ia memegang ponsel yang terdapat foto tanisha di walpaper depan.
Namun tiba tiba ada pesan masuk ke ponselnya. Jackson teman kuliahnya di Jerman mengirimkan gambar undangan pertunangan tanisha dan justin pada doni.
Membaca pesan dari jackson, hati doni seketika hancur hingga ia membanting ponselnya.
"Bulshit... Loe cuma kasih harapan ke gue tanisha. Disini gue sedang perjuangin loe tapi loe malah memilih justin. Tapi gue bisa apa, sekarang gue akan berusaha lupain loe dan mencoba menuruti kemauan papa. Gue akan berusaha mencintai diva dalam sebulan ini, namun jika semua sia sia gue gak mau membuat diva menjalani pernikahan tanpa cinta sama gue." batin doni.
Flashback off....
Setelah puas mengeluarkan isi hatinya, doni mengajak diva untuk pulang dan segera mengantar diva pulang kerumahnya.
Saat di tengah jalan, tiba tiba diva menyuruh doni untuk menghentikan laju mobilnya.
"Kak, stop." ucap diva.
"Ada apa sih div." kesal doni.
"Makan mie ayam disana yuk kak, enak loh mie ayamnya." ajak diva.
"Tapi kita tadi kan udah makan, emang loe laper lagi?" tanya doni.
"Hmmm, gak terlalu sih kak. Cuma kalau makan mie ayam disana, biarpun gak laper pasti jadi laper soalnya enak banget. Ayolah kak, coba dulu. Di Jerman gak ada mie ayam seenaknya mie ayam ini." rengek diva.
Akhirnya doni menuruti keinginan diva. Dan kini mereka turun dari mobilnya.
"Hai bapak." sapa diva pada pak soleh,penjual mie ayam.
"Eh mbak diva, sama cowoknya ya. Lah papa gak ikut kesini?" tanya pak soleh.
"Bukan cowok pak, tapi calon suami." bisik diva ke telinga pak soleh sambil tersenyum licik ke arah doni.
"Iya pak, papa gak ikut. Oh iya diva pesen 2 mie ayam sama dua es teh. Tapi mie ayam diva kayak biasanya ya pak."
"Iya mbak, kayak punya papa nya mbak diva kan? Tanpa daun bawang."
"Yap betul pak."
Diva lalu menarik tangan doni dan mengajaknya duduk di sampingnya.
"Ayo kak,duduk dulu." ajak diva.
"Iya div, tapi jangan main tarik tarik dong."
Setelah duduk, diva menceritakan jika tempat ini adalah tempat kenangan antara papa deva dengan mama andini. Doni setia mendengar semua cerita diva. Bahkan doni tak menyangka jika cinta papanya diva begitu besar untuk mamanya.
Saat selesai dengan ceritanya, diva melihat doni yang masih memandang dirinya sambil melamun. Hingga keisengan diva kembali terlintas.
Cupp...
Diva mencium pipi doni sekilas.
"Diva, loe itu kok suka nyosor sih. Jadi cewek jaim dikit gak bisa apa? Jangan jangan kamu suka nyosor ke cowok lain juga ya?" kesal doni.
"Yee, gak lah. Diva cuma kayak gini sama kak doni. Habis kakak kelamaan sih ngeliatin diva, biasanya kan diva yang ngeliatin kakak." ucap diva dengan puppy eyesnya.
"Udah gak usah ngerayu. Oh iya, loe jadi mau pergi ke Bogor sama reyhan?" tanya doni.
"Hmmm, gimana ya?" jawab diva yang berusaha menggoda doni.
"Gak usah pergi." ucap doni.
"Yee emang kakak siapa? Kalau kak doni pacar diva mah berhak ngatur diva. Kan kakak cuma kakak temu gedenya diva. Kayaknya diva bakal tetep pergi. Pasti nanti disana seru, sambil bakar bakar dan main gitar bareng." ucap diva yang langsung mendapat tatapan tajam dari doni.
"Kakak bilang gak boleh pergi ya gak boleh. Karna mulai hari ini loe itu pacar kakak. Dan loe gak boleh bantah perintah kakak. Ngerti!! " teriak doni dan membuat diva langsung menoleh ke arahnya.
"Diva gak salah denger kak? Tadi kakak bilang apa?"
"Apa perlu kakak ulang sekali lagi, mulai hari ini loe itu pacar kakak dan loe harus nurut omongan kakak."
"Yee, emang diva udah bilang iya kalau mau jadi pacar kakak?"
"Yah terserah loe sih, kalau loe gak mau juga gak papa. Loe tau kan sifat kakak, kalau hari ini loe bilang enggak selamanya akan enggak." ancam doni.
Diva sudah tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya, ia pun langsung memeluk doni.
"Enggak dong, diva pasti mau jadi pacar kakak. Kan kak doni itu pangeran hatinya diva dari dulu." ucap diva yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Hmmm, tapi janji loe gak boleh pergi ya. Gue gak mau loe kenapa napa disana." jawab doni.
"Siap kak, eh mas pacar. Tapi kak, diva kan pengen jalan jalan ke puncak."
"Yaudah besok kita pergi ke villa papa kakak. Dan nanti kita ajak keluarga kamu dan keluarga kakak. Sekalian kita liburan bareng, gimana?" tanya doni.
"Arrgghh, mau kak. Nanti diva bilang ke mama dan papa. Makasih ya mas pacar, i love you." bisik diva ke telinga doni.
Doni merasa ada yang mengganjal di dadanya, dan bisikan diva membuat sesuatu di balik celananya langsung menegang. Sambil menelan slivanya, doni merasa hasratnya mulai membara.
"Assshhial, ngapain sih diva pakai meluk gue kenceng gini. Ditambah suaranya di telinga gue. Diva diva, gue itu paling gak bisa nahan godaan kayak gini. Inget doni, dia itu anak om deva." batin doni.
Akhirnya doni meminta diva untuk segera melepaskan pelukannya.
"Hmmm, sekarang lepas ya malu di lihat abang tukang mie ayam." ucap doni dan meminta diva melepaskan pelukannya.
"Eh iya kak, habis diva seneng banget. Akhirnya diva jadi pacarnya kakak juga. Ini gak mimpi kan kak?" tanya diva.
"Enggak, tapi ada yang mau kakak sampein ke diva."
"Apa kak?"
"Div, kakak tau kalau kita itu mau di jodohin. Tapi kakak pengen menikah karna cinta, bukan paksaan. Dan kakak pengen dalam waktu sebulan kamu bisa buat hati kakak cinta sama kamu. Untuk saat ini perasaan kakak ke kami masih sekedar nyaman bukan cinta. Diva ngerti maksud kakak kan?" tanya doni sambil menatap mata diva.
"Iya diva tau kali kak. Kak doni masih belum bisa cinta sama diva tapi diva akan berusaha terus buat bikin kak doni cinta sama diva. Diva gak akan nyerah buat bikin kak doni cinta sama diva. Dan nanti kita akan menikah bukan karna perjodohan, tapi karna kita saling mencintai." jawab diva.
"Makasih ya div. Ternyata kamu bisa bersikap dewasa juga." ucap doni sembari mengacak rambut diva.
"Emang diva kan udah dewasa kak. Kakak aja yang gak sadar."
"Iya deh iya. Tapi kakak gak mau lagi lihat kamu deket sama reyhan ya."
"Jadi kakak cemburu ya sama reyhan? Ciyee ada yang cemburu nih." goda diva.
"Apaan sih loe div, siapa juga yang cemburu." elak doni.
Namun belum puas menggoda doni, mie ayam mereka sudah diantar oleh pak soleh. Dan mereka pun langsung menyantap mie ayam mereka.
"Gimana kak? Enak kan?" tanya diva.
"Iya enak, pantes aja mama kakak suka."
"Ya mungkin bukan hanya karna mie ayamnya kak, tapi juga kenangannya. Makanya diva pengen kita jadikan tempat ini menjadi kenangan kita. Sama kayak papa diva dan mama kakak. Cuma bedanya mereka gak bisa bersama kalau kita pasti akan bersama." jawab diva dan membuat doni tersedak.
Uhhuukk..uhhukkk..
"Eh kak doni kalau makan pelan pelan dong kalau keselek gimana. Udah ini diminum dulu." ucap diva sambil memberikan segelas air ke doni.
"Lagian loe itu sih div, ngomongnya udah jauh kedepan. Baru aja mulai pacaran, udah ngomong soal masa depan."
"Hahahaha, gak papa lah kak. Omongan itu doa loh. Makanya diva ngomong ini sama aja diva berdoa biar bisa terus bersama sama kak doni." ucap diva dan membuat doni mengelus pipinya.
"Iya, yaudah dilanjut ya makannya. Nanti keburu dingin." ucap doni yang mendapat balasan senyuman dari diva.
Doni hanya memandangi wajah diva yang sedang asyik memakan mie ayamnya.
"Div, kakak janji kakak akan berusaha buat mencintai kamu. Kakak berharap dalam waktu sebulan rasa cinta itu sudah muncul dan kakak bisa wujudkan mimpi kamu buat bersama kakak selamanya." batin doni.