My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Bangun ya Kak



Sesampainya di depan ruang ICU, langkah diva seketika terhenti melihat keluarga Doni semua tengah berkumpul. Tak hanya keluarga, namun juga Mickael dan Christy tak absen berada disana.


Mereka semua menangis. "Ada apa ini? Apa jangan jangan Kak Doni?" Diva berjalan pelan mendekati mereka orang tua Doni.


"Om Aldo,Tante Andini, ada apa? Kenapa semua berkumpul dan menangis disini?jangan bilang kalau Kak Doni...," Diva sudah tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia pu berteriak histeris. Apa semua sudah terlambat? Pikirnya.


Andini dan Aldo masih tak bergeming. Mereka masih syok karna kondisi Doni semakin melemah.


Mickael mendekat dan duduk disamping Diva. Meski masih marah dengan sikap Diva pada Doni, tapi disana ia dapat melihat kesedihan yang teramat dalam ada di diri Diva.


"Div," sapa Mickael.


"Kak, apa Kak Doni?"


"Enggak, Doni masih koma. Tapi tadi kondisinya sempat drop dan detak jantungnya sempat berhenti tapi setelah mendapat bantuan dari dokter, detak jantung Doni kembali."


"Apa kak? Kak Doni drop? Tapi dia masih hidup kan kak?" Diva melontarkan pertanyaan bertubi tubi pada Mickael.


"Iya. Kalau loe mau temenin dia didalam masuk aja. Ada tante Bita."


"Ya kak," jawab Diva.


Diva bergegas masuk. Sedari tadi ia tidak mendapatkan ijin untuk menjenguk Doni.


"Diva," panggil Andini yang sejak tadi hanya diam.


Diva menoleh, dan berjalan mundur menghampiri Andini. "Ada apa tante?"


Andini langsung memeluk Diva. Menangis di pelukannya


"Maafin sikap tante tadi ya Diva."


"Iya tante. Diva maklum kok,karna ini semua terjadi juga karna kesalahan Diva. Apa boleh Diva menjenguk Kak Doni tan?" tanya Diva.


Andini dan Aldo saling melempar pandangan. Mereka tak mau membuat Diva melupakan rencana pernikahannya karna sibuk mengurus putra mereka.


Diva menarik tangan Andini. Jemarinya menggenggam erat tangan Andini. "Hubungan Diva dan Rangga sudah berakhir tante."


" APA?" seru Andini.


"Maksud loe apa Diva?" sahut Mickael.


"Diva, kamu sedang tidak bercanda kan? Kamu sudah bertentangan dengan Rangga, jangan memutuskan pertunangan kalian hanya karna Doni. Apa kata keluarga kalian nanti jika mendengar perkataan kamu barusan?" sambung Aldo.


Diva menghembuskan nafasnya, menatap mata Andini dan semua yang berada disana.


"Karna Rangga tahu cinta Diva hanya buat Kak Doni. Dan dia gak mau memaksakan kehendaknya untuk menikahi Diva. Bukan Diva yang memutuskan hubungan ini, tapi Rangga om, tante."


Ucapan Diva bagai sambaran petir untuk Aldo dan semua yang berada disana. Dulu, Aldo dan keluarganya memaksakan pernikahan untuk Andini. Memisahkan cinta Deva dan Andini. Hingga akhirnya banyak sekali rintangan dalam biduk rumah tangga mereka. Meskipun pada akhirnya baik Andini dan Deva sudah bahagia dengan pasangan mereka masing masing.


Semua hanya terdiam, cuma Andini yang tersenyum ke arah Diva.


"Masuklah Diva. Siapa tahu yang di tunggu Doni adalah kamu," ucap Andini.


"Iya tante, terima kasih."


Tak mau membuang waktu, Diva bergegas masuk ke ruang ICU.


Setelah menggunakan pakaian khusus dalam ruangan tersebut, Diva mengusap pipi Doni yang semakin tirus sembari mencium pipi kanannya.


"Tante Bita,"sapa Diva.


"Diva, sini masuk sayang. Kamu mau jenguk Doni?"


"Iya tante."


"Yaudah sini, duduk sini."


"Iya makasih tante,Gimana keadaan Kak Doni?"


"Masih sama, belum ada perkembangan. Tante keluar dulu ya Diva."


"Iya tante."


Bita sudah keluar, dan hanya tinggal Diva yang ada disamping Doni. Diva membelai wajah Doni, mencium pipi nya sembari mengamati wajah Doni yang semakin kurus.


"Kak, bangun ya. Kamu gak capek tidur terus. Lihat kak, di jari Diva sudah gak ada cincin dari Rangga. Diva nungguin Kak Doni memakaikan cincin ke jari Diva. Ayo dong kak bangun, Diva sayang dan cinta sama kakak. Tolong bangun kak," seru Diva dalam tangisannya.


Meski sudah berjam jam berada disana. Belum ada perkembangan dari kondisi Doni. Diva yang seharian lelah bekerja, akhirnya tertidur disamping ranjang Doni sambil terus menggenggam tangannya.


Suatu keajaiban datang. Tangan Doni mulai bergerak. Diva yang semula tertidur, langsung terbangun setelah merasakan sesuatu yang menggelitik tangannya.


Tak lama kemudian, beberapa suster jaga datang.


"Ada apa mbak?" tanya seorang suster.


"Lihat sus, tangan Kak Doni bergerak. Kak Doni sadar suster, Kak Doni sudah sadar," ucap Diva.


Diva mencoba membangunkan Doni. "Kak Doni, ayo buka mata kakak. Aku disini kak, aku ada disamping Kak Doni," ucapnya kembali.


Karna Diva terus berteriak, Suster memaksanya untuk keluar. Dan tak lama dokter jaga datang.


"Bawa mbaknya ini pergi ya. Saya mau periksa pasien dulu," ucap dokter.


"Baik pak," jawab seorang suster. "Mari mbak keluar dulu, biar pasien mendapat perawatan dari dokter."


" Enggak suster. Aku mau nemenin Kak Doni," protes Diva. Namun suster tetap memaksanya untuk keluar dari ruangan.


Semua langsung menghampiri Diva. Terlebih Andini, ia memegang kedua bahu Diva. Bertanya apa yang terjadi di dalam.


"Diva, ada apa? Doni baik baik aja kan? Kenapa kamu disuruh keluar?" tanya Andini.


"Iya Diva. Cerita sama kami. Apa kondisi Doni kembali drop?" sahut Aldo.


Diva langsung memeluk tubuh Andini sembari menangis. Bukan tangis kesedihan namun sebuah tangisan kebahagiaan yang ia curahkan.


"Tante, om, Kak Mickael, dan semuanya. Tangan Kak Doni bergerak. Itu tandanya sebentar lagi Kak Doni sadar," ucap Diva.


"Apa sayang? Doni sudah sadar?" Andini berusaha memastikan kembali ucapan Diva.


Diva mengangguk. "Iya tante, iya."


"Alhamdulillah," semua bersorak bahagia.


"Terus kenapa kamu dipaksa keluar Div?" tanya Mickael.


"Itu kak, dokter sama suster mau cek keadaan Kak Doni dulu. Tapi yang pastinya ini sebuah perkembangan buat kondisi Kak Doni kak."


Mickael yang juga bahagia mendengar kabar ini, jatuh kedalam pelukan istrinya. Dan tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, lalu dokter pun keluar.


Aldo segera menghampiri dokter tersebut. "Dokter, gimana keadaan putra saya? Apa benar dia sudah sadar dari komanya?" tanyanya.


Dokter tersenyum pada semua orang yang berada disana.


"Iya pak. Anak bapak sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kita hanya tinggal menunggu pasien sadar. Mungkin kurang dari 24 jam pasien akan bangun dari komanya. Tapi saya harap, jangan buat pasien berpikir terlalu keras ya."


"Baik dokter, terima kasih."


"Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi. Dan ketika pasien sudah sadar nanti, dia bisa dipindahkan ke ruang kamar rawat inap," ucap dokter.


Setelah kepergian dokter yang memeriksa Doni, semua saling berpelukan.


"Diva, lebih baik kamu kedalam. Tante yakin, saat dia membuka matanya nanti orang pertama yang ingin dilihatnya pasti kamu," ucap Andini.


"Terus tante?"


"Tante disini aja sama Om dan yang lain."


"Beneran tante?"


"Heem. Sana masuk sayang. Doni menunggu kamu didalam."


"Iya tante," Diva melangkah masuk dengan hati yang bahagia.


Didalam, senyuman lebar Diva terus terpancar. Tangannya tak pernah lepas dari tangan Doni. Menciumi tangan laki laki yang selama ini selalu mengisi hatinya.


"Diva," lirih Doni dengan mata terpejam.


"Ini Diva kak, ini Diva," jawab Diva.


Pelan pelan, mata Doni mulai terbuka. Meski pandangannya sedikit kabur, namun jelas terlihat wajah Diva berada di hadapannya.


Spontan Diva langsung memeluk tubuh Doni sembari menangis diatas dadanya.


"Terima kasih Tuhan, kau kembalikan Kak Doni pada hamba," ucap Diva dalam doanya.


"Kak, jangan pergi lagi ya. Diva sayang sama kakak," ucap Diva dalam tangisnya.


"Ka... Ka... Kakak juga sa.. sa.. sayang kamu," lirih Doni dengan suara terbata.