My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Minta Ijin



Beberapa hari kemudian..


Baik Aldo dan Andini sudah mengetahui permasalahan yang sedang putra mereka alami. Hanya saja, Doni masih menyimpan rahasia ini dari mama, papa dan semua keluarganya. Bahkan Deva juga sudah membatalkan sepihak rencana pernikahan Doni dan Diva pada Andini dan Aldo.


Malam itu, lagi dan lagi Doni pulang dalam keadaan mabuk. Ya, semenjak kepergian Diva, Doni selalu pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk berat. Terkadang oma dan opanya, juga heran. Sudah lama mereka tak melihat cucunya seperti ini.


Meski berkali-kali mencoba menanyakan pada Andini dan Aldo, mereka masih tutup mulut. Menunggu Doni mau berbicara sendiri.


"Pah, sebaiknya kita harus bicara sama Doni. Kita gak bisa diam terus. Aku khawatir sama keadaan Doni, pah. Semakin lama kita biarkan dan menunggu dia bicara, semakin dia makin neko neko. Aku gak mau Doni terjun ke pergaulan yang gak bener," ujar Andini.


"Iya, besok kita bicarakan masalah ini sama Doni. Dan aku yakin, ada peran Ririn dibalik semua ini. Karna dari cerita Mickael, sepertinya Ririn mempunyai rencana untuk mendekatkan Doni dengan Tanisha. Dan soal malam kejadian antara Doni dan Tanisha, lebih baik kita temui Tanisha. Tanyakan maksud dia rela melakukan itu pada Doni atas dasar apa?"


"Iya aku setuju pah," jawab Andini.


Dari depan pintu kamar Doni, ia melihat Doni yang terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak sadar. Sesekali terdengar Doni memanggil nama Diva dalam pejaman matanya.


Hati ibu mana yang tak sakit dengan keadaan anaknya seperti sekarang. Air mata perlahan jatuh membasahi pipi Andini.


"Kenapa nasib percintaan kamu seperti mama dan papa Don. Dosa apa yang ada dalam keluarga ini," umpatnya dalam hati.


"Sayang, kamu kenapa? Jangan sedih, aku pastikan masalah ini akan selesai," Aldo berusaha menghibur istrinya. Terlihat jelas kesedihan dari sorot mata Andini.


"Iya pah," jawab Andini sambil mengusap air di pipinya.


"Sebaiknya kita tidur, dan esok hari kita bicarakan semua sama Doni. Aku sudah siapkan tiket untuk keberangkatan kita semua ke Jerman. Dan kita harus segera menemui Tanisha dan Ririn," ucap Aldo.


Mata Andini yang semula tertuju pada Doni, seketika menoleh ke arah suaminya.


"Jerman?" Andini memicingkan sebelah matanya. Tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba Aldo mengajak dirinya dan Doni ke Jerman. Buat apa? Pikiran Andini mulai menerka nerka rencana apa yang sudah disusun suaminya.


"Iya, lusa kita ke Jerman."


"Buat apa?" Andini mulai meninggikan intonasi nada bicaranya.


"Jangan bilang kamu mau menikahkan Doni dan Tanisha. Aku gak setuju. Bahkan kalaupun Tanisha hamil anak Doni, aku tetap tidak setuju," tegas Andini kembali.


Aldo memegang kedua pundak Andini, berbicara penuh kepastian jika pikiran Andini itu salah. "Enggak, bukan soal itu. Aku hanya ingin bicara dengan Ririn. Sepertinya dia belum tahu jika kamu masih hidup. Dan aku ingin memberikan dia kejutan disana. Lagipula Mickael juga akan ikut bersama kita. Kita akan sama sama beri pelajaran wanita ular itu."


"Maksud kamu Al?"


"Kamu gak perlu tahu, kamu lihat aja nanti. Sekarang kita istirahat ya, karna sejak kamu tahu permasalahan putra kita, kamu tak memikirkan kesehatan kamu. Tidur pun jarang. Aku gak mau kamu sakit Andini."


"Iya, tapi aku kasih tahu dong rencana kamu. Kalau gak aku ngambek," Andini merajuk. Semoga dengan ini dia akan tahu apa rencana suaminya itu.


"Iya iya sayang. Jangan marah, aku gak bisa lihat kamu diemin aku. Aku kasih tahu dikamar, tapi gak gratis ya."


"Aldo...," teriak Andini. Tapi dengan cepat Aldo mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


Malam itu, setelah menjalankan kewajibannya, Andini mulai meminta haknya. Hak tentang rencana Aldo untuk Ririn dan Tanisha.


Pelan pelan Aldo memberitahu rencana yang sudah ia susun dengan Mickael. Karna selama beberapa hari ini, semenjak Mickael mengetahui kebenaran tentang Christy dan Justin, dirinya langsung menghubungi Justin. Hingga kebenaran mulai terungkap.


"Jadi semua ini rencana Ririn, Al?" tanya Andini.


"Wah wah wah, ternyata ada yang terobsesi sama suamiku ya," goda Andini.


"Bukan terobsesi lagi sayang, tapi gila. Dia wanita gila. Sepertinya penjara bukan tempat yang tepat untuk dia jera. Harusnya aku masukkan saja dia ke rumah sakit jiwa," tegas Aldo.


Melihat kemarahan suaminya, bukannya ikut marah Andini semakin tertawa. Membuat Aldo yang tidur disampingnya menatap dirinya heran.


"Mah, kamu kenapa ketawa?"


"Gak nyangka aja."


"Gak nyangka apa?" Aldo semakin penasaran dengan maksud tawa istrinya.


"Fans kamu orang gila,hahahaha."


"Sayang, kamu ya," dengan cepat Aldo mengungkung tubuh istrinya. Membuat hukuman yang enak untuk Andini.


Tanpa terasa pagi hampir tiba. Di tengah dinginnya malam, Aldo memeluk tubuh Andini begitu erat. Permasalahan yang dulu menyelimuti rumah tangga mereka memang sudah tiada, tapi ada masalah baru tengah dihadapi putra mereka, akibat seseorang dari masa lalu mereka.


Diatas ranjang itu, Aldo dan Andini memikirkan cara untuk membuat Diva dan Doni kembali bersama. Namun semua ini akan sulit, apalagi Deva dan Disa juga sudah mulai menjaga jarak dengan keluarganya.


Dan tiba tiba terlintas dalam pikiran Andini, cara untuk meyakinkan Deva agar mau memaafkan Doni dan membantunya untuk menerima Doni kembali.


"Pah...," panggil Andini.


"Hmmm, apa lagi sayang. Kita bicara nanti lagi ya. Mataku udah ngantuk," Aldo berbicara sembari memejamkan matanya.


"Aku minta ijin untuk bertemu dengan Deva berdua boleh? Aku yakin jika aku bicara empat mata dengannya, mungkin dia akan mau memberikan Doni kesempatan kedua."


Semula mata Aldo yang terasa berat, langsung membelalak lebar. Bukan karna sudah tak merasa ngantuk, tapi gimana kalau kisah cinta istri dan sahabatnya itu kembali.


"Gak, aku gak ijinin kamu ketemu Deva."


"Tapi Al."


"Sayang, kamu tahu Deva masih cinta sama kamu. Aku takut kalian akan flashback lagi ke masa lalu," tegas Aldo.


"Gak akan Al. Deva udah punya keluarga yang bahagia. Begitu juga aku. Cinta itu sudah lama terpendam. Kenapa sih kamu masih aja mengungkit kisah cintaku sama Deva. Bukankah selama ini kamu yang lebih sering menyakiti aku. Tapi apa Al? Aku gak pernah sedikit pun punya rasa curiga seperti kamu sekarang. Ini semua demi Doni Al," Andini mendengus kesal. Membalikkan badannya, membuat Aldo kembali merasa galau yang berkepanjangan.


Cukup lama berpikir, akhirnya Aldo mengalah. Dia paling gak bisa lihat istrinya marah dan tidur membelakangi dirinya.


"Kamu boleh temui Deva, hanya sebentar. Gimana? Itu pun setelah kita pulang dari Jerman," ujar Aldo, tapi Andini tak bergeming sama sekali.


"Sayang," panggil Aldo kembali tapi tetap saja Andini masih tak menjawabnya.


Curiga jika istrinya masih ngambek, Aldo menengok Andini yang ternyata sudah tertidur pulas dengan keadaan matanya yang basah.


Aldo mulai mengelap air mata itu dengan tangannya.


"Maafin aku sayang. Aku hanya takut kehilangan kamu lagi. Justru karna aku yang lebih sering menyakiti kamu, aku takut jika kamu akan membalas perbuatan aku. Tapi aku percaya, kamu bukan wanita seperti itu. Dan aku percaya, ini semua memang demo Doni. Benar kata kamu, mungkin dengan kamu bicara lebih inti dengan Deva, dia bisa memaafkan sikap putra kita kemarin," Aldo berbicara sendiri, sembari mengelus rambut istri tercintanya.