My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Tepat waktu



Doni masih berusaha mencari keberadaan diva sambil terus memanggil manggil nama diva. Namun sayang semua usaha doni nihil. Perasaannya yang semula masih sedikit tenang kini berubah menjadi rasa takut. Apalagi diva baru sekali datang kemari.


"Div, loe dimana sih. Jangan ngerjain gue dong. Loe sembunyi dimana? Kak doni beneran nyesel ngomong gitu tadi. Diva..." teriak doni sambil terus berusaha mencari diva.


Diva berusaha mencari jalan, namun ia malah semakin tersesat ke jalan yang semakin sepi. Keringat mulai bercucuran di dahi diva. Ia takut dengan keadaannya saat ini. Ditambah jalan yang sepi dan gelap, membuat diva kini terduduk lemas di pinggir jalan.


"Mama, papa, kak doni, diva takut." ucap diva sambil mengusap air matanya.


Baru saja diva duduk bersimpu dengan kedua tangannya, ada tiga laki-laki menghampiri dirinya.


"Eh ada gadis cantik disini. Kok adek sendirian?mau om temenin?" tanya seorang laki laki sambil berjalan mendekati diva.


"Kalian mau apa? Tolong... Tolong.." teriak diva historis.


"Percuma kamu berteriak cantik, gak akan ada yang denger. Lagi pula dari pada kamu sendirian, kan lebih enak nemenin kita." jawab seorang lagi sambil memegang dagu diva.


Rasa ketakutan diva semakin kuat, dirinya berusaha terus berteriak namun ketiga laki laki tadi menarik tangan diva dengan paksa.


"Sudah sudah jangan nangis lagi. Mendingan kamu ikut kita ke lahan kosong sana. Kita bisa enak enakan disana cantik. Kamu hanya tinggal menikmatinya saja." kata seorang laki laki tadi dengan senyum liciknya.


"Om tolong om, lepasin aku. Jangan lakuin ini sama diva om. Kasihani diva. Diva mau pulang tapi gak tau jalannya." ucap diva sambil terus menangis.


"Oh jadi nama kamu diva ya, cantik kayak orangnya. Iya nanti om anter kamu pulang, tapi gak gratis. Kamu harus bikin puas kita bertiga habis itu baru om anter kamu ya sayang."


"Om jangan om, diva mohon om jangan. Tolong.. Tolong.. " teriak diva.


Doni yang masih terus berusaha mencari diva, tanpa sengaja mendengar suara teriakan diva. Dan doni pun berlari menuju ke arah suara tersebut.


Disana doni melihat ketiga laki laki berusaha membawa diva ke sebuah lahan kosong. Doni pun berlari untuk menolong diva.


"Berhenti...lepasin diva." teriak doni dan membuat para laki laki tadi langsung melepaskan cengkramannya dari tangan diva.


"Kak doni.." panggil diva sambil berlari ke arah doni.


"Diva takut kak, diva takut." ucap diva sambil memeluk doni.


"Udah kamu gak usah takut ada kakak disini. Sekarang kamu agak menjauh ya, biar kakak bikin perhitungan sama mereka." jawab doni.


Diva kemudian agak pergi menjauh dari doni dan ketiga laki laki tadi. Karna dulu waktu SMA dan kuliah doni sempat ikut beladiri, doni dengan mudah menghajar ketiga laki laki kurang ajar tadi.


Setelah melihat ketiga laki laki tadi sudah tidak sadar, doni pun berjalan mendekati diva. Ia melihat ketakutan diwajah diva. Seketika doni berusaha menenangkan diva dan memeluknya.


"Udah jangan takut lagi, jangan nangis lagi ya div. Ada kak doni disini."


"Diva masih takut kak, diva udah mikir kalau kehormatan diva akan diambil sama mereka. Huhuhu..." tangis diva.


"Udah dong jangan nangis. Mereka belum ngapa ngapain kamu kan?"


"Belum kak, tapi diva masih takut kak."


"Makanya jangan suka ngilang, udah tau gak ngerti jalan pakai acara kabur segala. Untung aja kak doni datang tepat waktu kalau gak kamu udah jadi apa sekarang." Doni berkata sambil terus memarahi diva.


"Iya kak, diva ngaku salah. Habis semua kan juga gara gara kak doni. Salah sendiri kakak mutusin diva. Tapi setelah diva pikir pikir, diva akan berusaha menerima ini kok kak. Kan emang cinta itu gak bisa di paksain." ucap diva.


Mendengar perkataan diva barusan, membuat hati doni terasa hampa. Biasanya diva akan selalu berusaha mempertahankan dirinya, namun kenapa sekarang diva malah melepaskan dirinya. Dan entah kenapa, tiba tiba doni kembali memeluk diva


"Div, maafin kakak ya. Tadi kakak cuma lagi marah aja kok. Kakak gak ada niat buat mutusin diva. Maafin kak doni ya div, diva mau kan kembali sama kakak." kata doni yang langsung disambut senyuman sumringah diva.


"Mau kak, diva udah yakin kalau kak doni itu sayang kan sama diva cuma kakak gengsi aja. Iya kan kak?"


Tak menyangka dengan perlakuan doni, diva terus melihat tangan doni yang masih berada dihadapannya.


"Kak, tangan kak doni kenapa? Sakit ya habis berantem tadi?" tanya diva dengan polosnya.


"Loe itu ya, mau gak gue bantuin berdiri terus gue gandeng? Yah kalau gak mau sih gak papa. Gue jalan duluan aja kalau gitu." ancam doni membuat diva bangkit dan mengejar doni.


"Kak...tungguin diva dong. Nanti kalau diva hilang lagi gimana?" teriak diva namun tak di gubris oleh doni.


Diva terus berlari dan langsung menggandeng tangan doni. Saat berjalan, pandangan diva tak pernah beralih memandang wajah doni yang sangat tampan.


"Kenapa loe ngeliatin kakak gitu amat. Wajah kakak ganteng ya?" tanya doni dengan tatapan nya yang masih lurus ke depan.


"Iya ganteng banget." jawab diva spontan.


"Loe itu jadi cewek gak ada jaim jaimnya ya. Udah gak usah senyum senyum terus, gak inget apa tadi nangisnya kayak gimana."


"Idih siapa juga yang senyum, malah diva tuh kesel sama kakak, ngerti gak." kesal diva.


"Loh kenapa kamu kesel sama kakak. Kan kamu hilang karna ulah kamu sendiri. Harusnya kamu tuh malah berterima kasih sama kakak, karna kakak udah nolongin kamu." jawab doni.


"Ya kalau itu diva kan udah ngaku kalau diva emang salah. Tapi yang bikin diva tuh kesel sama kak doni, baru pacaran sehari udah ngajak putus dua kali. Kalau gini terus sebulan kak doni mau bilang putus berapa kali?" gerutu diva.


"Ya tergantung kamu mau bikin kakak marah berapa kali." jawab doni sambil mengacak rambut diva.


"Argghh, Tuh kan kak doni gak pernah serius. Coba aja diva yang jawab pertanyaan kak doni sambil ketawa. Pasti kak doni langsung bentak diva 'Diva kakak ini serius, kok kamu malah bercanda sih' gitu kan." ucap diva yang menirukan perkataan doni.


Bukan marah pada diva, doni malah memencet hidung diva.


"Hahahaha, pinter banget ya kamu ngelesnya. Bisa aja niruin gaya kakak. Lucu lucu."


"Apanya sih yang lucu, diva ini marah loh kak kok kakak malah ketawa. Diva bete ah." gerutu diva dengan langkah cepat meninggalkan doni.


"Diva, kamu berani ya ngambek sama kakak?kakak putusin lagi loh." teriak doni yang berusaha menggoda diva.


"Bodo amat. Salah sendiri kak doni lama lama bikin diva kesel juga. Bisa bisa bukan kak doni aja yang minta putus,diva juga bisa minta putus kalau gini terus." ucap diva sambil menghentakan kakinya.


Doni lalu meraih kedua tangan diva sambil menatap mata diva.


"Iya kakak minta maaf ya. Jangan pernah bilang putus sama kakak ya div. Karna kakak gak mau denger kata itu keluar dari mulut kamu. Kalau kakak minta putus dari kamu itu mungkin karna kakak lagi kesel aja. Tapi kalau kamu yang bilang itu, tandanya kakak akan benar benar kehilangan kamu." lirih doni.


Perasaan diva serasa berbunga-bunga, rasanya ia tak percaya mendengar permintaan doni. Selama ini yang semua orang tau, dirinya yang paling takut kehilangan doni, tapi malam ini doni menyatakan sesuatu yang membuat dirinya seakan berada di dalam mimpi.


"Kak, diva gak lagi mimpi kan?"


"Enggak diva, kak doni serius. Kak doni sendiri juga gak tau sama perasaan kak doni. Mungkin saat ini kakak belum mencintai kamu, tapi satu hal yang perlu kamu tahu, kakak masih takut kehilangan orang yang kakak sayang lagi. Cukup mama yang udah ninggalin kak doni. Dan kak doni gak mau merasakan itu lagi sama kamu." jawab doni dan diva pun langsung memeluknya.


"Kak, sampai kapanpun diva gak akan pergi ninggalin kakak. Karna seburuk apapun kata orang tentang kakak, selama diva gak lihat dan denger sendiri dengan mata dan telinga diva, diva akan selalu percaya sama kakak. Karna diva cinta sama kakak, diva juga percaya kalau suatu saat diva akan punya tempat di hati kakak." balas diva hingga akhirnya doni mencium kening diva sekilas.


"Makasih diva, kakak sayang sama kamu. Dan kakak akan berusaha merubah kata sayang itu menjadi kata cinta. Kakak harap kamu sabar ya menghadapi kakak."


"I.. I... Iyaa.. kak." jawab diva pelan karna tak menyangka dirinya akan mendapat ciuman dikeningnya untuk kedua kali dari doni.


Doni lalu menggenggam tangan diva dengan erat, sambil sesekali mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Mungkin hari ini bisa dibilang hari kesialan tapi berujung keberuntungan buat gue. Makasih ya abang abang mesum, berkat kalian sekarang kak doni semakin perhatian dan sayang sama gue." batin diva memuji dirinya sendiri.