
Semua kini berkumpul dengan suasana yang sangat bahagia di ruang keluarga. Mama Andini dan Papa Aldo terus mencecar Doni untuk mulai mengakui perasaannya pada Diva.
"Don, kapan nih Diva mau dong di resmiin jadi menantu mama?" tanya Mama Andini.
"Iya papa juga pengen segera menimang cucu dari kalian." sahut Papa Aldo.
"Al, Al, gayamu kayak sudah tua aja. Daripada kamu nyuruh Doni buat kasih cucu, mending kamu tuh buatkan papa cucu satu lagi," sahut Kakek Atmaja.
"Kalau Aldo sih mau aja pah, tapi kan tergantung Andini nya. Masih mau gak punya anak lagi," jawab Papa Aldo.
Mendengar jawaban papanya, Doni dengan cepat menimpali ucapan kakeknya.
"Iya tuh mah, Doni setuju. Dulu kan mama sudah janji sama Doni buat kasih Doni adik kan?" ucap Doni yang kini membuat mamanya sudah mati gaya.
"Kalian semua ngomong apa sih. Aku ini udah tua, daripada minta bayi ke aku mending minta sama Diva dan Doni. Pokoknya mama mau kamu segera menikahi Diva ya Don," ujar Mama Andini.
Diva sedari tadi terdiam dan menyimak semua pembicaraan di keluarga kekasihnya itu. Sedangkan fikirannya hanya tertuju dengan kelangsungan hubungan mama dan papanya nanti. '
"Div, kamu kenapa kok jadi pendiam?" cemas Doni karna melihat Diva tidak seperti biasanya.
"Eh gak papa kok kak. Ini kan udah malem kak, Diva mau pulang aja. Takutnya mama sama papa nanti khawatir," bohong Diva.
"Iya, emang udah malem sih. Bentar ya kakak ambil jaket sama kunci mobil dulu," ucap Doni.
"Om, tante, kakek, sama nenek gak marah kan kalau Diva mau ijin pulang?" tanya Diva.
"Iya gak papa sayang. Lusa kamu sudah mulai bekerja di kantor Doni kan? Sering sering ya main kesini ya Diva," ucap Mama Andini sembari memeluk Diva.
"Pasti tante, Diva akan sering kok main kesini," jawab Diva.
"Ayo aku anter sekarang Div?" ajak Doni.
"Iya Kak, kalau gitu semuanya Diva pamit pulang ya."
"Iya nak," ujar semua kompak.
"Doni kamu hati hati ya, Diva salam buat mama, papa dan Adik kamu ya," kata Mama Andini sembari mencium kening Diva.
"Iya tante," jawab Diva sambil mencium tangan Mama Andini kemudian Papa Aldo, kakek dan nenek.
"Iya mah," sahut Doni.
Selama di mobil, kali ini Diva lebih banyak diam. Ia hanya berkata bila Doni bertanya pada dirinya.
Aneh dengan perubahan Diva, Doni pun menepikan laju mobilnya.
"Kak kok berhenti?" tanya Diva.
"Kamu kenapa Div? Ada masalah? Cerita sama kakak ya. Gak biasanya kamu diam seperti ini."
"Diva gak papa tuh kak. Mungkin Diva lagi males ngomong aja. Mata Div berat banget kak, kayaknya Diva ngantuk deh," bohong Diva sambil berusaha menguap di depan Doni.
Tak langsung percaya dengan alasan Diva, Doni menarik dagu Diva dan meminta Diva untuk menatap matanya.
"Lihat Kak Doni, coba bilang sekali lagi kalau kamu ngantuk," ucap Doni dengan pandangan matanya menatap Diva tajam.
Satu per satu butiran air keluar dari mata Diva. Ia menundukkan wajahnya untuk menutupi kesedihan yang tak mau ia perlihatkan di depan Doni.
"Div, kenapa kamu nangis? Kak Doni punya salah ya sama kamu?" tanya Doni namun Diva malah menggelengkan kepalanya.
"Terus kamu kenapa?" tanya Doni lagi dengan nada yang mulai meninggi.
"Kak Diva takut," jawab Diva pelan dengan tangisannya.
"Takut apa sih Div? Ada yang ngancem kamu?"
"Enggak kak."
"Terus apa dong?" tanya Doni kembali dengan perasaan yang mulai kesal.
"Kak bukan maksud Diva gak suka kalau Tante Andini masih hidup. Cuma aja Diva takut, perhatian dan kasih sayang papa ke mama berkurang. Kak Doni kan tahu sendiri gimana perasaan papaku sama mama kakak. Diva gak sanggup lihat mama sedih kak. Gimana nanti kalau sampai mama dan papa cerai?" ucap Diva sambil menangis.
Doni menarik tubuh Diva dalam dekapannya. Diva mendengar suara detak jantung Doni yang berdebar kencang. Namun karna suasannya sedang romantis, Diva pun pura pura cuek dengan suara jantung Doni.
"Husst, kamu ngomong apa sih. Om deva gak mungkin bikin mama kamu sedih. Jadi kamu jangan mikir yang macem macem ya," ujar Doni menenangkan Diva.
"Makasih ya kak. Maafin Diva ya udah bikin baju kakak basah," jawab Diva sambil melepaskan pelukannya.
"Basah? Kok bisa? Jangan jangan ingus kamu nempel ya di baju kakak? Ih jorok banget sih kamu Div."
"Hahahaha, gak papa lah kak. Jarang jarang kan Kak Doni lihat Diva nangis. Air matanya mahal itu kak," kata Diva dengan memasang wajah sok imutnya.
"Tuh kak geernya kambuh lagi. Udahlah kakak mau jalanin mobilnya," ujar Doni sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ciyee.. Ciyee.. Kak Doni salting ya? Udah biasa aja kak, wajahnya gak usah tegang gitu kali kak. Kayaknya bener deh yang di bilang Tante Andini," ucap Diva yang berhasil membuat Doni kembali menoleh ke samping.
"Emangnya mama bilang apa sama kamu?" tanya Doni menyelidik.
"Ya tadi sih Tante Andini bilang kalau Kak Doni cinta sama Diva. Jadi berhasil dong Diva luluhin hati kakak," jawab Diva.
Malu untuk mengakui perasaannya, Doni berusaha mengelak perkataan Diva.
"Wah mama tuh ngawur kalau ngomong. Jangan percaya deh Div, bohong itu. Sekarang daripada kakak denger kegeeran kamu yang lain, mending cepetan kakak bawa pulang kamu," ucap Doni namun ia tanpa sadar masih mengamati wajah Diva.
"Yaudah katanya mau nganterin Diva pulang. Kenapa gak buruan jalan, kok malah ngeliatin Diva terus. Udah jangan di liatin terus, nanti bisa bisa Kak Doni mimpiin Diva loh," ucap Diva dengan puppy eyesnya.
"Apaan sih kamu Diva. Siapa juta yang ngeliatin. Ini kakak juga baru mau jalanin mobilnya. Makanya kamu jangan ngajak ngomong Kak Doni terus. Biarin Kak Doni fokus nyetir."
"Iya iya kak, gak usah ngegas juga kali. Fokus fokus," jawab Diva sambil tertawa kecil melihat sikap Doni.
"Gak usah ketawa terus. Nanti gigi kamu kering," ucap Doni
Di sela sela candaannya dengan Diva, tiba tiba ada pesan masuk ke ponsel Doni. Dan betapa kagetnya Doni ketika ia melihat dari layar depan ponselnya, ketika orang yang mengirimkan pesan padanya adalah Tanisha.
"Ngapain Tanisha whatsapp gue. Tumben banget," batin Doni tersenyum kecil sambil membuka pesan yang dikirim Tanisha.
"Siapa kak?" tanya Diva.
"Oh bukan Div, ini Mikael biasalah tuh anak kan emang suka ngirim pesan yang aneh aneh," bohong Doni.
"Emang ngirim apaan kak?"
"Kepo banget sih kamu. Gak penting kok." jawab Doni sambil mengacak rambut Diva.
Sesekali Doni menoleh ke arah Diva yang melihat ke arah luar jendela.
"Maafin Kak Doni ya Div. Bukannya Kakak mau bohongin kamu, tapi kakak hanya masih ragu sama perasaan kakak. Lagipula kenapa tiba tiba Tanisha kirim pesan ke gue, bukannya dia udah tunangan sama Justin. Lebih baik nanti gue telpon dia setelah nganter Diva pulang," gumam Doni sambil menaruh kembali ponselnya.