My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Kenyataan Pahit



Dengan langkah cepat, akhirnya Diva sampai di depan cafe. Karna belum pernah melihat Tanisha, Diva mengirim pesan pada Tanisha untuk mencari tahu keberadaannya.


"Loe dimana? Pakai baju apa? Nih gue udah sampai di dalam Cafe," tulis Diva.


Sesaat setelah mengirim pesan, dari sudut kanan ada tangan yang melambai ke arahnya. Penuh dengan rasa emosi, Diva berjalan menghampiri Tanisha. Orang yang ia kira sedang berencana menghancurkan hubungannya dengan Doni.


Diva masih yakin dan percaya jika calon suaminya itu tidak melakukan hal kotor seperti didalam gambar yang baru saja ia dapat. Ditambah lagi siapa yang tak menyukai Doni, pasti banyak wanita di luar sana berusaha merebut Doni dari pelukannya,pikir Diva.


"To the point aja ya, maksud kamu kirim gambar editan kayak gini apa?" Diva menggertak Tanisha tanpa peduli jika ia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua darinya secara tidak sopan.


Tanisha berdiri dari kursi, membuka kaca matanya dan melihat Diva dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Selera yang terlalu rendah," Tanisha berucap lirih namun terdengar hingga telinga Diva.


"Maksud kamu apa? Siapa yang kamu maksud seleranya rendah?"


"Diva, Diva. Gadis polos dan bodoh. Ayo duduk dulu, kita bicarakan ini baik baik. Oh iya kita belum kenalan bukan? Kenalin aku Tanisha, calon ibu dari anak anaknya Doni nanti, sekaligus cinta pertama dan terakhirnya," ucap Tanisha penuh percaya diri.


Rasanya Diva sudah muak meladeni semua ucapan Tanisha. Nafasnya mulai tak beraturan. Tangannya sudah gatal ingin menampar wanita yang kini sedang berusaha merusak hubungannya dengan Doni.


"Gak usah basa basi. Aku gak butuh kenalan sama kamu. Aku kesini karna aku hanya ingin tahu wanita yang sedang berusaha menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Kak Doni. Sampai sampai, ia rela mengedit gambar untuk menfitnah kak Doni," Diva berbicara tegas dan lugas.


Plokk.. Plokk.. Plokk..


Bukannya marah dan kesal dengan ucapan Diva, Tanisha kini malah tertawa.


"Hahahaha, Diva Diva. Kamu ternyata cinta mati ya sama Doni. Oh iya kemarin Doni sempat cerita sama aku. Kamu sudah mencintai dia bahkan mengejarnya sampai sekarang ya. Aduh Diva, sayangnya kamu mudah sekali di bohongi Doni. Doni itu gak pernah cinta sama kamu, karna dari awal kuliah sampai saat ini Doni hanya cinta sama aku. Kalau kamu gak percaya silahkan kamu bertanya sama Mickael. Dia tahu semua soal perasaan Doni," ujar Tanisha.


"Kak Mickael?"


"Ya Mickael,sahabat Doni. Kamu kenal kan?"


Sejenak terdiam, dalam pikirannya Diva tak peduli akan siapa cinta pertama Doni. Yang terpenting hanya dia yang ada di hati Doni sekarang.


"Terus? Semua orang pasti punya cinta pertama. Dan sayangnya aku gak peduli siapa cinta pertama kak Doni. Sekarang yang aku mau tahu kenapa kamu sampai tergila gila sama pacarku hingga kamu rela mengedit gambar sekotor ini," Diva masih percaya jika ini semua hanya editan gambar Tanisha.


"Edit? Enggak, aku gak mengedit. Itu real, kamu bisa cek keaslian gambar itu. Sekarang aku tanya sama kamu, semalam Doni sama kamu atau gak?" tanya Tanisha dan Diva hanya diam.


"Enggak kan? Karna semalam itu Doni sedang berdua sama aku di hotel. Oh iya sebentar, ada lagi yang mau aku kirim sama kamu," ucap Tanisha kembali sembari mengambil ponselnya.


Ting...


Mendengar suara desahan dalam rekaman suara itu, keyakinan Diva sudah hilang. Ia sudah tak dapat mengelak, jika itu memang suara Doni,calon suaminya.


Perlahan buliran air matanya jatuh satu per satu. Baru saja ia mendapatkan kebahagian tadi pagi dengan sikap romantis Doni padanya, kini seketika musnah. Ternyata dibalik sikap manis Doni, dia menyimpan sebuah kebusukan dan kebohongan.


Tanpa berkata Diva berlari pergi meninggalkan cafe. Ingin kembali ke kantor, namun hatinya tak sanggup. Ia merasa sudah di bohongi oleh Doni dan juga Mickael, orang yang ia percaya untuk mengawasi Doni.


"Kak, kenapa kamu tega sama aku. Salah aku dimana kak? Aku mencintai kamu dengan tulus. Bahkan cintaku besar buat kamu kak, tapi apa balasan kamu ke aku. Usia ku memang masih muda kak, tapi jangan juga kamu anggap aku ini mainan dan boneka kamu. Terus selama ini kamu hanya berpura-pura mencintai aku kak? Bahkan bulan depan kita sudah menikah, dan apa kamu juga berpura-pura atas pernikahan kita? Aku gak tau lagi kak, sikap apa yang harus aku ambil. Jujur aku takut kehilangan kamu, tapi dihati sisi aku juga sudah gak bisa bersama kamu," batin Diva.


Tak berapa lama, ada panggilan Doni masuk ke ponselnya. Meski hatinya marah, namun Diva tetap mengangkat telpon dari orang yang begitu ia cintai.


"Halo Div, kamu dimana? Aku cari ke ruangan bahkan keseluruh kantor kamu gak ada. Kamu kemana sih sayang?" tanya Doni namun Diva masih saja diam sambil berusaha tak menahan tangisnya.


"Diva, kamu dimana? Jangan buat Kak Doni khawatir. Kamu sekarang ada dimana? Kamu baik baik aja kan Div?" Doni bertanya kembali, namun dengan nada yang sedikit panik.


"Oh Diva lagu ke supermarket sebelah kak, lagi beli pembalut. Soalnya Diva tadi lupa bawa ganti," jawab Diva sembari mengusap air matanya dan berusaha bersuara seakan dia baik baik saja.


"Kenapa gak suruh ob aja? Kenapa harus beli sendiri?"


"Ya gak papa kak. Kalau nyuruh ob dia kan gak tau pembalut yang seperti apa yang biasa aku pakai."


"Ya sudah, sekarang kakak tunggu kamu di lobby aja ya. Atau mau Kak Doni jemput ke supermarket. Kan kita mau ambil pesanan cincin Pernikahan juta Div, kamu gak lupa kan?"


"Enggak kak, ini Diva udah mau sampai. Kak Doni tunggu aku di lobby aja ya."


"Iya sayang. Hati hati. Jaga mata ya, jangan lirik lirik cowok lain," ujar Doni yang membuat air mata Diva kembali jatuh.


"Iya kak, sejak kapan aku gak setia sama kak Doni. Jangan jangan Kak Doni ya yang gak setia sama aku."


"Gak mungkin dong sayang, Kak Doni itu selalu setia sama kamu. Udah ngapain sih jadi ngobrol di handphone. Agak cepet ya Div jalannya, keburu jam makan siang habis."


"Iya kak," jawab Diva lalu mematikan panggilan diantara mereka.


Sebelum pergi, Diva kembali menghapus air matanya. Berusaha tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Walau sebenarnya hatinya sangat sakit menerima semua kenyataan ini.


Sambil berjalan, Diva memegangi kalung pemberian Doni.


"Kak, kamu selalu bilang aku harus jaga mata dan hati aku. Tapi kamu sendiri apa gimana kak? Jangankan jaga mata dan hati kamu, jaga tubuh kamu sendiri aja gak bisa. Mungkin aku memang hanya kamu anggap mainan selama ini. Tapi mulai sekarang aku sudah sadar diri kak, kalau aku memang harus menyerah dengan hubungan kita. Kenyataan ini terlalu pahit buat aku terima," gumam Diva sembari mempercepat langkahnya.