My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Gadis nakal



Keesokan harinya, setelah mendapat telpon dari diva. Doni berpamitan pada kakek dan neneknya untuk pergi mengantar diva mendaftar kuliah. Disana kakek dan nenek sangat bahagia melihat hubungan diva dan doni yang semakin dekat.


"Lihat deh kek, semoga doni dan diva sudah saling mencintai sebelum pernikahan itu nanti terjadi ya."


"Iya nek, semoga." jawab kakek atmaja.


Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit akhirnya doni sudah tiba di rumah orang tua diva. Doni pun berjalan masuk ke rumah dan menekan bel rumah diva.


Ting Tong...


Diva yang sempat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya bergegas membuka pintu setelah mendengar suara bel.


Ceklekk..


"Eh kak doni, masuk dulu kak. Diva ambil tas dulu dikamar." jawab diva namun tak di sahut oleh doni.


Doni melihat dari atas hingga bawah penampilan diva yang terlihat berbeda. Ia melihat diva terlihat anggun dan cantik. Biasa nya diva selalu memakai bando dan menggerai rambutnya. Namun hari ini diva terlihat cantik saat mengucir kuda rambutnya, ditambah ia memakai rok jeans dan kaos putih serta kets putih di kakinya.


"Kok semakin hari dia tambah cantik sih." batin doni sampai tak mengedipkan matanya.


Doni yang dari tadi sibuk dengan lamunannya menatap diva, membuat rasa geer diva kembali kambuh.


"Tuh kan, apa diva bilang. Kak doni tuh juga naksir diva cuma gengsi aja bilang cinta ke diva. Tenang kak doni, diva pasti bilang yess kok kalau kak doni nembak diva." batin diva sambil tersenyum ke arah doni.


Melihat doni yang tak berhenti memandangi dirinya, dengan cepat diva mencium pipi kak doni kesayangannya itu dan membuat doni memelototkan matanya pada diva.


Cup...


"Kak doni terpesona ya lihat diva." ucap diva yang membuat doni membulatkan matanya.


"Diva..." teriak doni namun hanya dibalas senyum oleh diva yang sudah beranjak pergi meninggalkan doni.


Tak menyangka dengan sikap diva, doni hanya memegang pipinya yang habis di cium diva.


"Dasar anak bakal, beraninya dia cium gue kayak gini. Tau sendiri gue paling gak bisa nahan godaan kayak gini." batin doni dengan nafasnya yang tak beraturan.


Mama disa dan vida yang baru saja datang dari pasar, melihat doni yang masih berdiri di depan pintu. Mama disa dan vida pun langsung mempersilakan doni untuk masuk ke dalam rumah.


"Doni, kok gak masuk ke dalam? Ayo duduk dulu, tante buatin minum." ucap mama disa.


"Iya tante, diva cuma masuk sebentar ngambil tas."


"Ya tapi duduk dulu dong doni, diva itu gimana sih. Ada tamu kok disuruh nunggu di depan pintu gini." gerutu mama disa.


"Iya, kak disa itu emang kelewatan. Sini kak doni, masuk sama duduk dulu. Biar vida buatin minum buat kak doni." ucap vida sambil menarik tangan doni.


Belum sempat vida membawa doni ke kursi tamu, diva sudah datang.


"Ayo kak berangkat sekarang, keburu telat." ajak diva.


"Diva, kok langsung ngajak doni pergi. Harusnya ada tamu itu disuruh masuk dulu, disuruh duduk terus di buatin minum bukan langsung di tinggal pergi dan disuruh berdiri di depan pintu. Itu gak sopan namanya." ucap mama disa berusaha menasihati diva.


"Iya tahu nih kak diva, udah gede masih gak tau tata cara menerima tamu dengan baik dan benar." sambung vida dan membuat diva seketika memelototkan matanya ke arah vida.


Namun saat diva hendak berbicara, ucapannya langsung di sahut oleh doni.


"Enggak gitu tante, vida. Tadi diva udah nyuruh saya buat masuk ke dalam. Cuma saya nggak enak aja, kan tante sama vida baru diluar dan diva cuma dirumah sendiri. Saya gak mau nanti ada tetangga yang mikir macem macem tante. Jadinya doni mutusin nunggu diva disini." jelas doni.


"Tuh kan, makanya jangan suka mikir jelek sama diva. Udah ah, ayo kak berangkat diva udah telat nih." ajak diva.


"Iya, tante vida doni pamit dulu ya. Mungkin nanti doni pinjem diva sampai sore buat nemenin doni belanja pakaian kantor. Bolehkah tante?"


"Iya doni, pasti boleh dong. Kalian hati hagi ya dijalan."


"Iya tante." jawab doni sambil mencium tangan mama disa.


"Mah, disa pamit ya. Eh bocil inget bantuin mama, jangan cuma bisanya main handphone mulu." pamit disa seraya menasihati adiknya.


"Iya iya kak, bawel banget sih."gerutu vida sambil mencium tangan diva dan doni.


"Eh kak doni, jangan lupa beliin oleh oleh buat vida ya."


"Vida, gak boleh kayak gitu. Itu namanya gak sopan nak." ucap mama disa sambil melihat ke arah vida.


"Tau nih, dasar gak sopan." sambung diva.


"Iya vida, nanti kakak bawain oleh oleh buat kamu ya. Tapi vida janji harus bantuin mama dirumah ya." ucap doni sambil mengacak rambut vida.


"Siap kak doni. Vida sayang deh sama kak doni. Beda nih sama si nenek lampir." jawab vida sambil memjulurkan lidahnya ke arah diva.


"VIDA!!!" teriak diva namun tangannya langsung ditarik oleh doni.


"Udah ya div, katanya udah telat. Ayo kita pergi sekarang. Tante vida kita berangkat dulu ya." pamit doni yang berusaha melerai vida dan diva.


"Iya doni, tante titip diva ya."


"Oke tante." jawab doni.


Diva pun masuk ke dalam mobil doni dengan perasaan yang masih kesal pada vida sambil terus mengomel. Merasa berisik dengan celotehan diva, doni membekap mulut diva dengan tangannya sambil menatap mata diva.


"Diem ya, kapan berangkatnya kalau kamu marah marah terus. Sekarang aku pakaiin selt beltnya." ucap doni seraya memakaikan selt belt diva.


Melihat wajah doni yang sangat dekat dan aroma parfum doni membuat diva tak bisa menahan perasaannya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga doni.


"I love you brother." bisik diva yang membuat doni melihat mata diva tajam.


Entah kenapa saat itu doni merasa diva membuat hatinya berdetak kencang, ditambah diva malah memejamkan matanya.


"Dasar gadis nakal, pasti dia mikir gue mau cium dia. Gue kerjain ajalah." batin doni.


Doni sengaja mendekatkan bibirnya ke arah bibir diva yang sudah mengharap ciuman dari doni.


"Tuh kan pasti kak doni mau cium gue, tenang diva loe harus tenang. Lihat bibir kak doni udah makin deket." batin diva yang membuka matanya sedikit dan melihat doni yang semakin dekat.


Namun bukannya mencium, tiba tiba doni menyentil dahi diva.


Ttuuuukkk...


"Hayo loe mikir apa. Dasar cewek mesum." ucap doni sambil tertawa.


Merasa malu dengan sikapnya, diva langsung memalingkan wajahnya dan berusaha menutupi wajahnya yang mulai memerah dari doni.


"Arrrggggh kak doni, bikin gue malu tau." gumam diva dalam hatinya