My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Singa Betina



Dua hari berlalu. Sesuai janjinya, Aldo mengajak Doni, Andini dan Mickael untuk pergi ke Jerman menemui Tanisha dan Ririn. Menyelesaikan semua permasalahan akibat ulah Ririn.


Wajah Doni terlihat serius. Amarah, benci dan dendam mengisi relung hatinya saat ini. Gara gara Tanisha, ia kehilangan Diva bahkan kabar pun ia tak dapat.


Tak hanya Doni, Andini yang selalu berada disamping Aldo tak kalah khawatir. Hatinya was was, takut jika beberapa waktu kedepan Tanisha benar akan mengandung anak dari putranya.


"Sayang, tenanglah. Semua permasalahan karna Ririn akan berakhir setelah ini," Aldo berusaha menghibur Andini yang terlihat gusar dari tadi.


"Tenang, tenang. Masalah Ririn selesai. Terus kalau Tanisha hamil anak Doni gimana pah?" celetuk Andini.


"Entahlah mah. Biarpun sudah dewasa Doni selalu saja membuat resah papa."


"Ya sama seperti kamu dulu. Sifat Doni gak jauh beda sama kamu."


Malas berdebat dengan istrinya, Aldo memilih diam kembali. Daripada nanti ia membuat Andini kembali mengangkat masa lalunya yang kelam.


Sesaat kemudian, pesawat akan take off. Doni dan yang lainnya bersiap naik ke pesawat.


Selama perjalanan, Doni hanya menatap pemandangan dari balik jendela. Awan yang begitu cerah sama sekali tak membuat hati Doni yang terlanjur mendung juga ikut cerah.


Sesekali Mickael mencoba menghibur Doni. Sejak kepergian Diva, Mickael melihat perubahan sikap yang signifikan dari Doni. Berbagai cara Mickael mencoba membantu Doni untuk mencari tahu keberadaan Diva, tapi tetap saja hasilnya nihil. Mungkin semua sudah di atur oleh Deva. Agar keberadaan Diva tidak di ketahui siapapun.


Hampir 16 jam waktu perjalanan sudah di tempuh. Kini mereka berempat sudah sampai di Bandara International Berlin. Sebelum mendatangi rumah Ririn, Aldo mengajak semuanya untuk ke hotel, beristirahat sejenak. Sambil menyiapkan tenaga untuk menghadapi singa betina yang sedari dulu menjadi parasit bagi keluarganya.


****


Satu jam kemudian, mereka semua sudah sampai di depan rumah yang beraksen abu abu. Rumah yang terlihat minimalis dan mewah. Sengaja Aldo hanya meminta Mickael dan Doni untuk turun dari mobil terlebih dulu. Ingin membuat Ririn terkejut melihat Andini nantinya.


Ting.. Tong..


Bel sudah di tekan, tak lama sang pemilik rumah membukakan pintu.


Ceklek..


Wajah Tanisha nampak berbinar, melihat Doni berdiri di depan rumahnya. Sayang, wajah Doni terlihat menyimpan marah berbeda dengan dirinya yang sedari tadi mengulas senyum.


"Doni, Om Aldo, Mickael. Ini sungguh kejutan, kapan kalian datang? Kenapa tak memberitahuku terlebih dulu?" Tanisha terus menguntai senyum. Membuat Doni semakin merasa geram.


"Selamat siang Tanisha. Bolehkah saya meminta waktumu sebentar?" tanya Aldo.


"Boleh dong om. Ayo masuk."


Saat semua duduk, orang yang dinantikan ternyata datang tanpa disuruh. Ya, Ririn bergegas keluar mendengar suara Aldo yang datang ke rumahnya.


"Siapa Sha?" Tanya Ririn yang sedang berpura-pura seolah menanyakan tamu yang baru saja datang.


"Doni mah, sama papanya dan Mickael juga."


Ririn berjalan menghampiri ruang tamu. Seolah tak tahu, Ririn kembali memainkan drama selanjutnya.


"Loh Al, ternyata Doni itu putra kamu?" tanya Ririn.


"Oh jadi kamu itu mamanya Tanisha?" Aldo membalas cara Ririn. Tak mau kalah, Aldo juga membuat dirinya seolah terkejut melihat Ririn.


"Gak nyangka ya, ternyata anak kita dekat."


"Loh mah, mama kenal sama Om Aldo?" Tanisha mulai bingung dan heran. Ia tak menyangka ternyata papanya Doni itu berteman dengan mamanya.


"Iya Sha, jadi Om Aldo ini temen mama waktu SMP. Bukan hanya teman sih tapi mantan kekasih juga."


"Wah wah wah. Gak nyangka ya mah. Oh iya Doni, Mickael, kaliam kenapa diem dari tadi? Biasanya juga suka bicara," Tanisha mencoba memulai pembicaraan dengan Doni. Walau dia tahu, wajah Doni sedari tadi meliriknya tajam.


Bruakk...


Doni memukul meja. Tak tahan dengan semua drama antara ibu dan anak di hadapannya.


"Doni, kamu yang sopan kalau bertemu di rumah orang. Apa ini sifat mama kamu yang menurun di diri kamu," seru Ririn.


"CUKUP TANTE! Jangan pernah menghina mama saya," jawab Doni yang suaranya tak kalah tinggi dari suara Ririn.


Plokk.. Plokk.. Plokk..


Andini datang, sesaat setelah mendengar keributan yang terjadi.


Ririn terperanjat kaget tak percaya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi. Bukankah yang ia tahu Andini sudah lama meninggal? Kenapa sekarang dia bisa berdiri tepat di hadapannya.


"Andini. Ini kamu?" lirih Ririn.


"Ja.. Jadi.."


Masih dengan suasana hati yang tak karuan, Andini dengan cepat menampar pipi Ririn. Sungguh perbuatan Ririn kali ini membuat kesabarannya habis.


Plakk...


"Wanita gila! Kamu udah gila Rin. Kamu tega mengorbankan perasaan anak kamu hanya demi mewujudkan keinginanmu. Dasar wanita gila!" seru Andini.


Ririn sudah bersiap mengangkat tangannya, hendak membalas perbuatan Andini. Sayangnya Doni langsung menangkap tangan Ririn yang hampir mendarat di pipi kanan mamanya.


"Jangan pernah tangan kotor tante menyentuh mama saya. Atau saya akan membuat tante menyesal seumur hidup," Doni menghempaskan tangan Ririn. Mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke lantai.


"Berhenti Don! Jangan pernah sakiti mama ku!" teriak Tanisha. Sepertinya sudah ada perang dunia antara Doni dan Tanisha. Mata mereka saling beradu. Sama sama membela mamanya masing masing.


"Aldo lihat sikap ajak dan istri kamu sama aku. Lihat Al!!" imbuh Ririn dengan tangis buaya, berharap Aldo akan memarahi sikap anak dan istrinya.


Namun di luar dugaan, Aldo malah menertawakan dirinya sambil menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya Rin. Kamu kira aku gak tahu semua rencana dan akal busuk kamu?" pekik Aldo.


"Apa maksud pembicaraan kamu Al? Aku sungguh tidak tahu." jawab Ririn


"Rencana apa maksud om?" Tanisha menyela pembicaraan.


"Sha, jangan dengarkan mereka. Mereka itu.."


Belum selesai bicara, Mickael yang sedari tadi diam, akhirnya mencoba menjadi penengah. Ia menghampiri Tanisha yang masih terduduk di lantai.


"Sha, berdiri. Ada seseorang yang juga ingin bertemu sama kamu," ucap Mickael.


"Siapa Mic?" tanya Tanisha.


Justin dan Christy pun langsung masuk. Membuat Tanisha kembali meradang.


"Kalian? Buat apa kalian kesini," seru Tanisha dengan tangisnya.


"Sha, aku mau buat pengakuan sama kamu," lirih Christy.


"Pengakuan?"


"Iya Sha. Loe harus denger dulu cerita Christy. Kasih dia kesempatan," sahut Justin.


"Jangan Sha. Ingat apa yang kamu lihat di hotel itu. Ingat Sha," Ririn mencoba menghasut Tanisha.


Tanisha mulai bimbang. Disaat semua mencoba meyakinkan Tanisha, papanya datang dari kamar menggunakan kursi roda. Keributan di ruang tamu, membuat dirinya terbangun dari tidurnya.


"Ada Apa ini. Kenapa ramai sekali," tanya Pak Gunawan.


"Papa..," Tanisha jatuh ke pelukan papanya. Sungguh masalah ini membuat dirinya bingung.


"Siapa kalian. Justin, Christy, mau apa kalian kemari?"


"Om, maafin Christy. Om harus denger semua ceritaku om. Ini semua rencana tante Ririn. Dia yang memintaku untuk menjebak Justin dan membuat pertunangan Tanisha dan Justin batal," ujar Christy.


Spontan Tanisha dan Pak Gunawan langsung menatap mata ke arah Ririn.


"Enggak.. Enggak.. Semua ini fitnah," Ririn kembali berkelit. Wajahnya mulai pucat. Rasanya hari kiamat sudah di depan mata.


"Ini tidak bohong om. Semua ini fakta. Biarkan papa saya yang bicara," sahut Doni.


"Jangan dengarkan mereka mas. Mereka hanya punya dendam di masa lalu sama aku. Jangan percaya sama ucapan mereka," bujuk Ririn.


"Dendam? Kamu gak salah bicara Rin. Yang punya dendam itu aku atau kamu?" sahut Andini.


"Diam kamu Din," teriak Ririn.


"SEMUANYA DIAM!!" pekik Pak Gunawan dengan suara yang keras.


Sekarang bukan hanya Tanisha yang bingung, tapi Pak Gunawan pun juga merasakan hal yang sama.


"Silahkan anda bicara," ujar Pak Gunawan. Membuat Aldo menceritakan semua kisah antara dirinya, Andini dan Ririn. Bahkan tentang masa lalu Ririn yang menjadi seorang napi.


Mimik wajah Pak Gunawan mulai berubah. Di dekati nya Ririn yang ia anggap istri yang setia, baik dan perhatian.


"Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku. Saya jauhkan talak tiga untuk kamu," pekik Pak Gunawan. Sekujur tubuh Ririn lemas. Yang ia lakukan hanya bisa bersimpuh di kaki suaminya. Menyesali semua perbuatannya.