
Pagi harinya semua pergi keluar sambil berolahraga. Namun semua gerak gerik mereka dilihat oleh seseorang yang berada dalam mobil hitam.
Dari kejauhan orang tersebut membuka kacamatanya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Aku senang melihat keadaan ini. Keputusanku dulu memang sudah tepat. Dan sekarang aku bahagia melihat keluarga kalian bahagia. Sebentar lagi aku akan kembali, dan kita bisa berkumpul seperti dulu lagi. Karna janjiku pada andara dan kak william sudah aku tepati. Dan sakit hatiku pada kamu sudah terobati. Aku merindukan kalian semua." ucap seorang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Are you satisfied to see them and are you sure of your decision? (Apa kamu sudah puas melihat mereka? Dan apa kamu yakin dengan keputusanmu?)" tanya laki-laki yang berada dalam mobil itu.
"Yes brother, I've kept my promise to andara to accompany you until you find a companion. After all, now I'm sure of my feelings and it's time I returned to my family.( Ya kak, aku sudah menepati janjiku pada andara untuk menemanimu sampai kamu menemukan seorang pendamping. Lagipula sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku dan saatnya aku kembali)." jawab seorang yang berada di samping laki laki tersebut.
"It's all up to you, and i hope you will not be hurt by him again. If you want to come back, my house is always open to you. Because I already think of you like a andara, my sister who died 20 years ayo replaced your position.( Semua terserah kamu, dan aku harap kamu tidak disakiti lagi olehnya. Jika kamu ingin kembali, rumahku selalu terbuka untukmu. Karna aku sudah menganggap kamu seperti andara, adikku yang sudah meninggal 20 tahun yang lalu menggantikan posisi kamu.)"
"Thank you brother. But until now i'm still confused why me and andara are so similar. Not only similar but the same. Can I ask you something?( Terima kasih kak, tapi sampai sekarang aku masih bingung kenapa aku dan andara sangat mirip, bukan hanya mirip tapi sama. Apa aku boleh bertanya sesuatu?)" ucap seorang tadi.
"What do you want to ask?( kamu mau tanya apa?)"
"Is andara your sibling?( Apa andara itu adik kandungmu?)"
William hanya tertawa mendengar pertanyaan yang di lontarkan untuk dirinya.
"Of course andara is my biological sister than where your mind wanders where better we go back to the apartment.(Tentu saja andara itu adik kandungku. Daripada pikiran kamu melayang kemana mana lebih baik kita kembali ke apartemen)" jawab Williams.
Dalam hati wanita tadi, ia semakin ragu dengan jawaban william. Wanita tersebut merasa ada yang disembunyikan william dari dirinya.
"Aku yakin ada sesuatu yang di sembjnyikan kak william. Karna mustahil, wajah aku dan andara bukan hanya mirip tapi sama. Bahkan saat andara meninggal, semua orang yakin jika itu aku." Batin wanita tersebut.
Tak mau membuat andini curiga, william meminta sopirnya untuk segera meninggal tempat tersebut sebelum andini bertanya lebih banyak pada dirinya.
"Let's go, and start the car now.(Ayo pergi dan jalankan mobilnya sekarang)" perintah william pada sopirnya.
"Yes sir.(Ya pak)" jawab sopir tersebut.
Andini pun mulai menutup jendela mobilnya sambil memakai kembali kaca mata hitamnya. Namun tanpa sengaja dari jauh doni melihat sekilas orang yang memakai kaca mata hitam tadi.
"Mama..." lirih doni yang terdengar oleh diva.
"Kak, kenapa? Kak doni keinget mamanya kak doni ya. Besok diva temenin ziarah ya sebelum berangkat ke kampus." ucap diva.
"Enggak sayang, tadi aku kayak lihat mama di dalam mobil itu." jawab doni berusaha meyakinkan diva.
"Kak, mungkin kak doni lagi kecapekan. Coba kak doni minum dulu ya, biar hati kak doni tenang."
"Iya mungkin ya yank, mama kan udah lama meninggal. Mungkin kakak kangen sama mama. Besok temenin kakak ziarah ke makam mama kak doni ya."
"Iya kak, diva temenin. Sekalian diva mau jenguk mama mertua diva." ucap diva yang langsung membuat doni mencubit hidungnya.
"Kak doni, sakit kak. Ntar hidung diva tambah mancung kayak pinokio gimana?" gerutu diva.
"Hahahaha, gak papa. Biar gak ada lagi yang suka sama kamu. Cukup kakak aja yang suka." rayu doni yang membuat wajah diva memerah.
"Udah buruan jalan, gayanya gak usah di manis manisin gitu. Bikin kakak ilfeel aja." tegas doni sembari meninggalkan diva.
Diva berusaha berlari mengejar doni yng terlebih dulu berjalan meninggalkan dirinya. Hingga keluarga mereka hanya tertawa melihat tingkah pasangan ini.
"Deva disa, kalian beruntung memiliki putri seperti diva. Sifatnya yang periang dan ceria seketika mencairkan hati doni putraku yang sudah beku semenjak kematian andini. Kalau gak ada diva, mungkin hingga saat ini aku dan doni masih seperti anjing dan kucing." ucap papa aldo.
"Iya al, aku juga bangga sama doni. Di usianya yang masih muda dia mempunyai perpaduan sifat kamu dan andini. Dia tegas, rajin dan pekerja keras seperti kamu. Tapi dia juga perhatian dan punya sikap yang lembut seperti andini." jawab papa deva.
"Pah, al mending kita segera balik ke villa. Kasihan om atmaja dan tante rara sendirian di villa. Sekalian kita kemas kemas buat balik ke jakarta." ajak disa.
Siang harinya mereka mulai memasukkan barang mereka ke koper masing masing. Hingga akhirnya doni melihat papanya berada di taman belakang villa sambil duduk sendiri menikmati pemandangan.
"Pah, dari tadi doni cari ternyata papa disini. Papa ngapain disini sendirian. Papa gak kemas kemas?" tanya doni.
"Papa sudah selesai berkemas dari tadi don. Sudah lama sekali papa gak main ke villa ini. Villa yang penuh kenangan antara papa dan mama kamu. Papa rindu sama mama kamu don." Papa aldo berkata sambil meratapi dirinya.
"Apa aku cerita aja ya sama papa kalau tadi pagi aku lihat mama. Tapi gak usah deh, gak mungkin juga itu mama. Tapi yang kulihat tadi mirip sekali sama mama. Apa mungkin aku juga kangen sama mama, jadi bayangan mama memenuhi pikiran aku. Mending aku segera bawa papa pergi dari sini. Aku gak tega lihat papa seperti ini." batin doni.
"Pah, mending kita pulang. Lihat langitnya agak gelap, kayaknya mau hujan." ajak doni.
Kini mereka sudah perjalanan pulang ke rumah mereka. Dan sesampainya di rumah devano, mereka singgah sejenak sambil meminum kopi buatan mama disa.
"Doni diva, duduk sini. Ada yang mau kami bicarakan sama kalian." panggil papa aldo.
"Ada apa pah." Doni berusaha menebak pikiran papanya.
"Diva, duduk sini nak." panggil mama disa.
"Iya mah."
Tanpa basa basi, papa aldo dan papa diva menyampaikan niat mereka untuk mempercepat pernikahan antara putra putrinya.
"Bulan depan kalian menikah ya. Papa lihat kamu sudah mencintai diva ya doni."
"Tapi pah.." ucap doni terputus karna langsung di sahut oleh neneknya.
"Iya doni, nenek dan kakek pengen segera punya cici. Lagian apa yang kalian tunggu. Kalian ini sudah serasi. Buat apa di tunda tunda lagi." sahut nenek rara hingga membuat doni langsung tak bisa berkata.
Diva bisa melihat kegelisahan di diri doni. Ia sendiri belum yakin dengan perasaan doni pada dirinya. Walaupun sikap doni lembut dan lebih perhatian padanya, namun dari awal doni sudah bilang jika dirinya sedang berusaha mencintai diva.
Akhirnya diva menolak keputusan kedua orang tuanya dan keluarga doni.
"Pah, mah, diva masih pengen kuliah dulu. Gak perlu dipercepat, kalau memang diva dan kak doni berjodoh pasti segala sesuatunya akan lancar." ucap diva.
Doni yang sedari tadi hanya menunduk lesu seketika menoleh ke arah diva. Jawaban diva membuat dirinya seolah tak percaya. Yang ia tahu diva sangat ingin mempercepat pernikahan dengan dirinya.
"Ada apa sama diva. Bukankah dia sangat ingin mempercepat pernikahan denganku. Tapi sekarang kenapa dia menolak. Apa rencana dka sebenarnya? Arghh, sudahlah buat apa aku pikirin. Dan untung aja diva bilang begitu, gak perlu aku cari alasan, diva sudah menolaknya. Maafin kak doni ya div, kakak cuma lagi meyakinkan perasaan kakak sama kamu." gumam doni.