
Keesokan hari sesuai janjinya, Doni tiba di rumah Diva lebih awal dari kebiasaannya. Dan kini mobil Doni mulai masuk ke halaman rumah Diva.
Melihat mobil sang kekasih datang, Diva kembali berdiri di depan cermin sambil mengamati penampilannya sendiri.
"Itu pasti Kak Doni. Kayaknya baju gue udah rapi deh, rambut juga, parfum di baju juga udah wangi. Hmmm perfect..," batin Diva sembari melenggak lenggok di depan cermin.
Tok.. Tok.. Tok..
"Diva, Doni udah nunggu di bawah nak. Kamu udah bangun kan?" ucap mama Disa dari balik pintu kamar Diva.
"Udah mah."
"Yaudah buruan turun. Kasihan Doni kalau nunggu terlalu lama."
"Iya iya mah, Diva udah selesai kok. Tinggal turun," Diva keluar dari kamar sembari memakai sepatu heels nya.
Mama Disa tersenyum melihat tingkah Diva. Dilihatnya putri kecilnya dulu kini terlihat begitu dewasa dimatanya sekarang.
"Mah kenapa bengong? Ada yang salah sama penampilan Diva? Bedak Diva ketebelen ya mah? Atau pakaian yang aku pakai kelihatan norak mah? Gak mecing ya sama tas dan sepatunya? " Diva berdiri di depan mamanya sambil melihat dirinya sendiri.
"Enggak sayang. Malah mama terharu. Sekarang kamu terlihat dewasa dan sangat cantik. Bahkan waktu muda dulu, mama tidak secantik kamu sayang," Mama Disa membelai rambut Diva dengan mata berkaca kaca.
"Arghh mama, jangan sedih gitu dong. Mama juga cantik kok, cantik banget malahan. Udah dong mah, jangan nangis. Nanti aku ikutan nangis terus make up aku luntur deh. Malu kan kalau dilihat sama kak Doni."
"Hahahaha, iya iya sayang. Yaudah ayo kita ke teras. Doni lagi sama papa ngobrol di luar. Oh iya, lusa kita ke WO ya buat kasih susunan acara pernikahan kalian," ucap Mama Disa.
"Iya mah, aku udah gak sabar deh mah jadi istrinya kak Doni. Sejak kecil itu impian aku. Bisa bersanding dengan laki laki sebaik, setampan dan segalanya seperti Kak Doni. Buat Diva, Kak Doni itu perfect mah. Beruntung banget ya Diva bisa nikah sama kak Doni."
"Iya sayang. Udah ngobrol ya nanti malam lagi. Kasihan Doni sama papa diluar, pasti mereka udah berkarat menunggu kita."
"Iya mah, ayo," Diva berjalan sambil merangkul pundak mamanya.
Tak lama setelah Diva dan mama Disa keluar, Diva dan Doni pamit untuk berangkat ke kantor, namun sebelumnya mencium tangan kedua orang tuanya.
Selama di mobil, Doni tak berhenti menggenggam tangan Diva. Sejak kejadian semalam, Doni tak mau melewatkan lagi waktu berdua antara dirinya dan Diva.
"Kak, mau sarapan dimana?" Diva memulai pembicaraan antara mereka, karna sedari tadi Doni hanya diam namun tak henti menciumi tangannya.
"Terserah kamu sayang. Aku ngikut aja. Nanti malam kamu ada kuliah?"
"Ada kak. Kak Doni mau anterin Diva?"
"Iya, tapi nanti kakak tinggal bentar ya. Soalnya Kak Doni mau ke kantor Pak Candra buat kasih surat kontrak antara perusahaan kita sama mereka"
"Iya kak gak papa. Oh iya gimana meetingnya semalam? Kak Doni gak mabuk kan? Kak Doni inget pesen Diva kan?"
Doni menelan ludahnya. Mulutnya seperti di lem alteco. Bahkan kerongkongnya juga terasa berat seakan ada biji durian di dalamnya.
"Kak, kok diem? Kak Doni gak mabuk kan?" tanya Diva sekali lagi sambil menatap wajah Doni tajam.
Dengan nada sedikit terbata, Doni berusaha terlihat tenang di depan Diva.
"Enggak..enggak sayang. Udah ya meeting semalam aman kok. Semuanya berjalan dengan lancar. Oh iya nanti siang kita ambil pesanan cincin pernikahan kita ya. Kamu gak lupa kan?" Doni mengalihkan pembicaraan mereka, tak mau jika nanti ia kembali sedih teringat akan kejadian semalam.
"Enggak dong kak. Oke deh kak, nanti ya pas makan siang kita ke toko mas nya."
"Iya sayang, cium dulu dong," ujar Doni sembari menepuk nepuk pipi kirinya.
Tanpa menjawab Diva mendaratkan bibirnya di tempat yang Doni minta.
Cupp...
"Morning kiss sayang," Diva mencium Doni lalu menyandarkan kepalanya di pundak Doni.
"Morning juga honey."
"Kamu salah jika menganggap kamu beruntung. Karna yang sebenarnya beruntung itu Kak Doni. Bisa menjadi kekasih dan calon suami untuk wanita sebaik dan secantik kamu."
"Gombal" Diva mencubit pinggang Doni gemas.
"Auu, sakit sayang. Kak Doni lagi nyetir jangan dicubitin dong. Nanti kalau nabrak gimana? Besok aja kalau kita udah nikah, kamu mau ngapain Kak Doni di kamar terserah deh."
"KAK Doni!! Selalu aja mesum."
"Hehehe, bercanda sayang. Sarapan di restoran depan itu aja ya, biar kita gak telat ke kantor."
"Iya kak, terserah kakak aja. Mau makan dimana aja, kalau makannya sama Kak Doni pasti makanannya enak semua. Karna sambil makan bisa sambil lihat wajah Kak Doni."
"Dih, sekarang pinter gombal ya. Belajar darimana hayo?" tanya Doni sambil mencubit hidung Diva.
"Dari Kak Doni lah. Mau dari mana lagi?"
"Diva, Diva, kakak sayang banget tau sama kamu. Sini peluk dulu dong," Doni melebarkan sebelah tangannya dan disambut oleh tubuh Diva yang jatuh dalam pelukannya.
Mereka lalu masuk kedalam restoran. Memesan beberapa menu makanan. Dan setengah jam kemudian, mereka keluar dari restoran dan bergegas menuju kantor.
Ketika sampai dikantor, Diva langsung menuju ruangannya. Dan Doni sendiri bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.
Namun disana, Mickael sudah menunggu dirinya. Melihat ke arah Doni dengan tatapan penuh benci dan marah.
"Darimana aja loe semalam sama Tanisha? Loe tahu gak, semalam Diva hampir aja gak bisa pulang. Loe itu sebenarnya pacar macam apa sih Don?" Mickael berdiri tepat dihadapan Doni dan menatapnya penuh amarah.
"Iya iya gue tahu gue salah. Semalam handphone gue mati, dan gue gak bawa charger dan power bank. Sorry sorry, gue janji semalam itu terakhir gue ketemuan sama Tanisha. Soalnya dia udah balik ke Jerman hari ini."
"Loe yakin?"
"Iya bro. Loe tenang aja, gue bakal ikuti semua saran loe. Sekali lagi thanks ya loe udah nolong gue lagi."
"Hmmm, tapi loe sama Tanisha gak aneh aneh kan?"
"Enggak. Udah gue mau kerja dulu. Loe mending balik ke ruangan loe lagi sana," Doni berusaha mengusir Mickael secara halus agar ia tak bertanya terlalu jauh.
Meski sedikit merasa janggal dengan gerak gerik Doni, tapi Mickael tetap menghargai Doni sebagai pimpinannya. Ia pun segera keluar dari ruangan Doni.
"Arghh sial, kenapa gue bisa lakuin hal bodoh itu sih," Doni berteriak sambil menaruh tubuhnya di atas kursi.
Doni mengusap wajahnya, mengacak rambutnya sambil membanting semua barang disekitarnya. Menyesali kekhilafannya semalam.
Jam hampir menunjukan jam makan siang. Saat Diva akan menghampiri Doni di ruangannya, tiba tiba ponselnya berbunyi. Dari layar tertera nomor yang tak ia kenal. Meski beberapa kali Diva tak menghiraukannya, namun nomor itu terus saja menghubunginya.
"Ahh.. Siapa sih. Apa nomor klien ya? Coba deh gue angkat dulu," batin Diva.
Baru saja mau mengangkat telponnya, panggilannya sudah mati dan..
Ting..
Ada sebuah pesan masuk di ponsel Diva.
"Diva, gue Tanisha temen Doni. Loe bisa keluar dari kantor sebentar? Ada yang mau gue bicarakan soal Doni," tulis Tanisha.
Awalnya Diva tak memperdulikan pesan dari Tanisha. Hanya saja kedua matanya langsung membulat melihat gambar yang baru saja ia terima.
"Kak Doni, ini apa kak? Apa ini bener kamu kak? Apa ini hanya editan? Gue yakin ini bukan Kak Doni," Diva langsung menjatuhkan ponselnya dan denyut jantungnya seakan berhenti sejenak.
Diva kembali memungut ponselnya dilantai. Sembari berjalan, dia menulis pesan yang ia kirim pada Tanisha.
"Gue kesana. Kita ketemu di Cafe depan kantor," balas Diva.