My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Lepaskan Doni!!



Selepas meeting selesai, Doni meraih ponselnya yang sedari tadi ia mode silent untuk tidak mengganggu jalannya meeting.


"Diva sakit?" lirih Doni pelan.


"Kenapa Don, apa ada masalah?" tanya Mickael. Dari tadi ia berjalan seiringan dengan Doni hingga dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Oh enggak, Diva ijin pulang. Katanya migrennya kambuh. Tapi kenapa gue boleh kerumahnya ya," Doni bingung. Tak biasanya Diva bersikap seperti ini.


"Why? Masak elo gak boleh kesana? Gak lagi berantem kan?" Mickael melirik Doni, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


"Enggak, tapi dia bilang katanya mau istirahat."


"Oh, gue kira lagi berantem. Yaudah sih kenapa loe galau. Kalau menurut gue bener kata Diva, migren itu sembuhnya kalau dibuat tidur dan istirahat. Terus kalau loe kerumahnya pasti Diva gak bisa tidur dong. Kapan sembuhnya coba," jawab Mickael.


"Hmmm, bener juga sih bro. Yaudah biarin aja Diva istirahat ya. Udah jam 4 nih, pulang yuk. Tapi main ps dulu ke rumah gue, gimana?" ajak Doni.


"Oke, gue masih belum rela loe ngalahin gue kemarin. Pokoknya gue harus menang lawan El hari ini."


"Udah jangan banyak bicara. Buktiin aja bro," jawab Doni.


Mereka bergegas ke mobil masing masing dan menuju rumah Doni. Sedangkan didalam rumahnya, Diva masih saja mengurung diri.


Tok..tok..tok..


Disa mengetuk pintu kamar putrinya. Karna dari pulang kerja Diva sama sekali belum keluar kamar.


"Div, kamu baik baik aja kan nak? Masih sakit kepalanya?" tanya Disa cemas.


"Udah baikan kok mah," jawab Diva.


"Boleh mama masuk?"


"Masuk aja mah," Diva segera menghapus air matanya sebelum mamanya tahu jika dirinya baru menangis.


Ceklekk..


Disa berjalan mendekati kasur Diva. Meski sudah berusaha menghapus air matanya dan menoleh sedikit bedak di wajahnya, tetap saja matanya terlihat sembab dan merah.


"Sayang kamu kenapa? Kok nangis? Mau kita ke rumah sakit, biar kepala kamu di periksa papa?" Disa panik melihat keadaan Diva.


"Mah..."


Diva menatap wajah mamanya. Sebenarnya ia juga tak ingin keluarganya tahu perbuatan Doni. Tapi sama siapa lagi dia mau bercerita kalau bukan sama mereka.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Disa.


"Diva, ada apa? Kamu bertengkar dengan Doni? Atau ada yang menyakiti kamu nak?" Disa melepaskan pelukannya, menatap wajah Diva dan meminta jawaban atas pertanyaannya.


"Mah, Kak Doni mah, Kak Doni," ujar Diva sembari meneruskan tangisannya.


"Ada apa sama Doni sayang? Benar kalian lagi bertengkar?" tanya Disa.


Diva menggelengkan kepalanya. Ia segera mengeluarkan ponselnya di dalam tas dan menunjukkan gambar dan rekaman suara yang ia dapatkan dari Tanisha.


"Ini mah, mama lihat dan dengerin sendiri. Apa masih ada kata maaf untuk Kak Doni."


Disa mengambil ponsel pemberian Diva, dilihatnya calon menantunya sedang enak enakan dengan wanita lain.


"Ya Tuhan, Doni!! Kamu yakin Diva ini Doni? Bukan jebakan kan? Siapa tahu ada yang ingin menghancurkan hubungan kalian," Disa masih berharap jika semua itu hanya ulah seseorang untuk memisahkan Diva dan Doni.


"Enggak mah, itu asli. Aku udah tanya sama temenku ahli IT. Dan itu asli mah," jawab Diva. Ia pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Tanisha siang tadi.


Disa memeluk putrinya, masih tak percaya jika Doni anak dari sahabatnya tega mengkhianati Diva dengan cara seperti ini.


"Lepaskan Doni Diva, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari Doni. Mama gak rela jika kamu menikah dengan cowok brengsek seperti dia," titah mama.


"Iya mah, Diva juga pengen membatalkan pernikahan ini. Meski Diva sangat mencintai Kak Doni, tapi Kak Doni udah kelewatan mah. Tapi gimana sama papa, om Aldo dan tante Andini? Mereka pasti akan membenci Kak Doni. Diva gak mau mah. Diva gak tega lihat Kak Doni dibenci keluarganya."


Disa heran. Ia tak menyangka meski sudah disakiti Doni masih saja Diva memikirkan perasaan Doni.


"Biar aja. Biar mereka tahu kebusukan Doni," ucap Disa. Rasa sayangnya yang dulu pada Doni seketika berubah menjadi benci yang teramat sangat.


"Mah, Diva mohon jangan. Kalau mama mau kasih tau papa gak papa. Tapi jangan sama om Aldo dan tante Andini. Diva minta tolong sama mama," Diva memelas dan berharap mamanya menyetujui permintaannya.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Ida menuruti keinginan Diva.


"Baiklah. Terus apa rencana kamu? Kapan kamu akan keluar dari perusahaan Doni?" tanya mama.


"Diva udah keluar mah, cuma Kak Doni gak tahu. Diam diam Diva mengundurkan diri ke bagian HRD . Surat resign juga udah Diva taruh di atas meja Kak Doni. Dan rencananya Diva mau liburan dulu ke rumah opa Santo dan omah Desi di Singapura," jawab Diva.


"Mama setuju, nanti mama akan bicara sama papa. Sekarang kamu istirahat lagi ya dan tenangkan hati dan pikiran kamu. Jangan berhubungan lagi sama Doni."


"Iya mah. Seumpama Kak Doni kesini mama jangan bersikap buruk ya sama dia. Biar dia gak curiga. Karna Kak Doni gak tahu kalau Diva udah tahu perbuatannya."


"Iya sayang," jawab mama.


Sesaat setelah kepergian mamanya, Diva kembali memeluk guling sambil melanjutkan kembali tangisannya.