
"Mas, aku mohon jangan percaya sama mereka.This is all engineering. They really hate me. And they want to destroy our home.Please believe me," Ririn berlutut di kaki suaminya. Kembali membuat drama, seolah dirinya sedang di fitnah.
"Sly woman. Be careful with him sir. Don't believe his smug look. He is only after your property, while the man she loves is my husband. And he just made your child a tool to approach my husband.(Wanita licik. Hati hati dengan dia pak. Jangan percaya dengan tampang melasnya. Dia hanya mengincar harta anda, sedangkan laki laki yang dia cintai itu suami saya. Dan dia hanya menjadikan anak anda itu alat untuk mendekati suami saya.)" sahut Andini.
Ririn bangkit dari duduknya, berdiri di depan Andini dan menatap tajam wajahnya. Sayangnya Andini tak gentar, ia berbalik menatap tajam wajah Ririn. Mengingat semua rencana busuknya pada Doni.
Tangan Ririn mulai terangkat. Ia hendak menyambar pipi mulus Andini dengan sekuat tenaga.
Plakkk..
Bukan Andini yang ia tampar, justru Tanisha sudah terlebih dulu menampar mama tirinya yang sudah menjadikan dia alat dan menghancurkan hubungannya dengan Justin.
"PERGI KAMU DARI SINI!!" teriak Tanisha dengan tangannya yang menunjuk mata Ririn penuh dendam.
"Tanisha? Kamu menampar mama hanya demi wanita jalang ini?" tanya Ririn.
"Kamu sadar bilang apa? Jalang? Kamu itu yang jalang. Menghalalkan segala cara hanya demi mewujudkan keinginan kamu."
Nafas Ririn mulai tak beraturan. Sorot matanya seakan ingin memangsa Tanisha yang sudah membuat dirinya malu disana. Namun seketika kekesalannya berubah menjadi sebuah tawa kemenangan.
"Hahaha, Tanisha.. Tanisha, Kamu sadar tidak dengan ucapan kamu? Kamu pikir mama gak tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan Doni? Hahaha, lihat Justin. Tanisha itu sudah gak perawan dengan Doni. Dan kamu hanya mendapatkan barang bekas dari dia," ujar Ririn sembari menunjuk Doni dengan senyum liciknya.
Justin berjalan menghampiri Tanisha yang sudah menunduk lemas. Sedangkan papanya menatap Tanisha penuh tanya. Benarkah apa yang dikatakan Ririn barusan? Kenyataan atau hanya kebohongan lagi yang tengah ia ciptakan.
Tanisha masih diam. Mukannya tak berani mendongak. Ya memang dia pernah melakukannya, tapi bukan Doni yang sudah mengambil kesuciannya tapi Justin mantan calon tunangannya.
"Tante sedang berusaha menghasut saya? Cih, kayaknya tante salah orang. Dulu memang tante berhasil menghasut Tanisha, tapi tidak dengan saya. Saya sudah tahu kejadian antara Doni dan Tanisha beberapa waktu lalu. Mickael sudah cerita dengan saya. Tanisha disuruh tante buat melakukan hal menjijikan itu bukan? Tapi ada hal yang tante gak tahu. Tanisha gak perawan itu bukan dengan Doni, tapi saya," ucap Justin dengan lantangnya. Membuat mata Ririn seketika membulat.
Jederr..
Mulut Ririn juga terperanga. Ternyata rencananya salah. Seperti seorang narapidana yang hendak di eksekusi mati. Ririn hanya diam, sedangkan semua mata tertuju pada dirinya.
"CUKUP!! Tanisha jelaskan apa maksud dari semua ini," Pak Gunawan berteriak. Ia merasa malu dengan kelakuan putri satu satunya yang selalu ia banggakan.
Tanisha duduk bersimpuh di depan kursi roda papanya. Menceritakan segala hal yang menimpa dirinya. Bahkan rencana Ririn yang menyuruh dirinya untuk menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan Doni.
"Tanisha, putri papa. Kenapa kamu jadi seperti ini nak," lirih Pak Gunawan.
"Maafin Tanisha pah. Tanisha khilaf."
"Kalau kamu hamil gimana nak?" tanya Pak Gunawan kembali hingga membuat Tanisha hanya menangis dan menunduk malu di depan papanya.
Saat semua fokus dengan drama ayah dan anak itu. Ririn berusaha kabur, sayang dengan cepat Aldo sadar dan menarik tangan Ririn.
"Mau kemana kamu?" pekik Aldo.
"Al, sakit. Tolong lepaskan tanganku," Ririn merengek. Berharap belas kasihan dari Aldo.
Namun usahanya dramanya sia sia, Aldo menarik tangan Ririn dengan kasar. Aldo sudah muak dengan semua tingkah Ririn yang masih terus berusaha mengusik keluarganya.
"Tidak. Kamu harus bertanggung jawab dengan semuanya."
Aldo mendorong tubuh Ririn hingga tersungkur jatuh di kaki Pak Gunawan.
"Pak, silahkan anda urus istri anda. Saya kira masalah sudah selesai. Dan untuk kamu Tanisha, jika memang kamu hamil anak Doni, saya pastikan Doni akan bertanggung jawab dan menikahi kamu," ujar Aldo.
"Tapi Al," Andini menatap ke samping. Meminta jawaban atas maksud ucapannya barusan.
"Iya Tanisha. Aku akan bertanggung jawab jika memang kamu hamil anakku," sahut Doni.
Andini hanya bisa diam. Percuma dia menolak jika suami dan anaknya sudah bulat dengan keputusan mereka. Ia hanya bisa berdoa, semoga tetap Diva yang akan menjadi pendamping Doni kelak.
Merasa masalah sudah selesai, Aldo mengajak istri dan anaknya untuk pulang. Namun tiba tiba langkahnya terhenti saat Tanisha berdiri menghadang mereka.
"Tunggu om, tante, Doni. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Tanisha.
"Ada apa Tanisha?" tanya Aldo.
Tanisha menggenggam tangan Doni dan langsung memeluk Doni.
"Don, maafin aku. Aku merasa bersalah sama kamu. Minggu depan aku ke Indonesia. Akan aku jelaskan pada Diva jika semua yang kita lakukan itu bukan karna kehendak kamu."
Tanpa berkata, Doni melepaskan pelukan Tanisha.
"Percuma Sha, Diva sudah pergi."
"Tapi Don.."
Air mata Tanisha jatuh begitu derasnya. Kenapa ia bisa menyakiti hati keluarga Doni dan Doni. Padahal mereka mempunyai hati yang baik. Dan bodohnya kenapa ia bisa masuk perangkap mama tirinya.
Rasa bersalah Tanisha semakin dalam. Seketika ia memeluk Andini begitu erat.
"Tante, maafin aku ya tante. Tante, om dan Doni gak usah khawatir. Aku gak akan hamil, karna sekarang aku sedang datang bulan. Doni gak perlu tanggung jawab. Anggap aja semua ini mimpi buruk tante. Dan aku janji, gak akan mengganggu kehidupan Doni lagi," ujar Tanisha.
"Iya Sha. Tante harap semua ini kamu jadikan pelajaran. Harga diri seorang wanita itu terletak pada kehormatannya. Jaga baik baik diri kamu ya nak. Tante tahu kamu anak baik," ucap Andini sembari membalas pelukan Tanisha.
Tak tega melihat Tanisha, Justin datang menyusul mereka. Tanisha pun melepaskan pelukannya dan menatap Justin dengan tatapan sayu.
"Don, walaupun aku kecewa sama kamu dan Tanisha tapi aku akan tetap menerima Tanisha," ucap Justin sembari merangkul pundak Tanisha.
"Maksud kamu?" tanya Doni dan Tanisha bersamaan.
"Aku akan melanjutkan pernikahan kita Sha. Apa kamu masih mau menerima aku sebagai calon suami kamu?"
Tanisha semakin menangis. Ia menatap ke arah papanya yang juga ikut menangis. Saat papanya mengangguk, Tanisha jatuh ke pelukan Justin.
"Iya Justin aku mau. Cintaku gak pernah berubah buat kamu," ucap Tanisha.
"Makasih sayang," Justin mengecup kening Tanisha di depan semua orang.
"Selamat ya. Semoga pernikahan kalian nanti jangan sampai di ganggu oleh orang macam dia," Doni melirik Ririn yang sedari tadi hanya diam mematung.
"Tenang aja Don. Sekarang aku akan lebih menjaga Tanisha dan Om Gunawan."
"Hmmm, baguslah."
"Doni, Mickael, kita harus pulang sekarang. Masih ada masalah yang harus kita selesaikan setelah ini," sahut Aldo.
"Iya pah."
Satu masalah kini sudah terselesaikan. Ririn mereka serahkan pada Pak Gunawan dan Tanisha. Hukuman apa yang pantas ia dapatkan.
Mereka lalu kembali ke hotel, dan mempersiapkan diri untuk pulang besok. Paling tidak sekarang perasaan Aldo, Andini dan Doni sudah sedikit lega. Sekarang tinggal mencari Diva dan meyakinkan Deva dan Disa.
Andini menghampiri Doni kedalam kamarnya. Terlihat Doni sedang memandangi foto Diva di layar ponselnya.
"Doni," panggil Andini yang tiba tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Mama, ada apa mah?" tanya Doni.
"Saat sampai di Indonesia nanti, mama akan coba bicara sama Om Deva empat mata. Semoga saja mama bisa meyakinkan Om Deva untuk mau memberitahu dimana mereka menyembunyikan Diva. Percaya nak, kalau memang kamu dan Diva berjodoh pasti kalian akan bersatu suatu hari nanti."
"Iya mah, makasih. Tapi gimana sama papa? Apa papa setuju kalau mama menemui Om Deva. Papa kan cemburu banget sama Om Deva?"
"Tenang saja. Mama sudah mendapat ijin dari papa. Lagi pula perasaan antara mama dan Om Deva sudah hilang. Kami sudah memiliki keluarga masing masing. Yang terpenting sekarang hubungan kamu dan Diva," Andini menggenggam tangan putranya. Berusaha meyakinkan Doni jika semua akan baik baik saja.
Sungguh mamanya sudah membuat Doni sedikit merasa tenang. Semoga dengan pertemuan mamanya dan Deva, ia dapat bertemu kembali dengan Diva.
"Sudah malam nak, mama mau kembali ke kamar dulu ya. Kamu istirahat, kita take off pagi," ucap Andini.
"Iya mah, tapi ada yang mau Doni tanyakan sama mama."
"Apa itu nak?"
"Apa mama sudah tidak memiliki perasaan sedikit pun sama Om Deva? Karna dulu waktu semua masih mengira mama meninggal, Om Deva pernah cerita sama Doni jika mama akan selalu tinggal di hati Om Deva. Tolong jujur sama Doni mah," Doni memegang pundak Andini, dan me oiya genangan air di mata mamanya.
"Don, ada satu hal yang perlu kamu ingat ya nak. Jodoh itu rahasia Tuhan. Kita manusia hanya bisa meminta dan berharap, tapi semua kembali ke tangannya. Dulu mama sudah pernah bilang dengan Om Deva. Sampai kapanpun baik mama dan Om Deva akan punya tempat khusus di hati kami masing masing. Karna cinta tak harus memiliki nak. Buat apa kita bersama jika banyak yang tersakiti karna cinta kami," untuk pertama kalinya, Andini mencurahkan isi hatinya. Hingga akhirnya buliran bening mulai jatuh membasahi pipinya.
Doni mengusap pipi mamanya. Ia dapat merasakan penderitaan mama dan Deva.
"Mah, Doni tahu gimana perasaan mama. Terus gimana sama papa mah? Apa papa sama sekali tidak punya tempat khusus di hati mama?"
"Dulu mama sudah sempat mencintai papa kamu. Tapi karna suatu hal, membuat mama kecewa dan pergi selama ini. Untuk perasaan mama sama Om Deva itu akan tetap ada. Kita terpisah bukan karna keinginan kita Doni, tapi karna kehendak Tuhan."
"Tapi mah..," belum selesai bicara Andini menyela ucapan putranya.
"Sudah ya Doni. Semua sudah berlalu. Jangan membahas tentang kisah lama mama dan Om Deva. Yang terpenting sekarang kisah cinta kamu dan Diva. Mama pamit ke kamar ya nak."
"Iya mah," jawab Doni.
Doni melihat kepergian mamanya dengan perasaan sedih. "Semoga saja apa yang di alami mama dan Om Deva tidak terjadi dengan aku dan Diva. Sama sama saling mencintai tapi tidak bisa memiliki. Karna aku akan selalu memperjuangkan orang yang pantas untuk di perjuangkan. Dan itu kamu Diva. Kakak akan selalu berusaha mendapatkan maaf dari kamu," ucap Doni dalam hati.