My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Dosa Terindah



Perjalanan panjang sudah mereka tempuh dan kini semua sudah kembali ke rumah. Keesokan harinya sesuai janjinya pada Doni, Andini mencoba menghubungi Deva. Namun beberapa kali Andini mencobanya, sayang hasilnya Deva masih enggan menerima telponnya.


"Gimana sayang? Apa Deva mau bertemu dengan kamu?" tanya Aldo.


"Enggak Al. Dia masih belum mau menerima telponku."


"Apa aku aja yang menemui dia?"


"Gak usah. Besok aku coba untuk menelponnya lagi. Oh iya kamu jadi pergi ke Surabaya besok?"


"Jadi sayang. Cuma satu hari kok. Ada masalah dengan perusahaan cabang sana. Aku, Doni dan Mickael harus meninjau langsung kesana. Kamu mau ikut?" tanya Aldo. Jujur Andini ingin ikut, tapi ia juga harus menyelesaikan masalah antara Doni dan Diva.


Andini menggelengkan kepala. Sebuah isyarat menolak ajakan suaminya.


"Ya sudah. Tapi inget ya, jangan memaksa keinginan Deva. Aku gak mau persahabatan kita malah jadi rusak. Semua butuh waktu sayang. Mereka sudah terlanjur kecewa dengan Doni. Dan wajar kalau mereka marah," ucap Aldo.


"Iya Al, aku tahu."


"Sekarang lebih baik kita pergi jalan jalan. Sudah lama Kita tidak jalan berdua. Biar kayak masih pacaran," Aldo membuat wajah Andini memerah karna malu. Udah berkepala empat, tapi jiwa suaminya itu seperti anak muda. Membuat Andini hanya tersenyum dengan segala godaan Aldo.


****


Hari ini Aldo dan Doni sudah terbang ke Surabaya untuk mengurus anak cabang perusahaan mereka disana. Dan saat jam makan siang, Andini kembali mencoba menghubungi Deva.


Nasib baik menimpa Andini. Tak tega melihat orang yang berarti di hatinya terus menghubunginya, Deva pun memutuskan mengangkat telpon Andini.


"Halo Dev, akhirnya kamu angkat juta telponku," ucap Andini.


"Ada apa ya Din. Jangan bilang kamu ingin membantu Doni untuk bersama Diva lagi. Kalau soal itu, maaf. Aku dan Disa sudah tidak bisa menerima Doni lagi."


"Deva, tolonglah. Jangan seperti anak kecil begini. Aku minta waktu kamu sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Buat apa Din. Aku..."


"Please Dev, aku mohon," Andini merengek. Membuat Deva tidak bisa lagi menolak keinginannya.


"Baiklah. Tapi aku tidak bisa bertemu di rumah sakit atau di luar. Bagaimana kalau kita bertemu di apartemenku. Aku tidak mau Disa tahu. Karna Disa sudah tidak ingin berurusan dengan kamu, Aldo apalagi Doni."


"Oke Dev. Satu jam lagi aku sampai sana."


" Iya Dini," jawab Deva.


Satu jam kemudian, Deva sudah terlebih dulu sampai di apartemennya. Tak ada niat buruknya pada sang mantan. Ia hanya ingin Disa tidak tahu akan pertemuan antara Andini dan dirinya.


Sesaat kemudian, terdengar bel berbunyi. Deva terkejut, melihat Andini datang seorang diri tanpa Aldo bersamanya.


"Aldo mana Din?" tanya Deva.


"Dia ke Surabaya bersama Doni dan Mickael. Ada sedikit masalah dengan kantor cabang disana."


"Oh begitu. Silahkan masuk."


"Makasih Dev," jawab Andini.


Kini Andini dan Deva sudah duduk berhadapan. Semoga dengan bicara dari hati ke hati, berharap hati Deva yang mengeras akan luluh setelah mendengar penjelasannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Din?" Deva sengaja tidak mau melihat Andini di depannya. Ia takut jika melihat Andini, ia tak sangguphelas menolak permintaannya.


Andini mulai berusaha membujuk Deva. Menjelaskan panjang lebar kejadian yang menimpa Doni.


Deva membuang kasar nafasnya. Prihatin dengan kesedihan Diva.


30 menit mereka disana, namun Deva sama sekali tak bergeming. Hatinya masih sakit melihat putrinya disakiti oleh Doni.


Merasa tak ada angin segar, Andini berdiri. Menatap pemandangan langit dari balik tirai. Mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.


"Dev, apa kamu mau kisah kita terjadi dengan anak kita? Aku mohon pikirkan kembali perasaan Doni dan Diva. Mereka saling mencintai Dev. Aku sadar anakku salah, tapi dia masih mau berjuang mempertahankan cintanya. Beda dengan kamu yang langsung menyerah dengan hubungan kita."


"Aku gak bermaksud apa apa. Hanya aku tidak ingin baik Diva atau Doni menikah dengan orang yang tidak mereka cintai. Karna pernikahan tanpa cinta itu menyiksa Dev."


Deva memegang kedua pundak Andini. Mencoba mencerna kembali semua perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Din, lihat aku. Tolong jawab jujur. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Deva. Namun Andini berusaha memalingkan wajahnya dari hadapan Deva.


"Aku bahagia Dev. Siapa bilang aku tidak bahagia," jawab Andini.


Deva menarik kembali dagu Andini. Menatap matanya silih berganti.


"Bohong. Selama ini kamu bohong kan Din. Sebenarnya kamu tidak pernah mencintai Aldo kan? Kenapa kamu masih bertahan dengan dia?" pekik Deva.


"Kamu salah Dev. Aku pernah mencintai Aldo. Sikap lembut dan perhatiannya perlahan meluluhkan hatiku. Tapi goresan luka yang Aldo torehkan, sempat membuat aku down. Aku sempat menyesal pernah menikah dengannya dan tidak mempertahankan hubungan kita. Hingga aku membutuhkan waktu 20 tahun untuk dapat memaafkannya kembali," seru Andini.


"Terus aku apa masih berarti buat kamu Din? Apa aku masih punya tempat di hati kamu selama ini?" Deva mulai meninggikan suaranya. Menggertak Andini untuk pertama kalinya.


"Sudah Dev. Aku kesini bukan ingin membahas masa lalu kita, tapi..," belum sempat Andini menyelesaikan perkataannya, secepat kilat Deva mencium bibirnya dengan paksa.


Sontak, Andini mendorong tubuh Deva. Air matanya perlahan jatuh karna sikap Deva.


"Kamu gila Dev. Apa yang kamu lakukan barusan? Seharusnya aku mendengarkan perkataan Aldo untuk tidak menemui kamu. Aku menyesal sudah datang kesini," Andini mendorong tubuh Deva dan berjalan melewatinya.


Sayang, Deva seperti sudah kemasukan setan. Keadaan mereka berdua di apartemen membuat Deva gelap mata. Ia menaruh ik tangan Andini dan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Dev, lepas. Kamu jangan gila," teriak Andini.


"Ya Din, aku memang sudah gila. Sekuat tenaga aku berusaha menghapus rasa cintaku sama kamu tapi itu semakin membuat batinku tersiksa. Izinkan aku bisa memeluk kamu seperti ini sebentar aja Din," pinta Deva.


Mendengar perkataan Deva, hati Andini justru yang menjadi luluh. Air matanya kembali jatuh. Pelukan hangat yang di berikan Deva, seakan menutup goresan luka yang sudah Aldo berikan.


Merasa tak ada penolakan, Deva membalikkan tubuh Andini. Mengangkat dagunya dan kembali melanjutkan kecupan di bibirnya.


Tadi mungkin Andini menolak, tapi kali ini Andini justru membalas ciuman dari Deva. Entahlah, pasti ini semua akan menjadi rahasia antara mereka.


Terhanyut dengan suasana kisah cinta lama, Deva mulai memberi sentuhan ke tubuh Andini. Sempat menolak, tapi hati berkhianat. Andini juga ikut kedalam permainan Deva.


Satu per satu kencing baju Andini di lepas oleh Deva. Dan kemudian Deva mendorong tubuh Andini ke ranjang.


"Dev, aku mohon jangan," pinta Andini saat Deva masih asyik menciumi setiap inci lekukan di tubuhnya.


"Kenapa Din? Kita sama sama saling cinta. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Sekarang tolong jujur, apa aku sudah tidak mempunyai tempat di hati kamu?" tanya Deva namun Andini tak bisa berkata. Luka dari Aldo membuat kenangan dirinya dengan Deva menjadi bayangan di dalam pernikahannya dengan Aldo.


"Dev, aku.."


"Jangan berucap lagi. Aku sudah tahu jawabannya. Dan hari ini hanya akan jadi rahasia antara kita," Deva kembali melancarkan aksinya. Membuat dosa terindah antara dirinya dan Andini.


Deva mulai menindih tubuh Andini. Seharusnya dia yang sejak awal menikmati tubuh ini. Untuk sementara lupakan soal pasangan mereka masing masing. Yang jelas mereka ingin menuntaskan apa mengganjal di hati mereka.


Selesai memadu kasih, Andini dan Deva saling bertatapan. Ada rasa bersalah di hati mereka pada pasangan mereka masing masing.


"Deva, aku mohon kejadian ini hanya untuk pertama dan terakhir ya. Sebaiknya lupakan soal perasaan kita. Karna bagiku yang terpenting adalah perasaan Doni pada Deva."


"Aku gak bisa janji Din."


"Aku mohon Dev. Disa wanita baik, bahkan terlalu baik untuk disakiti. Begitu juga Aldo. Meski dia berkali-kali menyakiti aku, tapi dia sudah berusaha menebus segala dosa dosanya sama aku. Jadi lupakan soal hati kita. Jangan biarkan cinta kita menyakiti banyak orang."


"Baiklah jika itu permintaan kamu. Aku akan berusaha melupakan malam ini."


"Terima kasih Dev. Sekarang aku mau membersihkan tubuhku dulu, dan setelah itu aku pamit pulang. Soal hubungan Doni dan Diva, aku minta tolong jangan sampai kisah kita menurun ke anak anak kita. Tolong kasih Doni satu kesempatan lagi," ucap Andini.


Saat kakinya mulai turun, Deva kembali menarik tubuh Andini hingga jatuh ke pelukannya. Seperti berat untuk berpisah, Deva kembali melakukan dosa terindah untuk kedua kalinya hingga membuat Andini terlelap dalam pelukannya.


"Terima kasih Andini. Kamu sudah menjawab pertanyaanku selama ini. Aku kira cinta kamu tak sedalam cintaku. Tapi mulai hari ini aku tahu, jika perasaan kita itu sama. Hanya saja takdir tidak berpihak pada kita," batin Deva sembari membelai rambut Andini yang masih tertidur karna lelah dengan aktivitasnya bersama sang mantan terindah.