
"Mama...." Doni berteriak ketika melihat mamanya sudah hendak masuk ke dalam taksi online.
Mama Andini pun menghentikan langkahnya. Ia kembali keluar dari dalam mobil. Saat sudah berjalan mendekat, dengan cepat Doni memeluk mamanya yang sudah lama ia anggap meninggal.
"Mama, jangan pergi lagi," ucap Doni sambil memeluk mamanya.
"Doni anakku. Doni maafin mama ya nak," jawab Mama Andini.
"Iya mah, Doni udah maafin mama. Dan Doni juga minta maaf ya mah karna udah bicara kasar tadi."
"Iya sayang, mama mengerti perasaan kamu," jawab Mama Andini.
Papa Aldo berjalan mendekat ke arah istri dan putranya. Dan ia langsung memeluk putra dan istrinya.
"Akhirnya kita bisa berkumpul kembali,menjadi keluarga yang utuh. Papa sayang kalian, dan papa janji papa akan menjaga kalian sampai akhir hayat papa," ucap Papa Aldo sambil meneteskan air matanya.
"Kami juga sayang kamu," jawab Mama Andini.
"Ayo mah masuk," ajak Doni.
"Iya sayang."
Mereka semua kini masuk kembali ke dalam rumah. Namun Diva tak terlihat kembali di meja makan. Doni yang mulai panik, langsung menanyakan pada Bi Siti.
"Bi, Diva dimana?" tanya Doni.
"Bibi gak tau Mas Doni. Soalnya bibi habis dari dapur," ucap Bi Siti.
Mama Andini berjalan mendekati Doni dan berusaha menenangkannya.
"Gak usah panik nak, palingan Diva ke toilet atau ke taman belakang. Kan dari tadi kita di luar, dan dia gak keluar kan. Berarti dia masih di dalam rumah," ucap Mama Andini.
"Tapi sekarang dia dimana?" tanya Doni.
"Wah anak papa lagi takut banget kehilangan pacarnya," goda Papa Aldo sambil berjalan menghampiri mereka.
"Papa apaan sih. Doni khawatir aja,kan ini udah malam kalau Diva pulang sendiri Doni yang gak enak sama Tante Disa sama Om Deva," elak Doni.
Mama dan papanya hanya tersenyum saat mendengar jawabannya. Daripada kesal, Doni hendak pergi mencari Diva, namun mamanya justru mencegahnya.
"Kamu mau kemana Doni?" tanya Mama Andini.
"Mau cari Diva lah mah."
"Biar mama aja, kamu sama Papa ajak nenek dan kakek ke ruang tengah nanti mama sama Diva menyusul."
"Yaudah kalau gitu," jawab Doni.
Mama Andini mencari Diva ke taman belakang, dan ternyata Diva memang benar sedang berada disana bermain bersama kucing kesayangan Doni.
Namun saat berada di belakang Diva tanpa sengaja Mama Andini mendengar perkataan Diva dengan milo, kucing Doni.
"Milo, kamu tahu nggak perasaanku saat ini. Aku sebenarnya seneng kalau ternyata Bu Andara itu mamanya Kak Doni. Tapi aku juga sedih milo, karna aku tahu papaku masih sangat mencintai mamanya Kak Doni. Aku gak mau lihat mama sedih lagi milo. Semenjak kepergian Tante Andini, papa begitu sayang dan perhatian sama mama. Walaupun setiap seminggu papa selalu ajak mama ke makam Tante Andini. Tapi mama gak pernah marah, karna mama menganggap Tante Andini sudah meninggal. Dan sekarang aku gak tahu milo,apa yang akan terjadi sama mama dan papa nanti. Kalau papa tahu Tante Andini masih hidup, aku takut sikap dan perhatian papa ke mama akan berkurang. Aku takut milo," ucap Diva sambil menangis terisak.
Mama Andini datang dari arah belakang dan duduk menyebelahi Diva. Kedatangannya sontak membuat Diva kaget dan dengan segera menghapus air matanya.
"Eh tante. Udah lama tan di belakang?" tanya Diva.
"Oh ini tadi mata Diva kemasukan bulunya milo, emang nih dasar milo nakal."
Mama Andini malah tertawa mendengar keluguan Diva.
"Iya milo nakal ya, sama kayak Doni. Bisanya cuma bikin kamu nangis," ucap Mama Andini sambil merangkul pundak Diva.
"Maksud tante apa? Kak Doni gak pernah kok buat Diva nangis tante," jawab Diva.
"Ya maksud tante sikap Doni sama kamu selama ini dingin dan kaku kan? Tante minta maaf ya, tapi satu hal Diva yang perlu kamu tahu Doni itu sebenarnya anak yang manis dan lembut. Hanya karna dia kehilangan tante semua sikapnya menjadi berubah. Karna dulu waktu kecil Doni itu anak periang dan selalu bisa membuat siapapun di dekatnya bahagia."
"Iya tante, Diva juga udah tahu dari papa kok."
"Diva, ada yang tante mau bicarakan sama kamu." ucap Mama Andini.
"Bicara soal apa tante?" tanya Diva.
Sambil menggenggam tangan Diva, Mama Andini mulai menceritakan semua kisahnya dengan papanya.
"Sekarang kamu mengerti kenapa papa kamu begitu mencintai tante? Karna perpisahan kami itu bukan kehendak kami Diva. Tapi sayangnya cinta papa kamu yang begitu besar dan dalam buat tante, gak sebanding dengan cinta tante. Mungkin papa kamu memang cinta pertama dan pacar pertama buat tante, tapi cinta sejati tante sayangnya bukan papa kamu, tapi papanya Doni. Kamu tenang aja ya Diva, tante yakin papa kamu orang baik dan gak mungkin juga dia akan menyakiti orang sebaik mama kamu. Lagi pula papa kamu sudah tahu jika tante masih hidup." ucap Mama Andini yang membuat Diva terkejut.
"Jadi papa udah tahu tan? Terus reaksi papa gimana?" tanya Diva.
"Biasa aja kok," bohong Mama Andini.
"Beneran tante? Apa mungkin perasaan papa ke tante udah gak ada. Dan sekarang papa udah mulai mencintai mama ya tante?" tanya Diva yang terlihat bahagia.
"Iya sepertinya begitu. Sudah ya jangan sedih lagi, nanti Doni khawatir lihat kamu sedih."
"Mana mungkin Kak Doni khawatir tante. Mau Diva nangis, mau Diva marah, mau Diva pergi juga Kak Doni gak akan peduli. Tapi anehnya Diva malah merasa tertantang tante,hehehe," jawab Diva.
"Beneran kamu tertantang? Gak pernah ngeluh atau sedih dan curhat sama diri sendiri?"tanya Andini dan membuat Diva terdiam.
"Enggak kok tante," jawab Diva yang berusaha membohongi perasaanya.
Mama Andini seketika memeluk Diva yang terlihat menutupi kesedihannya.
"Makasih ya Diva, karna kamu sudah membuat Doni tersenyum selama tante pergi dari dia. Kamu tenang aja, dibalik sikap acuh dan dinginnya sama kamu, tante tahu jika Doni sudah mulai mencintai kamu. Hanya saja dia masih gengsi mengakuinya. Buktinya tadi dia panik saat tahu kamu gak ada di meja makan. Sekarang ayo kita masuk, pasti Doni udah nungguin kamu."
"Yang bener tante? Kak Doni tadi panik?" tanya Diva dan langsung mendapat anggukan kepala dari Mama Andini.
"Sudah ayo kedalam sayang, ada yang mau tante bicarakan sama kamu dan Doni," ucap Mama Andini.
"Soal apa tante?"
"Soal rencana pernikahan kalian. Karna tante pengen kalian segera menikah." jawab Mama Andini sembari menarik tangan Diva untuk masuk ke dalam rumah.
Namun saat hendak masuk, tiba tiba langkah Diva terhenti.
"Kenapa Diva?" tanya Mama Andini yang langsung di sambut pelukan Diva.
"Tante, makasih ya. Pantes aja papa susah lupain tante, hati tante baik banget dan tante juga orang yang penuh perhatian. Walau baru kenal sebentar sama tante, Diva udah sayang banget sama tante," ucap Diva sambil menangis dalam pelukan Mama Andini.
"Cup cup cup, udah dong jangan nangis. Nanti tante malah ikut nangis ini. Tante juga sayang banget sama kamu nak. Hati kamu begitu tulus seperti mama kamu. Makanya gak susah buat Doni mencintai kamu. Dan tante berharap secepatnya kamu menikah dan masuk ke keluarga ini ya. Yaudah ayo masuk, kasihan semua pasti udah nungguin kita," ucap Mama Andini.
"Iya tante," jawab Diva.