My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Tergoda



Ditempat lain, Doni sedang berada di restoran mewah bersama Tanisha. Duduk berdua sembari mendengar alunan musik diruangan tersebut.


Wajah Tanisha nampak berseri seri, apalagi Doni yang ia kenal dulu sangat jauh berbeda dengan Doni yang sekarang. Ia terlihat dewasa, berwibawa dan tentunya lebih tampan.


"Harusnya dari dulu aku dengerin saran mama buat nerima Doni bukan Justin. Cinta Doni sama aku jauh lebih tulus daripada Justin," Tanisha berbicara dengan hatinya sendiri sambil mengamati wajah laki laki di hadapannya sekarang.


"Sha, kamu kenapa? Kok dari tadi aku lihat kamu selalu menatap kearahku?" tanya Doni.


"Gak papa Don, aku hanya baru sadar aja jika kamu itu tipe laki laki idaman wanita. Dan bodohnya aku dulu tidak menerimamu," Tanisha sungguh membuat hati Doni dag dig dug gak jelas.


Uhukk.. Uhukk...


Doni seketika tersedak saat Tanisha yang tak pernah memuji dirinya, tiba tiba melempar rayuan maut padanya.


"Don, kamu gak papa?" tanya Tanisha.


"Oh gak papa."


"Eh iya Don, katanya kamu mau cerita soal sekretaris kamu yang namanya Diva. Sepertinya kamu dan Dia begitu dekat ya Don?"


"Bukan hanya dekat Sha, tapi dia wanita yang istimewa buat aku," jawab Doni sambil membayangkan wajah Diva.


Doni lalu bercerita soal Diva pada Tanisha. Dan entah kenapa, Tanisha yang sedang duduk di hadapan Doni merasa kesal. Hatinya panas ketika Doni bercerita tentang Diva. Kenapa?Tanisha bertanya tanya pada hatinya sendiri.


Dengan setia Tanisha mendengar seluruh cerita Doni, hingga akhirnya kemarahan di hati Tanisha memuncak saat Doni menceritakan tentang pernikahannya bulan depan.


"What? Kamu mau menikah Don?" Tanisha menyela pembicaraan Doni, berharap menghentikan cerita itu.


"Ya Tanisha, aku sadar jika Diva itu sangatlah berarti untukku."


"Tapi bukannya kamu.."


Belum selesai bicara, Doni sudah mengajaknya pulang. Ia sudah tak sabar menelpon kekasih hatinya yang sedari tadi sore ia tinggalkan.


"Sha, pulang yuk. Udah malam. Jalan jalannya lanjut besok lagi aja ya," ajak Doni.


"Hmmm, baiklah Don. Tapi janji ya, besok kamu ajak aku jalan jalan."


"Oke, besok aku ajak Diva dan Mickael juga."


"Janganlah Don, gak enak kalau ada pacar kamu. Nanti malah suasannya jadi gak enak," harap Tanisha.


"Okelah. Aku juga gak mau sih kalau Diva cemburu nantinya. Apalagi dulu aku sempat menyukaimu. Diva belum tahu semuanya Sha."


Tanisha tersenyum. Ternyata orang yang dicintai Doni sekarang, belum tahu tentang siapa dirinya. Apalagi itu semua membuat keyakinan Tanisha kembali muncul.


"Biarpun kamu bilang cinta kamu buat Diva, tapi aku masih yakin Don kalau kamu sebenar bukan mencintai dirinya tapi aku. Karna dulu dia datang saat kamu kecewa dengan aku. Tapi aku sudah kembali Don, dan aku akan kembali masuk kedalam hati kamu," batin Tanisha.


Sesaat kemudian mobil Doni sudah tiba di depan hotel.


"Thanks ya Don, buat makan malam hari ini," ucap Tanisha.


"Sama sama Sha. Aku sudah menganggap kamu sahabatku sendiri. Dan selama kamu disini, aku akan menjadi guide setiamu."


"Hahahaha, makasih ya Don. Harusnya dari dulu aku memilih kamu Don, bukan Justin. Jujur Don, aku..."


"Sudah ya Sha, itu sudah berlalu. Aku sekarang sudah mempunyai Diva, dan aku yakin nantinya kamu juga akan mendapatkan pengganti Justin."


Suasana seketika hening, candaan yang dari tadi terjadi di dalam mobil tiba tiba hilang. Tanisha pun langsung memeluk Doni. Hatinya berkata jika ia harus mengambil lagi apa yang sudah menjadi miliknya sekarang.


"Sha, lepas ya. Udah jangan nangis lagi. Mana Tanisha yang aku kenal dulu?" tanya Doni sembari melepas tangan Tanisha yang memeluk dirinya erat.


"Eh maaf Don, maaf."


"Iya gak papa. Sekarang udah malam kamu masuk ke hotel terus istirahat ya."


Sebelum pergi, Tanisha tiba tiba mencoba mencium bibir Doni. Ya meskipun Doni sudah tidak mencintai Tanisha, namun laki laki mana yang tidak mau mendapat ciuman dari seorang wanita.


Doni hanya diam saat Tanisha mencium dirinya. Melihat tak ada penolakan dari Doni, Tanisha berusaha memperdalam ciuman itu.


"No Sha," Doni melepas bibir yang mulai membuat tubuhnya memanas saat ini.


"Why Don? Diva gak tahu, apa yang kamu takutkan?"


"Tapi Sha...," ucapan Doni seketika terputus saat bibir Tanisha kembali mendarat di bibirnya.


Doni yang semula hanya diam, kini mulai ikut membuka mulutnya. Bahkan tangan Tanisha membawa tangan Doni untuk menyusup kedalam bajunya.


Suara desahan Tanisha, membuat nafsu berani Doni meronta. Apalagi baru pertama kalinya ia merasakan dua barang kenyal milik wanita.


"Don, masuk ke hotelku yuk," bisik Tanisha sambil menggigit telinga Doni.


"Tapi Sha, aku belum pernah melakukannya," jawab Doni dengan nafas yang sedikit ngos ngosan sambil terus menciumi leher jenjang Tanisha.


"Nanti akan mengalir seperti air Don. Ahh.. Don," Tanisha berusaha mengeluarkan jurus maut agar Doni mau mengikuti kemauannya.


"Hmmm, baiklah Tan. Aku juga sudah tidak tahan Sha," Doni seakan sudah hilang akal, dan tangan nakalnya kini mulai masuk kedalam bagian bawah Tanisha.


"Tunggu Don, sabar. Kita lakukan didalam ya."


"Sha, kamu itu."


Tanisha tersenyum licik melihat wajah Doni yang seperti cacing kepanasan. Dan kini mobil Doni mulai masuk kedalam basement hotel.


Seperti seorang kucing yang mendapat ikan, Doni pun tak menolak. Kesetiaannya pada Diva seakan musnah. Apalagi kini orang yang bersamanya itu Tanisha, wanita yang dulu amat ia cintai.


Dan kini mereka mulai berjalan masuk menuju kamar hotel Tanisha. Doni melingkarkan tangannya di pinggang Tanisha, dan sesekali mencium belakang telinganya.


"Diva, lihatlah calon suami kamu itu hanya mencintai aku. Kamu sudah mengambil Doni dari aku, dan malam ini aku akan mengambil Doni dari kamu," umpatnya di dalam hati.


Saat tiba di depan kamar, tiba tiba wajah Diva melintas di dalam lamunan Doni. Ia pun hendak pergi dari hotel itu.


"Sha aku pulang aja ya," Doni kembali membalikkan badan dan hendak melangkah pergi. Namun sayangnya tangan Tanisha menariknya, membawanya masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.


"Nanggung Don kalau kamu pulang. Memangnya kamu gak mau kalau tubuh kita bersatu?" Tanisha berusaha menggoda Doni sambil melepaskan satu per satu kencing bajunya.


"Tapi Sha.."


Tanisha melancarkan aksinya. Menciumi setiap inci tubuh Doni dan melempar tubuh Doni keatas ranjang.


"Don, aku mencintai kamu," bisik Tanisha hingga membuat mata Doni membulat.


"Sejak kapan Sha?"


"Sejak saat ini Don," jawab Tanisha yang mulai menanggalkan pakaiannya di hadapan Doni.


Doni menelan slivanya, melihat tubuh Tanisha yang hanya tinggal menutupi bagian atas dan bawahnya.


Jiwa laki laki Doni membara, ia meraih tubuh Tanisha dan mulai menikmatinya hingga malam panjang itu terjadi sudah. Doni membuat Tanisha merasa menang atas Diva.


"I love you Don," ucap Tanisha diakhiri pelepasan mereka.


Tak menjawab Doni hanya tersenyum sambil sekilas bibir Tanisha.


"Maafin kak Doni, Diva. Aku janji ini malam pertama dan malam terakhir buat aku dan Tanisha. Karna buat aku, cuma kamu cintaku sesungguhnya." gumam Doni dalam hati.


Di rumahnya Diva berusaha terus menghubungi Doni.


"Kak, kamu dimana? Kok sampai jam 12 belum ada kabar? Aku khawatir sama kamu kak," Diva berkata sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.