
"Kenapa kamu kaget kayak gitu. Ayo buruan anter aku ke tempat Cindy." gertak Andini.
"Cindy udah pindah ke Perancis ikut Reva, suaminya." sahut Nabilla yang kini sudah berada di belakang Andini.
Emosi Andini memuncak. Ia mengira jika Nabilla dan Aldo sedang mengkambing hitamkan sahabatnya.
"Jadi kalian nyalahin Cindy supaya kalian aman karna Cindy udah gak ada di Indonesia? Bagus ya trik kalian. Seharusnya aku udah tahu kalu ini hanya cara kalian menutupi kesalahan kalian. Terima kasih untuk waktunya Nabilla, aku pamit." ucap Andini yang berjalan keluar rumah Nabilla.
Tanpa pamit Aldo mengejar Andini yang berlari keluar. Aldo menarik tangan Andini, dan langsung memeluknya.
"Please din, jangan pergi lagi. Gimana caranya aku buktikan ke kamu kalau memang gak ada wanita lain di hatiku selain kamu. Aku sangat mencintai kamu din. Tolong maafkan aku." ucap Aldo terisak.
"Aku akan maafkan kamu tapi dengan satu syarat."
"Apa din, aku akan lakukan semuanya untuk kamu." kata Aldo sembari menatap mata Andini.
"Aku ingin kita bercerai. Aku rasa percuma bertahan di rumah tangga yang selalu penuh dengan kesalah pahaman dan kecurigaan. Dan maaf hatiku sudah tidak bisa menerima kamu kembali. Aku hanya ingin di sisa umurku nanti aku hidup bahagia bersama doni, mama dan papa. Tidak dengan kamu." jawab Andini tegas.
Seketika pegangan Aldo di pundak Andini ia lepaskan. Wajahnya tertunduk lesu. Yang ia rasa saat ini perasaan kehilangan yang sesungguhnya.
"Din, jangan minta itu dari aku. Aku gak bisa."
"Tapi permintaanku hanya itu. Pikirkan semuanya, karna aku mau pulang. Kamu gak udah repot repot nganterin aku, aku bisa pulang sendiri. Oh iya satu lagi. Aku minta tolong ke kamu, besok aku akan menemui doni, mama dan papa di rumah. Jadi tolong kamu buat mereka jangan pergi, karna aku akan segera menemui mereka." ucap Andini sambil berjalan masuk ke dalam taksi online yang sudah ia pesan.
Namun tiba tiba dari belakang Nabilla menepuk pundak Aldo dan menenangkannya.
"Lepaskan dia Al. Andini sudah cukup menderita bersama kamu. Biarkan dia cari kebahagiannya sendiri. Cinta kan memang tak harus memiliki. Melihatnya bahagia itu akan membuatmu juga bahagia. Dan bukankah dia sudah kembali? Kamu masih bisa memandanginya kan walau dari jauh." ucap Nabilla.
Aldo menoleh sekilas tanpa menjawab perkataan Nabilla. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan menuju perusahaan Doni.
Setibanya di kantor, Aldo langsung menemui putranya di dalam ruangan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." ucap Doni.
Papa Aldo bergegas masuk menemui doni.
"Papa, darimana aja sih pah. Doni telpon dari tadi gak diangkat?" tanya Doni.
"Papa ada urusan di luar sebentar. Oh iya Don, nanti malam bisa makan malam di rumah? Karna akan ada tamu spesial nanti malam?" ucap papa Aldo.
"Siapa pah? Jangan bilang papa mau ngenalin pacar papa. Doni gak mau, sampai kapanpun Doni gak rela ada yang menggantikan mama Andini." jawab Doni tegas.
"Bukan, sudahlah datanglah. Kalau pun itu pacar papa, mana mungkin papa bawa dia ke rumah nenek dan kakek kamu."
"Oke, nanti Doni akan ajak Diva juga."
"Baik nak. Sekarang papa mau keluar menjemput dia."
"Siapa sih yang papa maksud?" tanya Doni sambil menarik lengan papanya.
"Nanti kamu juga akan tahu." jawab papa Aldo sambil melepaskan tangan doni.
**********
Di apartemennya Andini masih terus menangis di atas ranjangnya. Walau ia berusaha meminta Aldo menceraikannya, hati kecilnya menolak untuk berpisah dengan suaminya. Rasa cintanya untuk Aldo dari dulu tak pernah berubah.
Tak lama kemudian ada bel berbunyi, Andini bergegas membukakan pintu. Dan ia kaget melihat Aldo sudah berdiri di depan.
"Ngapain lagi kamu kesini?" tanya Andini tanpa melihat wajah Aldo.
"Ayo pulang, rumah kamu bukan disini. Kamu masih punya rumah. Mama, papa dan doni sudah menunggu kamu di rumah."
"Maksud kamu apa?kamu sudah cerita ke mereka tentang aku?"
"Belum din, aku gak berhak cerita. Kamu sendiri yang harus menjelaskan ke mereka. Aku sudah meminta doni untuk makan malam dirumah. Jadi ayo aku antar kamu ke mereka." ajak Aldo sambil menarik tangan Andini.
"Tapi Al, aku belum siap bertemu dengan Doni. Dia pasti akan marah dan benci sama aku."
"Doni gak akan pernah benci sama kamu. Karna semua ini kesalahanku. Dia akan membenciku bukan kamu. Dan memang dari awal Doni sudah membenciku, jadi aku sudah terbiasa dengan sikap dinginnya. Sekarang kamu ambil tas dan jaket kamu, dan aku antar kamu ke rumah kamu. Kamu tenang saja, aku gak akan pernah kembali ke rumah itu. Aku sudah memutuskan untuk pulang ke apartemenku." ucap Aldo.
Mereka berdua kini menuju rumah orang tua Andini. Namun kali ini selama perjalanan, Aldo lebih banyak diam. Entah kenapa Andini merasa Aldo sedang memikirkan sesuatu.
Hingga akhirnya mobil Aldo sudah berhenti di depan rumah orang tua Andini.
"Turunlah din, mereka pasti akan bahagia melihat kamu masih hidup." ucap Aldo dengan tatapan kosong.
"Kenapa kamu gak turun? Kamu takut karna yang bikin aku pergi itu kamu?" ucap Andini sinis.
"Aku bukan takut, hanya saja aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan papa dan doni. Lagi pula aku mau kerumah pengacaraku. Dan aku sudah memikirkan aku akan mengabulkan permintaanmu. Besok surat gugatan cerai itu sudah aku kirim ke rumah. Kamu tinggal tanda tangani saja. Dan setelah itu kamu sudah bebas untuk mencari kebahagian kamu. Aku sadar, aku bukan suami yang baik buat kamu. Dan aku gak pantas mendapat balasan cinta kamu. Turunlah din." ucap Aldo sambil memejamkan matanya.
Air mata Andini jatuh satu per satu. Ia dapat merasakan perasaan suaminya saat ini.
"Al, lihat aku." panggil Andini.
Aldo pun menoleh dan menatap wajah istri yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya.
"Apa din?"
"Temani aku masuk ke dalam." pinta Andini.
"Buat apa Din?"
"Karna aku sudah putuskan untuk memaafkan kamu. Entah kenapa perasaanku berkata kamu gak salah. Semua ini diluar kehendak kamu. Dan semua orang pantas kan mendapatkan kesempatan kedua." jawab Andini sembari tersenyum ke arah Aldo.
"Tidak din, percuma saja kita kembali jika nanti papa, mama dan doni akan membenciku. Bagaimana pun aku sudah membuat kamu pergi meninggalkan mereka selama ini. Sudah tidak ada maaf lagi buat aku bagi mereka jika mendengar alasan kamu nanti." jawab Aldo.
"Enggak Al, permasalahan itu hanya akan menjadi rahasia kita. Gak cuma kamu yang salah, aku juga salah. Seharusnya aku mencari tahu semuanya dulu dan menanyakannya sama kamu. Bukan asal berspekulasi sendiri. Dan aku akan mencari alasan kenapa aku pergi. Selama ini kamu sudah merasakan kebencian doni, dan aku gak mau doni akan semakin membenci kamu. Kita mulai lagi dari awal ya Al. " ucap Andini yang langsung disambut pelukan suaminya.
"Terima kasih Andini. Aku gak akan pernah lagi melakukan hal bodoh itu. Aku gak sanggup kehilangan kamu lagi. Jangan pergi lagi ya sayang."
"Iya Al, insyaallah aku ikhlas memaafkan kamu." jawab Andini yang mulai membalas pelukan Aldo.
"Entahlah keputusanku ini benar atau tidak. Tapi satu yang membuat aku mau memaafkan kamu al, karna aku masih sangat mencintai kamu dan aku yakin kamu juga. Dan Cindy, jika benar dia dalang semua ini, aku gak akan pernah memaafkan dia seumur hidupku." batin Andini.
Aldo pun melepas pelukannya, dan ia menatap wajah istrinya yang tak banyak berubah. Pelan pelan ia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Andini.
"Maaf Al, aku belum bisa." jawab Andini sambil memalingkan wajahnya.
"Baiklah din, aku akan menunggu kamu sampai kamu benar benar mau kembali aku sentuh." ucap Aldo sambil mengelus pipi Andini.