My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Pacar over protektif



"Pah, kak doni di panggil mama. Makanannya udah siap." teriak diva.


"Iya div, bentar."


"Om deva ayo kita ke meja makan."ajak doni.


"Iya doni. Kamu duluan ya. Om mau ke kamar dulu." jawab papa deva sambil berusaha menghapus air matanya.


"Iya om, yaudah doni duluan ya. Om jangan sedih lagi ya. Mama udah bahagia di surga, dan pasti mama juga ingin lihat om bahagia bersama tante disa disini." ucap doni.


"Makasih ya doni. Walau terkadang sikap kamu dingin, tapi hati kami itu baik seperti mama dan papa kamu. Makanya om ingin menjadikan kamu menantu om untuk menjaga diva." jawab papa deva.


"Insyaallah om, doni juga lagi belajar mencintai diva. Yaudah kalau gitu, doni nyusul tante disa, diva dan vida dulu ya om."


"Iya doni, bilang ke tante disa nanti om segera menyusul."


"Oke om." jawab doni sembari berjalan pergi ke meja makan.


Sesampainya di meja makan, diva meminta doni untuk duduk lalu ia mangambilkan makanan untuk doni. Dan sikapnya itu membuat vida dan mamanya hanya tersenyum.


"Ciyee, belajar menjadi seorang istri ya kak?" goda vida.


"Mulai lagi ya ngajak berantem." sewot diva.


"Udah udah, vida jangan suka bikin kak diva malu. Harusnya kamu itu seneng karna kakak kamu akhirnya punya pacar. Apalagi pacarnya ganteng dan baik kayak doni. " ucap mama disa.


" Mama, sebenarnya mama itu belain diva apa malah juga ikut ngeledek diva sih."


"Hahahaha, habis kak diva lucu. Dimana mana yang berjuang duluan itu cowoknya, lah ini malah ceweknya. Kelihatan banget kak kalau loe itu gak laku." ucap vida hingga membuat emosi diva kembali.


"Vida!!!!!!" teriak diva.


Merasa kakak dan adik ini kembali bersitegang, doni kemudian mengajak diva keluar rumah.


"Udah div, kamu itu seorang kakak. Kakak itu harus ngalah sama adiknya. Daripada kakak lihat kalian berantem, mending kamu bantuin kakak ambil oleh oleh yang masih ketinggalan di mobil kak doni. Ayo div." ajak doni sembari menggandeng tangan diva.


"Iya kak."jawab diva sambil menjulurkan lidah ya ke arah vida.


Di saat doni mengajak diva keluar, mama disa berusaha menasihati vida untuk tidak terus berkelahi dengan kakaknya.


Tak berapa lama doni dan diva kembali ke ruang makan. Papa deva yang tadi belum tiba, kini juga sudah berada disana.


"Kalian darimana?" tanya papa deva.


"Ini pah, tadi kak doni beliin beberapa pakaian kantor buat diva. Dan gak tau yang tiga kantong ini apa kak?" tanya diva.


"Oh ini, doni tadi keringat om, tante sama vida. Makanya doni juga beli buat kalian. Semoga suka ya om, tante, vida."ucap doni sambil menyerahkan beberapa kantongnya.


Papa deva, mama disa dan vida pun langsung membuka isi tas pemberian doni.


"Ya ampun kak, sweeternya bagus banget." ucap vida.


"Iya, tas mama juga bagus nih. Makasih ya doni." ucap mama disa.


"Iya, kemeja batiknya juga bagus. Doni makasih ya, malah jadi ngerepotin kan kalau gini." sahut papa deva.


"Enggak kok om, doni malah seneng. Doni ngerasa punya keluarga yang utuh. Makasih ya om, tante, doni udah dianggap seperti anak di keluarga ini."


"Kamu itu juga bagian dari keluarga kami doni. Apalagi nanti jika kamu beneran berjodoh dengan diva,itu berarti kamu akan menjadi anak om dan tante." jawab papa deva.


"Iya kak, makanya kak doni buruan halalin diva ya." ucap diva hingga membuat doni tersedak.


Uhhhukk.. Uhhhukk...


"Kak doni gak papa?" tanya diva sambil memberikan segelas air pada doni.


"Gak papa kok div." jawab doni.


"Elo sih kak, baru aja resmi jadi pacar udah minta di halalin aja. Mending kakak mikir buat tes lusa." sahut vida yang mendapat lirikan tajam dari diva.


Beberapa saat berlalu, doni pun hendak pulang kerumah.


"Om, tante, doni pamit pulang dulu ya. Udah malam." ucap doni sambil mencium tangan papa deva dan mama disa.


"Iya doni hati hati ya." jawab mama disa.


"Kak doni, besok jadi gak?" sahut diva yang berusaha mengingatkan doni untuk rencana liburannya.


"Oh iya div, kakak malah hampir lupa." jawab doni.


"Emang kalian mau kemana nak?" tanya papa deva.


"Iya kak, gue ikut dong." imbuh vida yang sudah mrngerucutkan bibirnya.


"Itu om, tante, vida. Doni mau ngajak semuanya buat liburan ke villa papa. Nanti doni juga ngajak oma, opa, papa, kakek, dan nenek. Om deva dan tante disa bisa ikut kan?" tanya doni.


Papa deva hanya diam dan terlihat memikirkan sesuatu hingga mama disa membuyarkan lamunan papa deva.


"Pah, kok diem. Itu doni nungguin persetujuan kita. Kita ikut ya pah?" pinta mama disa.


"Iya pah, bisa ya pah. Vida pengen ikut." rengek vida.


"Iya don, besok om, tante dan vida juga ikut. Memang kita mau berangkat jam berapa?" tanya papa deva.


"Jam 3 an ya om." jawab doni.


"Oke don."


"Kalau gitu om, tante, vida, diva doni pamit dulu ya." pamit doni.


"Iya doni." jawab papa dan mama kompak.


"Kak, diva anter kedepan ya."


"Pah, mah, diva anter kak doni dulu ya."


"Iya sayang." jawab mama disa.


Diva dan doni pun berjalan keluar gerbang. Namun saat doni hendak masuk ke mobilnya, ponsel diva berbunyi dan ternyata reyhan yang menghubungi diva.


Kriiiingg..


Suara ponsel diva.


"Kak doni, diva angkat telfon dulu ya." ucap diva.


"Emang dari siapa?" tanya doni dengan suara sedikit kesal.


"Dari reyhan kak, paling mau nanya soal tadi sore." jawab diva dan ponselnya pun langsung diambil oleh doni.


"Hallo div, gimana gue kerumah loe sekarang atau besok buat minta ijin sama bokap nyokap loe?" tanya reyhan.


"Ini bukan diva, ini gue pacarnya. Besok diva gak ikut, jadi loe gak perlu datang kesini. Mengerti!" tegas doni.


"Maaf ini siapa ya? Apa gue salah pencet nomor ya. Tapi ini kan nomor diva,sahabat gue. Dan yang gue tahu dia belum punya pacar. Atau loe cowok yang tadi siang nganterin diva ke kampus ya?"


"Udah jangan banyak bicara. Intinya besok diva gak ikut, dan asal loe tahu,mulai hari ini diva sudah punya kekasih dan itu gue." jawab doni yang langsung mematikan ponsel diva.


Wajah doni kini berubah menjadi menyeramkan hingga diva pun tidak berani untuk meminta ponselnya yang masih ada ditanya doni.


"Diva.."panggil doni.


"Iya kak, ada apa? Kok tadi kak doni asal ngambil ponsel diva sih." ucap diva dengan nada yang sedikit kesal.


"Kenapa? Kamu gak suka kakak bilang kayak gitu tadi sama temen kamu? Kamu lupa kakak ini siapa sekarang?" tanya doni sambil menatap tajam mata diva.


"Enggak kok kak." bohong diva sambil memalingkan wajahnya.


"Hari ini ponsel kamu kakak yang bawa, baru besok kakak kembalikan ke kamu kan besok kita akan pergi ke puncak."


Diva yang semula membuang mukanya dari hadapan doni, kembali menghadap wajah doni dengan raut wajah yang menahan marah.


"Apa kakak bilang? Kenapa ponsel diva disita kak doni sih? Diva kan bukan anak kecil lagi." gerutu diva.


"Ya kakak mau ngecek aja, apa bener kamu gak deket sama cowok mana pun. Dan kenapa kamu malah marah cuma karna kakak pinjem ponsel kamu sehari? Apa jangan jangan emang kamu udah punya cowok ya?" tanya doni penuh mata menyelidik.


"Kakak gak percaya sama diva? Beneran kak, diva gak punya hubungan sama siapapun. Semua itu cuma temen kak."jawab diva.


"Yaudah ini kakak kembaliin, tapi kakak udah gak bisa lanjutin hubungan kita. Kakak gak suka punya pacar yang gak mau patuh sama kakak." ucap doni yang hendak masuk ke dalam mobil nya.


"Apa?? Gak, gue aja udah susah payah bikin gak doni mau jalani hubungan ini. Dan baru sehari mau putus gitu aja. Ternyata kak doni over protektif juga ya jadi cowok. Ya seneng sih do cemburuin, tapi bete juga kan gak bisa main sosmed kalau gak ada handphone." batin diva.


Akhirnya diva dengan cepat menutup kembali pintu mobil doni sambil menarik tangan doni.


"Kak, jangan gini dong. Iya gak papa deh handphone diva kakak bawa. Diva ikhlas kok. Mau seminggu pun gak papa."


Mendengar ucapan diva, dalam hati doni saat ini tertawa. Ia berhasil membuat diva untuk menjaga jarak dengan lelaki manapun.


Doni tidak mau jika kebaikan diva akan disalah artikan oleh teman teman yang memiliki perasaan lebih pada dirinya.


"Hmmm, yakin ikhlas?" tanya doni.


"Iya kak, ikhlas banget. Tapi kak doni gak boleh marah lagi ya." jawab diva dengan memperlihatkan puppy eyesnya.


"Hahaha, muka kamu jangan melas gitu. Kakak jadi gak tega. Ini kakak kembaliin handphone kamu. Tadi tuh kakak cuma ngetes kamu aja kok." ucap doni sambil mengacak rambut diva.


Namun karna diva memaksa doni untuk membawa ponselnya, akhirnya doni pun membawa ponsel diva.


"Kalau gitu kakak pulang dulu ya, jangan tidur malem malem."


"Oke my beloved and my brother. Love you." ucap diva.


"Love you too." jawab doni sambil mencium kening diva hingga membuat diva membulatkan matanya.


Doni kemudian masuk kedalam mobilnya dan ia pun langsung melajukan mobilnya. Sedangkan diva masih diam terpaku sambil memegang keningnya.


"Gue gak lagi mimpi kan, tadi kak doni juga bilang cinta sama gue, sambil nyium kening gue. Ya ampun,gue gak nyangka ternyata cinta gue cepet banget terbalasnya." batin diva.


Sedangkan di dalam mobilnya, doni juga masih bingung dengan apa yang baru saja ia ucapkan pada diva.


"Kenapa gue kok malah cium diva dan bales ungkapan cinta diva. Ada apa sama gue? Apa yang gue lakuin tadi. Pasti sekarang diva udah mikir kalau gue punya perasaan yang sama. Padahal gue sendiri belum yakin. Karna bayangan tanisha terkadang masih muncul. Gue gak mau jadiin diva cinta sesaat gue,hanya karna gue kecewa melihat tanisha yang akan bertunangan dengan justin." gumam doni sambil foto diva yang dijadikan walpaper di ponselnya.