My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Dalang Sesungguhnya



Malam ini sesuai undangan Deva dan Disa, Aldo dan Andini datang ke kediaman Devano. Dan saat mobil mereka masuk ke kediaman Devano, sudah ada mobil mewah berwarna hitam terparkir disana.


Raut wajah Andini seketika berubah menegang, jantungnya bergerak kencang. Antara rasa ingin tahu dan rasa takut menerima kenyataan. Aldo yang sudah memarkirkan mobilnya, sekilas melihat Andini dengan tatapan kosong.


"Din, ayo turun. Kita sudah sampai," ucap Aldo.


Andini langsung menoleh kearah Aldo.


"Al, kenapa kamu terlihat tenang? Memang kamu siap jika nanti aku tahu kebenarannya jika kamulah yang berbohong dan berkhianat?" tanya Andini.


Sambil membuang nafasnya, Aldo menggenggam kedua tangan Andini.


"Buat apa aku takut Din, karna memang aku dan Nabila saat itu melakukannya tanpa sadar. Aku berani karna aku gak salah Din. Dan jika ini memang Cindy yang melakukannya, berarti ada orang lain yang menjebak kami. Tapi pastinya kamu berfikir aku akan berbohong, jadi aku sudah pasrah Din. Karna suatu saat kebenaran akan terungkap juga. Sudahlah ayo masuk Din, bukankah hari ini adalah hari yang kamu tunggu," ucap Aldo.


Namun saat Aldo hendak keluar dari mobil, Andini dengan cepat menarik tangan Aldo.


"Al, kita pulang aja ya. Aku belum siap tahu kebenarannya," ucap Andini yang membuat Aldo kembali menatap dirinya.


"Din, kenapa kamu yang jadi takut?Ayo masuk, biar semua jelas. Biar kamu tahu jika malam itu sebenarnya Cindy juga hendak ikut ke kantor. Jadi kamu bisa percaya jika aku gak berbohong. Ayolah Din masuk," ucap Aldo.


Dengan air mata yang mengalir deras, Andini memeluk Aldo dengan erat.


"Al, kenapa ujian rumah tangga kita begitu berat. Kenapa Al? Jujur, aku sangat mencintai kamu Al, tapi aku juga gak bisa menerima jika kamu mengkhianati aku. Walaupun kita menikah karna perjodohan, tapi kamu sudah masuk kedalam hatiku yang paling dalam. Aku sudah berusaha melupakan kamu selama 20 tahun ini, tapi perasaan ini tetap sama Al," ucap Andini.


Aldo lalu melepas pelukan Andini dan memegang kedua pundak Andini. Matanya melihat jelas ketakutan dari mata Andini. Dan dengan suara pelannya, Aldo berusaha memberi penjelasan pada istrinya.


"Sayang, perasaan kamu dan aku itu sama. 20 tahun ini aku sama sekali gak bisa buka hati untuk wanita lain. Cintaku masih sama pada kamu Andini, gak ada yang berubah. Kalau ujian rumah tangga ini berat bagi kamu, aku akan selalu menopangnya di samping kamu. Karna akulah kepala rumah tangganya. Jadikan semua pelajaran ya sayang. Jika ada sesuatu yang menurut kamu aku salah, langsung tanyakan sama aku. Sekarang, ayo kita masuk. Pasti Deva dan Disa sudah menunggu kita didalam," ajak Aldo.


"Iya Al," jawab Andini.


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah Deva, sedangkan terdengar suara Cindy dan Reva yang sedang bersendau gurau bersama.


Aldo yang terlebih dulu sampai ke meja makan, membuat Cindy dan Reva seketika terkejut melihat kedatangannya.


"Ayo Al, duduk," ucap Deva sembari memeluk Aldo.


"Iya Dev," jawab Aldo.


"Hai Al, apa kabar? Masih ganteng aja loe, sama sekali gak berubah. Walau udah kepala 4 masih kelihatan muda," ucap Cindy yang mendapat lirikan dari Reva.


"Bercanda sayang, gimana pun tetap suamiku yang paling ganteng dong," ucap Cindy sembari memeluk pundak Reva.


"Kamu Cindy, masih saja suka menggoda Aldo," ucap Disa sambil menggelengkan kepalanya.


"Hahahaha, salah sendiri dia gak nikah nikah. Masih aja betah menduda. Oh iya Al, Doni gak ikut?" tanya Cindy namun Aldo masih saja diam.


"Doni pergi sama Diva Cin," sahut Deva.


"Oh, yaudah ayo duduk Al. Udah lama kan kita gak mengobrol bareng," ajak Cindy.


Belum sempat Aldo memanggil istrinya, Andini mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruang makan yang membuat Cindy dan Reva semakin kaget.


"Hai Cin, Kak Reva," sapa Andini dan seketika membuat mereka langsung beranjak dari kursinya.


"Aaa..aaan..andini..," lirik Cindy dan Reva.


"Iya ini aku Andini, gimana kabar kalian?"


Cindy dan Reva yang masih bingung dan tak percaya hanya menganga melihat kehadiran Andini. Sambil berjalan pelan pelan, Cindy mendekat kearah Andini.


"Din, ini beneran kamu? Tapi bukannya kamu sudah meninggal?" tanya Cindy sembari melihat dari ujung kepala hingga ke ujung kaki Andini.


"Ceritanya panjang Cin," jawab Andini.


Semua kini mulai memakan makanan yang sudah disajikan. Sedangkan arah pandangan mata Cindy selalu menatap Andini. Ia benar benar tak percaya jika sahabat yang sudah 20 tahun ia anggap meninggal, ternyata masih hidup.


"Din, selama ini kamu kemana? Terus siapa yang kita makamkan dulu? Wajahnya sama dengan kamu loh Din. Apa benar kamu andini?" tanya Cindy bertubi tubi.


"Cindy, tanyanya nanti aja ya. Kita kan lagi makan," sahut Deva.


"Oh iya, tapi apa Dita dan Anez udah tau soal ini?"


"Belum Cin, tapi sebentar lagi kan ada acara reunian kan? Nanti aku mau kasih kejutan aja sama mereka," ucap Andini.


"Oh iya ya."


"Cin, sehabis makan apa boleh aku minta waktu kamu sebentar? aku pengen mengobrol berada sama kamu. Kan sudah lama kita gak cerita bareng," pinta Andini.


"Boleh dong Din, aku juga udah kangen banget sama kamu," jawab Cindy.


Selesai makan, Andini mengajak Cindy untuk pergi ke taman depan. Awalnya Aldo ingin ikut bersama mereka, namun Andini hanya meminta waktu berdua saja dengan Cindy.


Sesampainya ditaman, Cindy pun memeluk Andini.


"Din, kamu kemana aja selama ini? Apa ada yang menculik kamu beb? Tapi aneh banget beb, yang dikuburin itu sama banget mukanya sama kamu."


"Iya Cin, dia adik Dokter William dan memang aneh sih mukanya memang mirip banget dengan aku," jawab Andini.


"Hah? Jadi ini semua ulah Dokter kamu itu? Bukannya itu temannya Deva ya? Tapi kok bisa Deva gak tahu, atau jangan jangan yang menyembunyikan kamu itu Deva dan Dokter itu ya?" tanya Cindy kembali.


"Enggak Cin, udah ceritanya kapan kapan aja ya. Soalnya ada hal penting yang ingin aku tanyakan sama kamu. Dan ini menyangkut rumah tangga aku dan Aldo," ucap Andini yang sekejap membuat raut wajah Cindy memucat.


"Soal apa Din?" lirih Cindy pelan.


Andini kini duduk menghadap ke Cindy dan menatap kedua bola mata Cindy dengan tajam.


"Cin, apa bener malam minggu saat aku gak bisa pulang ke Indonesia, dua hari sebelum aku operasi sebenarnya kamu dan Nabilla mau kekantor Aldo untuk minum? Dan tiba tiba kamu tidak datang, dan menitipkan wine pada Nabilla. Hingga terjadilah malam kelam itu?" tanya Andini.


Cukup lama diam, Cindy menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tahu itu Din. Memang malam kelam gimana maksud kamu?" ucap Cindy.


"Bener Cin, kamu gak tahu? Aku sudah menganggap kamu seperti saudaraku Cin. Aku benar benar menunggu kejujuran kamu. Entah mengapa perasaanku berkata, Aldo tidak bersalah. Tapi siapa yang sudah menjebak dia," kata Andini dengan tangisannya.


"Menjebak gimana maksud kamu din?" tanya Cindy dengan wajah polosnya.


Andini pun mulai menceritakan tentang video yang dikirim Vita padanya malam itu. Dan ia melihat di dalam video itu Aldo dan Nabila melakukan hubungan intim. Hatinya seketika hancur, namun anehnya hingga saat ini Aldo masih berkelak karna ia merasa dijebak.


Di akhir cerita, Andini semakin menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi itulah alasan aku pergi selama ini Cin, karna aku sakit hati menerima kenyataan tentang Aldo dan Nabila. Dan sekarang aku tambah sakit hati karna hingga detik ini Aldo masih berbohong sama aku. Dia bilang kamu sebenarnya ikut malam itu, tapi barusan kamu bilang kamu gak ikut. Ya sudah Cin, mungkin memang Aldo gak pernah mencintaiku dia hanya bisanya membuat goresan luka di hatiku," ucap Andini.


Tanpa disangka Andini, Cindy kini duduk bersimpuh dihadapan Andini.


"Andini, maafin aku din. Aku bukan sahabat yang baik buat kamu," ucap Cindy sambil berderai air mata.


"Cin, kamu kenapa begini. Ini bukan salah kamu. Aldo yang sudah berkhianat kenapa kamu yang meminta maaf cin. Ayo berdiri, ini semua bukan salah kamu," ucap Andini namun Cindy semakin duduk dikaki Andini.


"Ini semua ulah aku din, akulah orang yang menjebak Aldo dan Nabila. Akulah orang yang sudah mencampur minuman itu dengan obat perangsang. Aku orangnya Din, aku melakukan itu karna aku iri dengan kamu. Dan saat itu cintaku sama Aldo masih sama. Makanya aku ingin mengambil Aldo dari kamu jika kamu sudah berpisah dengan dirinya," ucap Cindy.


Hati Andini seperti tersambar petir, ia menghempaskan tangan Cindy dengan kasar dan bangkit berdiri.


"APA CIN? jadi kamu dalang semua ini?" tanya Andini dengan tatapan sinis.


"Maafin aku din, aku menyesal," ucap Cindy namun Andini langsung mendorong tubuhnya dan pergi meninggalkan Cindy.