My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Kekhawatiran Diva



Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mobil Doni kini berhenti di depan rumah Diva.


"Div, Kak Doni gak usah masuk ya. Salam aja buat om, tante sama Vida," ucap Doni sambil mengacak rambut Diva.


"Iya kak. Kak Doni hati hati ya di jalan," jawab Diva.


Sebelum pergi Doni mencium kening Diva. Dan setelah memastikan Diva masuk ke dalam rumah, Doni kembali menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi.


Saat berada di jalan, tiba tiba ada panggilan masuk di handphone dari Tanisha.


"Halo Sha, tumben loe telpon gue. Emang gak di marahi Justin?"


"Hai Don, kenapa whatsapp gue gak loe baper sih? Enggak, gue sama Justin udah putus."


"Apa? Bukannya kalian baru aja tunangan. Kok bisa putus?"


"Ceritanya panjang. Minggu depan gue balik ke Indonesia. Kita ketemuan yuk Don, gue pengen cerita banyak ke elo. Gue juga kangen banget sama loe."


"Sama Sha, gue juga kangen sama loe. Wah gue seneng bisa ketemu sama loe. Nanti loe telpon gue aja kalau udah sampai. Gue pasti bisa dan luangin waktu buat ketemu sama loe."


"Oke Don, sampai ketemu minggu depan ya."


"Oke Sha, See you."


Setelah mematikan panggilannya dengan Tanisha, Doni hanya senyum senyum sendiri karna mendengar kedatangan Tanisha. Namun disaat bersamaan tiba tiba ia teringat dengan Diva.


"Gue cerita nggak ya sama Diva soal Tanisha? Apa mending gak usah ajalah. Toh gue kan cuma ketemu teman lama, buat apa gue cerita. Nanti Diva malah salah paham. Tapi kenapa, disaat gue lagi belajar mencintai Diva, Tanisha malah putus sama Justin. Terus kenapa perasaan gue jadi bimbang gini. Gak mungkin kan gue ninggalin Diva demi Tanisha? Tapi jujur, gue masih menyimpan perasaan buat Tanisha. Dan gue gak bohong gue bahagia denger Tanisha putus sama Justin," batin Doni sambil mengacak rambutnya sendiri.


*************


Didalam rumahnya, Diva duduk sendirian di teras rumah sambil melamun melihat bintang binatang. Papa Deva yang hendak mencari angin keluar, melihat Diva yang duduk sendirian dan ia pun langsung menghampiri Diva lalu duduk di sebelahnya.


"Tumben sendirian di depan, lagi galau ya?" tanya Papa Deva.


"Sini cerita sama papa nak. Apa yang mengganggu pikiran kamu," ucap papa sembari merangkul pundak Diva.


Diva menyandarkan kepalanya di pundak papanya. Satu per satu butiran airmatanya jatuh.


"Pah, boleh Diva tanya sesuatu sama papa?" tanya Diva.


"Kamu mau tanya apa nak?"


"Pah, apa papa sudah tahu jika Tante Andini masih hidup? Tadi Tante cerita sama Diva, kalau papa sama Tante Andini udah ketemu."


"Iya nak, papa sudah tahu. Terus kenapa kamu malah terlihat sedih saat tahu mamanya Doni masih hidup?" tanya Papa Deva.


Diva melepas pelukan dari papanya. Sambil menarik nafas panjangnya, ia duduk menghadap ke papanya.


"Pah, apa perasaan papa sama Tante Andini masih sama? Apa perhatian papa nantinya akan berkurang sama mama setelah tahu jika Tante Andini masih hidup? Diva takut mama sedih pah," ucap Diva.


Namun belum sempat papanya menjawab, Mama Disa langsung menyahut ucapan Diva.


"Kamu gak perlu khawatirin mama nak. Mama percaya 100% sama papa. Dia buka tipe laki laki yang menyakiti hati seorang wanita. Papa sudah cerita semuanya sama mama. Dan itu yang membuat mama begitu percaya dan yakin sama perasaan papa kamu. Buktinya papa jujur kan nak sama mama, gak ada yang dia sembunyiin dari mama," sahut Mama Disa.


Mendengar jawaban dari mamanya, keraguan Diva tentang papanya seketika musnah. Ia langsung memeluk erat Papa Deva.


"Maaf ya pah, Diva sempet ragu sama papa. Ternyata papa udah gak punya perasaan sama mamanya Kak Doni. Harusnya Diva bisa berpikir jauh sebelum tanya ini sama papa. Diva bangga punya papa. Papa yang selalu sayang pada kami. Diva sayang sama papa," ucap Diva.


"Iya sayang," jawab Papa Deva sambil mengelus rambut Diva.


Mama Disa juga ikut berpelukan dengan suami dan putrinya. Namun mata Papa Deva kini mulai berkaca kaca. Hampir saja ia mementingkan ego dan obsesinya untuk kembali pada mantan kekasihnya itu.


"Maafin papa ya mah, Diva. Papa bukan orang yang pantas kalian banggakan. Tapi papa akan terus berusaha membuat kalian bahagia. Maafin aku mah, mungkin kamu selama ini amu masih menjadi nomer dua di hati aku. Tapi mulai saat ini, aku akan mencoba menjadikan kamu yang nomer satu di hati ini. Aku gak mau membuat hubungan Diva dan Doni menjadi bermasalah hanya karna rasa cinta yang belum tuntas ini," batin Papa Deva sambil menyembunyikan kesedihan di depan Diva dan Mama Disa.