
Malam harinya, keluarga doni sedang perjalanan menuju kerumah papa deva. Dan selama perjalanan, doni selalu terbayang wajah diva yang lucu.
"Sekarang diva seperti apa ya pah?" tanya doni pada papa aldo.
"Pasti tambah cantik dong doni. Banyak loh yang naksir diva, tapi papa suka diva gak gampang terpengaruh. Bahkan sampai saat ini pun dia punya pacar. "jawab papa.
"Apa iya pah?" tanya doni sambil mengingat perkataan diva kecil dulu.
" Don, kenapa kamu gak menikah aja sama diva. Kakek udah gak sabar pengen punya cicit." kata kakek yang terus menggoda doni.
Diam dan diam, itulah doni. Dia tak peduli dan memikirkan semua ucapan kakeknya. Karna di hatinya hanya terukir nama tanisha dermawan, cinta pertama bagi dirinya.
"Don, kok pertanyaan kakek gak dijawab?" desak kakek.
"Doni belum kepikiran sampai arah sana kek, doni masih mau belajar bisnis dulu. Lagipula doni hanya menganggap diva itu adik doni, gak lebih kek. Dan umur kita juga terpaut 5 tahun. Apalagi diva kan baru mau masuk kuliah juga." doni berusaha memupuskan harapan kakeknya.
"Terus apa masalahnya don, 5 tahun itu wajar, kakek dan nenek aja terpaut 7 tahun. Jadi gak masalah kan?"sahut nenek.
"Maaf kek, nek, doni belum siap buka hati dulu. Jadi tolong berhenti memaksa dan menjodohkan doni dengan diva. Diva pun pantas mendapatkan laki-laki yang mencintai dirinya dengan tulus."
Papa aldo hanya tersenyum dalam hati. Ia sangat yakin jika diva mampu membuat doni jatuh cinta padanya.
"Kita lihat aja doni, apa reaksi kamu melihat diva yang sekarang sudah tumbuh dewasa. Bahkan sikapnya nanti akan mengingatkanmu pada almarhum mamamu." batin papa aldo.
"Pah, kenapa senyum senyum sendiri? Papa seneng ya lihat doni dipaksa nikah gini sama kakek dan nenek. Sekarang doni tau perasaan mama dan papa."
"Bedalah nak, kalau papa dan mama kan memang udah selalu bersama dari kecil. Tapi kamu dan diva kan enggak!"
"Ya sama aja kali pah, gak ada bedanya."gerutu doni.
"Oh iya don, mulai minggu depan yang jadi sekretaris kamu itu diva ya. Dia kerja sambil kuliah. Jadi kamu jangan nyuruh diva buat lembur. Karna dia ambil kuliah malam."
"Diva pah? Ini ada apa sih, kenapa semua harus sama diva. Papa, kakek dan nenek gak lagi merencanakan sesuatu kan?"tanya doni namun tak ada yang menjawab pertanyaannya.
Merasa kesal, doni menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya. Namun tiba tiba mikael mengirim pesan pada doni.
Mikael : "Pak bos nanti cerita ya soal calon istri loe."
Doni : "Maksud loe apa ¬. ¬"
Mikael : "Gak papa, lupain aja."
Doni : "Apaan buruan. Loe pasti tahu sesuatu kan?"
Pesan terakhir doni sudah tak dibalas lagi oleh mikael. Doni kembali mencerna perkataan mikael di dalam pesannya tadi.
"Maksud mikael apa sih?Calon istri? Siapa? Apa jangan jangan diva ya? No, gue gak mau. Gue masih belum bisa lupain tanisha, secantik apapun diva sekarang, cuma tanisha yang ada di hati gue." lirih doni dalam hati.
Setibanya di rumah papa deva, doni dan keluarganya langsung mendapat sambutan dari keluarga diva.
Diva yang kecil dulu kini berubah menjadi diva yang cantik dan menawan. Tubuhnya yang tinggi dan berisi membuat doni menelan slivanya dengan berat.
"Kak doni, apa kabar?" sapa diva.
Gleeg
"Ini beneran diva? Kok dia tambah cantik sih. Badannya putih, mulus dan...arghh gak, gue boleh suka sama nih bocil, gue gak mau pacaran sama anak ingusan kayak dia." batin doni sambil menggelengkan-gelenhkan kepalanya.
Papa deva lalu menepuk pundak doni, dan seketika membuyarkan lamunannya.
"Doni, disapa diva kok gak jawab?"ucap papa deva.
"Eh iya om, baik div loe sendiri apa kabar?"
"Baik juga kak."
Namun saat memakan salah satu makanan, semua terdiam sejenak. Mereka merasa tak asing dengan rasa masakan ini.
"Andini." lirih papa aldo pelan.
"Iya, doni inget mama sering masak mie goreng sosis dan rasanya kayak gini pah." bisik doni.
Doni, papa aldo, kakek dan nenek seperti dibawa kembali ke masa lalu. Setiap andini membuat makanan pasti ada mie goreng sosis.
Untuk memastikan rasa makanan itu, mereka diam sejenak sambil terus merasakan rasa makanan itu.
"Apa ada masalah sama masakannya? Atau rasanya gak enak ya?" tanya papa deva saat melihat papa aldo dan doni menghentikan makan mereka.
"Enggak kok om, gak papa."jawab doni.
"Iya, gak ada apa apa dev. Enak kok masakannya. By the way ini yang masak siapa?" tanya papa aldo.
"Yang masak diva al."sahut mama disa.
"Iya, diva yang masak. Gak enak ya? "tanya diva dengan wajah memelas.
" Hahahaha, gak enak ya kak doni. Bilang aja, vida seneng deh lihat kak diva bete." ucap vida yang langsung mendapat lirikan tajam dari papanya.
Doni teringat ketika sebelum kepergian mamanya, ia sempat di masakan oleh mamanya mie goreng sosis. Seperti flashback kembali, doni pun meneteskan air matanya.
Diva yang merasa masakannya memang tidak enak, langsung beranjak dari kursinya dan hendak membawa masakannya itu ke dapur.
"Loh nak diva, mau dibawa kemana makanan?" tanya nenek.
"Mau diva bawa kebelakang aja nek."
"Jangan."ucap doni membuat diva hanya diam.
"Loh kak, kenapa. Beneran diva gak tersinggung kok kalau emang gak enak gak papa. Soalnya diva juga baru pertama kali masak ini."
"Jangan diva, kak doni malah suka banget sama mie kamu. Kak doni sedih karna rasa mie ini sama kayak masakan mama kak doni. Sebelum pergi mama masak ini ke kakak. Maaf ya jadi buat om, tante dan diva salah paham."ujar doni.
Merasa tak percaya, diva ikut mencicipi masakannya sendiri.
"Hmmm, enak juga ya masakan diva."
"Yah, geer nya kambuh deh. Kak doni pakai muji kak diva segala sih."sahut vida.
"Vida, gak boleh gitu sama kakak kamu ya nak." mama disa berusaha melerai kedua anaknya.
Mereka pun melanjutkan kembali acara makan malam. Selesai makan, semua berkumpul di ruang keluarga rumah devano.
Sedangkan diva mengajak doni untuk menemani dirinya keluar mencari camilan di supermarket.
"Kak, temenin diva ke supermarket ya." ajak diva.
"Iya, kakak temenin. Vida mau ikut?" ucap doni dan membuat diva terkejut.
"Mau dong kak, tapi traktir es krim ya sama coklat ya."
"Iya, yaudah ayo berangkat. Naik mobil kakak aja ya."
"Ayo kak." ucap vida sambil menarik tangan doni.
Melihat sikap manja vida pada doni, membuat semua tertawa. Sedangkan diva yang kesal, berjalan mengekor di belakang doni dan vida.
"Dasar adik gak bisa diajak kerjasama, harusnya gue jalan berdua sama kak doni, eh ini malah di kintilin si bocil. Gimana gue mau ngobrol leluasa sama kak doni coba. Vida, tunggu ya pembalasan kakak." diva hanya berkata dalam hati sambil menghentakan kakinya.