
Doni bersama papa aldo, kakek atmaja dan nenek rara sudah tiba rumah keluarga devano. Kebetulan semua anggota keluarga devano sudah menunggu mereka di teras rumahnya.
Tin.. Tin...
Suara klaskson mobil doni.
"Pah kayaknya itu mereka udah dateng deh." ucap mama disa.
"Iya, pak joko tolong buka gerbangnya ya."perintah papa deva.
"Baik pak." jawab pak joko sembari membuka kunci gerbang.
Mobil doni masuk setelah gerbang terbuka. Mereka semua turun dan saling bersalaman satu sama lain. Diva yang baru saja dari toilet pun langsung mencium tangan papa aldo, nenek dan kakek.
"Om kita berangkat sekarang aja ya. Biar gak kemaleman sampai sana." ajak doni.
"Iya doni, ayo." jawab papa deva.
"Don, biar kaki naik mobil sendiri aja. Kamu sama diva dan vida satu mobil sendiri. Kan yang muda sama yang muda, dan yang tau biar sama yang tua." sahut papa aldo.
"Terserah papa aja." jawab doni singkat.
Mereka semua kini sedang perjalanan ke puncak, namun di dalam mobilnya dari tadi doni diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sesekali diva melirik ke arah doni namun pandangan doni tetap fokus ke depan.
"Kak doni kenapa ya, udah setengah perjalanan kok diem terus. Kak diva juga sama, dari tadi cuma ngeliatin kak doni terus. Apa mereka lagi berantem ya? Ih pacaran baru sehari aja udah bertengkar. Gini mau nikah. Haduh haduh... " batin vida sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Merasa bosan karna tak ada pembicaraan dari tadi, vida pun berusaha mencari cara untuk memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Kak doni, vida haus. Kakak ada minuman gak?" tanya vida.
"Enggak vid, nanti kalau ada mini market kakak berhenti buat beli minum buat kamu sama yang lain juga." ucap doni singkat.
"Camilan juga ya kak doni." ucap vida kembali dan hanya mendapat deheman dari doni.
Tak lama setelah permintaan vida, doni berhenti di mini market untuk membeli beberapa minuman dan camilan. Ia keluar dari mobilnya tanpa mengajak vida atau diva.
"Kak, loe lagi ada masalah ya sama kak doni?"tanya vida pada diva.
"Enggak tuh vid, kemarin aja kak doni pulang masih bercanda sama kakak. Cuma emang dia agak sedikit marah, gara gara reyhan telpon buat ajak kakak ke puncak. Tapi udah selesai kok." jawab diva.
"Ih elo sih jadi cewek gak peka banget kak, mungkin aja kak doni masih ngambek tuh. Elo sih, kan dari awal gue udah bilang kak reyhan kayaknya suka sama loe." gerutu vida namun diva langsung meminta dirinya untuk diam.
"Sssttt, kak doni udah keluar. Bisa diem gak, jangan suka ikut campur urusan orang dewasa." gertak diva.
"Iya iya nenek bawel. Dikasih tau kok malah sewot." lirih vida pelan namun terdengar oleh diva.
"Barusan loe bilang apa?" bentak diva namun terputus karna doni kini sudah kembali masuk ke mobil.
"Ada apa ini? Berantem lagi?" tanya doni.
"Eh enggak kok kak, tadi tuh vida kebelet pipis cuma sama kak diva disuruh nahan. Kan susah ya kak." bohong vida hingga membuat diva hanya membulatkan kedua matanya.
"Vida apaan sih, bikin alasan kok mojokin gue. Yang ada kak doni malah tambah bete sama gue." gumam diva.
"Loh div, loe kok nyuruh vida nahan pipis sih nanti malah jadi kencing batu. Udah kamu ke toilet aja, kakak tunggu disini." ucap doni dan vida pun langsung turun dari mobil.
Dari luar vida berusaha mengode diva untuk mengajak bicara doni. Dan kebetulan diva menoleh ke arah vida yang berada di luar.
Mengerti maksud vida, diva meraih tangan doni lalu memeluk lengan doni.
"Kak doni kok dari tadi diem? Ada apa sih kak, cerita dong sama diva." ucap diva dan doni langsung melepas tangan diva dari lengannya.
Doni yang masih merasa kesal berusaha mengalihkan pembicaraan diva, "Gak papa, lagi males aja. Oh iya nanti sampai di villa kakak kasih beberapa file kantor dan kamu pelajari ya."
"Kamu mau tau kakak kenapa?" tanya doni sambil menatap diva dengan mata seperti menahan amarah.
"I.. Iya lah kak."
"Ini handphone kamu, kakak kembaliin. Terus aja balas semua chat cowok cowok. Ternyata banyak juga ya yang naksir kamu. Terus kenapa kamu malah milih cinta sama kakak yang masih berusaha mencintai kamu." tanya doni sinis.
"Karna kakak cinta pertama diva dan juga cinta terakhir diva. Lagian kenapa kakak marah sih kan diva hanya berteman sama mereka gak lebih kok."
"Oh gitu ya. Kamu tau kan kakak paling gak suka punya pacar yang dekat sama banyak cowok. Jadi kakak minta jaga sikap kamu kalau masih pengen kakak, ngerti. Udah kita bahas ini nanti di villa. Itu vida udah keluar dari mini market." ucap doni sambil memakai selt belt nya kembali.
"Iya kak." lirih diva.
Doni pun kembali melajukan mobilnya, hingga beberapa waktu kemudian mereka tiba di villa. Sedangkan mobil papa deva dan yang lain sudah tiba mendahului dirinya.
Doni meminta vida dan diva untuk masuk terlebih dulu. Namun ternyata hanya vida yang masuk ke dalam, sedangkan diva kini mendekat ke arah doni dan membantu doni mengeluarkan koper dari bagasi.
"Diva bantu ya kak." ucap diva sambil menurunkan koper.
"Udah gak usah. Kamu masuk dulu aja gabung sama yang lain."
"Kak,jangan marah dong. Diva gak bisa kalau di diemin kakak gini. Gimana caranya biar kak doni gak marah sama diva." ucap diva sambil memeluk doni.
"Diva lepas. Nanti kalau dilihat yang lain gimana. Lepas diva." gertak doni hingga akhirnya membuat diva melepaskan pelukannya.
Merasa usahanya sia sia, diva pun hendak pergi meninggalkan doni. Dan saat ia membalikkan badan, tangan diva langsung diraih oleh doni.
"Tunggu diva, ada yang mau kakak tanyakan lagi sama kamu." ucap doni dan diva pun kembali membalikkan badannya lalu menghadap ke arah doni.
"Apa kak?"
"Ada hubungan apa kamu sama reyhan?" tanya doni namun malah di sambut tawa oleh diva.
"Hahahaha, kakak gak salah nanya itu. Kenapa sih kak, kakak cemburu sama reyhan? Kan kemarin diva udah bilang kalau diva sama rey itu sahabatan gak lebih. Kak doni cemburu kan ya?" jawab diva.
"STOP DIVA!!! Kakak nanya serius bukan lagi bercanda. Tengah malam tadi reyhan telpon kamu. Apa setiap malam kalian memang sering telpon telponan gini?" tanya doni dengan nada tinggi.
Melihat kemarahan doni, diva memegang kedua tangan doni sambil menatap mata doni. Setelah membuang nafas kasarnya, pelan pelan diva berusaha menjelaskan pada doni.
"Kak, diva sama rey itu pyur sahabatan gak lebih. Memang hampir setiap malam diva itu telpon telponan sama rey hanya saja... " ucap diva terputus karna tangannya langsung di buang oleh doni.
" Hanya saja apa?udah lah div, kakak rasa kakak gak bisa meneruskan hubungan kita apalagi sampai ke jenjang pernikahan. Kakak dan kamu itu beda, dan kita gak mungkin bisa bersatu. Jadi kita akhiri saja hubungan kita ini." jawab doni sambil berjalan meninggalkan diva.
Perasaan diva seperti tersambar petir mendengar kata pisah dari mulut doni. Susah payah ia bisa menjadi kekasih doni, namun hanya karna kesalah pahaman ia kini harus putus begitu saja dengan doni.
Air mata diva pun mulai jatuh dan dengan suara terbata diva mengeluarkan seluruh isi hatinya.
"Kak, kalau kakak gak cinta sama diva dan menyesal dengan hubungan ini gak usah cari cari alasan kak. Bilang aja kak doni gak bisa jalani hubungan sama diva, tapi jangan cari cari kesalahan diva buat alasan kak doni meninggalkan diva dan hingga itu alasan yang nanti kakak bilang sama om aldo, kakek dan nenek. Asal kakak tau, selama ini diva gak pernah punya pacar karna diva cuma cinta sama kak doni. Diva mau jadikan kak doni itu cinta pertama, pacar pertama dan juga cinta terakhir diva. Tapi kalau itu memang cara kakak buat menolak perjodohan kita, diva ikhlas kok kak. Semoga kakak bisa mendapat pasangan dari orang yang kakak cinta." ucap diva yang langsung berlari keluar dari villa.
Ucapan diva sambil menangis membuat doni malah kini yang menjadi merasa bersalah. Ia tidak pernah melihat diva menangis, karna selama ini doni selalu berpikir jika diva adalah anak yang kuat dan anti menangis.
Cukup lama doni terdiam dengan pikirannya, doni kemudian mencari diva keluar villa. Namun diva sudah tidak ada. Doni pun semakin panik karna diva hilang. Ia berusaha menelpon diva namun ponsel diva masih tertinggal di mobil doni.
"Div, loe kemana sih. Maafin kakak div, kakak sendiri juga gak tau kenapa kakak bisa ngomong kayak gini. Loe dimana sih div, langitnya udah mulai gelap dan loe gak tau daerah sini. Kalau loe diapa apain orang gimana?" batin doni sambil terus berjalan mencari diva.
*******
Diva kini duduk di sebuah gubug tua sambil terus saja menangis mengingat ucapan doni yang selalu menyalahkan dirinya. Ia tak menyangka, jika hubungannya dengan doni hanya bertahan satu hari. Dan tanpa ia sadari jika langit sudah mulai gelap. Diva pun memutuskan untuk kembali ke villa, namun ia malah lupa jalan pulang.
"Ini jalannya kemana ya. Bodoh banget sih loe div, sok sokan lari segala. Sekarang malah kesasar kan loe. Arrghh, sial banget sih gue. Udah di putusin kak doni, pakai acara kesasar lagi udah gitu gak bawa handphone. Terus gimana gue pulangnya nih mana jalanan sepi banget gini." diva berkata sendiri dalam hatinya.