
Satu minggu sudah Diva berada di rumah. Namun hingga saat ini Doni belum tahu. Baik Disa dan Deva sudah memutuskan untuk menghargai segala keputusan Diva. Dan atas permintaan Diva, dia tidak ingin Doni tahu jika ia sudah pulang sebelum undangan pertunangannya dengan Rangka di sebar.
Hari ini kediaman Devano kedatangan calon besan mereka. Ya, Rangga datang bersama kedua orangtuanya. Mobil Alphard berwarna putih sudah masuk ke pekarangan rumah.
"Selamat sore om, tante, Vida dan Diva," sapa Rangga yang tak lupa mencium punggung tangan Disa dan Deva.
"Selamat sore juga Rangga," jawab Disa dan Deva kompak.
"Sore om, tante," sahut Diva sembari mencium punggung tangan mama dan papanya Rangga.
"Sore sayang. Wah cantik sekali pacar kamu Rangga. Pantas saja kamu klepek klepek sama Diva. Ternyata calon menantu mama ini lembut banget ya sikapnya," jawab Mama Rangga.
"Ya pintarlah mah. Keturunan siapa dulu, Yo bapake lah," imbuh Papanya Rangga.
Semua tertawa mendengar pembicaraan antara mama dan papanya Rangga. Sungguh logat jawa mereka, membuat Disa dan Deva tak mengira jika keluarga Rangga ternyata gokil juga.
Deva mempersilahkan keluarga Rangga masuk. Dan ssserahan sederhana sudah mereka berikan pada Diva. Semua sudah duduk berkumpul jadi satu di rumah tamu. Dan acara lamaran telah dimulai.
Dua jam berlalu. Acara lamaran kecil kecilan yang hanya di hadiri oleh keluarga inti telah usai. Diva dengan penuh keyakinannya menerima lamaran Rangga. Mungkin inilah yang terbaik untuknya. Soal cinta itu urusan belakang. Pikirnya sekarang.
"Diva, kita bisa bicara di ruang tamu sebentar?" Deva menatap putrinya, sesaat setelah mereka mengantar Rangga dan orangtuanya keluar pintu rumah hingga mobil Rangga sudah pergi meninggalkan kediaman Devano.
"Bisa pah."
"Ayo masuk," titah Deva.
Deva, Disa, dan Diva sudah duduk di ruang tamu. Sedangkan Vida, ia memang diminta untuk masuk dan tidak ikut dalam pembicaraan penting keluarga.
"Diva, kamu bahagia?" tanya Deva.
"Sangat bahagia pah, mah," jawab Diva dengan lantang namun sorot matanya kosong.
"Ya ya ya. Papa juga berpikir seperti itu. Disini papa hanya ingin mengingatkan kamu. Pertunangan kamu dilaksanakan 3 hati lagi, dan di luar sana ada orang yang meminta kejelasan akan penantian cintanya sama kamu. Papa ingin selesaikan urusan kamu sebelum acara pertunangan kamu dan Rangga diselenggarakan nak. Paham maksud papa Diva?" tanya Deva.
"Ya pah. Diva paham, bahkan sangat paham. Nanti Diva sendiri yang akan menemui Kak Doni dan keluarganya dirumah. Lusa Diva kerumah mereka untuk mengantar undangan pertunanganku dengan Rangga. Papa dan mama tenang saja, hubungan persahabatan mama dan papa dengan Om Aldo dan tante Andini akan tetap berjalan baik."
"Bagus Diva. Mama bangga sama kamu. Kamu berani berbuat namun kamu juga berani bertanggung jawab. Jangan menggantungkan perasaan orang yang mencintai kamu ya nak," sahut Disa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia disana.
"Iya mah."
"Sekarang kita siap siap. Pertunangan kamu tinggal 3 hari dari sekarang. Jadi kita harus membuat persiapan yang kilat. Ambil tas kalian, kita pesan kartu undangan dan catering dulu," titah Deva yang diangguki kepala oleh istri dan anaknya.
Di kantornya, Doni kembali resah. Kenapa belum ada kabar tentang kepulangan Diva. Padahal hari ini tepat seminggu dari tanggal yang disebutkan Deva dan Disa. Apa terjadi sesuatu dengan Diva dan keluarganya. Entahlah, perasaan Doni berkecamuk menjadi satu.
"Mending gue ke rumah Om Deva sekarang. Tanya sama pembantunya. Jujur, perasaan gue gak enak banget," batin Doni.
Baru saja tangannya memegang gagang pintu, Mickael masuk membuat Doni terperanjak kaget.
"Woi, berapa kali gue bilang. Kalau mau masuk ketuk pintu dulu. Untung kepalanya gue gak kejedot pintu," Doni menggerutu kesal.
"Iya iya maaf. Habis dari tadi gue chat elo gak dibales. Lagian loe mau kemana sih. Jam pulang kantor masih 1 jam lagi keles," protes Mickael.
"Gue mau kerumah Diva. Mau cek aja siapa tahu dia udah pulang."
"Emang Om Deva belum kasih kabar?"
"Oke Don. Loe hati hati ya," ujar Mickael.
"Hmmm."
Satu jam kemudian..
Mobil Doni sudah berhenti di depan rumah Diva. Dan kebetulan bibi sedang belanja sayur di depan.
Kedatangan Doni sempat membuat bibi kaget, tapi untung saja bibi pandai bersandiwara. Ia mencoba nampak tenang.
"Eh Mas Doni,ada apa mas?" tanya bibi.
"Bi, apa Diva udah pulang?"
"Belum mas. Kemarin sih ibu telpon katanya baru bisa pulang besok jadi sampai rumah mungkin baru lusa."
"Oh gitu ya bi. Emangnya kenapa kok pulangnya di tunda?"
"Bilangnya sih kehabisan tiket mas. Mas Doni mau bibi buatkan minum di dalam?" tanya bibi yang hanya berbasa basi. Semoga saja Doni menolak. Harap bibi.
"Gak usah bi. Lusa saya kesini lagi deh bi. Makasih ya bi buat infonya," ujar Doni dengan perasaan sedikit kecewa.
"Iya mas, sama sama."
Melihat kepergian Doni, bibi merasa sedikit bersalah. Ia terpaksa berbohong, namun bagaimana pun ini kan perintah dari majikannya.
Flashback on..
Sebelum pergi, Diva kembali turun dari mobil. Perasaannya mengatakan jika Doni akan kemari untuk mencari tahu tentang kabar kepulangannya. Diva hafal, Doni orang yang tepat janji. Dan ia pasti akan datang kerumah untuk mencari informasi karna kedua orangtuanya tak memberinya kabar.
"Bi..," panggil Diva.
"Iya non Diva. Ada apa? Ada yang ketinggalan dikamar? Biar bibi ambilkan," ujar bibi yang langsung meletakkan sapu yang ada di tangannya.
"Bukan bi, seumpama Kak Doni datang bilang aja mama telpon kalau tiket pesawatnya habis dan baru pulang besok dan sampai dirumah lusa. Tolong ya bi."
"Iya non. Nanti kalau Mas Doni kesini bibi bilang sesuai perintah non Diva."
"Makasih bi. Pokoknya Kak Doni jangan sampai tahu kalau kita semua udah pulang ya bi."
"Oke non."
"Yaudah Diva balik ke mobil dulu ya bi. Nanti Diva beliin oleh oleh buat bibi deh," ujar Diva.
"Hahha. Iya non terima kasih."
"Sama sama bi."
Flashback Off...
Mengingat keromantisannya dan hubungan Diva dan Doni dulu, air mata bibi pun jatuh. Apalagi selama Diva kuliah di luar negeri, Doni tak pernah absen datang kerumah ini.
"Jodoh itu gak ada yang tahu. Kasihan Mas Doni, kalau dia tahu Non Diva mau tunjangan pasti hancur hati Mas Doni. Semoga saja setelah Mas Doni tahu, dia bisa menerima kenyataan kalau Non Diva bukan jodohnya. Dan Mas Doni dapat jodoh yang baik seperti dirinya,amin," batin bibi sembari berjalan masuk kedalam rumah.