
Keluar dari ruang meeting, Doni melihat jam di dinding.
"Jam pulang kantor masih satu jam lagi. Udah gak sabar mau kerumah Diva. Kayak apa ya sekarang dia," batin Doni.
Doni mengambil ponsel di saku jasnya. Ia menelpon seseorang untuk memastikan jika semua permintaannya sudah siap.
Sambil menunggu jam pulang, Doni kembali ke ruang kerjanya. Baru masuk, matanya sudah disuguhi dengan adanya Mickael diruang kerjanya.
"Mic, ngapain loe disini?" tanya Doni heran.
"Duduklah. Loe bisa lihat kan?"
"Ya gue tahu. Tapi ngapain loe ada disini?" Doni berjalan lalu duduk di kursi singgasananya.
Mickael mengeluarkan kartu undangan pertunangan Diva dan di lempar Diatas meja tepat di hadapan Doni.
"Tadi Diva kesini, dan dia kasih ini," ucap Mickael.
"Apa? Diva kesini? Kenapa gak disuruh masuk dan nunggu gue disini? Terus ini apa?" tanya Doni bertubi tubi.
"Loe lihat sendiri ajalah," titah Mickael.
"Kartu undangan? Diva dan Rangga? Hahaha, pasti loe sama Diva lagi kompak ngerjain gue kan? Gak lucu bro," ucap Doni sambil melempar kartu undangan itu ke meja sembari tertawa.
Mickael berdiri, ia berjalan mendekati Doni dan menepuk sebelah bahunya.
"Don, gue gak lagi ngerjain loe. Ini kenyataan. Bahkan tadi Diva kesini sama calon tunangannya," ucap Mickael.
"Tapi loe tahu sendiri kan. Diva nyuruh gue buat nungguin dia 4 tahun ini. Jadi mana mungkin dia mau tunangan sama orang lain. Gue bakal buktikan ke elo, kalau Diva lagi ngerjain gue," jawab Doni sambil berdiri lalu melangkah pergi melewati Mickael.
"Don, loe mau kemana?"
"Ke rumah Diva," jawab Doni yang langsung menyambar kunci mobilnya dan meninggalkan kantor.
Selama perjalanan, Doni yang masih tak percaya mencoba menelpon Deva dan Disa namun panggilannya tidak angkat. Deva dan Disa tengah sibuk menyebarkan undangan pertunangan putri mereka,hingga tidak sadar jika ponsel di dalam tas mereka bergetar.
Tak terasa mobil Doni sudah sampai di samping kediaman Devano. Baru saja mau turun, tiba tiba ada mobil berwarna merah juga berhenti di depan rumah Diva.
Mata Doni membulat, melihat seorang laku laki bertubuh tinggi dan putih membukakan pintu mobil untuk Diva.
"Jadi benar, dia itu calon tunangan kamu Div. Tapi kenapa? kenapa kamu harapan palsu buat aku?" batin Doni sambil memukul stir kemudinya. Apalagi pemandangan tak enak dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Saat Rangga mengecup bibir Diva.
Mobil Rangga sudah pergi. Secepat kilat Doni menarik tangan Diva dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Masuk Diva, cepat masuk. Dan tolong jelaskan sama aku apa maksud dari semua ini," titah Doni yang langsung menghempaskan tubuh Diva di dalam mobil.
Wajah Diva mulai memucat. Kemarahan nampak jelas dari sorot mata Doni. Bayangan laki laki yang mencium bibir wanita yang ia cintai, selalu melintas dalam pikiran Doni.
"Kak Doni jangan gila. Kakak mau bawa aku kemana?" teriak Diva namun Doni tak bergeming. Doni terus saja melajukan mesin mobilnya.
"Kak, tolong turunin aku. Kalau Kak Doni masih gak mau, Diva bakal loncat," Diva berusaha mengancam Doni. Namun tangan Doni langsung menarik tangan Diva dan mencengkramnya dengan erat.
"Diam. Aku hanya ingin bawa kamu ke suatu tempat."
"Gak mau. Kalau Kak Doni masih maksa, aku telpon mama dan papa. Biar mereka tahu kalau kamu sebenarnya belum berubah."
Diva mengambil ponselnya, namun saat tangannya hendak menghubungi kedua orang tuanya, dirinya melirik ke samping melihat Doni hanya diam dan tidak menghiraukan ancamannya.
"Kenapa gak jadi? Telpon aja kalau emang kamu pikir aku seperti tadi," ucap Doni.
"Ayo turun kita udah sampai," titah Doni.
Diva melihat keluar. "Ngapain Kak Doni bawa aku ke pantai," batin Diva.
Akhirnya Diva menurut, ia juga turun dari mobil dan mengekor di belakang Doni. Sengaja, ia tidak mau berjalan seiringan. Rasa sakit hatinya yang dalam, membuat dirinya enggan untuk terlalu lama dekat dengan Doni.
"Lihat ini Div. Rencananya nanti malam aku mau melamar kamu disini. Aku sudah persiapkan semuanya untuk kamu," ujar Doni.
Air mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun ia berusaha mendongak, menahan air itu agar tidak jatuh.
"Jadi kesini cuma mau nunjukin ini. Maaf ya kak, aku tetap akan melaksanakan pertunanganku sama Rangga. Jadi buat apa Kak Doni bilang seperti tadi. Itu juga tidak akan merubah keputusanku," ujar Diva dengan tegas.
"Diva. Apa segitu bencinya kamu sama aku? Kalau memang kamu sudah tidak cinta sama aku, kenapa kamu suruh aku buat menunggu kamu selama ini?" tanya Doni sembari menarik tangan Diva dan mencengkramnya.
"Lepas kak, lepas. Kakak pikir kesalahan Kak Doni akan aku lupain gitu aja dengan kurun waktu empat tahun? Gak akan. Itu aja belum cukup buat bikin goresan di hati aku sembuh kak. Dan asal Kak Doni tahu, hubunganku dengan Rangga itu sudah terlalu jauh. Kak Doni pernah tinggal di luar negeri kan? Jadi Kak Doni pasti tahu pergaulan pacaran disana, gak hanya kissing. Aku dan Rangga itu sudah..."
"CUKUP DIVA!! aku gak mau denger. Aku gak peduli kamu masih virgin atau tidak. Karna aku pun juga tidak suci. Tapi tolong kembalilah ke sisiku Diva," rengek Doni.
Diva membuang kasar tangan Doni yang menggenggam tangannya.
"Maaf Kak, aku gak bisa."
"Tapi kenapa? Aku tahu kamu gak cinta sama Rangga. Kamu masih cinta kan sama aku Diva. Ayo jawab jujur, kamu masih cinta sama Kak Doni kan?"
Diva tertawa. Ia seakan melempar senyum getir ke wajah Doni.
"Cih, terlalu pede. Aku sama sekali udah lupa sama Kak Doni dan kenangan kita. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pulang sendiri saja, tapi makasih loh kak udah mau kasih kejutan buat kepulangan aku," ucap Diva. Ia mulai berjalan meninggalkan Doni yang masih diam terpaku di tempatnya.
"Diva, tunggu," seru Doni.
"Apalagi Kak."
"Biarkan aku mengantar pulang kamu untuk yang terakhir kalinya. Dan tolong kasih tau aku cara untuk mendapatkan maaf kamu."
Diva kembali berjalan menghampiri Doni dan berdiri di hadapannya.
"Kakak yakin mau tahu gimana bisa dapat maaf aku?"
Doni mengangguk. "Iya, kasih tau caranya."
"Datanglah ke pertunanganku besok dan ke pernikahanku bulan depan. Jangan lupa ucapkan selamat juga buat aku dan Rangga. Gimana? Bisa?" tanya Diva sinis.
"Baiklah, jika itu mau kamu. Aku akan datang ke acara pertunangan dan pernikahan kamu. Dan aku sendiri yang akan memberikan ucapan selamat ke kalian."
"Oke kak, Diva tunggu. Jangan hanya cuma janji di mulut ya kak."
"Gak akan. Kak Doni janji akan turutin permintaan kamu jika itu memang cara supaya aku mendapatkan maaf dari kamu."
"Yaudah kalau gitu kita pulang sekarang ya. Diva harus jaga stamina buat acara besok."
"Iya Div. Sebentar aku bukain pintu mobil buat kamu ya," ucap Doni.
"Gak usah kak, Diva masih bisa buka sendiri," tolak Diva hingga membuat hati Doni bagai tersayat pisau.
Didalam mobil, Doni sesekali menoleh ke samping, melihat Diva yang tengah asyik bermain ponsel sambil senyum senyum sendiri.
"Diva kamu sudah berubah. Kebencian kamu sama Kak Doni masih bisa terlihat dari mata dan sikap kamu. Maafkan aku ya Div, karna sudah merubah kamu dari yang lembut, manis dan baik menjadi wanita yang dingin,kasar dan arogan. Pasti gara gara aku juga kamu mengalami pergaulan bebas di luar negeri. Kamu pasti sengaja ingin balas dendam sama kakak kan Div?" batin Doni sambil menyeka air yang ada di ujung matanya.