
Didalam mobilnya, Doni masih tertawa mengingat apa yang baru saja ia lihat di dalam apartemen papanya.
"Mama sama papa ini ada ada aja. Masih aja suka begituan," batin Doni sambil tertawa sendiri.
Di tengah lamunannya, tiba tiba Tanisha menelpon dirinya. Dan dengan segera Doni pun mengangkat telpon Tanisha.
"Halo Don," sapa Tanisha.
"Hai Tan, tumben kamu telpon aku."
"Hahahaha, kenapa gak boleh?"
"Boleh dong. Ada apa tan?"
"Lusa aku udah sampai di Indonesia. Kamu bisa jemput aku kan di bandara?"
"Lusa? Kok cepet banget? Kata kamu masih minggu depan."
"Ya gak papa. Kenapa? Kamu gak suka ya ketemu aku lebih cepat. Emangnya kamu gak kangen sama aku?" tanya Tanisha.
"Ya enggaklah Tan, aku malah happy banget. Oke, pasti nanti aku jemput. Kamu tinggal wa aja."
"Oke deh Don, See you ya."
"See you tan," jawab Doni yang langsung mematikan panggilannya.
Setelah menutup telponnya, Tanisha memeluk mama tirinya yang berada disampingnya saat ini.
"Mah, bener kata mama. Doni memang yang terbaik buat Tanisha. Dan aku tambah yakin sama mama, kalau Doni sampai sekarang masih mencintai aku. Beda sama Justin yang sudah mengkhianati aku dengan tidur dengan sahabatku sendiri," ucap Tanisha sambil memeluk Mama Ririn.
"Iya sayang, dari dulu kan mama udah bilang lebih baik kamu sama Doni."
"Iya mah," jawab Tanisha.
Dalam hati Mama Ririn saat ini, ia tertawa melihat anak tirinya yang bisa ia jadikan boneka untuk kembali mendekati Aldo.
"Dasar bodoh kamu Tanisha. Sebenarnya Justin tidak pernah mengkhianati kamu. Semua ini rencana mama supaya kamu mau menerima Doni jadi kekasih kamu. Dengan begitu, mama juga bisa mendekati Aldo yang saat ini masih menduda. Dan setelah mama bisa mendapatkan Aldo, mama akan meminta cerai dari papa kamu yang sudah tidak berguna itu," batin Mama Ririn sambil tersenyum licik.
Flashback On...
Sepulang mengantar Tanisha, Justin mendapat telpon dari Christy, sahabat Tanisha. Christy yang terdesak karna mamanya yang sakit menerima tawaran Mama Tanisha untuk menjebak Justin.
Dan malam itu, Christy meminta Justin untuk menjemput dirinya sepulang kerja. Tanpa ada pikiran buruk, Justin pun mengiyakan permintaan Christy.
"Thanks ya Justin, udah mau jemput aku."
"No problem, kamu kan sahabat Tanisha. Itu tandanya kamu juga sahabat aku."
"Iya Justin,"
Saat di mobil, Christy memberikan sebetulnya minuman untuk Justin. Namun tanpa diketahui Justin, minuman itu sudah diberi obat tidur oleh Christy.
Ketika sudah memapah Justin masuk ke hotel, Christy pun melucuti pakaian Justin dan pakaiannya. Ia lalu menelpon Mama Ririn untuk memberitahu jika semua sudah siap.
Mama Ririn lalu menelpon Tanisha, seakan ia melihat Justin dan Christy masuk ke hotel. Dan karna penasaran, Tanisha pun datang ke hotel yang diberitahu oleh mama tirinya itu.
Sesampainya di hotel, ia mencari kamar dan benar memang ada kamar yang sudah di booking atas nama kekasihnya. Dengan langkah sedikit ragu, ia mengetuk kamar tersebut.
Duuuuarr...
Hatinya seketika hancur melihat sahabatnya yang membuka pintu itu dan ia melihat Justin sedang tidur bersamanya di ranjang.
"Kalian....," ucap Tanisha sambil menunjuk Christy.
"Ta... Ta.. Tanisha...," ucap Christy dengan suara yang ia buat seakan kaget melihat kedatangan Tanisha.
"Kalian berdua pengkhianat. Mana tunanganku," teriak Tanisha sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Tanisha seperti orang gila. Ia membangunkan Justin dengan kasarnya hingga membuat Justin membuka matanya. Ia pun terkejut dengan kondisinya di dalam kamar dengan tubuh yang polos.
"Tanisha," ucap Justin sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Br*****k kamu Justin. Tega kamu melakukan ini sama aku," teriak Tanisha dalam tangisnya.
"Ini ada apa?" tanya Justin.
Christy berjalan mendekat dengan selimut yang masih menempel di tubuhnya.
"Justin, kamu tega melakukan ini sama aku. Maafkan aku Tanisha, aku tadi dipaksa Justin," ucap Christy.
"Kalian... Aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Dan mulai sekarang pertunangan kita batal," teriak Tanisha sambil berlalu meninggalkan Justin dan Christy.
Flashback Off....
Mama Ririn kembali tersenyum licik mengingat semua rencananya. Ia membelai rambut Tanisha sambil berusaha menghasut dirinya untuk mau menjadikan Doni kekasihnya
"Ingat kata mama Tan, kamu harus bisa mengambil Doni kembali," ucap Mama Ririn.
"Maksud mama?"
"Yang mama dengar, dia akan di jodohkan dengan anak sahabatnya. Dua hari yang lalu Tante Cindy sempat cerita sama mama."
"Loh memangnya tante kenal sama Doni?"
"Iya kenal. Jadi papanya Doni itu sahabat Tante Cindy."
"Oh gitu ya mah. Tapi apa Doni mau menerima perjodohan itu?" tanya Tanisha.
"Ya dia terpaksa menerimanya. Tapi mama yakin, dia masih mencintai kamu sayang. Buktinya dia mau kan menjemput kamu ke bandara. Sekarang jarang ada laki laki yang mencintai seorang wanita dengan tulus. Dan mama rasa kamu harus mempertahankan orang itu. Ingat kata mama, lebih baik dicintai daripada mencintai."
"Iya benar kata mama. Aku akan mengambil Doni dari perempuan itu. Karna yang Doni cintai itu aku bukan dia."
"Bagus sayang, mama hanya ingin melihat kamu bahagia."
"Iya mah, makasih ya mah. Aku beruntung punya mama tiri yang sebaik mama."
"Sama sama sayang," jawab Mama Ririn sambil tersenyum bahagia karna rencananya sudah berjalan sesuai yang ia harapkan.
"Tunggu aku Aldo sayang. Kita pasti akan bersama. Karna hanya aku yang pantas menggantikan Andini menjadi ibu tiri Doni," batin Ririn.