My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Pergilah Nak



Tak terasa malam sudah tiba, beberapa kali Doni mencoba menelpon Diva tapi tak ada satu panggilan pun yang di jawab Diva.


Doni galau.Tak biasanya Diva bersikap seperti ini. Hingga ada satu pesan masuk di ponselnya.


"Kak maaf aku baru bangun, jadi dari tadi aku gak angkat telpon kakak. Maaf ya kak," tulis Diva.


"Iya sayang gak papa. Yaudah kamu istirahat ya. Jangan lupa di minum obatnya," balas Doni


"Iya kak, makasih. Kak Doni juga jangan capek capek ya kerjanya."


"Iya sayang. Makasih udah selalu perhatian sama aku. Rasanya aku udah gak sabar untuk segera meminang kamu yank," tulis Doni kembali. Tapi pesannya kali ini sudah tak di balas oleh Diva.


Doni mencoba berpikir positif. Mungkin karna sakit, Diva kembali tidur. Jadi sudah lupakan saja perasaan galau ini.


Di kediaman Devano..


Deva baru saja pulang dari rumah sakit dan kehadirannya sudah ditunggu oleh istrinya. Disa menghampiri suaminya, mengambil tas nya dan melepaskan jas yang masih menempel di tubuh Deva.


"Kok tumben pulang telat pah?" tanya Disa.


"Iya, tadi ada sedikit masalah di rumah sakit tapi sudah selesai. Oh iya apa Diva sudah pulang?"


"Sudah pah. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi di kamar ya," Disa menatap mata Deva dengan tatapan sayu.


Deva mengernyitkan dahinya. Belum pernah selama pernikahannya dengan Disa, ia melihat wajah sang istri nampak gusar dan sedih.


"Ada apa mah? Apa ada masalah besar. Kenapa wajah kamu kisut seperti ini?" tanya Deva.


Disa mengangguk namun mulutnya susah sekali untuk berucap. Apalagi mengingat Doni yang sudah ia anggap anak sendiri malah menyakiti dan mengkhianati putrinya.


"Hei kenapa nangis. Kita ke kamar ya, kita bicara disana," ujar Deva.


Sesampainya di kamar, Disa menangis dalam pelukan suaminya. Ingin tak percaya tapi semua kenyataan. Hancur, satu kata yang mengisyaratkan hatinya saat ini.


Deva melepas pelukan istrinya, menatap wajahnya dan menaikkan dagunya.


"Jangan berburuk sangka, bisa jadi ini semua jebakan. Apa kamu lupa apa yang sudah menimpa rumah tangga Andini dan Aldo? Ini sama kan kejadiannya. Bisa jadi Doni di beri obat perangsang juga okeh wanita yang sudah memberitahu Diva," Deva mencoba tak percaya atas ucapan istrinya.


"Gak pah, kami lihat sendiri rekaman suara itu dan gambarnya. Itu semua tidak seperti jebakan. Buka mata kamu pah, Doni itu berbeda sekali dengan kedua orang tuanya. Apa kamu rela selama pernikahan Diva akan selalu disakiti Doni?" ucap Disa.


"Tapi mah..."


"Tapi apa pah? Apa karna Andini itu cinta pertama kamu makanya kamu ingin sekali berbesanan dengan dia dan mengorbankan perasaan anakmu. Persetan dengan obat perangsang atau enggak, yang jelas Doni sudah mengkhianati Diva. Dan Diva bilang, kemarin Doni bohong sama dia. Katanya ada meeting, eh gak taunya malah enak enakan sama perempuan lain," Diva terus mengoceh. Rasanya kebencian didalam hatinya sudah menghilangkan rasa sayangnya pada Doni saat ini juga.


"Sudah ia tenang tenang. Kamu tenang dulu. Papa mau ke kamar Diva. Mama disini aja."


"Hmmm, tapi awas kamu kalau kamu masih meminta Diva buat kembali dan memaafkan Doni.,"


"Enggak, papa akan mengikuti kemauan Diva. Sekarang mama tenangin diri mama di kamar, papa mau ke kamar Diva dulu."


"Iya pah," jawab Disa.


Deva mulai meninggalkan Disa sendirian di kamar. Dan ia segera pergi ke kamar putri sulungnya untuk melihat keadaanya sekarang.


Tok..tok..tok..


"Siapa?" tanya Diva. Ia segera menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya,takut jika mamanya tahu dan kembali sedih melihat keadaannya.


"Papa nak."


Deva mulai masuk. Untuk pertama kalinya ja melihat Diva menangis hingga membuat wajahnya membengkak seperti sekarang.


"Sini nak peluk papa, menangislah jika kamu ingin menangis. Jangan kamu pendam kesedihan kamu sendirian, ada mama, papa dan Vida di samping kamu," Deva membuka kedua tangannya, menyambut pelukan dari putrinya.


"Papa.. " Diva mendekap erat tubuh papanya. Seketika beban yang terasa berat kini terasa sedikit lebih ringan.


" Menangislah sayang. Kalau pun kamu ingin menangis sampai pagi, papa akan selalu ada disini menemani kamu."


Ucapan Deva semakin membuat Diva menangis sekencang kencangnya. Ditambah gambar antara Doni dan Tanisha selalu muncul dalam ingatannya.


"Pah, bolehkah Diva tinggal selama setahun di rumah opa Santo dan iman Desi?" tanya Diva. Dirinya sangat berharap papanya mengerti maksud dan tujuannya sekarang.


Deva mulai melepaskan pelukan putrinya. Duduknya pun kini mulai membelakangi Diva. Bahkan Deva tak menjawab permintaan putrinya.


Suasana menjadi sepi. Ingin kembali Diva menanyakan pertanyaan yang sama, tapi ia takut papanya akan marah. Apalagi selama ini Deva dikenal sebagai sosok ayah tegas, berwibawa dan tidak pernah marah dengan istri dan anaknya.


"Pah..."


"Tidak..,kamu tidak boleh pergi kesana," Deva mengeluarkan sebuah kalimat yang tak disangka oleh Diva. Kenapa papanya begitu tega membiarkan dirinya untuk tetap bersama Doni.


"Apa pah, kamu sudah gila. Tega sekali kamu sama anak kamu. Apa semua karna Andini? Karna kamu belum bisa melupakan dia," Disa berteriak. Disa sengaja berdiri dari balik pintu untuk mendengarkan pembicaraan antara suami dan putrinya.


Kecewa, perasaan itu ada di hati Diva dan Disa. Mereka tak percaya seorang suami dan seorang ayah yang ia kenal bijaksana mengambil keputusan, memilih mengorbankan perasaan putrinya sendiri demi anak sahabatnya sekaligus anak dari mantan terindahnya.


"Pah, tolong jelasin ke Diva kenapa papa ingin sekali menjadikan Kak Doni menantu papa? Kalau alasan itu cukup masuk akal, Diva akan mencoba memaafkan Kak Doni pah," ujar Diva.


"Enggak Diva, mama gak rela. Mama gak akan merestui pernikahan kalian. Mama masih bisa carikan kamu jodoh yang lebih baik dari Doni nak. Teman mama banyak, lagipula kamu masih 18 tahun. Perjalanan hidupmu masih panjang. Jangan pedulikan keinginan papa kamu. Mama yang mengandung kamu, mama yang melahirkan kamu, mama juga yang membesarkan kamu. Jadi dengar kata mama jangan papa,paham Diva!!" Disa berbicara seolah olah ia sudah tak punya seorang suami.


"Tapi mah,mungkin papa punya alasan yang bisa kita terima."


"Enggak, apapun alasannya mama gak setuju,," tegas Disa.


"Pah, jangan diam aja. Bicara. Apa alasan kamu tidak memperbolehkan Diva pergi ke rumah mama dan papa untuk sementara waktu. Kamu masih ingin melangsungkan pernikahan Doni dan Diva? Dimana hati kamu pah. Tega kamu!!" Disa terus meracau sambil terus menangis. Merasa suaminya sudah tak menyayangi keluarganya.


Deva masih saja diam, ia melepas kaca matanya. Hingga akhirnya buliran air mulai jatuh satu per satu dari matanya.


"Jangan pergi kerumah opa Santo dan oma Desi. Pergilah lebih jauh lagi dan kejarlah cita cita kamu," ucap Deva.


Disa dan Diva saling melempar tatapan. Bingung dengan maksud perkataan Deva.


Diva mulai berjalan mendekati papanya, meminta jawaban maksud dari ucapannya tadi.


"Pah, Diva gak tahu maksud papa. Tolong jelasin ke Diva dan mama ya pah," tanya Diva.


Deva mulai menatap mata putrinya dan memegang kedua pipi Diva.


"Papa akan daftarkan kuliah kamu di London. Jadi Doni tidak akan bisa menemukan kamu. Kalau kamu pergi kerumah oma dan opa, dia masih bisa menemukan kamu. Karna ada tante Lia disana. Dan tante kamu pasti akan cerita sama Andini. Pergilah nak, kembalilah saat kamu menjadi wanita tangguh dan kuat. Papa tidak ingin melihat Diva yang lemah saat kembali."


Ucapan Deva disambut hangat pelukan dari putri dan istrinya. Mereka kembali percaya jika Deva memang kepala keluarga yang selalu bijak dalam mengambil keputusan.


"Terima kasih pah. Diva janji Diva akan kembali seperti apa yang papa inginkan."


"Bagus nak, papa pegang janji kamu."


"Terus disana apa kamu ingin mengambil mata kuliah yang sama seperti disini?" sela Disa.


"Enggak mah. Dulu Diva ambil mata kuliah ini karna tante Andini. Kak Doni begitu membuka mamanya yang saat itu ia pikir meninggal. Dan sekarang nama Kak Doni sudah Diva hapus dari hati Diva. Diva pengen kuliah kedokteran, sama kayak papa dan mama. Karna Diva ingin menjadi diri Diva sendiri," ucap Diva hingga membuat suasana sedih kembali.