My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Koma



Acara pertunangan sudah selesai. Semua tamu undangan sudah berhamburan pulang. Tak lama kemudian, baik keluarga Rangga maupun keluarga Diva juga bersiap untuk pulang.


"Rangga, Diva, kalian pulang bareng kan?" tanya Disa.


"Iya tante, biar Disa pulang bareng saya," jawab Rangga.


"Memangnya ada apa sih mah? Kok tumben mama tanya begitu," sahut Diva.


"Oh gak papa nak. Ini papa sama mama mau reunian dulu sama Om Beni dan yang lainnya. Jadi kami pulang agak malam ya Diva. Dan kamu Vida, kamu ikut sama kakak kamu dulu ya," ucap Deva yang langsung diangguki oleh Vida.


Mobil Deva sudah terlebih dulu pergi. Baru di belakangnya mobil Rangga mulai keluar dari hotel.


Ditengah jalan, perjalanan Rangga dan Diva sedikit terganggu akibat macet.


"Ada apa sih honey?" ucap Diva.


"Gak tau hon. Tapi kayaknya sih habis ada kecelakaan. Dan mobil yang di derek kayak ringsek gitu. Kemungkinan parah itu kecelakaannya," jawab Rangga.


Di kursi belakang, Vida melihat banyak warga dan polisi. Mata Vida berkaca kaca. Ia sudah bisa menebak, jika mobil yang di derek adalah mobil Doni.


"Kak Doni, gimana keadaan kakak sekarang. Sebenarnya Vida pengen nengok kakak ,dan minta maaf sama sikap Vida sama Kak Doni selama ini. Kak Doni harus sehat lagi ya kak. Vida sayang kakak," batin Vida.


30 menit perjalanan sudah di tempuh. Mobil Rangga sudah berhenti tepat di depan rumah Diva. Tak mau menjadi pengganggu ,Vida bergegas masuk ke kamarnya. Memberikan waktu Diva dan Rangga untuk mengobrol berdua di ruang tamu.


"Kak Rangga, Kak Diva, Vida masuk kamar dulu ya. Mata Vida udah ngantuk banget," Vida berbohong. padahal ia ingin menangis karna mendengar kabar tentang kecelakaan yang dialami Doni. Apalagi melihat tempat dimana Doni kecelakaan, membuat dadanya semakin sesak.


"Iya Vid. Tapi kakak boleh disini dulu kan?" ucap Rangga.


"Boleh dong kak. Kan Kak Rangga calon kakak ipar Vida. Gue pamit sekarang ya Kak Diva."


"Iya Vid."


Sesampainya di dalam kamar, Vida menelpon mamanya. Menanyakan keadaan Doni. Dan, tangisnya pecah mendengar Doni koma.


Selesai mengakhiri sambungan telpon dengan mamanya, Vida masih saja menangis. Dan tiba tiba ..


Tok..Tok..Tok..


"Dek, boleh gue masuk," ucap Diva.


"Bentar kak," Vida segera mengusap air matanya. "Masuk kak," ucapnya kembali.


Ceklek..


Pintu kamar Vida terbuka. Niat hati ingin bercerita, mata Diva malah tertuju pada mata sembab adiknya.


"Vida, kamu kenapa?" tanya Diva.


"Gue? Gue gak kenapa napa tuh kak."


"Bohong," Diva memegang dagu Vida sembari mengamati matanya ke kiri dan ke kanan.


"Loe habis nangis kan? Ayo cerita sama kakak, kamu kenapa?" desak Diva.


Vida tertunduk lesu. Permintaan mamanya untuk menyembunyikan kecelakaan Doni sepertinya tidak bisa ia lakukan. Vida memeluk tubuh Diva begitu erat sembari menangis tersedu sedu.


"Heh, tenang ayo tenang. Cerita sama kakak pelan pelan. Kamu kenapa?" Diva mengelus elus punggung Vida sambil mencoba menenangkan dirinya.


Mulut Vida masih terkunci. Bibirnya masih tak sanggup bercerita pada kakaknya. Diva pun melepas pelukannya dari Vida dan memegang kedua pundak Vida sambil menatapnya penuh tanya.


"Kak, boleh gue tanya sesuatu sama loe kak."


"Mau tanya apa emangnya. Kok serius gitu sih," jawab Diva.


"Kak Diva masih sayang gak sama Kak Doni?"


Diva langsung terdiam. Kemarahan dan kebencian begitu nampak jelas di sorot mata Diva.


"Kenapa kamu tanya gitu. Kamu disuruh Kak Doni ya?" tanya Diva sinis


Vida menggeleng. " Enggak kak, cuma mau tanya aja. Tapi tolong dijawab ya kak."


"Enggak dek. Dulu memang Kak Diva cinta banget sama Kak Doni. Tapi semua sudah hilang, apalagi Kak Doni gak pernah berubah. Dia cuma bisa bilang janji, tapi gak ada bukti," jelas Diva.


"Maksud kakak?"


"Kemarin Kak Doni bilang mau datang ke acara pertunanganku dan pernikahanku. Bahkan dia bilang ,kalau dia akan memberi selamat langsung sama Kak Diva dan Kak Rangga. Tapi nyatanya apa? Dia tadi gak datang kan. Jadi mama dan papa selama ini dibohongi sama dia. Bilang udah berubah, tapi kenyataannya kamu lihat sendiri kan," jawab Diva penih amarah.


Tangis Vida kembali pecah. Diva malah tercengang, apa yang membuat adiknya malah menangis sejadi jadinya seperti ini.


"Loh loh loh, loe kenapa nangis Vid. Kamu pasti sakit hati kan denger cerita kakak," ucap Diva.


"Enggak kak," jawab Vida yang kembali memeluk kakaknya.


"Kak Doni tepat janji kak. Dia datang," ucapnya lagi.


"Ah yang bener?" Diva melepas pelukan Vida sambil menatap matanya.


Vida menganggukkan kepalanya. " Iya kak, Kak Doni tadi mau datang ke acara Kak Diva. Tapi..," ucapan Vida terputus dan malah kembali menangis.


" Tapi apa Vid?" tanya Diva dengan bibirnya yang mulai bergetar, perasaannya pun mulai merasa tidak enak.


"Kak Doni kecelakaan kak. Dan Kak Diva inget yang mobil ringsek tadi di deket jalan menuju hotel, itu mobil Kak Doni kak. Mama dan papa sebenarnya gak reunian ,tapi menjenguk Kak Doni di rumah sakit. Dan barusan Vida telpon, kata mama Kak Doni koma."


Jedeer...


Kedua mata Diva mulai tergenang air. Buliran bening mulai jatuh satu per satu dari matanya.


"Vida, ini bohong kan Vid. Ini gak bener kan?" tanya Diva dengan pandangan kosong.


"Enggak kak, ini bener. Hati gue juga hancur kak. Selama ini Kak Doni selalu baik sama Vida, tapi Vida malah bersikap buruk sama dia. Bagi Vida, Kak Doni orang yang udah bikin Kak Diva sakit hati. Makanya sampai detik ini, Vida belum pernah bicara sama dia. Vida nyesel kak , Vida nyesel."


"Vida ,kita ke rumah sakit sekarang. Ayo Vida ,ayo," seru Diva.


"Tapi kak.."


"Kalau loe gak mau, gue berangkat sendiri," ucap Diva yang langsung berlari mengambil kunci mobil dan bergegas menuju rumah sakit.


"Tunggu kak, Vida ikut," teriak Vida.


Kini Diva dan Vida pergi menuju rumah sakit. Didalam hatinya , Diva selalu memanjatkan doa, meminta pada Tuhan untuk memberikan kesembuhan pada Doni.


"Kak Doni, maafin aku. Andai aku gak maksa Kak Doni buat datang ,semua gak akan jadi seperti ini. Pokoknya kamu harus bertahan ya kak. Jangan tinggalin Diva. Bukan ini yang Diva pengen kak," batin Diva dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Melihat kesedihan kakaknya, Vida juga larut ke dalam kesedihan Diva. "Gue tahu kak, loe masih sayang dan cinta sama Kak Doni. Tapi kebencian dan dendam loe sama Kak Doni membuat loe malah mengorbankan perasaan loe sendiri. Ya Tuhan, Vida mohon selamatkan Kak Doni," ucap Vida di dalam hati.