My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Loe lagi loe lagi



Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang. Doni sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Diva.


"Sayang, ayo kakak anter sekarang," ucap Doni yang membuat Diva kaget.


"Kak Doni, bikin kaget aja tau."


"Hahahaha, kenapa sih sayang. Yaudah ayo kita berangkat ke kampus kamu. Nanti kalau kamu diterima, kakak ditraktir ya," goda Doni sembari memeluk Diva dari belakang.


"Kak, jangan gini dong. Kalau ada karyawan yang lihat gimana?"


"Ya gak gimana gimana dong yank. Emang salah kakak peluk calon istri kakak sendiri?" tanya Doni yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Boleh dong kak," jawab Diva sembari memegang tangan Doni yang melingkar di perutnya.


Doni kemudian membalikkan tubuh Diva, dan wajahnya kini semakin mendekat ke wajah Diva. Doni pun hendak mencium bibir Diva, dan tiba tiba membuat mereka panik.


"Div,propo...," ucap Mickael yang langsung menghentikan ucapannya.


"Eh sory, gue gak tau kalau loe ada disini bro, gue ganggu kalian ya, hehehe."


"Loe lagi loe lagi. Loe itu suka banget ya masuk ruangan orang tapi gak ketuk pintu dulu," gerutu Doni.


"Ya maaf Don, gue gak tau kalau loe ada disini. Gue cuma mau kasih proposal ini biar di pelajari Diva. Minggu depan kita ada presentasi bareng sama tuan Nakamura dari Jepang," jawab Mickael.


"Oh iya kak, nanti Diva pelajari dulu ya isi proposalnya," sahut Diva.


"Yaudah Div kita berangkat sekarang aja ya. Daripada ngeliat parasit disini," kesal Doni sambil menarik tangan Diva.


"Yaelah bro gitu aja ngambek. Gue nitip beliin hamburger ya sama softdrink," teriak Mickael namun tak dijawab oleh Doni.


"Iya kak, nanti Diva beliin ya," sahut Diva.


"Makasih Div."


Selama di mobil, Doni masih kesal dengan Mickael yang sudah merusak moment romantisnya bersama Diva. Sadar dengan kekesalan pacarnya, Diva memegang pundak Doni dan berusaha menenangkan dirinya.


"Kak, kenapa sih kok diem?" tanya Diva namun Doni masih diam membisu dengan tatapan datarnya.


"Kalau Kak Doni masih diem terus mending turunin Diva disini aja ya. Bete juga kalau ngomong sendiri," ucap Diva sembari membuang wajahnya.


"Maaf ya Div, kakak cuma kesel aja sama Mickael. Suka main masuk tanpa ketuk pintu dulu. Kalau masuk ke ruangan kakak mah gak papa. Lah kalau masuk ruangan kamu, terus kamu lagi ganti baju gimana coba?" kesal Doni.


Diva langsung tertawa mendengar ucapan Doni yang terlalu berfikir jauh.


"Kenapa kamu ketawa? Atau jangan jangan kamu suka ya kalau dilihat Mickael pas ganti baju!" ucap Doni yang langsung menoleh ke arah Diva.


"Hahahaha, ya enggaklah kak. Lagi pula mana mungkin Diva ganti baju di ruang kerja. Kan ada cctv. Sebelum Kak Mickael yang lihat, Kak Doni duluan dong yang lihat kan pusat cctv nya ada diruangan kakak," jawab Diva.


"Hmmm, iya ya kakak lupa. Udah jangan bahas ini lagi. Mending kamu tuh berdoa, moga moga aja di terima di kampus itu," ujar Doni yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya iya kak, Oh iya kak tadi papa pesen sama aku katanya Tante Cindy mau main kerumah besok malam sama Om Reva. Terus papa bilang suruh nyampein ke mama dan papa Kak Doni katanya sih penting," ucap Diva.


"Oh iya nanti kakak sampein ke mama dan papa kakak ya. Tapi kenapa ya Om Deva gak bilang sendiri ke mama dan papa sendiri?" tanya Doni yang dijawab gelengan kepala dari Diva.


"Yaudah biarin aja, itu urusan orang tua. Mending kita buruan ngurus pernikahan kita sendiri ya yank," ucap Doni.


Blush...


Wajah Diva pun seketika memerah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Doni.


"Kak Doni beneran serius dengan pernikahan ini? Memang Kak Doni udah cinta ya sama Diva? Kan belum ada sebulan loh kak dari kita jadian, kok cepet banget kakak jatuh cinta sama Diva? Atau selama ini Kak Doni udah cinta ya sama Diva," ucap Diva dengan puppy eyesnya.


"Apa sih Div cinta cinta. Gak penting bilang cinta apa enggak, yang penting itu bukan ucapan tapi tindakan. Udah bentar lagi kita sampai, nanti kakak temenin kamu masuk ke dalam ya."


"Iya kak," jawab Diva.


Tak berapa lama mobil Doni sudah tiba di halaman kampus Diva. Doni pun mengantar Diva melihat papan pengumuman, dan disana nama Diva tercantum dalam papan tersebut.


Karna terlalu bahagia, spontan Diva memeluk Doni.


"Kak, Diva keterima disinj. Yeyeye,,, Diva keterima," teriak Diva.


"Selamat ya sayang, belajar yang rajin ya jangan suka bolos kuliah. Biar cepet lulusnya," jawab Doni sambil merapikan rambut Diva.


"Dih, pacar kakak ini udah mulai pinter gombal ya. Kamu gak lupa kan sama janji kamu, katanya lai nraktir kakak."


"Ayo, kakak mau di traktir dimana?"


"Nanti aja dipikir di jalan, sekarang kita balik ke mobil ya. Terus ikut kakak bentar."


"Kemana kak?" tanya Diva yang mulai kepo.


"Ada deh,", jawab Doni sambil menggandeng tangan Diva.


Namun saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba tiba Reyhan datang mengapa Diva.


"Hai Div, gimana loe keterima disini gak?" tanya Reyhan yang langsung mendapat tatapan mata yang tajam dari Doni.


"Iya Rey, loe sendiri gimana?"


"Iya gue juga. Tapi sayang ya loe ambil kelas malam, kalau gue kan kelas pagi," ujar Reyhan


Kesal dengan pemandangan didepannya, Doni langsing menyela percakapan mereka "Diva ayo masuk, jam istirahat udah mau selesai. Kita harus segera balik ke kantor," ujar Doni.


"Eh iya kak, Rey gue duluan ya. Gue harus balik ke kantor," pamit Diva.


"Iya Div," jawab Reyhan.


Mobil Doni kini sudah pergi meninggalkan halaman kampus, sedangkan Reyhan hanya bisa sedih menatap kepergian Diva.


"Div, gue udah lama suka sama loe, tapi kenapa sih Div loe gak pernah sadar itu. Apa kurangnya gue, dan kenapa loe malah milih orang yang belum tentu bisa bahagiain elo," batin Reyhan.


Didalam mobil, Doni kembali diam. Ia merasa kesal dengan keakraban antara Reyhan dan Diva.


"Div, berapa kali kakak bilang, kakak gak suka kamu dekat sama tuh cunguk," gertak Doni.


"Iya Diva tahu kok kak. Kan Diva juga hm udah gak sedeket dulu sama Reyhan. Kakak ini kenapa sih, marah marah terus sama Diva seharian. Capek tau kak dengernya."


"Oh jadi kamu capek, yaudah kita putus aja kalau memang kamu capek dengan sikap kakak," ancam Doni dengan nada yang semakin meninggi.


Air mata Diva kini sudah tak tertahan. Berkali-kali Doni selalu mengucapkan kata putus disaat mereka sedang berdebat.


"Stop kak," teriak Diva yang membuat Doni langsung mengerem mendadak mobilnya.


Cciiit..


Suara rem mobil Doni.


"Kenapa kamu suruh aku berhenti?" tanya Doni sambil membentak Diva.


"Diva capek sama kakak, tadi kakak bilang putus kan? Oke, mulai hari ini kita putus. Diva udah capek sama semua sikap kakak sama Diva. Diva capek harus mengerti Kak Doni terus. Kapan Kak Doni yang mengerti Diva?" ucap Diva yang langsung keluar dari mobil Doni.


Tak percaya dengan keputusan Diva,tanpa pikir panjang Doni berlari mengejar Diva.


"Diva tunggu," teriak Doni namun tak di pedulikan Diva.


Doni terus berlari mengejar Diva, hingga akhirnya Doni dapat mengejar Diva dan menarik tangan Diva.


"Div, maafin kakak. Tadi kakak cuma gak suka lihat kamu sama Reyhan. Maafin kakak ya," ucap Doni.


"Kak Doni selalu gitu. Dikit dikit bilang putus habis gitu minta maaf. Kata kakak semua itu gak perlu ucapan tapi tindakan. Sekarang Diva minta bukti tindakan kakak, bukan cuma bisanya bilang maaf sehabis bikin Diva sakit hati."


"Iya sayang, kakak akan berusaha ya merubah sikap kakak. Dan kakak janji kakak gak akan asal bilang putus. Sekarang balik ke mobil ya yank, sekali lagi kakak minta maaf ya," ujar Doni sembari menghapus air mata Diva.


"Iya kak, tapi janji ya jangan kayak gini lagi."


"Iya Diva, yaudah ayo ke mobil. Kakak mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana kak?"


"Udah ikut aja, bentar lagi sampai kok."


"Iya kak," jawab Diva.